Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 149 – AKHIR PERANG



Menyelamatkan dunia dengan menghancurkannya terlebih dahulu untuk kemudian ditata ulang sesuai keinginan pribadinya. Itulah prinsip yang dimiliki oleh Kaisar Ethanus yang sama sekali tak bisa dimengerti apalagi diterima oleh Helios.


“Bagaimana bisa ada seorang pemimpin seegois kamu! Lantas bagaimana dengan nyawa rakyatmu yang kamu korbankan?! Apa itu sama sekali tiada artinya bagimu?! Apa kematian mereka sama sekali tak pernah membuatmu merasa bersalah?!”


-Trang, trang, trang.


Benturan emosi diwujudkan ke dalam suatu benturan pedang. Helios mengutuk dalam-dalam atas ketidakpedulian Ethanus terhadap nasib dan kehidupan rakyatnya sendiri.


“Mengapa aku harus peduli kepada kehidupan mereka yang tidak penting? Seharusnya mereka justru bersyukur karena telah menjadi pengorbanan yang diperlukan demi mewujudkan dunia ideal yang menjadi ambisiku. Setidaknya hidup mereka tidak sepenuhnya sia-sia.”


“Begitu.”


Helios hanya menjawab satu kata dengan dingin terhadap pernyataan Ethanus itu.


Pedang es-nya yang dingin diarahkan menusuk ke jantung Ethanus. Namun Ethanus mampu menghempaskannya dengan pedang aura kebanggaannya. Terjadi adu pedang dengan kecepatan yang hampir tidak bisa diikuti oleh mata manusia normal. Pertarungan yang berada di tingkatan ranah yang lebih tinggi antara seorang grand master melawan seorang champion.


Bagaimana pun, champion adalah kelas yang mampu berevolusi tanpa henti. Sehebat apapun puncak dari kelas swordsman itu, walaupun dia grand master satu-satunya di Benua Ernoa, tetap ada batasan baginya untuk tumbuh.


Sejak menjadi seorang grand master, itulah yang menjadi batasan kekuatannya. Dia takkan pernah lagi mampu bertambah kuat, malahan sebaliknya, pengikisan usia di kala dia mulai berada pada usia di atas 40-nya, mulai melemahkan sang kaisar yang penuh dengan ambisi itu. Dia tampak awet muda, namun tetap tidak dengan kebugaran fisiknya.


Beda halnya dengan kelas champion. Itu akan terus berevolusi sesuai dengan keinginan pemilik kelasnya tanpa batasan dan tanpa penghalang, selama pemiliknya memiliki keinginan yang kuat untuk melewati batas tembok yang membelenggu jiwanya sendiri dalam ketakutan keterbatasan.


Pedang Ethanus-lah yang duluan retak. Lalu tanpa hesitasi, Helios pun menusuk jantung kaisar kejam itu.


“Sungguh sangat disayangkan. Padahal seorang grand master sepertimu akan sangat diperlukan dalam perang melawan Raja Iblis. Tetapi kamu termakan oleh ambisimu sendiri dan berupaya melewati batasan yang tak seharusnya kamu lewati. Anggap saja ini sebagai hukuman dari orang-orang yang telah kamu bunuh dalam kekejamanmu itu.”


“Kuhuk.”


Darah segar mulai mengalir keluar dari mulut Ethanus.


Perlahan, kesadarannya pun mulai menghilang.


Hal yang terakhir yang bisa diingatnya adalah sosok pemuda yang mengatakan dirinya kejam namun sejatinya baginya sosok itu jauh berkali-kali lipat lebih kejam menurutnya daripada dirinya sendiri.


Seorang sosok pemuda yang paling terakhir dia inginkan mengatakannya kejam karena tak terlihat sedikit pun keraguan di balik tatapan matanya untuk menusuk jantungnya. Bukan hanya tiada keraguan, bahkan rasa amarah pun tidak ada. Itulah yang seharusnya pantas dikatakan sebagai sosok kekejaman.


“Oh ya, benar. Berbahagialah! Karena kamu telah menjadi salah satu pondasiku demi mewujudkan dunia idealku, Ethanus.”


Senyum keji Helios itu pun mengantar kepergian Ethanus dalam ketiadaan untuk selamanya.


