Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 162 – KEMUNCULAN PENYAKIT BLACKDEATH



Di ruangan itu, tampak seorang wanita serba-merah duduk dengan santai di suatu kursi empuk. Dia adalah Marie, sang witch wabah. Tampak pula seorang pelayan yang melayaninya dengan ketakutan, mengecat kuku-kuku kainya dengan kuteks yang berwarna merah pula. Tidak, itu bukan pelayan, melainkan seniornya sendiri, Shipton, sang witch mimpi buruk.


Sesaat kemudian, perihal Marie yang bergerak sendiri secara tiba-tiba, kuteks pun tanpa sengaja terkena bagian kulitnya. Namun Shipton yang justru menjadi sasaran kemarahan Marie.


“Dasar babu tidak berguna!”


-Puak.


“Aakh.”


Marie menyepak Shipton dengan keras hingga Shipton terpental. Hampir saja kepalanya itu terbentur dengan sesuatu yang keras. Namun sebelum itu terjadi, seorang pemuda menyelamatkannya.


-Srak.


Sang pemuda yang dipenuhi sisik di seluruh wajahnya dan bagian kulitnya yang lain hingga tampak menjijikkan menangkap belakang kepala Shipton tepat sebelum kepalanya akan membentur tembok.


“Anda baik-baik saja, Madam Shipton?”


“Ah, Tuan Noel Dumberman. Terima kasih atas bantuan Anda. Tetapi orang hina yang bermuka jelek seperti saya ini tidak pantas menerima bantuan Anda.”


“Apa yang Anda katakan, Madam Shipton? Bagiku, Anda yang berkepribadian lembut ini lebih jauh cantik daripada makhluk tidak berperasaan di sana yang selalu berperilaku kasar sampai-sampai melukai Anda padahal Anda adalah seorang senior.”


Marie menatap tajam ke arah Noel Dumberman merasa bahwa dirinya-lah yang telah dihina secara tidak langsung oleh ucapan sang sosok sisik.


Dialah sosok yang dilihat fotonya bersama Angele, sang witch wabah, beberapa waktu silam oleh Helios dan kawan-kawan. Helios telah salah. Apa yang dikenakannya bukanlah topeng, melainkan sisik asli. Sisik-sisik itu adalah bagian dari kulit wajah dan tubuh Noel Dumberman sendiri.


“Hah, sesama orang jelek saling mendukung rupanya.”


Namun sebelum Marie bisa berbicara lebih lanjut, cakar tajam Noel mencakar pipinya hingga darah merah pun keluar.


“Akkkkkhhhhh! Dasar makhluk rendahan! Beraninya kau melukai wajah cantikku yang berharga ini!”


“Nenek-nenek tua saja berlagak sok cantik karena mengisap esensi makhluk hidup lain.”


“Kau, sialan! Rasakan kutukanku yang mematikan!”


Marie segera mengambil boneka voodoo dari balik saku gaun merahnya. Dia lantas menaruh salah satu sisik Noel yang diperolehnya ke dalam boneka dan mulai menyodok-nyodok boneka tersebut untuk menyantet Noel.


-Sruk, sruk, sruk.


Marie tiada hentinya menusuk-nusuk boneka yang sekarang inderanya terhubung dengan Noel dengan paku yang sangat tajam.


Akan tetapi,


“Hahahahahahaha.”


Noel malah tertawa kegirangan.


“Kau pikir ilmu santet bantetmu itu bisa melukai Tuan Noel Dumberman yang agung ini?! Jangan mimpi kau, Jelek!”


Seakan rasa sakit kutukan Marie tidak berpengaruh pada Noel, Noel lantas menghampiri Marie dengan cepat meninju-ninju ulu hatinya sehingga sang witch kutukan tak berkutik lagi. Lalu kemudian, Noel pun tertawa jahat tepat di hadapan mata Marie yang seketika membuat Marie merasakan perasaan merinding yang belum pernah dirasakannya seumur hidupnya.


