
Festival hutan monster. Ketika mendengar kata pertamanya, itu terkesan indah karena festival identik dengan pesta, tari-tarian, serta makanan lezat. Namun, setelah mendengar kata yang selanjutnya, hutan monster, sudah dapat dibayangkan sendiri bahwa itu bukanlah festival biasa yang indah.
Melupakan namanya yang indah, itu sebenarnya adalah ajang perburuan monster di hutan monster. Walaupun monster di hutan monster relatif jinak sejak adanya formasi busur dungeon yang diciptakan oleh Milanda, jika monster itu terus berkembang tanpa pernah dikendalikan populasinya, suatu saat jumlahnya juga akan meledak dan bisa saja meninggalkan hutan monster untuk berbuat kerusakan di wilayah manusia.
Tradisi ini sendiri sebenarnya sudah ada dari dulu yang diwariskan secara turun-temurun baik di mantan Kekaisaran Vlonhard maupun di bekas Kerajaan Meglovia, hanya saja peningkatan keagresifan monster yang secara tiba-tiba yang terjadi sepuluh tahun yang lalu, membuat tradisi ini sempat ditiadakan. Namun sejak benua kembali aman, tradisi itu dijalankan kembali dimulai tiga tahun lalu atas usul Curtiz demi menekan populasi monster di dalam hutan monster.
Bahkan kini, festival itu semakin meriah sejak benua telah bersatu di bawah pundi-pundi satu kekaisaran, yakni Kekaisaran Meglovia. Dan di sinilah aku saat ini mengamati jalannya festival hutan monster di sisi utara benua. Adapula Alice dan Lusiana yang mengawasi jalannya festival monster di selatan benua.
Festivalnya terbilang cukup seru di mana para prajurit berlomba-lomba untuk mendapatkan hadiahnya. Bagaimana tidak, hadiahnya cukup menggiurkan. Ada dua jenis pemenang dalam kompetisi di dalam festival ini, yakni yang bisa mengalahkan monster terbanyak, serta yang bisa mengalahkan monster dengan rank yang tertinggi.
Bagi pemenang yang berhasil mengalahkan monster terbanyak, akan diberikan hadiah sepuluh ribu koin emas. Bagaimana tidak menggiurkan, bukan?
Namun lebih daripada itu, apa yang lebih menggiurkan adalah hadiah bagi siapapun yang bisa mengalahkan monster dengan rank terkuat. Sang ksatria akan diberikan kesempatan untuk melamar wanita yang ingin dinikahinya secara mewah dan dia diberikan hak untuk menikmati pernikahan di tempat yang sama dengan kaisar dan memperoleh pelayanan yang sama pula. Siapa yang tidak akan tertarik dengan hadiah mewah itu?
Cukup banyak ksatria kompeten yang bisa kulihat melalui familiarku selama perburuan monster itu berlangsung. Namun yang paling berkesan di benakku, tentu saja Olbero Chalkie Obraham, salah satu dari tiga magic swordsman milik Benua Ernoa. Dengan kekuatan anginnya, dia mampu memotong banyak monster sekaligus.
Pertarungan yang paling berkesan milik Olbero menurutku adalah ketika dia menggunakan kecepatan gerak minotaur sendiri untuk membelah musuhnya menjadi dua. Memang tiada yang bisa mengalahkan tajamnya angin jika diasah dengan baik, bahkan mungkin logam adamantite akan bisa dibelahnya menjadi dua, tetapi entahlah kalau itu logam orichalcum atau mithril.
Kompetisi dilaksanakan selama lebih kurang lima hari, namun itu sama sekali tidak membosankan melihat para ksatria dengan gagah berani membenturkan semangat mereka.
Lalu tanpa terasa, lima hari pun berlalu. Aku kini telah kembali berada di istana kekaisaran untuk memberikan penghargaan kepada sang pemenang. Di luar dugaan, pemenang untuk peserta yang membasmi monster terbanyak bukanlah jatuh pada Olbero walaupun sehebat dan secepat itu jurus anginnya. Ternyata itu jatuh pada Kak Swein von Lambarg.
