Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 173 – PERPISAHAN DENGAN LILIA



Albert harus berangkat ke Kota Lobos untuk pemakaman Lilia sesuai amanat terakhir Lilia yang ingin dimakamkan di kampung halamannya.


Aku meratapi ketidakbecusanku. Perihal kekuranganku, aku gagal menyelamatkan Lilia. Berbagai cara selama empat tahun terakhir ini kutempuh demi menemukan obat atau metode yang dapat menyembuhkan keracunan mana Lilia atau yang dikenal dengan istilah manafobia itu, namun tak satu pun berhasil.


Sistem antibody di dalam tubuh manusia terlalu kompleks dan itu terus saja diproduksi yang justru menjadi racun yang perlahan merenggut nyawa Lilia. Perihal terlalu kompleks, aku pun gagal menemukan mekanismenya sehingga aku gagal menyelamatkan Lilia.


Aku adalah sahabat Albert sebelum statusku sebagai seorang kaisar sehingga aku melakukan segala cara untuk bisa meninggalkan ibukota sementara waktu demi menghadiri pemakaman Lilia sekaligus menghibur Albert di sana.


Itu awalnya tidak mudah, namun berkat support Lusiana dan Kak Vierra yang akan menggantikanku mengurusi urusan internal istana untuk sementara waktu selama kepergianku, hal itu menjadi mungkin. Sayangnya, Talia pula kini tengah hamil besar sehingga hanya memungkinkanku untuk datang seorang diri ke sana.


Aku berangkat ke Kota Lobos langsung melalui teleportasi Dokter Minerva dengan Yasmin turut pula sebagai pengawalku.


Aku meminta Dokter Minerva untuk tetap tinggal di Kota Lobos bersama kami untuk sementara waktu. Keberadaan Dokter Minerva di sini akan sangat membantu. Jikalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan di ibukota, aku akan bisa segera berteleportasi ke sana secara instan tanpa perlu menunggu waktu lebih lama lagi untuk penginstalan energi gate yang sampai memakan waktu tiga puluh menit-an demi menuju ke ibukota.


Banyak pula hal yang sebenarnya ingin kutanyakan kepada Yasmin tentang ke mana saja dia selama ini dan juga aku sedikit ingin mempertanyakan identitasnya, terlebih dia yang pernah bereaksi terlalu berlebihan ketika membahas para witch. Namun, sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk membahasnya.


Itulah sebabnya di hari aku menyampaikan kabar duka ini kepada Albert sekaligus bertemu Yasmin kembali setelah dua minggu lamanya, aku sama sekali belum pernah menyinggung masalah itu padanya.


Namun, aku berupaya meminta maaf setulus mungkin kepada Yasmin jikalau mungkin ada perkataanku yang menyinggungnya. Walaupun perkataan itu sebenarnya tertuju kepada para witch, entah mengapa Yasmin juga ikut bereaksi terhadapnya.


“Papa. Papa.”


“Minggir kau, anak pembawa sial!”


“Hiiiiiks. Hiiiiiks. Hiiiiiks.”


“Hentikan tangisanmu yang tidak berguna itu! Kamu mau bersikap begitu terus di hari pemakaman ibumu?!”


Tanpa sengaja, aku yang hendak menemui Albert ketika mengundurkan diri ke kamarnya perihal khawatir akan kesehatan mentalnya, justru melihat pemandangan menyedihkan itu. Albert mutlak menunjukkan rasa bencinya tanpa sebab kepada Allios.


“Hei, bodoh! Apa yang kau lakukan pada anakmu sendiri?!”


Di luar dugaanku, Albert yang biasanya bersikap bodoh di hadapanku, justru membentakku.


“Apa yang Master ketahui tentang perasaanku?! Karena anak ini… Karena Lilia melahirkan anak pembawa sial ini, Lilia jadi… Aaaaaakkkkhhhhh! Liliaaaaaaa! Hiks, hiks.”


Tidak jelas lagi ucapan di mulut Albert kala itu. Namun tangisannya yang mendalam sudah memberikan jawaban yang jelas terhadap perasaannya.


Aku merangkul bahunya lantas memeluknya dengan erat.


“Albert, aku tahu kamu sedih akan kematian Lilia. Tapi kamu juga tahu kan bahwa ini semua bukan salah Allios? Tiada yang menduga hal seperti itu akan terjadi pada Lilia. Lilia yang memilih untuk mengorbankan dirinya sendiri demi menyelamatkan nyawa bayi kalian adalah bukti bahwa betapa dia menyayangi Allios. Akankah kau akan mengkhianati bukti cinta Lilia itu yang diperjuangkannya dengan segenap ketulusannya?”


“Master. Hiks, hiks.”


Aku mengusap rambut kuning cerah Albert itu lantas memanggil Allios untuk mendekat ke arahku.


Dengan langkahnya yang rapuh itu, dia berjalan tertatih-tatih dari tangan pengasuhnya menuju ke pelukan kami berdua.


“Papa, Papa.”


Allios turut memeluk Albert yang membungkuk dengan linangan air mata dalam ringkihan walaupun dengan badannya yang besar itu. Namun Albert hanya tampak gemetaran tanpa menanggapi pelukan Allios.


Tampaknya alam bawah sadar Albert masih menganggap Allios sebagai penyebab kematian Lilia. Namun yang dapat kulakukan kepada mereka berdua saat ini hanyalah menyemangati dari jauh. Bagaimanapun, hubungan cinta di antara Albert dan anaknya adalah di luar kendaliku untuk turut ikut campur.


