
Muka Ilene pucat pasi usai menemui Rahib Vyndicta. Ini bukan tentang ketakutannya terhadap sang rahib tersebut, melainkan dengan apa yang baru saja dibuktikannya.
Begitu Rahib Vyndicta menciptakan barier yang menyelubungi dirinya dan Ilene, dia segera menunjukkan kepada Ilene bahwa betapa kakak yang dipercayainya selama ini, Helios de Meglovia, telah memata-matai segala gerak-geriknya.
Tidak hanya Helios menanamkan alat pelacak pada kalung yang dihadiahkannya kepada Ilene, dia juga menempatkan sihir alat penyadap di dalamnya. Tidak sampai di situ, tanpa sepengetahuan Ilene, rupanya sang kakak telah menempatkan puluhan mata-mata dalam wujud burung es untuk mengawasinya.
“Kira-kira, apa ya tujuan Yang Mulia Pangeran Helios memata-matai pergerakan Anda? Apa ini berkaitan dengan kekhawatirannya karena bagaimana pun Anda adalah saingannya yang tersisa yang belum disingkirkannya?”
Ilene sampai sekarang belum bisa terlepas dari bisikan jahat sang rahib tersebut.
“Tidak. Tidak mungkin Kakak seperti itu. Kakak pasti punya maksud tersendiri mengapa Kakak bertindak seperti itu. Itu benar.”
Ilene berusaha menolak segala pikiran negatif di dalam dirinya itu terhadap kakaknya, namun bagaimana pun dia sangat khawatir dan ketakutan terhadap sosok kakaknya itu.
“Tidak. Bisa saja semua ini hanyalah akal-akalan dari rahib licik itu saja.”
Namun Ilene segera mengingat kembali kejadian yang barusan terjadi ketika Rahib Vyndicta mengunjunginya kala itu.
“Ilene!”
-Puak.
Helios segera memecahkan barier yang diciptakan oleh sang rahib tidak berselang lebih dari 3 menit ketika barier itu diciptakan.
“Mengapa Kakak bisa sampai kemari?”
“Ah, itu… Kakak kebetulan saja lewat dan merasakan ada yang aneh dari balik pintu karena suasananya begitu sunyi. Jadi Kakak menerobos masuk.”
Ilene segera bisa tahu kebohongan di balik ucapan Helios tersebut. Tidak mungkin Helios tiba-tiba saja berlari dari istananya menuju ke istana Ilene yang jaraknya sangat berjauhan kecuali dia memang sedari awal mengetahui sesuatu yang aneh terjadi di sana.
Bagaimana Helios sampai bisa merasakannya, itu semua baru mungkin jika apa yang dikatakan oleh Rahib Vyndicta Eros tersebut adalah benar semuanya. Helios selama ini telah memata-matainya.
“Tidak. Pasti Kakak melakukan itu semua semata-mata hanya untuk melindungiku saja dari orang-orang jahat.”
Namun, Ilene tetap bersikeras meyakinkan dirinya sendiri bahwa pasti Helios hanya bersikap terlalu overprotektif saja padanya dengan melakukan semua itu untuk melindunginya. Setidaknya, itulah yang berupaya Ilene yakini di dalam hatinya.
Namun kemudian di malam itu, ketika dia kembali ke istana utama, dia mendengar suara ribut-ribut dari kamar sang ibunda, ratu Kerajaan Meglovia.
“Apa yang telah kamu lakukan anak durhaka?! Apa kamu berniat mengisolasiku, sang ratu kerajaan ini, dari segala aktivitas luar kerajaan?!”
“Bukan begitu, Ibunda. Situasi di luar kerajaan saat ini tidak baik. Aku hanya khawatir pada Ibunda saja jika keluar istana pada saat-saat seperti ini.”
“Beraninya kau melakukan semua ini padaku?! Sadarilah posisimu! Aku masih pemegang kekuasaan tertinggi di kerajaan ini setelah meninggalnya ayahanda-mu!”
“Tidak, Ibunda. Aku melakukan ini semata-mata demi melindungi Ibunda.”
“Kalian para pengawal istana, apa yang kalian lakukan?! Singkirkan para golem anak durhaka ini lantas jebloskan dia ke penjara karena telah berani berbuat kurang ajar pada sang ratu!”
Di depan mata kepalanya, Ilene menyaksikan bagaimana ibunya tampak ditahan keluar rumah oleh sang kakak sendiri. Helios mengeluarkan para golemnya untuk mengendalikan segala situasi yang terjadi di dalam istana.
“Raja baru saja belum dinobatkan, tetapi kamu sudah bertingkah layaknya raja! Apa kamu berniat melangkahi wewenangmu karena merasa tiada lagi yang bisa melawanmu di kerajaan ini, dasar anak durhaka?!”
