
Sejak hari itu, Dokter Minerva tidak memperbolehkan lagi Talia untuk pulang ke mansion sejak tubuhnya telah hamil besar.
Dokter Minerva memaksa Talia untuk dirawat inap sejak jika ada masalah semisal air ketubannya pecah, pihak klinik akan bisa segera memberikan tindakan penanganan yang tepat.
Helios dan rombongan akhirnya tiba setelah terbang cukup jauh dengan menggunakan sayap mana miliknya dan Yasmin yang membonceng Albert.
“Talia! Sayang!”
Melihat wajah istrinya yang lemah lunglai, Helios segera menggapainya lantas mendekapnya hangat serta membelai lembut rambut Talia yang perak itu.
“Mas Lou, jangan khawatir. Aku dan jabang bayi kita baik-baik saja.”
Mendengar ucapan sang istri, Helios hanya bisa tersenyum lembut. Sayangnya, dia tidak mampu menyembunyikan air matanya itu. Talia pun menghapus air mata suaminya dengan telunjuk kanannya sembari tersenyum cerah.
“Benar kok, Mas. Tidak terjadi apa-apa pada kami.”
Bagaimana pun, Helios telah kenal benar sifat istrinya yang selalu menyembunyikan rasa sakit jika itu berkaitan dengan dirinya sendiri hanya untuk tidak membuatnya khawatir. Itulah sebabnya Helios tetap sangsi meski sang istri sendiri yang bilang bahwa kondisinya baik-baik saja.
“Itu benar, Yang Mulia Pangeran. Kondisi istri Anda dan jabang bayinya baik-baik saja. Setidaknya untuk saat ini. Bagaimana pun mulai saat ini, dia mesti dirawat inap.”
“Terima kasih, Dokter. Lakukan yang terbaik demi kesehatan istriku dan jabang bayinya.”
“Sesuai perintah Anda, Yang Mulia Pangeran.”
Barulah ketika Dokter Minerva yang menjelaskan sendiri bahwa benar tidak ada apa-apa pada kondisi Talia dan janinnya, Helios percaya dan akhirnya bisa bernafas lega.
Malam itu, Helios pun lalui dengan perasaan lega tanpa tahu apa yang akan terjadi keesokan harinya.
***
Sekitar pukul 9 pagi keesokan harinya, mendadak Helios kehilangan koneksi terhadap semua familiarnya yang dia tempatkan untuk berjaga di Kerajaan Cabalcus. Itu adalah tempat kakaknya, sang putra mahkota Kerajaan Meglovia, Tius Star Meglovia berada.
Ekspresi Helios seketika menegang. Dia kembali mengingat akan kejadian yang sama yang pernah menimpanya dua tahun silam. Itu di saat bahaya menjerat Leon yang akhirnya merenggut nyawa adik kandungnya itu.
Waktu itu, Helios sama sekali tidak punya klu apa-apa karena baginya itu adalah fenomena yang wajar sejak kabut dan barier dungeon menjadi sekat elektromagnetik yang sangat kuat sehingga dia pastinya tidak bisa lagi mempertahankan sinyalnya terhadap semua familiarnya di luar ketika dirinya memasuki dungeon.
Nyatanya apa yang terjadi. Adiknya hilang tanpa bekas yang berdasarkan kesaksian Hestia, jasad adiknya bahkan telah habis dimakan oleh monster semut api yang padahal hanya merupakan monster kroco berlevel rendah.
Itu semua karena dari awal ada yang memang mengincar nyawa Leon yang merancang segala rencana licik itu di kala dirinya harus berada di dalam dungeon terisolasi sehingga Helios tidak bisa memonitor keadaan di luar.
Walaupun ada kesaksian yang sedikit janggal dari Hestia bahwa Helios sendiri-lah dalang di balik pembunuhan Leon, adik kandungnya sendiri, yang mana mungkin itu terjadi sejak Helios memang tidak pernah melakukannya, berdasarkan bukti-bukti yang tertinggal di TKP dari kesaksian Hestia tersebut, hal itu telah dipastikan benar adanya.
