Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 215 – MENJIJIKKAN SAMPAI KE DALAM



Demikianlah bagaimana rupa sosok yang dulunya diagung-agungkan sebagai yang tercantik di seluruh Kerajaan Aegyst itu. Tidak, bahkan di seluruh dunia pada masanya.


Dia yang menginginkan untuk hidup abadi kini menjual jiwa dan raganya kepada jalan kesesatan dan harus berakhir pada tubuh ulat yang menjijikkan itu.


Isis adalah penyihir yang hidup di zaman lima ribu tahun silam, sementara Raja Iblis baru mulai bisa melepaskan sedikit segel yang tertanam padanya oleh Pahlawan Pertama adalah sekitar 2500 tahun silam.


Dari sini kalian bisa menebak, bukan?


Ada gap sebesar 2500 tahun bagi Isis untuk dapat bertemu dengan Raja Iblis.


Tanpa berbuat sesuatu terlebih dahulu pada tubuhnya, dia pasti sudah akan lama mati sebelum bisa bertemu dengan Raja Iblis.


Isis yang takut dengan kematiannya yang semakin dekat pun, mulai memikirkan cara agar bagaimana dia bisa mendapat tubuh pengganti untuk bisa bertahan hidup.


Dia pun mulai menempuh jalan terlarang yang menggabungkan ilmu sihir hitam terhadap pengetahuan alkimia.


Homunculus dan philosopher stone adalah pengetahuan terlarang yang terlahir dari alkimia yang ternodai oleh sihir hitam tersebut.


Dia mengekstrak sendiri jiwanya keluar dari raganya untuk dimasukkan ke dalam tubuh homunculus.


Kemudian untuk menstabilkan dua kompartimen yang seharusnya sedari awal tidak pernah akan bisa bersatu, dia pun menggunakan philosopher stone.


Tetapi apakah kalian tahu darimana philosopher stone itu berasal?


Jumlah zat pada sebelum reaksi maupun sesudah reaksi adalah sama, yang terjadi hanyalah perubahan wujud dan ikatan kimianya saja.


Ini adalah hukum kekekalan reaksi yang sampai kapanpun tidak akan bisa diubah oleh orang mana pun di dunia ini sesakti apapun ilmu orang tersebut.


Itu tidak terkecuali Isis.


Makanya, demi membuat philosopher stone, dia pun butuh pereaksi yang nilainya setara dengannya.


Kalian tahu apa itu?


Itulah nyawa manusia.


Isis menumbalkan ribuan budaknya demi membuat satu philosopher stone yang dapat digunakannya untuk mengikatkan jiwanya pada tubuh homunculus-nya.


Darah, dendam, dan amarah orang-orang, dengan tanpa tahu malunya Isis gunakan untuk kejayaannya sendiri.


Namun, pada dasarnya alkimia itu tidak omnipoten.


Akan selalu ada yang namanya keirreversibelan reaksi.


Makanya walaupun secara teori itu memungkinkan, pada dasarnya menghubungkan jiwa dengan tubuh baru yang bentuknya tidak cocok pasti akan menimbulkan efek samping.


Lalu sebagai efek samping yang harus dialami oleh Isis adalah dia harus hidup dalam tubuh menjijikkannya itu selama sisa hidupnya.


Isis memperoleh impiannya untuk bisa memperoleh suatu tubuh yang tidak bisa menua. Selama persediaan philosopher stone masih memenuhi, jiwanya secara abadi akan terikat pada tubuh homunculus-nya tersebut.


Namun sayangnya, tubuh abadinya itu berbeda dengan tubuhnya yang cantik rupawan seperti sebelumnya. Itu adalah tubuh menjijikkan menyerupai ulat hijau yang ukurannya sedikit lebih besar dengan ukuran mata yang besar dan memberikan nuansa horor pula.


Di tubuh itulah Isis harus hidup abadi selamanya, kehilangan semua kekuatan yang telah dia kumpulkan selama ini, kecuali pengetahuan alkimia-nya.


Namun, Isis tidak menyerah sampai di situ.


Dia pun melakukan perburuan tubuh manusia cantik untuk dia jadikan sebagai inang baru.


