Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 61 – TERUNGKAPNYA SI ORANG GILA



“Aaaaaaakh!”


Rooster berteriak dengan ekspresi yang mencekam begitu menyaksikan kelima kepala rekan-rekannya itu bergelindingan di hadapannya.


“Rooster, jangan panik! Segera bawa pergi Yang Mulia Leon jauh-jauh dari sini sementara kami akan menahan bajingan it…”


“Sraaaak.”


Belum sempat Oxen menyelesaikan kalimatnya, kini giliran kepalanya yang dipenggal oleh Damian.


Memanfaatkan kesempatan itu, Jilk yang walaupun telah terluka parah disertai dengan badannya yang renta, membawa kabur Leon dan Rooster bersamanya tanpa melihat ke belakang lagi bagaimana Damian turut memenggal kepala Monkey dan Tiger.


***


Helios terus berjalan menyusuri lorong yang kian jauh kian sempit itu. Lalu didapatinya-lah di ujung lorong itu, sesosok monster raksasa yang sedang mengamuk sambil dirantai.


Tidak, dia awalnya bukan monster, tetapi dia adalah seorang gadis polos yang terkena kutukan iblis sampai akhirnya berada dalam kondisinya yang mengenaskan seperti sekarang bahkan setelah hampir sepuluh ribu tahun berlalu.


Sosok monster yang dilihat oleh Helios itu tidak lain adalah Milanda.


Namun, menyaksikan sosok yang menakutkan di hadapannya, pikiran Helios tetap tertuju ke arah yang lain. Dia masih mengkhawatirkan keadaan Kota Painfinn yang sekilas dilihatnya melalui koneksi yang terhubung sebentar melalui familiar yang ditempatkannya di kota.


Namun, Helios tidak terlalu merasa khawatir karena di sana saat ini telah ada sosok yang mampu membuatnya mampu menyerahkan Kota Painfinn dengan tenang di tangannya. Dialah satu-satunya adik lelaki Helios, Leon.


“Heh, kalau itu Leon, walaupun kota sedang diserang oleh monster heroic tingkat tinggi sekali pun, dia pasti akan mampu menanganinya dengan baik. Aku jadi tidak perlu khawatir lagi dengan keselamatan para warga kota, juga Yasmin, di tangan Leon. Nah, sekarang. Kita lihat, apa yang telah kamu siapkan untukku, Milanda.”


Helios kemudian mulai mendekati monster raksasa yang mengamuk itu. Lalu tiba-tiba, tubuh Helios ditutupi oleh cahaya terang. Helios mulai menyaksikan pemandangan lain yang di luar dari lokasinya sekarang.


Helios jelas masih berada di tempat itu. Namun, pemandangan yang disaksikan oleh kedua matanya jelas berada di tempat lain. Itu adalah sejarah sebenarnya yang terjadi sepuluh ribu tahun silam sewaktu raja iblis pertama berhasil dikalahkan dan formasi anak panah dan hutan monster pertama kali dibuat untuk mencegah invasi benua iblis di barat oleh sang pahlawan pertama, Rizard.


***


Jilk berupaya berlari sekencang-kencangnya, tetapi bagaimana pun dia telah terluka parah sehingga Damian dalam waktu singkat berhasil mengejarnya.


“Slash.”


“Clang.”


Damian mengayunkan pedangnya kepada Jilk, namun Jilk mampu menangkisnya dengan baik melalui dagger-nya setelah dia terpaksa menghempaskan ke belakang Leon dan Rooster yang saat itu sedang dipegangnya.


Akibat benturan keras setelah dihempaskan, Leon pun mendapatkan kesadaran penuhnya kembali.


“Sialan. Sudah kuduga, dia merencanakan semua ini pada kami, para pengkhianat dari kuil suci itu. Tidak boleh begini, setidaknya, satu orang dari kami harus selamat untuk melaporkan apa yang telah terjadi pada kami di sini kepada Ayah dan Kakak.”


“Tenang saja, Yang Mulia Pangeran. Aku pasti akan melindungi Yang Mulia Pangeran dengan segenap jiwaku.”


“Tidak, maksudku bukan aku, Rooster, tidak, Hestia. Itu kamu yang harus selamat.”


“Apa yang Anda katakan, Yang Mulia Leon?”


Namun, belum sempat Hestia menggapai Leon sebuah kubangan kegelapan segera menelannya bulat-bulat lantas Hestia segera menghilang dari tempat itu.


“Aku telah kehilangan tenaga untuk melarikan diri, tetapi setidaknya aku masih bisa membawa satu orang kabur. Ukh!”


Leon terluka parah, namun dia tidak sempat lagi menyaksikan keadaan tubuhnya sendiri. Itu karena sang kakek Jilk, pemimpin squad bayangannya, baru saja dihempaskan tepat di depannya dalam kondisi yang begitu mengenaskan.


Dengan air mata yang berlinang, Jilk menatap Leon yang sudah dianggapnya sebagai cucunya sendiri itu.


Menanggapi nafas terakhir dari sang kakek, Leon pun menangkap tubuhnya yang rapuh itu, sebelum pada akhirnya pedang Damian menembus jantungnya dari arah belakang. Jilk menghembuskan nafas terakhirnya di dalam pelukan Leon.