Ditemukan sedikit sisa-sisa organ usus dan hati Leon di tempat kejadian yang di mana manusia takkan mungkin lagi dapat hidup jika kehilangan organ dalamnya yang penting itu.
Kini hal yang sama lagi-lagi terjadi. Dan bahkan malah ini lebih aneh. Helios sama sekali tidak memasuki dungeon atau tempat berbarier energi tinggi lainnya sehingga tidak ada alasan baginya untuk kehilangan koneksi dengan para familiarnya.
Apa yang lebih aneh adalah bahwa dia hanya kehilangan koneksi pada familiar yang dia tempatkan di seluruh Kerajaan Cabalcus saja. Familiar yang dia tempatkan di seluruh Kerajaan Meglovia, Kekaisaran Vlonhard, Kerajaan Ignitia, dan bahkan di Benua Ifrak, semuanya dalam keadaan normal-normal saja.
Tanpa pikir panjang dan bahkan tanpa menemui Talia lagi di pagi itu, Helios bertolak ke Kerajaan Cabalcus.
Helios mengonsentrasikan pikirannya pada seluruh familiar yang dia tempatkan di Kerajaan Meglovia dan Kerajaan Ignitia yang tepat berbatasan dengan Kerajaan Cabalcus. Di situ Helios menyadari, telah terbentuk barier energi super besar yang menyelubungi seluruh wilayah Kerajaan Cabalcus tersebut.
“Dasar bajingan! Kakak, kuharap kau baik-baik saja!”
Helios terbang secepat yang dia bisa.
Pada taraf tertentu, akhirnya Helios terbang menyamai kecepatan suara. Dia melindungi dirinya dengan perisai mana super tebal berlapis sihir es yang hanya akan segera mencair, perihal tidak tahan akan tekanan super dahsyat sebagai akibat dari terbang di luar batas kecepatan yang bisa ditanggung bahkan seorang wizard kuno tingkat tinggi sekalipun.
Badannya penuh luka akibat tekanan angin. Namun Helios mampu melindungi setiap bagian vital di tubuhnya sehingga setidaknya bisa dikatakan bahwa kondisi luka-lukanya tidaklah fatal.
Helios segera tiba di perbatasan Kerajaan Cabalcus. Perjalanan yang seharusnya bisa memakan waktu sampai 17 hari perjalanan lamanya dengan menggunakan kereta kuda, ditempuhnya dalam waktu kurang dari 4 jam saja. Itu adalah rekor terbang tercepat Helios selama ini. Bahkan barier kokoh yang mengelilingi sekeliling Kerajaan Cabalcus pun hanya segera pecah ketika Helios menembus masuk ke dalamnya saking cepatnya Helios terbang saat itu.
Namun apa yang didapatinya sesampainya di sana…
***
“Kerja bagus, Arkam. Kamu bisa kembali ke posisimu.”
Sang Putra Mahkota Ludwig tampak menyeringai dengan tampang menjijikkan begitu mendapati Tius ditangkap bagaikan domba yang baru saja kabur dari kandangnya oleh sang penembak jitu tersebut.
“Swein, di mana Swein, dasar bajingan?!”
“Hah, apa perlu lagi kamu bertanya? Tentu saja para living armor-ku sudah dari dulu mengoyak-ngoyak tubuhnya.”
“Kau membuat kontrak dengan para monster? Tidakkah praktik summoner iblis ditabukan di seluruh dataran benua?!”
“Hei, Tius. Biar kuberitahukan kau satu rahasia besar.”
Tius menatap tajam dengan perasaan amarah dalam keadaan berlutut terhadap Ludwig, sang putra mahkota Kerajaan Cabalcus, yang memandangnya dengan pandangan penuh superioritas sambil berdiri di hadapannya yang sedang tersungkur tak berdaya.