Dan begitulah Isis selama ini hidup bergonta-ganti tubuh dari tubuh satu manusia cantik yang satu ke tubuh manusia cantik lainnya ketika tubuh lama yang ditempatinya telah mulai kehilangan vitalitasnya.


Perlahan, Isis mampu mengembalikan semua kemampuannya yang dulu sempat hilang setelah kembali memegang kendali kepada suatu tubuh manusia dengan perantaraan tubuh homuncus-nya yang menjijikkan.


Lalu dengan sorcery, dia akhirnya mampu memodifikasi tubuh apapun yang ditempatinya itu menyerupai wujud asli pertamanya sehingga hampir tidak ada yang mengetahui rahasia kelam ini.


Tentu saja kecuali aku.


Dengan ketakutan, kulihatlah ulat hijau itu berupaya merangkak menjauh dariku.


“Sungguh tubuh yang menjijikkan. Tidakkah kau letih hidup di tubuh seperti itu selama sisa hidupmu?”


“…”


“Hei, Hama, tidakkah mati sekarang lebih baik untukmu?”


“…”


Dia mengabaikan setiap ocehanku dan hanya terus berfokus merangkakkan tubuh ulatnya ke tanah berpikir bisa melarikan diri dariku dengan langkah yang selamban itu.


“Tidakkah kau merasa bersalah telah membunuh orang-orang demi bisa mempertahankan hidupmu sendiri?”


“…”


“Kurasa itu tidak mungkin ya. Sejak jikalau kau punya rasa kemanusiaan, sedari awal kau tidak akan pernah melakukannya sampai sejauh ini.”


“…”


“Kurasa tak ada lagi apa-apa yang bisa kukatakan pada makhluk menjijikkan sepertimu. Maka matilah menanggung semua dosa-dosamu di neraka sana.”


“Kumohon… Kumohon setidaknya ampunilah nyawaku. Aku bersedia akan membalas segalanya nanti jika kamu membiarkan aku hidup sekarang.”


Sang witch yang sangat menghargai nyawanya lebih dari apapun akhirnya memutuskan untuk berbicara dengan tubuh ulatnya yang menjijikkan setelah nyawa yang sangat dihargainya itu akan terenggut.


“Hahahahahaha.”


Melihat pemandangan yang begitu lucu ini, aku tanpa sadar tertawa terbahak-bahak.


Tidak, bukan itu. Aku malah mempertanyakan apakah sedari awal dia memang layak disebut sebagai manusia?


Lalu seketika, aku pun menajamkan ekspresiku.


Itu adalah ekspresi yang menunjukkan tiada maaf yang dapat kuberikan kepada eksistensi yang tiada lagi jalan pertobatan untuknya.


Isis berbeda dengan Madam Shipton.


Sedari awal dia memang adalah orang jahat tulen dengan hati yang hitam legam.


Eksistensi sepertinya-lah yang harus benar-benar dimusnahkan dari muka bumi ini.


-Praaak.


Lalu tanpa hesitasi lagi, aku menginjak ulat menjijikkan itu hingga tubuhnya hancur lebur sembari mengeluarkan lendir hijau yang menjijikkan.


Terakhir, aku mengambil philosopher stone yang tertanam di dalam tubuh menjijikkannya yang ukurannya bahkan lebih kecil dari diameter kuku kelingkingku.


“Inikah philosopher stone yang berisi ribuan nyawa manusia?”


“Jika dilihat lagi, nyawa manusia begitu kelihatan tidak berharganya ya?”


-Bruak.


Aku pun menghancurkan philosopher stone itu, membebaskan nyawa manusia-manusia di dalamnya yang telah terkurung di sana selama lima ribu tahun lamanya.


Isis pun mati dalam keadaan menjijikkan.


Bukan dalam tubuh cantik yang diagung-agungkannya, melainkan dalam tubuh ulat hina yang menjijikkan.


Usai mengatasi hama itu, aku segera bergabung kembali bersama Alice, Yasmin, dan juga Leon.


Tampak Leon telah selesai mengenakan pakaian.


