Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 192 – BURON DAN PARA PENDIAM



[POV Buron]


Setelah mendapatkan titah dari sang raja, aku dan timku yang terdiri dari tiga orang segera bertolak ke kota selatan.


“…”


“…”


Namun ada apa dengan keheningan panjang ini? Apa mereka terlalu terintimidasi oleh usiaku yang sudah 72 tahun itu sehingga mereka segan berbicara? Tapi walaupun usiaku sudah tua, wajahku sendiri masih layaknya pria paruh baya berusia 30-an kok sehingga tidak seharusnya mereka terlalu terintimidasi.


Karena tidak tahan dengan keheningan panjang itu, aku-lah duluan yang membuka pembicaraan.


“Hidup di kerajaan ini enak banget ya. Tidak pernah kekurangan pangan, hiburannya pun asyik-asyik. Yang Mulia Raja memang yang terbaik.”


“…”


“…”


Namun, hanya anggukan dalam diam yang aku terima dari kedua pemuda tersebut.


Apa aku salah mengangkat topik ya?


Kalau dipikir-pikir, mereka adalah mantan anggota Kekaisaran Vlonhard yang kalah dari perang dan akhirnya wilayah mereka dicaplok oleh Kerajaan Meglovia.


Apa mereka tidak suka pembicaraan itu ya karena jadi teringat kekalahan mereka sewaktu perang, atau rindu dengan bekas kekaisaran mereka, atau semacamnya?


Tampaknya, aku harus mengangkat topik lain.


“Wah, Mbak yang barusan bersama kita, badannya bagus juga ya. Itunya tuing-tuing setiap bergerak. Siapa lagi nama mbaknya ya, oh iya, kalau tidak salah namanya Alice. Kudengar dia sampai saat ini belum menikah. Apa jangan-jangan kalian tertarik dengan tipikal wanita sepertinya?”


“…”


“…”


Namun, bahkan tanggapan mereka kali ini lebih buruk dari sebelumnya. Jangankan anggukan atau gelengan kepala, mereka hanya diam tanpa berekspresi.


Apakah kedua pemuda ini juga tidak bisa tahan dengan candaan cabul?


Aku benar-benar merasa tidak bisa mengerti bagaimana pemuda sekarang tumbuh. Kedua pemuda yang bersamaku saat ini, Adam dan Olbero, benar-benar membangun sekat pada diri mereka sendiri yang tak bisa kutembus.


Kami pun akhirnya tiba di tempat kejadian. Para tim ekspedisi sudah berjuang sekuat tenaga mereka untuk menutup dungeon liar yang terbuka. Namun perihal keberadaan dungeon liar yang begitu banyak, itu wajar jika sampai ada dungeon break yang mulai terjadi.


Begitu kami tiba, dilaporkan bahwa sudah ada dua wilayah yang mengalami dungeon break. Satu tim sudah pergi ke wilayah satunya sehingga hanya tersisa satu wilayah yang belum ditangani.


Aku, Adam, dan Olbero pun segera menuju ke wilayah yang belum ditangani tersebut.


Begitu sampai ke sana, kami bisa melihat puluhan orc yang merusak wilayah sekitar. Untunglah, para warga sebelumnya telah dievakuasi ke tempat yang lebih aman sehingga dungeon break yang terjadi hampir tidak memakan korban satu pun kecuali dari kalangan para prajurit yang bertarung melawan mereka.


Aku bisa segera melihat bagaimana Adam dan Olbero segera berlari ke sisi yang berlawanan mengayunkan pedang mereka dan mulai membasmi para monster.


Adam dengan langkah bayangannya menebas monster di titik lemah mereka lantas membunuh sang monster bahkan sebelum sang monster sempat menyadari keberadaan Adam.