Ludwig kemudian membisikkan baik-baik kalimat yang diucapkannya agar Tius dapat mendengarkannya dengan jelas, “Kamu tahu, aku memperoleh kekuatan ini dari Rahib Robell Zarkan.”
“Omong kosong apa itu?! Mengapa pemimpin besar kuil suci di kekaisaran melakukan sendiri penghinaan terhadap keyakinan para pengikutnya?!”
Dengan tampak cuek, Ludwig acuh tak acuh menjawab pertanyaan Tius, “Mana aku tahu soal itu? Lagian, kami hanya disuruh untuk segera menyelesaikan masalah yang ada di sini.”
“Kami?”
“Hahahahahaha. Tentu saja aku tidak bergerak sendiri. Semua yang kulakukan sudah disetujui oleh para bangsawan dan keluarga kerajaan, bahkan ini semua adalah perintah dari sang raja sendiri, Yang Mulia Palpico Sun Cabalcus. Ketika penyatuan benua selesai, Cabalcus-lah yang akan menjadi penguasa selatan!”
“Tidakkah kamu khawatir akan amarah rakyat?! Amarah rakyat jauh lebih hebat dari yang kamu kira!”
“Hahahahahaha. Apakah ini saatnya mengkhawatirkan orang lain? Ketahuilah, apa yang akan segera kamu alami.”
Senyum gila segera ditunjukkan oleh Ludwig kepada Tius.
“Dasar bajingan gila!”
Namun, Ludwig tidak berkata apa-apa lagi membalas perkataan Tius itu. Dia hanya terus tersenyum secara menjijikkan sembari menatap Tius seakan menertawakan kemalangannya. Dia pun menyuruh para pelayannya untuk segera mempersiapkan berbagai alat penyiksaan.
Dia tidak perlu untuk menginterogasi Tius tentang apapun. Ludwig yang psikopat hanya senang melihat Tius menderita kesakitan di dalam rangkaian penyiksaannya. Selama berjam-jam setelah itu, Tius pun harus mengalami siksaan sadis dari Ludwig yang melebihi dari apa yang manusia bisa imajinasikan di mimpi terburuk mereka.
***
Lima jam kemudian, Helios akhirnya sampai di tempat di mana kakaknya, Tius, berada. Namun, apa yang disaksikannya adalah potongan tubuh kakaknya yang tercerai-berai. Tius telah lama meninggal dunia di bawah siksaan sang putra mahkota psikopat, Ludwig.
Apa yang lebih menyakitkan perasaan Helios adalah bahwa bagian potongan kepala kakaknya itu benar-benar menunjukkan ekspresi wajah penuh penderitaan. Helios segera sadar bahwa ketika tubuh kakaknya itu dimutilasi, kakaknya masih berada dalam kondisi sadarnya. Helios mengetahui benar hal itu sejak dia menggeluti ilmu forensik dasar.
“Tidak. Kakak? Apa yang terjadi? Mengapa bisa semuanya menjadi seperti ini?”
“Oho, kalau tidak salah, kau adalah pangeran kedua Kerajaan Meglovia yang diramalkan akan menjadi tiran jahat itu ya? Sayapmu cantik juga. Apa itu terbuat dari mana? Atau apa kamu keturunan merpati atau sejenisnya? Aku jadi penasaran akan tubuhmu. Sang rahib melarangku untuk membunuhmu, tetapi bermain-main denganmu sebentar tidak masalah kan?”
“Putra Mahkota Ludwig…”
“Oho, kau juga mengenalku? Aku merasa tersanjung.”
Pada akhirnya, semua cerita yang melibatkan oracle mengandung pesan bahwa takdir tidak bisa dicegah. Apa yang akan terjadi pastilah terjadi. Justru aksi orang-orang untuk menghindari takdir itu sendiri akan menjadi boomerang bagi diri mereka sendiri untuk menjemput takdir dan membawanya lebih dekat kepada perwujudannya.
Demikianlah, Helios pun mulai melangkah ke jalan takdirnya, ke jalan tiran yang penuh kehinaan.
“Matilah kalian semua, bajingan!”