
Setelah berhasil menyingkirkan seluruh monster slime mimpi buruk yang memanfaatkan kabut tebal cockatrice untuk melakukan penipuan melalui kebingungan doppelganger, Helios dan party-nya terus berjalan ke area yang lebih dalam lagi dari hutan monster.
Mereka tampak keletihan perkara istirahat pun mereka tak sanggup optimal karena gangguan dari para monster slime mimpi buruk tersebut.
Namun jauh berjalan yang kurang lebih memakan waktu hampir dua hari, mereka pun akhirnya menemukan dungeon yang menjadi penyebab kabut tebal sekaligus perilaku aneh dari para monster di wilayah hutan monster tersebut. Itulah dungeon Milanda, dungeon dengan boss monster seorang witch paling sakti di masa lalu yang merupakan salah satu di antara kedua belas jenderal raja iblis.
Sembari memandangi patung batu yang menampakkan wanita raksasa yang matanya tertutupi oleh kain putih di dalam suatu ukiran patung batu, seluruh tubuh Albert merinding.
“Jadi ini dungeon Milanda yang sempat Anda lihat bersama Alice dan Yasmin, Master. Padahal ukiran batunya tampak menunjukkan gambar gadis yang lugu begitu, siapa sangka bahwa dialah witch yang menyebabkan kehancuran banyak kota di zaman dahulu.”
Albert tampak masih terpaku pada sosok wanita cantik yang terukir pada patung batu itu.
“Tapi Master, bukankah Anda lihat bahwa wajahnya agak mirip dengan Yasmin? Melupakan rambutnya yang panjang dan bibirnya yang sedikit lebih kisut, dia memiliki fitur wajah yang benar-benar mirip dengan Yasmin.”
“Tak.”
“Ouch! Master?”
Jitakan dari Helios seketika menghentikan Albert dari omong kosongnya itu.
“Tidak usah bicara yang aneh-aneh. Cepat bantu aku untuk membuka pintu dungeonnya.”
“Ah, tunggu, Master! Biar aku dan anak buah Yang Mulia Pangeran Ketiga ini saja yang membukakan pintunya. Ayo, Codi!”
Albert dengan buru-buru turut menyeret Codi bersamanya untuk segera mendahului Helios yang hendak akan membuka pintu masuk dungeon yang berat dan besar itu.
“Satu, dua, syaaaaa.”
Dengan susah payah walau dengan badan besar Albert itu, akhirnya pintu dungeon terbuka juga oleh kerjasama antara Albert dan Codi.
Seketika mereka masuk, hawa binatang buas yang pekat tercium dari kejauhan kegelapan di dalam dungeon lantai pertama tersebut.
“Kalian semua sudah pernah mempelajari sebelumnya kan tentang bagaimana situasi di Dungeon Milanda?”
Tampak hampir semua party Helios mengangguk terhadap pernyataan Helios tersebut, kecuali satu orang.
“Tapi Tuan Helios, aku tidak tahu.”
“Oh iya, Nunu berasal dari luar benua ini kan? Wajar saja jika kamu tidak tahu. Ada lima lantai di dungeon ini. Masing-masing lantai kecuali lantai terakhir dikuasai oleh middle bos, werewolf king di lantai pertama, mumi king di lantai kedua, the great noble vampire di lantai ketiga, serta huldra queen di lantai keempat. Kita harus bisa mengalahkan middle boss di masing-masing lantainya untuk menuju ke lantai yang lebih rendah.”
“Terakhir di lantai lima, kita akan berhadapan dengan cockatrice, dalang dari kabut tebal yang tidak biasa ini. Setelah mengalahkannya, akhirnya kita akan berhadapan dengan boss utama dungeon-nya, sang the greatest ancient witch, Milanda.”
“Jadi dengan kata lain, di lantai pertama ini, kita hanya perlu berhadapan dengan para manusia serigala kan, Tuan Helios? Serahkan saja hal itu padaku. Aku telah terbiasa mengalahkan para serigala di daerah asalku untuk memberi makan adikku.”
Ujar Nunu dengan bangga, namun Helios justru memandangnya dengan raut wajah yang penuh kasihan. Pikir Helios dalam hati, kesulitan macam apa yang telah dialami oleh gadis kecil itu di waktu lampau hanya untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-harinya.
Helios pun membelai rambut Nunu yang halus itu karena merasa prihatin padanya. Tanpa menyadari itu, Nunu justru menganggap hal tersebut sebagai bentuk pujian Helios padanya atas prestasi hebatnya itu dalam bertahan di alam liar. Nunu pun menikmati usapan lembut dari tangan pangeran yang sejuk itu.
Beberapa saat melangkah memasuki dungeon, party itu segera menyadari bahwa ada sesuatu yang bergerak dengan cepat hendak mengepung mereka.
“Master, ini…”
“Ya, segera ke posisi waspada, Alice. Albert, Codi, Nunu, kalian juga segera menyesuaikan.”