Di lain sisi, pertarungan Olbero lebih mencolok. Dia menajamkan pedangnya dengan sihir angin yang menghasilkan suara yang cukup berisik lantas mulai menggunakannya untuk menebas satu-persatu orc dengan mudah. Tiap tebasan menghasilkan impak yang cukup besar yang mampu mementalkan para orc di sekitar sehingga itu sekaligus menutupi celah pertahanan Olbero.


Aku tentu saja tidak mau kalah dengan para anak muda itu. Aku men-summon pedang aura-ku. Lantas dalam sekali tebasan, aku bisa menyingkirkan sekitar dua puluh orc secara bersamaan.


Kombinasi kami tidak akan terkalahkan. Aku yang ditugaskan oleh Yang Mulia Raja untuk menjaga wilayah ini dari serangan monster, takkan gagal dalam menjalankan misiku.


***


Di tempat itu, di salah satu dungeon di wilayah hutan monster yang tampak tak asing lagi, Helios melangkahkan kakinya dengan pasti namun dengan raut wajah yang penuh ketegangan.


Dia berjalan dan terus berjalan memasuki wilayah dungeon dengan mengabaikan monster-monster yang ada di sekelilingnya. Uniknya, monster-monster itu, daripada merasa terganggu akan kehadiran Helios lantas menyerangnya, lebih seperti tampak ketakutan pada keberadaan sosok pemuda itu.


Hingga suatu ketika, sampailah Helios ke wilayah paling dalam dari dungeon tersebut.


“Aku sudah datang, Milanda. Aku siap mengikuti ujian itu.”


Suatu sosok semi astral yang berwujud wanita raksasa yang sedang duduk di singgasananya seketika tersenyum menanggapi ucapan Helios tersebut.


***


Bahkan setelah menempati posisi grand master, aku tak bisa menduga bahwa tetap akan ada hari di mana aku harus menghadapi pertarungan yang bisa membuatku ngos-ngosan seperti ini. Bagaimanapun, menghadapi monster selama tiga hari tiga malam tanpa jeda istirahat sekalipun, selemah apapun monsternya, tetap saja akan membuat grand master sepertiku kelelahan.


Begitu kumelirik ke arah Adam dan Olbero, syukurlah bahwa mereka juga tampak masih baik-baik saja walaupun terlihat tidak kalah lelahnya dariku. Setidaknya, mereka telah kuberi waktu istirahat satu jam sehari sehingga kondisi fisik mereka pasti jauh lebih baik dariku.


Namun, ini tetap saja terlalu banyak. Perihal kekurangan personil, bantuan pun saat ini masih belum datang. Tetapi karena Yang Mulia Raja telah mempercayakan wilayah ini kepada kami, kami tak akan pernah mengkhianati kepercayaannya.


Akan tetapi, aku benar-benar di ambang batas. Tanpa sadar, aku terjatuh. Bukan karena serangan monster, melainkan aku tak dapat lagi menahan rasa kantukku.


“Kapten!”


“Kapten!”


Aku pada akhirnya bisa mendengarkan suara Adam dan Olbero. Apa ini? Rupanya suara mereka berdua benar-benar indah dan sangat jantan. Mereka pasti akan jadi lebih terkenal kalau saja mereka berdua lebih banyak bicara.


Aku bisa melihat puluhan monster seketika menerkam ke arahku begitu melihat aku lengah. Walau demikian, tak seharusnya Adam dan Olbero sekhawatir itu padaku. Sepuluh atau dua puluh serangan fatal dari monster tidak akan sampai membunuhku yang seorang grand master ini, jadi mengapa kalian begitu khawatir. Yah, mungkin aku akan terluka parah, jadi…


Ah, sial! Tetap saja aku ingin diselamatkan. Bagaimanapun, terluka oleh puluhan monster itu pasti rasanya akan sangat menyakitkan. Tapi takkan sempat lagi. Secepat apapun Adam dan Olbero bergerak, mereka tidak akan sempat lagi untuk menyelamatkanku tepat waktu.