Sayangnya pemenang dinilai hanya dari jumlah monsternya. Walaupun secara keseluruhan monster-monster yang dikalahkan oleh Olbero sebenarnya jauh lebih berkualitas, jumlahnya lebih sedikit daripada Kak Swein.
Kak Swein memang tidak salah lagi tipe petarung cepat yang telah terbiasa mengalahkan lawan dalam jumlah banyak. Namun apa yang membuatnya menjadi pemenang dalam kompetisi ini adalah dia secara beruntung menemukan sarang monster semut api, dan itu tidak hanya satu, melainkan lima belas. Kalian tentu sudah bisa menduga apa yang terjadi sejak tidak mungkin hanya ada satu atau dua monster semut api di tiap sarangnya, bukan?
Kak Swein sudah memberikan kejutan, tetapi yang lebih mengejutkan lagi adalah pemenang yang berhasil membunuh monster dengan rank tertinggi. Kalian tahu siapa? Itu Nunu fin Liosfilia. Ya, Nunu yang itu.
Dengan jurus ledakannya yang overpower, secara beruntung dia berhasil membunuh seekor fenrir muda, dan walaupun masih muda, itu terhitung sebagai monster dengan rank tertinggi yang bisa dikalahkan oleh peserta.
Masalahnya datang ketika memberikan hadiahnya kepada Nunu. Persoalan pemenang ini dirancang untuk seorang pria demi memberikannya harga diri lebih untuk menyatakan rasa cintanya pada wanita yang ditaksirnya. Namun ternyata yang menang adalah seorang wanita. Itulah makanya kubilang sebaiknya kekaisaran kami ini sudah menerapkan emansipasi wanita sedari dulu. Tiada yang mengatakan bahwa wanita selalu lebih lemah daripada pria, bukan?
Walau demikian, bukanlah tradisi kami, dan mungkin juga begitu bagi tempat tinggal Nunu di kepulauan selatan, untuk wanita menyatakan rasa cintanya di depan umum kepada seorang pria. Jika seandainya dia ditolak, tentu dia akan malu setengah mati. Persoalan wanita itu lebih tinggi urat malunya ketimbang pria.
Lilia pun dalam menyampaikan lamarannya kepada Albert adalah lewat perantara Kakek Glenn dan diriku. Mana mungkin ada wanita yang bisa tebal muka melakukan pelamaran langsung bagi pria yang disukainya di depan umum. Lagian, aku sangsi bahwa Nunu yang seperti itu benar-benar memiliki seorang pria yang ditaksirnya.
Namun kemudian, Nunu berjalan ke arahku menyatakan lamarannya kepadaku. Suatu hal yang benar-benar tak kuduga.
Sontak seisi istana menjadi gaduh karena orang yang dilamarnya bukan sembarangan orang, melainkan seorang kaisar.
Aku selama ini tidak punya klu bahwa Nunu memiliki perasaan yang seperti itu padaku. Dia telah terbiasa menempel padaku menjadikanku alat pendingin ruangannya sejak kami baru pertama saling mengenal. Dia adalah anak yang lebih muda dua tahun dariku. Kalau dibilang antara cantik atau tidak, Nunu itu cantik. Sayangnya, aku tidak menaruh rasa romantis sedikit pun padanya.
Sejak menikahi Lusiana, aku telah bersumpah bahwa takkan pernah lagi membohongi perasaanku sendiri yang berakhir menyakiti Talia. Ini pastinya akan membuat hubunganku dengan Nunu menjadi renggang jika aku menolaknya. Namun apalah daya. Aku juga seorang budak cinta. Bagiku, Talia jauh lebih penting melebihi segalanya.
“Maaf, Nunu. Aku tidak bisa.”
Aku menolak lamarannya itu meski dengan berat hati.
Mendengar ucapanku itu, air mata di wajah gadis polos itu pun tumpah. Aku ingin menghiburnya, tetapi sejak akulah penyebab air matanya itu, itu hanya akan menambah duri di dalam lukanya, maka aku membatalkan niatku itu.
“Senior Nunu, terimalah cintaku ini.” Ujarnya sembari menekukkan lututnya dan memberikan Nunu sekuntum bunga ruvalia sebagai tanda lamarannya buat Nunu.