Yang jelas, selama Albert tidak lagi membentak anaknya secara kasar yang bisa membuatnya trauma seumur hidup, kurasa itu telah cukup untuk saat ini. Selama aku bisa turut mengawasi pertumbuhan Allios pula, semuanya akan berjalan ke ranah yang baik.


Di tengah-tengah suasana masih berkabungnya Albert atas meninggalnya istrinya, tak kusangka para rakyat di wilayah Lugwein tanpa pengertian mengadakan petisi yang meminta Albert untuk segera kembali ke wilayah kekuasaannya perihal ancaman invasi monster terbang dari Benua Arteik.


Itu memang telah diatasi sampai ranah tertentu, tetapi kemunculan monster-monster tersebut masih ada. Padahal aku telah menugaskan ratusan prajurit untuk berpatroli di wilayah Fallenstone, tetapi mereka masih saja khawatir dengan para prajurit kecolongan dan justru menyerang desa mereka.


Aku tahu kekhawatiran mereka. Walaupun wilayah Lugwein dilindungi oleh topografinya sehingga ketika ada monster yang menyerbu masuk dari arah laut, mereka akan cenderung memilih wilayah Fallenstone yang landai, memang tidak ada yang menjamin seratus persen bahwa tidak akan ada monster aneh yang justru lebih memilih melewati pegunungan dengan banyak semak-belukar pepohonan sehingga justru akan sampai ke wilayah Lugwein duluan.


Hanya saja, tidakkah mereka menaruh sedikit saja rasa simpatik kepada Albert atas hari berkabungnya? Mereka kan bisa menyampaikan request itu padaku secara langsung jikalau menimbang keadaan Albert saat ini. Mengapa mereka harus menambah beban Albert yang sudah hampir pada batasnya itu?


Yang membuatku lebih khawatir, kunjungan Damian dan kelompok paladinnya ke wilayah tersebut. Bagaimanapun, para paladin itu pernah bekerjasama dengan Rahib Vyndicta Eros yang ternyata adalah Baal, jadi tentu saja aku tidak bisa melepaskan kekhawatiranku.


Juga, ini hanya feeling-ku, tetapi aku bisa merasakan keposesifan Damian kepada Kak Vierra. Aku bisa saja waktu itu membantu Kak Vierra melarikan diri bersama Damian keluar benua lalu memalsukan kematian mereka berdua, jika saja Kak Vierra menaruh rasa balik kepada Damian. Tetapi nyatanya tidak.


Tidak. Walaupun Kak Vierra mencintai balik Damian pun, aku tentunya akan masih mempertimbangkan hal itu. Tidak peduli bahwa dia adalah teman masa kecil Kak Vierra. Siapa juga yang akan menyerahkan seseorang yang penting bagimu kepada sosok yang mencurigakan seperti Damian?


Aku pun menyuruh Albert untuk fokus saja istirahat dii Kota Lobos. Lalu urusan mengenai wilayah Lugwein, aku serahkan kepada beberapa administrator andal yang datang bersama para prajurit mumpuni pula ke wilayah itu.


Namun tampaknya, semuanya tidak berjalan dengan baik. Kekurangan kaki tangan yang mumpuni memang sangat menyakitkan. Bagaimanapun, bahkan setelah empat tahun, masih sulit untuk menstabilkan wilayah setelah hampir setengah bangsawannya memberontak, terlebih kami harus mencaplok wilayah lain yang kekurangan bangsawan mumpuni pula perihal menjadi korban selama perang.


Mempekerjakan mantan rakyat jelata yang kini telah kuangkat sebagai bangsawan baru sebagai pengganti mereka rupanya tidak bisa terlaksana dengan baik perihal adanya kecenderungan warga tidak mempercayai pemimpin yang berasal dari garis keturunan rakyat jelata. Ah, tentu saja Curtiz dari Kota Painfinn adalah pengecualian.


Memangnya apa masalahnya dengan rakyat jelata? Selama kemampuannya mumpuni, bukankah itu sudah cukup? Memangnya apa hubungannya garis keturunan terhadap kemampuan seseorang? Selama mereka memperoleh pendidikan yang sama, bukankah kemampuan mereka akan sama pula?


Para administrator perwakilan yang kuutus ke Kota Tarz rupanya bentrok dengan warga di sana karena berbagai hal sepele dan lucunya para paladin memanfaatkan kesempatan itu untuk menarik simpati rakyat dengan turut melawan para administrator utusanku tersebut.


Semuanya jadi kacau di mana kedudukan para administrator itu di sana jadi serba-salah.


Karena terlanjur muak, kuputuskanlah untuk datang sendiri ke sana dengan tetap melalui pengawalan Yasmin dan Dokter Minerva yang langsung beranjak dari kediaman Kakek Glenn.


“Oh ho. Siapa ini? Rupanya kamu ya, Damian. Siapa sangka sekarang kamu bisa sesukses ini bahkan memperoleh gelar sang pahlawan. Kak Vierra sebagai ‘TEMAN’ masa kecilmu pasti bangga padamu.”


Aku benar-benar menekankan posisinya itu bagi Kak Vierra agar Damian tidak akan pernah melewati batas. Siapa yang tahu bisa saja di masa depan dia akan berpikiran memberontak dengan dalih memenuhi nubuat menyingkirkan kaisar tiran demi merebut Kak Vierra dari sisiku.


Itu masih bagus jika Kak Vierra bisa hidup bahagia bersama Damian. Nyatanya, aku menyangsikan hal itu.


“Hormat hamba kepada sosok keagungan, pemimpin Benua Ernoa, Yang Mulia Kaisar Helios sun Meglovia.”


Dia membalas salamku dengan hormat. Namun entah mengapa aku merasakan hawa jahat mengalir lewat senyum lembutnya itu?