“Hahahahahahahahahaha.”


Leon seketika tertawa terbahak-bahak. Tentu saja itu bukan karena senang. Dia begitu frustasi sehingga tak dapat lagi menahan perasaan tak berdayanya itu.


“Yang Mulia Pangeran yang agung, apakah Anda mulai rusak sehingga tertawa seperti orang gila begitu?”


Damian mulai melontarkan kalimat ejekannya kepada Leon sembari memandangnya dengan penuh kehinaan.


“Siapa sangka kalau aku yang perkasa ini akan berakhir di tangan seorang pengkhianat menjijikkan dari kuil suci. Pahlawan? Cuih! Kamu bukanlah pahlawan, tetapi kamulah iblis yang sebenarnya. Berkedok sebagai orang suci untuk menghancurkan negara. Entah itu Kepala Kuil Vindycta, entah itu kamu yang anjingnya, semua sama najisnya.”


“Hmm? Tampaknya, kamu salah paham dalam satu hal, Pangeran.”


Damian balas memelototi Leon yang sejak dari tadi memelototinya pula dengan penuh kebencian.


“Aku bukanlah anjing kuil suci. Aku memang bekerjasama dengan mereka, tetapi aku bukan budak mereka. Aku mensummon para monster dan juga akan membunuhmu di tempat ini semuanya atas keinginanku sendiri.”


Mendengar jawaban Damian itu, Leon pun terkejut.


“Lantas mengapa? Mengapa kamu melibatkan banyak nyawa rakyat yang tak berdosa di sini?”


“Tentu saja karena itu menyenangkan. Bukankah Pangeran juga sudah merasakannya sejak Pangeran juga sudah membunuh banyak orang? Betapa nikmatnya melihat nyawa-nyawa itu melayang karena perbuatan kita.”


Tatapan mata psikopat Damian menatap Leon dengan penuh kesenangan melihat ekspresi terkejut Leon yang pastinya tak menyangka bahwa tak ada satu pun motif darinya untuk membunuh semua rakyat tak berdosa di sini. Semuanya, hanya untuk kesenangan Damian belaka.


“Dasar iblis! Kamu menyerangku di saat lemah begini. Jika aku tidak terluka pasca menghadapi para monster itu, aku pasti sudah akan membunuhmu. Para rakyat jelata pun, meski mereka lemah, mereka setidaknya berguna sebagai pilar negara yang mendukung negara dengan ekonomi dan tenaga mereka. Dan kamu membunuh mereka tanpa sebab, kamu lebih rendah dari mereka. Tidak, kamu bukan lagi manusia. Kamu adalah iblis.”


Leon mengutuk Damian. Namun dengan santainya, Damian hanya mengorek-ngorek kupingnya dengan ujung jarinya yang menunjukkan bahwa dia hanya menganggap kutukan Leon itu sebagai angin lalu belaka.


Usai celotehan Leon dalam lemahnya itu berakhir, Damian pun membalas ucapannya, “Itu saja yang ingin kamu sampaikan, Pangeran? Kalau sudah mari kita mulai saja siksaannya. Asal kamu tahu ya, berbeda dari yang lain, aku memang hendak membunuhmu karena aku dendam padamu.”


“Apa yang…”


“Hah, jangan bilang kamu lupa kamu telah menghina Yayang Erre di hadapanku.”


Di saat itulah, Leon kembali teringat ucapannya sebelumnya pada Damian, “Kalau diperhatikan, walau wajahmu ini terlihat biasa, kamu rupanya cukup tampan juga. Apakah ini sebabnya Kak Vierra sempat ragu menikahi Kak Tius? Ada gosip yang mengatakan bahwa kamu sempat menjalin hubungan terlarang dengan tuan putri Keluarga Peronaz yang saat ini menjabat sebagai putri mahkota.”


“Aku awalnya tak berniat melakukan ini pada awalnya. Terlebih Tuan Vindycta memintaku untuk tidak menyentuh secara langsung Pangeran Helios dan juga kamu.”


“Jadi kamu akhirnya mengakui bahwa dalang di balik segala tindakanmu itu adalah kepala kuil suci sialan itu!”


“Kamu ini bodoh ya? Kan sudah kukatakan bahwa ini semua adalah hasil keegoisanku. Apa boleh buat sejak aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi ingin merobek mulutmu yang bejat itu. Asal kamu tahu saja, Pangeran, aku bersedia saja untuk dihina, tetapi aku tidak akan tinggal diam jika ada yang menghina Yayang Erre.”


“Heh, dasar bodoh! Memangnya apa yang akan kamu dapatkan dengan melakukan semua ini. Kak Vierra tetap masih istri Kak Tius yang selamanya tidak akan pernah menjadi milikmu.”


“Apa maksudmu selamanya, Pangeran? Kan tinggal kubunuh saja nanti Putra Mahkota lantas kurebut kembali Yayang Erre ke tanganku.”


Di situlah Leon baru menyadari bahwa yang diajaknya bicara adalah orang yang benar-benar gila.