“Kamu pasti melakukan ini agar membuatku tidak malu ya, Junior. Kamu memang junior yang baik hati. Maaf. Karenaku, kamu harus mempermalukan dirimu sendiri menggantikanku.”
“Bukan apa-apa, Senior.”
“Tetapi, walaupun aku tidak bisa menerima cintamu, Junior, kita tetap bisa menjadi teman yang dekat seperti dulu.”
“Itu benar, Senior.”
Olo ditolak, tetapi aku tahu bukan diterima atau tidak tujuannya sedari awal. Sejak awal, Olo telah menduga penolakan seperti itu akan terjadi. Namun dia tetap melakukannya demi memindahkan rasa malu Nunu itu kepadanya karena dia tahu betapa rapuhnya hati seorang wanita. Di luar dugaan, dia pria yang gentleman.
Sehabis ini, aku pun harus meminta maaf yang benar pada Nunu. Akankah segelas susu dan cookies yang enak seperti biasa akan sanggup meredakan rasa sakit di hatinya itu?
Sebenarnya apa yang telah kulakukan? Perihal aura ketampanan yang tak terkontrol ini, aku telah menyakiti hati suci seorang gadis polos. Aku sungguh pendosa.
***
Suasana festival dengan cepat mereda yang walaupun ditutup dengan suatu insiden pahit, secara keseluruhan bisa dikatakan bahwa hasilnya baik.
Akan tetapi, begitu aku mengecek secara seksama rekaman yang dibagikan indera visual para familiarku, aku menemukan suatu temuan yang sangat tak terduga. Sosok itu terekam di hutan monster dekat dengan salah satu desa di sekitar Kota Tarz.
Aku segera ke Kota Painfinn untuk menemui Kerrie demi memastikannya. Tak lupa pula aku minta dia segera menghubungi Codi dan juga Hestia. Walaupun aku tak tahu keberadaan mereka berdua, kuyakin Kerrie masih melakukan kontak dengan mereka. Lalu keesokan harinya, Codi dan Hestia pun benar-benar datang bersama Kerrie.
“Bagaimana menurut kalian?”
“Aku juga berpikiran sama dengan Pangeran.”
“Hei, Codi. Kamu lupa kalau Yang Mulia itu sudah menjadi seorang kaisar?”
“Ah, maafkan aku. Aku kebiasaan memanggil Anda Pangeran. Harus kupanggil apa Anda sekarang, Pangeran, ah maksudku…”
Aku hanya tersenyum lantas menyuruh mereka santai saja.
Namun yang lebih penting adalah sosok yang berada di dalam gambar itu. Baik Kerrie, Hestia, maupun Codi, sama-sama setuju bahwa sosok yang ada di dalam gambar itu terlalu mirip dengan Leon.
Walaupun dia mengenakan topeng yang mirip sisik sekalipun, mana mungkin aku tidak mengenali adikku itu.
Mayat Leon memang tidak diketemukan sampai sekarang. Jika itu perihal karena dia masih hidup, betapa aku akan bersyukur akannya.
Namun, apa yang dia lakukan di hutan monster dekat Kota Tarz? Terlebih sosok yang bersamanya sangat menggangguku. Sosok itu gambarnya kabur, tetapi aku bisa ingat dengan jelas dari pembawaannya. Sosok itu kemungkinan adalah Angele, sang witch wabah.
Namun, muncul pertanyaan lagi, apa yang dilakukannya bersama Leon jika sang topeng bersisik itu benar-benar Leon? Ataukah secara ajaib ada orang yang sangat mirip dengan adikku itu bahkan tidak hanya belahan bawah wajahnya, tetapi juga pembawaannya?
Akan tetapi, tidak butuh waktu lama bagiku untuk menemukan klu bahwa sosok yang kulihat itu benar-benar Angele. Beberapa hari kemudian, berita pun tiba dari Kota Tarz. Bencana besar baru saja memasuki Benua Ernoa. Suatu bencana yang pernah memporak-porandakan kekaisaran kuno di tangan sang witch wabah, Angele, lima ratus tahun silam, bencana blackdeath.