***


“Kaisar Ethanus sudah ditumbangkan oleh kaisar kita! Apalagi yang kalian tunggu?! Apakah kalian semuanya tidak malu masih belum bisa menumbangkan prajurit musuh meski kaisar kita sudah membukakan kita jalan?!”


Teriak Alcus von Maxwell menyemangati para prajurit.


“Huraaaaaaaay!”


Seketika momentum yang dimiliki oleh tentara Kekaisaran Meglovia semakin besar, sementara sebaliknya, setelah melihat kaisar mereka yang mereka yakini sebagai terkuat di benua itu dengan mata kepala mereka sendiri kalah dengan menyedihkan, mental para prajurit Kekaisaran Utara Vlonhard mulai koyak dan tidak butuh waktu lama bagi barisan mereka untuk kacau-balau.


“Tidak. Aku tidak mau mati di sini!”


“Tidak, Ibu. Selamatkan aku!”


Seketika situasi berubah seratus delapan puluh derajat menjadi pembantaian sepihak sejak para tentara Kekaisaran Vlonhard mulai membelakangi musuh.


Walau masih ada beberapa prajurit first order yang belum berhasil dikalahkan, itu bukan lagi masalah perihal tentara Kekaisaran Meglovia menang jumlah ditambah sokongan artifak senjata sihir, artifak armor sihir, serta rekan golem es bagi masing-masing prajurit, serta ditambah dengan adanya dukungan buff all in one oleh Yasmin kepada para prajurit tersebut.


Tidak butuh waktu lebih dari sehari bagi Kekaisaran Selatan Meglovia mengklaim kemenangannya dengan pasti.


***


Beberapa hari pasca perang, pesta menyambut kemenangan para prajurit pun diadakan di istana kekaisaran. Sebagai bintang utama dalam pesta itu, tentu saja adalah sang kaisar sendiri, Helios sun Meglovia, serta yang memimpin prajurit dengan gagah berani, Alcus von Maxwell.


Helios pun mengangkat Alcus von Maxwell secara resmi menjadi pemimpin tertinggi kemiliteran Kekaisaran Selatan Meglovia sekaligus memberinya gelar count di mana ayahnya, Roguerdz von Maxwell, diangkat sebagai penasihat tertinggi kemiliteran.


Beberapa prajurit lainnya yang berprestasi pun satu-persatu diberikan hadiah dan penghargaan atas jasa-jasa mereka.


Tidak ketinggalan pula, penghargaan diberikan kepada Alice Gloria Fallenstone.


Alice secara resmi diberikan wilayah Kota Apes, walau dia sama sekali tidak berencana mengolahnya sendiri dan hanya akan menugaskan beberapa administrator berpengalaman untuk mengelola wilayahnya atas nama dirinya.


Dia kembali memperoleh gelar countess-nya, tetapi itu tidak lagi berasal dari Vlonhard, namun berasal dari tempat yang kini menyambutnya dengan hangat.


Helios mengganti gelar nama tengah Gloria yang berarti kejayaan pada Alice menjadi Garcia yang berarti keagungan sebagai isyarat bahwa Alice telah benar-benar memutus keseluruhan hubungannya dengan mantan keluarga kekaisaran Vlonhard sehingga jadilah dia sebagai Alice Garcia Fallenstone.


Adapun untuk Albert, dia juga kini diberikan hadiah bekas wilayah Duke Alphonse Lugwein, ayah Albert di barat laut Vlonhard di Kota Tarz. Kini Albert bisa pulang kembali ke kampung halamannya dengan perasaan bangga tanpa dibayangi lagi oleh tuduhan sebagai keluarga bidat.


Albert diberi pula gelar count dan gelar nama tengah Ernest yang berarti kejujuran dan kepolosan sehingga namanya kini berubah menjadi Albert Ernest Lugwein.


Sayangnya, perihal Dokter Minerva ingin tetap menyembunyikan identitasnya untuk beberapa waktu dari publik, Helios tidak bisa memberinya hadiah baik berupa gelar maupun wilayah.


Namun sebagai gantinya, Dokter Minerva diberikan klinik sendiri yang khusus meneliti tentang anatomi tubuh manusia sebagai salah satu dari cabang dari farmasi yang dikelola oleh Anna. Dokter Minerva pun bebas memanfaatkan mayat-mayat hasil perang yang tidak memiliki keluarga untuk eksperimennya.