-Dash dash dash dash dash dash.


Tapi tiba-tiba, ribuan es runcing menancap ke tubuh para monster yang hendak menerkamku sehingga aku berhasil terselamatkan dari terkaman para monster. Adam dan Olbero pun berhasil menjangkauku sebelum para monster yang lebih jauh berhasil mendekat.


“Ah.”


Aku ingat benar serangan ini. Ini adalah serangan yang dikeluarkan oleh Yang Mulia Raja sewaktu menyelamatkanku di tanah es itu.


Namun ketika kumenoleh ke atas, ternyata bukan sang raja. Itu adalah sang wanita yang selalu berada di samping sang raja yang juga turut menyelamatkanku di sana dengan panah-panah apinya. Rupanya wanita itu bisa dua elemen, tidak, itu tiga, sejak es terdiri dari elemen angin dan air.


“Bukankah Yang Mulia Helios sudah mengingatkan kalian untuk mundur saja kalau sudah tidak sanggup? Padahal Yang Mulia sudah memperingatkan kalian untuk mengutamakan keselamatan.”


Itu adalah Dokter Minerva, salah seorang dokter jenius yang juga sempat menyembuhkan banyak pasien di Wilayah Fallenstone sehingga sangat terkenal di kalangan para korban witch yang diselamatkan oleh Yang Mulia Raja.


-Dash dash dash dash dash dash.


Tapi apa ini? Dokter jenius yang tampak lemah itu juga bisa bertarung? Awalnya kukira dia dari kelas priest, rupanya dia adalah seorang wizard. Tidak, dengan keahlian segitu bisa saja dia sudah berada pada ranah tingkatan arch wizard.


Pada akhirnya, party-ku terselamatkan berkat duo wanita hebat itu.


“Adam, Olbero, kalian baik-baik saja?”


“…”


“…”


“Syukurlah kalau begitu. Yasmin, kamu segera obati Adam dan Olbero, biar aku saja yang mengobati Buron yang lukanya tidak terlalu parah.”


“…”


“Duh kalian itu. Apa yang ada di pikiran kalian sih? Bisa-bisanya kalian bertarung sampai babak-belur begini. Bukankah ada opsi untuk kabur? Kalau kalian kenapa-kenapa, tidak tahukah kalian akan betapa sedihnya Yang Mulia Kaisar?”


“…”


“…”


Dokter Minerva terus saja berceloteh memarahi Adam dan Olbero sembari pula mengajak berbicara wanita yang sering di samping Yang Mulia Raja yang bernama Yasmin itu sesekali. Baik Adam, Olbero, termasuk Yasmin, hanya selalu merespon melalui bahasa tubuh tiap ucapan Dokter Minerva. Tetapi apa ini? Dokter Minerva sama sekali tidak merasa terganggu dan terus saja berkata tanpa henti berbicara kepada trio pendiam itu.


Atau mungkin akulah yang tidak mengerti bagaimana berbicara dengan anak muda zaman sekarang? Apakah anak muda zaman sekarang diajarkan untuk tidak berkata apa-apa di hadapan lawan bicara mereka jika mereka adalah orang tua?


Tidak, tidak tidak. Mana ada yang seperti itu. Para priest di wilayah Fallenstone saja begitu ramah padaku dalam mengajakku bercakap-cakap. Atau itu mereka ramah karena mereka seorang priest? Apakah justru sikap pendiam yang ditunjukkan oleh Adam, Olbero, dan Yasmin tersebutlah yang merupakan sikap yang wajar ditunjukkan oleh para anak muda?


Itu mungkin saja. Itulah sebabnya Dokter Minerva menanggapinya biasa-biasa saja.


Demikianlah kesalahpahaman Buron da Corner tentang budaya Benua Ernoa pun bertambah satu. Sebenarnya, Adam, Olbero, dan Yasmin-lah yang sedikit spesial yang kebetulan berkumpul di satu tempat.