“Mata yang angkuh ini, yang selalu menatap orang lain dengan keangkuhan, aku tidak suka melihatnya.”


-Srak.


“Aaakkkhhhh.”


Noel pun mencongkel kedua bola mata Marie yang menyebabkan Marie berteriak dengan sangat kesakitan yang gema teriakannya sampai terdengar sangat jelas di seisi ruangan itu.


“Apa-apaaan keributan ini?!”


Di tengah-tengah keributan itu, Angele turut tiba di ruangan.


“Kak Angele, tolong aku, Kak. Aku kesakitan.”


“Marie?”


Angele lantas menelisik ke seisi ruangan. Mata Marie telah tercongkel, lantas kedua bola matanya itu saat ini berada di tangan Noel. Sudah jelas apa yang terjadi. Noel-lah yang menjadi biang keladi atas apa yang terjadi pada Marie.


“Kau budak sialan! Hanya karena Nyonya Isis baik padamu, kamu sudah merasa tinggi dan bertingkah seenaknya. Sadar dirilah! Kamu itu hanya budak nafsu rendahan koleksi Nyonya Isis semata yang tak ada apa-apanya di hadapan kami!”


“Haaaaah, satu lagi nenek tua sok cantik berceloteh.”


“Kau!”


Dengan mulutnya yang tajam, kali ini giliran Angele yang dibuat marah oleh Noel.


“Kalian sama saja! Sama-sama makhluk tidak berguna! Minggir kau, dasar jelek!”


-Buak.


“Aaaaakkkhhh!”


Angele menyepak Shipton tepat di ulu hatinya sehingga witch yang berperawakan tua renta itu terhempas.


“Jelek? Hahahahahahahahaha. Rupanya tidak hanya satu orang saja wanita jelek di sini yang malah berpikir orang lain lebih jelek dari dirinya.”


“Aku paling tidak mau mendengar komentar itu datang dari makhluk jelek tak jelas yang seluruh tubuhnya diselubungi oleh sisik seperti ular.”


“Jadi bagaimana? Ingin gelud?”


Berbeda dengan Marie, pembawaan Angele sedikit lebih tenang. Dia segera mengukur kemampuan musuhnya terlebih dahulu sebelum menyerang.


Angele pun mulai melepaskan sejenis lebah yang membawa penyakit untuk menginfeksi Noel.


Noel tidak menghindarinya sama sekali, malahan dia tertawa semakin keras.


“Hahahahahahahaha. Racun pelumpuh dan pemberi rasa sakit luar biasa, rupanya. Tapi, apa kamu pikir tubuhku yang sudah mati rasa ini mampu merasakannya, Nenek Tua?!


Terhadap sebutan ‘Nenek Tua’ Noel padanya itu, Angele seketika naik pitam. Noel mengabaikan itu dan segera datang ke arah Angele untuk menyerangnya, namun ribuan lebah Angele segera mampu untuk menghempaskan Noel.


Angele kemudian memanfaatkan lebah-lebah itu untuk menerbangkan Noel lantas menusuk-nusuknya di sekujur tubuhnya, bermaksud memberikannya rasa sakit yang tiada tara.


Namun sesuai dugaan, Noel hanya tersenyum. Seperti yang dikatakannya barusan, sudah lama indera perasanya itu mati.


Di saat keributan hampir saja mencapai puncaknya, sang pemimpin legion witch sendiri yang kali ini datang setelah dipanggil oleh Shipton. Dialah Isis, sang witch objek.


“Hentikan itu, Angele! Kalian sebagai sesama rekan, tiada gunanya untuk saling berkelahi satu sama lain.”


“Tapi Nyonya Isis, dia telah melukai mata Marie hingga Marie buta.”


“Lihatlah Marie baik-baik, Angele.”


Sesuai permintaan Isis, Angele pun kembali menoleh ke arah Marie.


“Hah?”