“Siap.”
“Yosh.”
“Hmm.”
Berbagai jenis jawaban datang tampak tidak menyatu. Namun di luar dari jawaban mereka yang kelihatan tidak kompak itu, mereka benar-benar kompak dalam membentuk formasi.
Alice berdiri di depan sebagai tanker di mana Albert bertindak sebagai penyerang utama dan Codi serta Nunu sebagai assist serangannya. Adapun Helios berperan sebagai penjaga party di belakang sekaligus sebagai penyerang jarak jauh.
Tanpa aba-aba, para werewolf tiba-tiba saja datang secara berhamburan menyerang party itu. Akan tetapi dengan sigap, pedang besar Albert serta dagger tajam Codi membelah tubuh para werewolf itu dengan sangat tidak artistik.
Sementara itu, Alice tanpa rasa takut melindungi para penyihir party-nya di belakang walau darah bermuncratan membuat zirah emasnya itu tertutupi oleh warna merah gelap yang dalam.
Nunu sesekali ikut menyerang para werewolf yang akan hendak menyerang Helios dengan tombak sihir pemberian tuannya itu.
Namun di antara kesekian anggota party, tetap Helios yang memberikan damage terbesar kepada para werewolf sejak ketahanan sihir werewolf yang sangat rendah.
“Tombak es.”
Hanya dalam satu ucapan Helios tersebut, bermunculan es berwujud tombak di mana-mana yang tercipta dari uap air sekitar. Lalu, tombak-tombak es itu pun dilepaskan Helios yang menusuk-nusuk dengan kejam para werewolf yang menyerang.
Melihat kematian seketika teman-temannya dalam jumlah besar, para werewolf yang berhasil selamat dari serangan dahsyat Helios itu pun berlari ketakutan menjaga jarak dari party Helios. Mereka menggertakkan gigi-gigi mereka dengan marah, tetapi tampak semuanya ketakutan dan tak ada satu pun yang berani untuk menyerang.
Di situlah sang leader dari para werewolf itu muncul yang terlihat jelas ciri-cirinya sejak merupakan satu-satunya werewolf yang mampu berdiri tegak tanpa terlihat bungkuk.
Bersamaan dengan munculnya sang pimpinan, para werewolf kembali memperoleh kepercayaan diri dan beralih ke mode berserk mereka.
Lantas dengan itu, sang pimpinan werewolf itulah yang kali ini melaju duluan hendak meyerang party yang diikuti oleh para anak buah werewolf-nya yang telah berada pada mode berserk.
Seakan mengerti maksud aba-aba tatapan anggukan Helios, Albert turut mengangguk dan bersamaan dengan itu segera turut berlari menerjang ke arah jibunan werewolf yang menyerang.
Dengan lincah, Albert berlari sembari menghindari serangan para werewolf kroco dan hanya bertujuan untuk menyerang sang pimpinan.
Alice segera merapatkan barisan sembari melindungi Helios dan Nunu di belakang. Adapun Codi, dia memposisikan dirinya di hadapan party untuk membunuh sebanyak mungkin werewolf yang telah berada dalam mode berserk-nya tersebut.
Kekuatan para werewolf dalam mode berserk meningkat secara signifikan. Walau demikian, hal itu tetap bukan apa-apa bagi ketajaman dagger Codi.
Nunu ingin menyerang, tetapi Helios segera menariknya mundur dan mengarahkannya untuk beristirahat saja untuk saat ini sejak masih ada banyak monster yang akan mereka hadapi ke depannya.
Gabungan serangan jarak jauh Helios dan serangan jarak dekat Codi-lah yang berperan untuk mengeliminasi para werewolf kroco.
Jauh di depan, dengan pedang besarnya itu, Albert beradu dengan tinju dan taring middle boss yang luar biasa. Akan tetapi, stamina dan tekad Albert jauh lebih kuat dibandingkan dengan sang middle boss monster.
Sang werewolf king segera terpukul mundur oleh hantaman pedang Albert yang berat. Albert lantas bersalto menyerang werewolf king dari arah atasnya dengan pedang besarnya itu. Sang werewolf king kehilangan momentum sehingga dia tidak sempat untuk menghindarinya dan hanya bisa menangkisnya dengan kuku-kuku tajam yang sangat dia andalkan itu.
Tetapi itu tak sanggup untuk menghentikan momentum serangan pedang Albert. Dalam sekejap, sang werewolf king terbelah menjadi dua bagaikan hanya tahu di hadapan serangan overpower aura pedang non-atribut milik Albert tersebut.
Bersamaan dengan kalahnya sang werewolf king, muncul kunci dari bekas mayat sang werewolf king yang menghilang menjadi butiran-butiran cahaya. Itu adalah kunci untuk menuju ke lantai yang lebih bawah, lantai yang dikuasai oleh Pharaoh, the worst ever king, the king of mumi.