
Wilayah kota Tarz memiliki masalah yang cukup rumit. Itu diprakarsai oleh rakyat-rakyat jelata yang masih mengidolakan mantan Duke Alphonse Lugwein. Setelah pengaruh kuil suci ortodoks penyembah matahari di wilayah sana berhasil dikendalikan pada taraf tertentu hingga tidak seekstrim dulu lagi, tampaknya para pengikut setia ayah Albert itu pun mulai bernafas lega sehingga mereka mulai menunjukkan diri mereka di permukaan untuk meminta keadilan.
Siapapun pemerintah setempat yang aku utus di sana, tampaknya mereka tetap bersikukuh menolaknya dengan alasan mereka telah kehilangan kepercayaan pada orang-orang yang dulunya telah mengkhianati mantan Duke Alphonse Lugwein tersebut.
Kemudian setelah aku merenung, kini Albert telah didampingi oleh Lilia yang cerdas di mana jika Albert diam saja tanpa bersuara, dia sebenarnya adalah sosok yang cukup karismatik yang mungkin sedikit mirip dengan ayahnya. Walaupun aku tidak pernah melihat mendiang ayah Albert secara langsung, dari cerita-cerita yang kudengar, kemungkinan mereka memiliki pembawaan yang mirip.
Inilah yang kemudian menjadi penyebab munculnya ideku untuk menurunkan Albert secara langsung ke sana untuk meredakan situasi rakyat yang sedang memanas. Terlebih, Kota Tarz dan sekitarnya kini memang telah sepenuhnya kembali ke tangan Keluarga Lugwein di bawah Albert Ernest Lugwein.
Walaupun alasan kedekatannya dengan sosok mantan Duke Alphonse Lugwein adalah pemicu utama keputusanku itu, sebenarnya aku juga berpikir bahwa ini kesempatan yang tepat untuk menjauhkan Albert sementara dari sisiku.
Bagaimanapun, liburan bulan madu Albert terlalu singkat waktu itu perihal masalah yang mesti ditangani pasca perang. Jadi dengan dia dan istrinya bisa berlibur sejenak di Kota Tarz, ini bisa menjadi kesempatan yang tepat baginya untuk berbulan madu yang kedua, tentu saja dalam keadaan yang lebih tenang.
Ditambah wilayah di sana, suhunya lebih dingin saat ini ketimbang di Ibukota Megdia sehingga mungkin saja seorang calon bayi akan muncul di tengah-tengah bulan madu mereka yang kedua kali ini.
Namun, juga ada sedikit keegoisanku terlibat dalam hal ini di mana aku hanya tak ingin melihat posisi Albert merasa serba-salah perihal pertikaianku dalam dingin dengan Duke Glenn Rodriguez saat ini. Kakek Glenn adalah kakek dari Lilia, istri Albert, sehingga Albert pasti merasa sedikit kurang nyaman dengan situasi dinginku dengan Kakek Glenn saat ini. Dengan menjauh sementara, mereka berdua bisa bernafas sedikit lega. Terutama, aku mengkhawatirkan keadaan Lilia.
Di luar dugaan, Albert yang biasanya tidak ingin menjauh dariku segera mengiyakan ketika aku memberikannya perintah ini. Mungkin inilah yang dikatakan bahwa seorang pemuda bisa bertambah dewasa dengan memiliki seorang istri di sisinya.
Sekarang, aku bisa fokus menangani penyebab utama konflikku dengan Kakek Glenn itu, fitnah si rahib sialan, Vyndicta Eros.
Dia telah menudingku sebagai biang kerusuhan yang baru-baru ini terjadi di kuil suci demi bisa membunuh Ilene. Semua testimoninya benar-benar sangat cocok dengan keadaan yang ada saat ini, ditambah surat dari Mellina itu. Itulah sebabnya aku tidak menyalahkan Kakek Glenn yang sampai mempercayai testimoni murahan itu, apalagi itu berasal dari kepala kuil suci sendiri, orang yang memegang puncak di tatanan kuil suci.
