
Sambil menahan sakit akibat luka fatal yang diberikan oleh Helios, Noel Dumberman berjalan kembali menuju ke markasnya.
Tanpa diduganya, di sana Isis telah menunggunya dengan tampang yang mencurigakan.
“Oh, Noel! Akhirnya kau pulang juga setelah gagal menjalankan tugasmu!”
“Oh, ratuku. Sang terpilih lebih kuat dari yang kita bayangkan. Kita harus bersiap-siap untuk itu.”
“Oh, benarkah?”
Noel Dumberman berusaha membuat dalih. Sementara mendengar itu, Isis justru tersenyum sinis.
“Bukankah kamu sengaja mengalah untuk mengkhianati kami? Di kasus Angele juga dan sekarang pada portal berharga yang dipercayakan padamu…”
“Mana mungkin aku seperti itu, ratuku. Aku hanya masih terlalu lemah.”
Dalam rasa sakit yang dia harus tahan akibat luka fatalnya, Noel Dumberman masih harus merendahkan dirinya tampak baik demi bisa membujuk sang majikan.
Namun seketika itu pula, Isis mensummon sesuatu untuk ditunjukkan kepada Noel Dumberman. Seketika melihat apa yang ditunjukkan oleh Isis itu, wajah Noel Dumberman pun memucat.
“Berani-beraninya kau mengkhianati keagungannya!”
“Tidak! Itu sama sekali tidak benar ratuku! Aku tidak pernah mengkhianati keagungannya!”
Isis hanya tersenyum sinis. Walau Noel Dumberman mengatakan demikian, anjingnya itu terlalu kikuk untuk menyembunyikan ekspresi kagetnya barusan, begitu ditampakkannya kedua orang yang berharga baginya itu yang beberapa saat ini membuat pergerakan mencurigakan di sekitar benua iblis.
“Kamu tidak pernah berkhianat? Lalu siapa mereka yang kutemukan berkeliaran di sekitar markas ini?”
Isis berujar sembari menunjuk kedua sandera yang ada di tangannya itu.
“Mereka memang adalah memang mantan rekanku ketika aku masih sebagai Leon de Meglovia, tetapi aku tidak ada lagi hubungan dengan mereka. Mungkin hanya suatu kebetulan mereka bisa berada di tempat ini.”
Tampak keringat dingin mengucur di balik wajah Noel Dumberman. Nole Dumberman sendiri sadar kalau alasan yang diutarakannya itu tidak masuk akal. Mana mungkin ada manusia secara kebetulan bisa ditemukan berada di benua iblis kecuali jika manusia itu yang memilih sendiri untuk menginfiltrasi ke dalam.
Noel Dumberman hanya berupaya mempertahankan ketenangannya sebaik mungkin sembari berharap charm kegantengannya yang tertutupi sisik itu dapat sekali lagi bekerja menaklukkan hati Isis.
Namun itu jelas sudah terlambat. Noel Dumberman bagaikan seekor tikus yang kedapatan memakan ikan di dapur.
Isis sekali lagi tersenyum sinis mendengar jawaban Noel Dumberman itu.
“Kalau begitu, bunuh mereka.”
“Apa?”
“Bunuh mereka berdua dengan kedua tanganmu sendiri!”
Kedua sandera itu walau mulutnya tidak dibekap, tampak tidak ada kata yang keluar dari mulut mereka. Mereka benar-benar telah pasrah terhadap nasib mereka, walaupun mereka harus berakhir di tangan tuan mereka sendiri.
Noel Dumberman mengepalkan tangannya kuat-kuat. Gigi-giginya menggerutu. Dia pun dalam waktu singkat mensummon auranya sambil menatap para sandera.
Kedua sandera itu, Codi dan Hestia, hanya terlihat pasrah menunggu kematian mereka di tangan sang tuan mereka sendiri.
-Srararararak.
Namun begitu menyerang, rupanya bukanlah para sandera yang diserang oleh Noel Dumberman, melainkan Isis.
“Ukh.”
Isis terpental.
Noel Dumberman memanfaatkan kesempatan berharga itu untuk segera melepaskan ikatan para sandera lantas berniat kabur ke tempat tersebut.
“Akhirnya kau menunjukkan sifatmu yang asli, tikus! Tak kusangka aku memelihara tikus di bawah kakiku selama ini!”
“Aaakkkkhhhh!”
“Ukh.”
Namun begitu Noel Dumberman telah hendak akan kabur, tubuh Codi dan Hestia secara tiba-tiba saja membengkak dengan cara yang aneh.
“Codi, Hestia, kalian kenapa?”
Terlihat ekspresi panik di wajah Noel Dumberman.