Ilene melihat benar bagaimana ekspresi kakaknya saat itu. Itu bukanlah ekspresi sang kakak yang baik dan berhati lembut yang biasa ditunjukkannya, melainkan suatu ekspresi kegilaan. Timbullah kecemasan di dalam diri Ilene, apakah ini sosok sejati dari kakaknya itu? Apakah semua yang ditunjukkan Helios kepadanya sampai saat ini hanyalah kepalsuan? Ilene tidak bisa lepas dari segala pemikiran itu.
“Dasar anak durhaka! Kaulah yang telah menyebabkan kematian ayah beserta kakak dan adikmu!”
“Itu benar, Ibunda. Akulah yang telah menyebabkan kematian mereka. Karena akulah Ayahanda, Kak Tius, dan Leon jadi meninggal! Makanya kalau Ibunda juga sampai tak patuh padaku, mungkin berikutnya adalah giliran Ibunda. Jadi bersikaplah patuh dan tetap di kamar saja, ibundaku tercinta.”
“Dasar anak durhaka! Terkutuklah kamu! Tidak, lepaskan!”
Para golem Helios pun lantas menyeret sang ibunda yang awalnya hendak meninggalkan kamarnya kembali ke kamar.
Tidak jelas ekspresi seperti apa yang ditunjukkan oleh Helios di saat dia mengucapkan kalimat terakhirnya tersebut karena tepat pada saat Helios mengatakannya, posisinya membelakangi Ilene.
Namun, dari intonasi suaranya saja, jelas itu tidak terlihat sepeti gertak sambal belaka. Helios serius mengatakannya.
Mata Ilene pun seketika membelalak begitu mendengar pengakuan tak terduga dari sang kakak tersebut.
“Jadi benar kematian Ayahanda, Kak Tius, dan Kak Leon adalah semuanya rencana Kak Helios? Jika dipikir-pikir lagi, yang bertanggung jawab pada pengobatan Ayahanda ketika Beliau sakit adalah juga Kak Helios. Bagaimana jika selama itu, dia meminumkan suatu racun tak terdeteksi kepada Ayahanda? Lalu setelah kematian mereka, kini giliranku sebagai satu-satunya yang tersisa sebagai duri penghalang bagi Kak Helios untuk naik tahta untuk dieksekusinya?”
Ilene segera berlari ketakutan menuju ke dalam kamarnya yang terletak di istana utama tersebut. Dia segera membaringkan tubuhnya ke atas tempat tidur sembari tengkurap dengan gemetaran. Dia yang awalnya sangat menyayangi kakaknya itu kini sangat ketakutan padanya.
Tiada lagi sosok kakak yang ramah di bayangan Ilene tertuju kepada Helios. Semuanya segera digantikan oleh bayangan-bayangan yang teramat buruk. Helios di bayangan Ilene kala itu tidak ubahnya seperti penjahat paling berbahaya di dunia.
“Tidak. Tidak. Tidak! Aku tidak ingin mati!”
Ada seseorang yang selalu di samping Ilene sejak Ilene meninggalkan Rahib Vyndicta sehingga dia bisa kurang lebih menebak apa yang ada di pikiran Ilene.
“Tuan Putri, tenanglah. Pasti Yang Mulia Pangeran Helios tidak serius dengan kalimat yang baru saja diucapkannya kepada Yang Mulia Baginda Ratu.”
Dialah Mellina Rosse Icozborne, sang pelayang paling setia Ilene.
“Apa yang kamu tahu, Mellina?! Dia adalah sosok kejam yang benar-benar mampu melakukan apa yang baru saja diucapkannya!”
“Tuan Putri, sebenarnya, apa yang telah dikatakan oleh kepala kuil suci kepada Anda sehingga Anda jadi bersikap overreaktif seperti ini?”
“Tidak ada. Aku hanya baru menyadari bahwa betapa menyeramkannya sosok kakakku itu. Tapi aku tidak ingin mati, Mellina.”
-Ngiiiik.
Suara pintu terbuka tiba-tiba terdengar tanpa adanya suara ketukan pintu yang mendahuluinya.
“Ilene? Kamu kenapa, adikku?”
Rupanya yang masuk adalah Helios, sang kakak yang baru saja dibicarakannya.
“Tidaaaaaaaak! Aaaaakkkkkhhhhh! Kumohon, biarkan aku hidup, Kak. Aku berjanji akan selamanya hidup di sudut terpencil istana tanpa berbuat macam-macam.”
Ilene seketika histeris karena kedatangan tiba-tiba sosok sang kakak yang sangat ditakutinya itu.