Namun aku juga punya bukti dan saksi yang dapat membebaskanku dari tuduhan ini. Aku punya testimoni Dokter Minerva dan juga para korban selamat dari kuil suci, Sara dan kawan-kawan. Hanya saja, untuk bukti spesifik, itu adalah sesuatu yang benar-benar tidak boleh diketahui isinya oleh publik karena akan menimbulkan kecemasan, jadi penanganannya benar-benar harus sangat hati-hati.
Aku masih menyimpan berbagai rekaman video yang direkam oleh para familiarku sewaktu vampir yang menggunakan tubuh adikku Ilene itu mengamuk di kuil suci. Juga ada beberapa rekaman vampir dari ruang laboratorium forensik Dokter Minerva, jadi kurasa itu cukup untuk meyakinkan hakim, asal saja hakim yang dipekerjakan itu amanah.
Namun jika saja ada permainan di belakang, maka itulah batas kesabaranku pula pada mereka. Lagipula aku tidaklah lemah. Seandainya pun para sampah itu akan berkumpul untuk mengeroyokku, aku bisa tetap menang mudah dari mereka.
Lalu apa yang kulakukan sekarang? Tidak ada. Seharian aku hanya rebahan di atas tempat tidur walau mata ini tidak akan pernah bisa terpejam.
Bagaimanapun, posisi rahib sialan itu juga terdesak. Hanya butuh waktu bagi kebenaran akan segera terkuak. Jika demikian, kuyakin Duke Rodriguez juga akan segera menendang rahib bajingan itu.
Hanya sekaranglah waktu yang tepat bagi rahib sialan itu jika akan mau berulah.
Dan bingo, sang rahib pun mulai menunjukkan keju busuk dari balik saku bajunya.
Lalu tidak butuh waktu lama pula bagi aku memergoki sang rahib sejak aku sudah memiliki gate portable mini hasil rekayasa berduaku dengan Dokter Minerva.
***
Sang rahib berjalan dengan mengendap-endap bersama para pengikutnya, tampak akan segera melarikan diri dari Wilayah Rodriguez.
Dia dan rombongan jauh berjalan hingga akhirnya sampai di kaki gunung.
“Ahai, tampaknya hanya sampai di sini saja ya, rumor palsu itu bisa bertahan. Setidaknya aku sudah mengulur waktu yang cukup untuk merencanakan pelarian ini. Rombongan sisa melalui rute gunung lalu ke hutan monster, setelah itu keluar ke desa dekat Kota Tarz yang telah rusuh oleh rumor yang aku tebarkan pula. Lalu dari sana langsung menuju ke wilayah Fallenstone untuk ke pelabuhan demi menuju ke benua es. Sungguh rencana yang cemerlang!”
“Rencana apa yang cemerlang Rahib bajingan!”
Mendengar suara yang menggema dari belakangnya, keringat dingin seketika mulai menjalar di sekujur tubuh sang rahib. Dia kenal betul dengan suara itu, suara yang sangat dibencinya sekaligus menjadi pusat mimpi buruknya. Dialah Helios sun Meglovia, sang kaisar pemimpin Benua Ernoa, yang telah menghancurkan segala rencananya.
“Anda rupanya, Yang Mulia Kaisar. Apa keadaan negeri berjalan lancar?”
“Khehehehehehek.”
Sang rahib tiba-tiba saja tertawa cengengesan.
“Anda percaya diri sekali rupanya, Yang Mulia.”
“Itu jelas karena semua bukti benar-benar akurat.”
“Anda belum tahu rupanya. Aku tidak sekadar memfitnah Anda. Justru aku juga yang bertanggung jawab dalam membunuh Ilene, Yang Mulia. Tidak, tidak hanya Ilene saja, demi mewujudkan nubuat itu, aku telah bekerja keras mewujudkan kematian ayahanda dan saudara-saudari Anda.”
Tidak jelas lagi ekspresi seperti apa yang ditunjukkan oleh Helios begitu mendengar ucapan sang rahib. Hanya ada amarah tercermin di balik bola matanya yang segelap abyss.