Tanpa berlama-lama lagi, kami pun berangkat kembali ke ibukota dengan ketambahan satu anggota lagi yang sama sekali kami tidak duga-duga sebelumnya.


“Oh iya, di hikayat Madam Shipton dan Jebakan Iblis, ada karakter wanita berkerudung hitam. Apa kamu tahu siapa dia, Yasmin.”


“Hmm.” Yasmin tampak diam sejenak untuk berpikir sembari memanyunkan mulutnya.


“Aku kurang yakin sih, Master. Tetapi setelah mendengar detail ceritanya, kurasa itu Isis. Isis-lah yang membawa Shipton ke markas waktu itu. Dan Isis memang suka mengenakan kerudung hitam tertutup sebagai penyamaran tiap kali akan keluar ke dunia manusia.”


Yasmin telah memperjelas semuanya.


Isis memanglah busuk sampai ke akar-akarnya.


Tidak butuh waktu lama kami sampai kembali ke gate yang terletak di Kota Litrum.


Lantas dari sana, kami pun langsung menuju ke Ibukota Megdia melalui gate yang terhubung ke sana.


Selama di Kota Litrum, Leon tampak tidak terlalu tertarik dengan pemandangannya.


Namun setelah kami memasuki lokasi Ibukota Megdia, terlihat Leon memandang sekeliling dengan tampang yang sangat antusias.


Mungkin karena ini adalah kampung halaman tempat dia berasal, Leon jadi memiliki ketertarikan sendiri terhadapnya, terlebih Ibukota Megdia yang dikenalnya sekarang pastinya benar-benar berubah dengan yang diingatnya terakhir kali delapan tahun silam.


Berbeda dari delapan tahun silam, Ibukota Megdia yang telah menjadi pusat pengembangan invensi-ku, kini benar-benar menjadi kota yang modern dengan berbagai penemuan yang sangat modern pula dengan beraneka ragam jenis artifak portable yang dapat dimanfaatkan oleh setiap penduduk secara bebas.


Akan tetapi kemudian, perhatian para penduduk pun mulai terarah pada kami yang sewaktu itu sebenarnya sedang melayang rendah di langit sehingga akan sulit memancing perhatian para penduduk yang ada di bawah.


Perhatian itu rupanya bukan tertuju padaku, melainkan kepada adikku, Leon.


“Yang Mulia Pangeran Leon? Yang Mulia Pangeran Leon masih hidup!”


Sorak-sorai pun terjadi seketika di bawah.


Tidak hanya aku, ternyata semuanya pun bahagia dengan berita Leon yang masih hidup.


Dan itu benar-benar membuatku bahagia.


Aku pergi malam-malam ke Kota Litrum.


Siapa sangka aku baru kembali ke Ibukota Megdia di pagi hari keesokannya.


Yang lebih buruk lagi, aku sama sekali belum memberi kabar kepergianku sementara kepada Talia dan para istriku yang lain.


Aku harus segera kembai ke istana untuk mencegah kepanikan mereka yang pastinya sudah sedari tadi terbangun dari tidur mereka.


Walaupun kuyakin ada Dokter Minerva di sana yang bisa menenangkan mereka, tetapi bagaimanapun aku terus merasa khawatir.


“Selamat datang kembali, Master, Yang Mulia Pangeran Leon.”


Namun sesampainya aku ke sana, Albert-lah yang langsung menyapa kami yang tampak menggunakan artifak penyamaran ketika aku memutuskan untuk juga masuk kembali ke istana melalui jendela yang berada di ruang kerjaku di lantai dua.


Salam itu kemudian diikuti oleh Dokter Minerva dan Albexus yang juga tampak menggunakan artifak penyamaran dengan menundukkan sederhana kepala mereka.


Tunggu, bukan itu.


Mengapa ketiga orang ini begitu menganggap biasa aku yang membawa pulang Leon bersamaku yang seharusnya sama seperti Albert dan juga Albexus juga diketahui sebagai orang yang telah meninggal dunia?


Tampaknya telah terjadi sesuatu di belakangku tanpa aku ketahui sama sekali.


Ada kemungkinan ketiga orang ini juga telah melakukan kontak dengan Leon di belakangku.