Isis pun tertawa puas melihat ekspresi kebingungan Noel Dumberman tersebut.
“Hahahahahahaha. Kau berpikir aku hanya membiarkan mereka begitu saja tanpa menjadikan mereka mainanku?”
“Kau, dasar witch!”
“Ini mengesalkan. Mengapa tiap mainanku selalu saja berakhir dengan mengkhianatiku. Tidak sebelumnya yang malah jatuh cinta pada Cassandra, tidak kau yang bahkan berniat mengkhianati keagungannya padahal sudah kubuat wajahmu jelek agar tidak menarik birahi dari para witch lain. Sudahlah, aku sudah muak padamu. Hancurlah kau bersama dengan para sampah itu!”
Begitu Isis turut mengalirkan mana matinya ke sekujur tubuh Noel Dumberman, Noel Dumberman seketika merasakan panas yang tak tertahankan di seluruh sisiknya. Itu terasa gatal, namun sakit di saat yang bersamaan. Dalam perasaan yang menyiksa itu, Noel Dumberman menggaruki sisik-sisiknya hingga berdarah sendiri dengan cakarnya yang tajam.
“Tidak, Pangeran!”
Codi dan Hestia yang sebenarnya lebih menderita daripada Noel Dumberman sendiri di mana seluruh tubuh mereka membengkak karena pengaruh sihir objek Isis, justru lebih khawatir terhadap kondisi tuan mereka yang akhirnya mereka tahu masih hidup setelah sebelumnya mereka kira telah meninggal.
“Setidaknya, Yang Mulia Pangeran bisa selamat.”
“Kumohon, hiduplah Pangeran.”
“Tidak, Codi, Hestia, kumohon, kalian juga bertahanlah.”
Dalam penderitaan bersama yang mereka rasakan akibat ulah sang witch Isis, mereka satu sama lain saling menggenggam tangan mengharapkan keselamatan masing-masing.
“Sungguh menjijikkan! Sampah seperti kalian begitu menjijikkan! Kalian sebaiknya cepat mati saja!”
“Aaakkkhhhhh.”
“Aaakkkhhhh!”
“Ukh.”
Tubuh Codi dan Hestia mulai mengeluarkan darah seakan balon yang sedang dalam proses meletus. Baik mata, telinga, hidung, serta mulut mereka sama-sama mengeluarkan darah.
“Codi! Hestia!”
Noel Dumberman berujar dengan putus asa. Begitu dia ingin menyelamatkan anak buahnya itu, tetapi dirinya sendiri berada dalam kondisi yang tidak kalah mengenaskannya.
“Ini kesalahanku. Seandainya waktu itu aku tetap merahasiakan identitasku pada kalian, kalian bisa hidup damai di bawah perlindungan Kakak. Aku… Aku telah menyeret kalian pada kematian kalian.”
“Itu tidak benar, Yang Mulia! Sejak pertama kali melihat Anda dalam wujud begini, kami bisa langsung mengenali bahwa itu Anda.”
“Itu benar, Pangeran. Kami akan tetap tahu walau Anda berniat untuk menutupi identitas Anda sekalipun. Mana mungkin kami tidak mengenali tuan kami yang sudah kami rawat sedari kecil? Lagipula jika kami harus meninggal di tempat ini demi Pangeran, itu tidak masalah buat kami karena kami telah menjalani arti dari hidup kami.”
Noel Dumberman hanya bisa tersenyum meratapi kebodohan kedua bawahannya itu yang mengatakan hal tersebut dengan polos seakan nyawa mereka tidaklah begitu berharga.
“Dasar bodoh! Mana ada yang lebih penting daripada nyawa sendiri. Baiklah, karena sudah terlanjur begini, mari kita mati bersama. Aku berjanji di alam sana, aku pada saat itu akan memperlakukan kalian dengan lebih baik lagi jika aku punya kesempatan.”
Namun begitu Isis akan melepaskan sorcery terakhirnya untuk meledakkan ketiga orang itu,
“Tidak akan kubiarkan semuanya berakhir menjadi tragedi lagi! Tidak peduli anak itu ditakdirkan akan meninggal dalam nubuat, aku akan menyelamatkannya! Dia akan hidup panjang membantu jalan kakaknya!”
-Swooosh.
Shipton sang nenek bungkuk mengalirkan mana matinya menghalau serangan Isis. Isis pun masuk dalam jebakan ilusi Shipton.
Shipton yang tidak bisa berlari dengan kencang kemudian memilih untuk melayang dengan tongkat uniknya. Dia pun segera menyeret Noel Dumberman untuk menjauh dari Isis agar tidak lagi terpengaruh oleh sihir objek Isis.