“Mengapa…”
“Apa Anda bertanya mengapa aku membunuh mereka semua? Itu semua karena Anda yang tidak becus dalam melakukannya sendiri, Yang Mulia. Padahal benih-benih dendam sudah susah-payah aku tumbuhkan di hati Anda dengan perlakuan yang buruk orang-orang itu lakukan kepada Anda, tetapi Anda masih saja sabar dan tidak berbuat apa-apa.”
“Aku terpaksa merancang sendiri metode untuk membunuh Ilene dan Tius. Dalam kasus Leon dan Alfreon, aku tidak terlibat langsung, namun bisa dikatakan pula itu buah dari tindakanku. Bagaimanapun karena hukum yang melindungi dunia ini, aku tidak bisa terlibat langsung sehingga aku harus mengambil jalan memutar untuk mewujudkan kematian mereka semua. Tahukah Anda bahwa itu begitu merepotkan?”
“Jika bisa, akan lebih mudah kalau aku bisa menghabisi mereka semua yang menghalau jalanku dengan tanganku sendiri. Ah, tentu saja hukum dunia yang kumaksud bukan aturan-aturan bodoh yang kalian para manusia buat sendiri. Itu adalah aturan yang murni terlahir dari dunia.”
“Kalian benar-benar makhluk yang begitu bodoh sampai-sampai tidak menyadarinya, begitu mudah kusesatkan dengan nubuat palsu, dengan sesembahan palsu pula. Manusia memanglah makhluk yang sangat bodoh.”
“Apa tujuanmu melakukan semua itu?”
“Apa tujuanku? Tentu saja demi eksistensiku. Aku tidak akan bisa tinggal di dimensi lain jika aku tidak membunuh antibodi dari dunia itu yakni sang pahlawan.”
“Antibodi? Sang pahlawan? Apa maksudmu?”
“Tahukah Anda, Yang Mulia, darimana iblis berasal?”
“…”
“Iblis pertama, Baal, lahir ke dunia ini berkat permintaan kuat pada benda mati oleh seseorang pada cermin. Tahu apa yang dimintanya?”
“…”
“Itu alasan konyol hanya karena dia stres memiliki rambut yang botak sehingga dia ingin memiliki kulit kepala yang normal. Iblis terlahir dari sesembahan bukan pada pencipta, tetapi pada benda mati. Lalu yang paling efektif, cermin, api, matahari, dan bintang, semua benda yang berkilauan. Tahukah Anda apa artinya?”
“Jadi yang melencengkan ajaran kuil suci itu kalian rupanya. Dan, kamu iblis itu, Baal.”
“Khehehehehek. Sudah kuduga bahwa Yang Mulia kita adalah orang yang cepat tanggap. Itu benar, Yang Mulia. Aku keluar dari cermin, mengabulkan permintaan orang yang putus asa itu, tetapi sebagai ganti aku memperoleh wujud orang itu. Demikianlah aku memiliki tubuh boneka pertamaku di dunia. Lalu perlahan, kutingkatkan pengaruhku, kubuat pengikutku semakin banyak, lantas aku pun memperoleh semakin banyak tubuh-tubuh boneka.
Seiring dengan sang rahib yang mengaku dirinya adalah Baal mengucapkan kalimat itu, dia dan seluruh anak buah yang tadi mengikutinya, termasuk beberapa yang telah menunggunya di kaki gunung, seketika berubah ke wujud asli mereka, demon perwujudan Baal.
“Yang Mulia tahu? Betapa aku kesulitan selama ini merangkai takdir hingga aku bisa membunuh sang pahlawan. Tetapi Anda datang sendiri ke tempat ini, dan benang merah itu telah terjalin. Berkat kebodohan Anda, kini aku diberikan hak untuk bisa membunuh pahlawan.”
Senyum licik para demon itu semringah seakan melihat mangsa empuk tepat di depan matanya. Walau demikian, ekspresi Helios tenang.