Memiliki kebebasan untuk bereksperimen dengan tubuh manusia secara legal, itu telah melebihi dari cukup untuk membuat Dokter Minerva sangat bahagia.


Ada pula pemberian penghargaan bagi Yasmin, Nunu, dan Olo. Masing-masing dari mereka diberi gelar baron/baroness atas prestasi gemilang mereka. Karena mereka tidak memiliki nama keluarga, maka berdasarkan aturan Kekaisaran Selatan Meglovia, mereka harus menyandang nama keluarga baru pemberian sang raja/kaisar. Dan berdasarkan adat sebelum-sebelumnya dari Meglovia, nama keluarga pemberian itu haruslah dekat bunyinya dengan nama sang raja/kaisar.


Demikianlah, kini Yasmin resmi bergelar baroness dengan nama Yasmin fin Helia. Begitu pula Nunu dengan nama Nunu fin Liosfilia dan Olo dengan nama Olo fin Lioshardt.


Hal itu sampai-sampai membuat Albert merengek iri kepada mereka bertiga. Tidak, tepatnya masih banyak lagi perihal lebih banyak mantan rakyat jelata yang mengukir namanya melalui perang besar tersebut.


Albert bersikeras ingin melepas nama Lugwein-nya itu untuk digantikan dengan nama keluarga baru pemberian tuannya.


Tentu saja, Helios mengacuhkan semua permintaan konyol tersebut yang membuat Albert semakin merajuk.


“Lagipula mengapa si bodoh itu ingin melepaskan gelar count-nya hanya demi mendapatkan gelar baron karena alasan konyol seperti itu setelah aku berupaya mati-matian untuk meyakinkan senat untuk memberikannya?”


Helios benar-benar tidak bisa mengerti jalan pikiran Albert.


***


Sekitar sebulan lebih beberapa hari sedikit usainya perang melawan Kekaisaran Utara Vlonhard itu, lagi-lagi Kerajaan Maosium menampakkan ulahnya yang berpikir Kekaisaran Selatan Meglovia telah melemah dan hendak menyerangnya melupakan kalau di negeri mereka saat ini juga sedang terjadi krisis dungeon break.


Helios yang sedang senggang pun memutuskan untuk terjun langsung ke lapangan dengan membawa Yasmin dan Alice bersamanya. Helios tidak membawa serta Albert.


“Mengapa aku tidak ikut, Master?”


“Itu jelas karena Yasmin dan Alice lebih berguna dibandingkan dirimu saat ini, Albert, sejak kamu tidak punya skill serangan jarak jauh untuk menghabisi lawan dalam jangkauan yang luas. Kamu memang punya skill serangan area luas, tetapi itu terbatas pada jarak yang dekat saja, bukan?”


Helios mengatakannya tanpa sama sekali bermaksud buruk, namun apa yang didengarkan Albert yang terlanjur kehilangan kepercayaan dirinya hanyalah bagian awal perkataan Helios saja, ‘Yasmin dan Alice lebih berguna dibandingkan dirimu saat ini, Albert’ atau dengan kata lain, ‘kamu tidak lagi berguna untukku, Albert’, atau setidaknya itulah yang ditangkap oleh pikiran Albert.


Dan itulah yang membuat Albert semakin terlarut dalam keputusasaan dan rasa rendah dirinya.


Helios segera menangkap ekspresi kekalutan itu dan berusaha menenangkan Albert.


“Albert, dengar! Apapun yang kamu pikirkan di pikiranmu saat ini itu tidak benar adanya, maka mari bicarakan ini kembali baik-baik setelah kami pulang, oke?!”


Albert hanya mengangguk dalam diam dan bukan berarti Helios punya banyak waktu untuk mengurusi hanya urusan Albert seorang.


Helios pun memilih untuk meninggalkan Albert sementara waktu sembari memberikannya kesempatan untuk menenangkan dirinya sendiri persoalan invasi Kerajaan Maosium jauh lebih penting saat itu.


Sayangnya, Helios sedikit keliru. Helios tidak tahu saja bahwa saat dia memutuskan kepergiannya hanya dengan membawa Yasmin dan Alice bersamanya, itulah yang menjadi pemicu awal munculnya lubang kegelapan di hati polos Albert yang mulai menggerogoti dan menghancurkan dirinya sendiri dari dalam.