“Madam Shipton, apa yang Anda lakukan? Anak buahku masih ada di sana!”
Shipton mengabaikan rengekan Noel Dumberman dan terus terbang saja secepat yang dia bisa untuk membawa Noel Dumberman kabur dari Isis.
“Maaf, Noel, tidak, Nak Leon. Sudah terlambat untuk menyelamatkan anak-anak buah Anda itu. Seharusnya Anda lebih tahu hal itu kan sejak mereka telah terpapar material sorcery Isis.”
“Kalau begitu, biarkan aku mati bersama mereka!”
“Mengapa Anda menjadi lemah begitu? Bukankah Anda berjuang sejauh ini demi masa depan di mana kakak Anda dapat mengalahkan Raja Iblis dan memimpin dunia ke arah yang lebih baik? Jadi mengapa Anda berniat meninggalkan kakak Anda itu dengan mati konyol di sini? Jalan Anda akan masih panjang dan aku sebagai witch mimpi buruk, menjamin hal itu.”
“Witch mimpi buruk, hahahahahaha, tidak meyakinkan sama sekali. Tapi mereka…”
Namun begitu Noel Dumberman, tidak, Leon menoleh ke belakang, baik Codi maupun Hestia sudah tidak bernyawa lagi dalam ledakan yang menghancurkan tiap bagian terkecil tubuh mereka.
Leon hanya dapat menoleh, tidak tahan melihat secara langsung, bagaimana nasib di akhir hayat kedua anak buahnya itu yang mengenaskan karena keteledorannya terlalu menganggap remeh Isis yang dia kira mampu dia kelabui dengan baik melalui wajahnya yang ganteng.
Isis yang sewaktu di Kerajaan Aegyst memperoleh suplai banyak pria ganteng dari Gilgamesh melebihi rupawannya paras Leon mana mungkin akan tergoda dan bertekuk lutut pada wajah ganteng Leon seorang. Leon benar-benar terlalu meremehkan Isis.
“Jangan memandang ke belakang lagi, Nak Leon. Di akhir hayat mereka, mereka pasti lega karena melihat Anda setidaknya bisa selamat. Jadi Anda harus menghargai pengorbanan mereka dengan tetap hidup dengan baik.”
Mendengar itu, Leon sejenak terdiam. Lalu kemudian, diutarakannya-lah pertanyaan itu kepada Shipton.
“Hei, Madam Shipton, mengapa kau menyelamatkan aku? Bukankah ini berbahaya juga bagimu? Kau bahkan lebih lemah dari Angele, alih-alih menghadapi sosok powerful seperti Isis. Terlebih, bagaimana seandainya Raja Iblis tahu kau mengkhianatinya? Kau pasti juga tidak akan berakhir baik.”
Ekspresi yang ditunjukkan Shipton hanyalah suatu ekspresi ketenangan. Dia tidak terlihat gentar, tidak pula menolak perkataan Leon tersebut.
“Entahlah. Mungkin karena aku bisa melihat sosok mantan suamiku, Toby, darimu. Aku yang bodoh karena berpikir manusia bisa dihidupkan kembali dengan sorcery, berjalan ke jalan yang sesat di mana aku tidak bisa lagi kembali. Aku mencari segala cara untuk menghidupkan kembali suamiku yang telah meninggal. Alih-alih itu terwujud, begitu tersadar, aku telah menjadi sosok yang tidak jauh dari eksistensi monster.”
“Tapi kamu berbeda, Nak Leon. Kamu masih bisa kembali. Apa yang melekat padamu itu bukan kontrak dengan Raja Iblis, tetapi pemberian kekuatan secara sepihak tanpa persetujuan dari jiwamu. Kamu masih bisa dimurnikan.”
“Dan dengan menggunakan jiwa tua yang tak berarti yang telah lama terjebak dalam kesesatan ini, setidaknya aku ingin mengakhirinya dengan melakukan sesuatu yang baik dengan menyelamatkanmu yang masih punya masa depan cemerlang di masa depan.”
“Jadi hiduplah. Dukunglah kakakmu dengan baik sebagaimana yang kamu cita-citakan. Wujudkanlah dunia ideal yang para generasi sebelumnya, termasuk diriku ini, gagal untuk wujudkan, Nak Leon, dengan mengalahkan Raja Iblis lantas menuntun manusia kembali ke jalan yang semestinya.”
Leon tidak dapat berkata apa-apa lagi pada nasihat penuh sentimental dari Shipton tersebut. Leon hanya dapat merasa berterima kasih sedalam-dalamnya pada sosok yang telah tua renta itu yang telah menyelamatkannya.