Tetapi apa yang dilihatnya, mata Marie tampak baik-baik saja seolah kejadian pencongkelan mata oleh Noel itu sebelumnya tidak pernah ada sedari awal.


“Kenapa bisa?”


“Noel hanya menggunakan jurus objek pemberianku untuk mengerjai kalian, jadi maafkanlah atas kesalahannya.”


“Tapi Nyonya Isis, kami tidak bisa lagi memaafkan sikapnya yang sombong itu…”


Angele berusaha berargumen, tetapi ketika Isis menatapnya dengan sangat tajam, nyali Angele seketika menciut dan dia tidak mengatakan apa-apa lagi.


“Yang lebih penting daripada itu, apa kalian telah menjalankan tugas kalian dengan baik?”


“Ya, Nyonya, sebanyak tiga potongan mayat yang terinfeksi sudah dibuang ketiga sumur utama warga di desa itu. Sebentar lagi, pastinya black death yang sempat memusnahkan kekaisaran kuno lima ratus tahun silam akan terjadi sekali lagi.”


Noel-lah yang menjawab pertanyaan Isis tersebut. Namun Angele-lah yang tampak tersenyum dengan sendirinya mengingat kembali kenangan bahagia di kala dia menghancurkan seisi kekaisaran kuno yang tadinya hendak menghukum mati dirinya, malah berbalik mereka semua yang justru musnah di balik ilmu pengetahuan sang mantan dokter yang cemerlang itu.


***


Helios yang kehilangan ketenangannya itu dengan cepat sampai ke desa yang terinfeksi penyakit blackdeath yang tepat bersebelahan dengan Kota Tarz di timur.


Syukurlah bahwa di bagian barat desa itu hanyalah wilayah hutan monster, sementara di utaranya adalah pantai dan di sebelah selatannya adalah padang rumput yang belum dihuni. Itu lebih memudahkan desa tersebut untuk diisolasi.


Tanpa pikir panjang, dengan kekuatannya Helios pun membentuk kubah es raksasa yang menyelubungi seisi desa. Angin berseliweran di dalam desa tersebut yang membagi para warga di dalam desa menjadi empat bagian.


Melalui kemampuan penerawangan jalur mana-nya, Helios bisa merasakan tingkat infeksi yang dialami oleh orang-orang di desa tersebut terhadap penyakit blackdeath. Orang-orang yang belum menunjukkan tanda-tanda infeksi, ditempatkan di bagian terluar dari wilayah karantina Helios. Bagaimanapun, walau belum menunjukkan gejala, mereka tetap tidak diizinkan untuk keluar desa.


Lalu di bagian dalam di wilayah karantina kedua, ada para warga desa yang sudah menunjukkan gejala, tetapi masih ringan. Masuk ke wilayah lebih dalam di bagian karantina ketiga, itu adalah para warga desa yang sudah menunjukkan gejala yang berat.


Kemudian, di bagian terdalam kubah es Helios, itu bukan lagi termasuk bagian dari wilayah karantina, melainkan tempat pembakaran.


Seluruh mayat yang terlanjur menjadi korban blackdeath yang telah kehilangan nyawa mereka, dibakar oleh api Helios tanpa hesitasi sedikit pun hingga tak ada satu pun bagian tubuh mereka yang tersisa, mengabaikan kehendak keluarga mereka yang tak ingin mayat keluarga tersayang mereka diperlakukan sekejam itu.


Para warga ingin melepaskan diri dari kurungan es sang tiran Helios. Namun, berapa kali pun mereka memberontak ingin menghancurkan kubah, apalah daya tenaga mereka tak sampai. Kubah itu terlalu kuat dan tebal bagi mereka untuk runtuhkan.


Jadilah tenaga mereka yang habis duluan oleh penyakit dan juga dinginnya suhu di dalam kubah es itu. Kini, mereka pun hanya bisa memasrahkan nasib diri mereka, entah itu penyakit blackdeath yang duluan membunuh mereka, ataukah perihal ketiranan kaisar mereka, Helios.