Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 178 – JEBAKAN DAMIAN



“Master, rakyat wilayah Lugwein mengharapkan kunjungan kaisar. Apakah kiranya Anda bersedia berkunjung ke sana, Master?”


“Dasar sampah-sampah yang kelewat batas itu! Berani-beraninya mereka menyuruh kaisar mereka ke sana langsung layaknya babu mereka! Tuan Albert, apakah Anda akan terus-terusan membiarkan kekurangajaran rakyat di wilayah Anda itu kepada Master?! Lihatlah sekarang akibatnya! Karena mereka, wilayah timur memperoleh pembenaran mereka dan akhirnya melakukan pemberontakan!”


Helios segera menenangkan Yasmin begitu hendak akan meledak. Helios pun berpikir jernih untuk sesaat.


“Setelah kupikir-pikir, ada baiknya juga aku turun langsung ke sana untuk melihat apa yang mereka mau.”


“Master, tapi itu berbahaya. Kita tidak tahu apa yang akan mereka lakukan kepada Master.”


“Kamu juga tahu sendiri kan bahwa aku ini tidak lemah. Lagipula kamu, Albert, dan Dokter Minerva juga akan pergi ke sana untuk menemaniku.”


“Baiklah, Master. Kalau itu sudah menjadi keputusan Master, aku tidak akan berkata apa-apa lagi.”


Demikianlah, dengan ajakan Albert, Helios bersama Yasmin dan Dokter Minerva segera ikut bertolak dari Ibukota Megdia menuju ke Kota Tarz.


Namun tiba-tiba saja terjadi masalah.


Portal yang dibentuk oleh Dokter Minerva untuk menuju ke Kota Tarz tersebut tiba-tiba saja dibajak oleh sesuatu yang menyebabkan keberangkatan Yasmin dan Dokter Minerva menjadi terhalang yang menyisakan Helios dan Albert saja yang tertransfer ke sana.


“Apa yang terjadi? Di mana Yasmin dan Dokter Minerva? Albert, apa kamu baik-baik saja?”


Albert hanya diam tanpa menjawab pertanyaan Helios tersebut.


Di saat Helios berusaha memperbaiki kesadarannya yang sempat merasakan pusing akibat efek teleportasi, dia melengahkan penjagaannya karena merasa aman dengan adanya Albert di sisinya.


Namun tiba-tiba,


-Srerererek.


Sengatan listrik terasa di lehernya. Helios seketika kehilangan kendali akan mana pool di dalam tubuhnya dan tak mampu lagi mengeluarkan sihir. Sebuah alat penetral mana telah dipasangkan di lehernya oleh sosok yang sempat bersembunyi dari balik bayangan.


“Albert, lari! Kita disergap!”


Namun sekali lagi tak ada respon dari Albert.


“Albert?”


“Maaf, Master. Ini yang terbaik bagi kita semuanya. Aku tak tahan lagi melihat Master menderita karena dicaci oleh orang-orang. Bukankah di Kota Painfinn sebelumnya kita hidup bahagia? Master menjadi pimpinan di sana, sementara aku menjadi tangan kanan Master. Mari kembali saja ke sana, Master, bersama yang lain, Nyonya Talia, Nyonya Lusiana, Helion, anak-anak Master yang lain, Alice, Nunu, Yasmin, semuanya. Perihal di sini, terlalu menyakitkan.”


“Apa yang kamu katakan, Albert?”


“Kita tidak perlu lagi menderita perihal mempertahankan orang-orang yang tidak suka dengan keberadaan Master. Di Kota Painfinn, kita bisa hidup bahagia lagi. Biarkan Damian dan pasukannya yang mengurus sisanya. Bukankah Master sedari awal juga tidak peduli untuk menjadi raja atau kaisar?”


Seketika Helios tersadar ada yang salah. Namun semuanya telah terlambat. Dia telah masuk ke dalam perangkap Damian dengan menggunakan kebodohan bawahannya.


“Albert, dasar bodoh! Kamu pikir setelah kita tinggal di Kota Painfinn, mereka tetap akan membiarkan kita hidup?! Yang mereka incar adalah nyawa kita!”


“Apa? Tapi Damian bilang dia akan menjamin keselamatan Master di sana selama Master turun tahta dari posisi kaisar.”


“Mana mungkin Damian sialan itu dan kelompoknya akan membiarkan ancaman mereka tetap hidup setelah memperoleh kekuasaan?! Kamu telah ditipu, Albert!”


“Hahahahahahahahaha. Kamu cepat tanggap juga ya, Helios.”


Sesosok pemuda tiba-tiba saja muncul lantas berjalan mendekat ke arah Helios.


“Rupanya ini semua memang ulahmu ya, Damian.”


Dialah Damian, sosok yang dikabarkan sebagai sang pahlawan yang dinubuatkan.


“Oh ho. Tepat sekali.”


“Kamu juga kan yang memprovokasi warga wilayah Lugwein dan juga bagian timur benua untuk memberontak?”


“Tak kusangka kau juga bisa menebak sampai ke sana. Itu benar. Aku memanfaatkan sisa-sisa koneksi Rahib Robel Zarkan dan Rahib Magnus Slavonn untuk mengatur semua persiapannya di sana-sini.”


Albert kebingungan dengan pembicaraan yang tiba-tiba terjadi itu. Itu karena Damian sebelumnya menjanjikan kepada Albert bahwa dia akan bersamanya menyelamatkan Helios dari takdirnya sebagai tiran yang akan dibunuh dalam nubuat dengan menurunkannya dari tahta tanpa melalui pengorbanan darah.


“Damian, apa maksud ucapanmu? Bukankah kau berjanji akan menyelamatkan Master?”


Sayangnya, itu semua bohong. Damian telah menipu Albert yang bodoh.


“Mengapa pula aku harus menyelamatkannya?”


Sayangnya, Helios terlewat momen untuk memberitahukan kepada Albert bahwa sang pembuat nubuat, Rahib Vyndicta Eros, sejatinya adalah iblis yang menyamar, Baal. Itulah sebabnya Albert sampai sekarang belum mengetahui kenyataan itu dan masih mempercayai otentisitas nubuat seratus persen.


“Kau mengingkari janjimu?”


“Sebagai pengikut kuil suci yang setia, bukankah aku harus menjalankan nubuat yang diramalkan? Terima kasih atas kerjasamanya, Albert. Pastinya nama kamu nantinya akan tercatat dalam sejarah sebagai orang yang mendampingi sang pahlawan dalam membasmi sang kaisar tiran demi membuka jalan menuju kepada perdamaian dunia!”


-Clang.


Albert sadar bahwa tidak ada waktu bagi dirinya untuk frustasi meratapi kebodohannya hingga mencelakai masternya. Albert pun segera mencabut pedangnya dari sarungnya. Dia dengan sigap mundur ke belakang untuk menarik tuannya menjauh dari musuh-musuh itu.


“Clang, clang, clang.


Benturan pedang terjadi selama proses itu. Namun berkat kemampuan Albert, Albert dapat mengatasinya tanpa masalah.


“Maafkan atas kebodohanku, Master. Aku telah membiarkan diriku ditipu.”


Helios sebenarnya masih mendongkol karena Albert berani membuat keputusan sendiri yang menentangnya di belakangnya. Namun setelah melihat ekspresi penyesalan Albert yang begitu mendalam, Helios memutuskan untuk justru menghibur bawahannya yang bodoh itu agar tidak hancur dalam perasaan bersalah.


“Sudahlah, bodoh! Makanya kubilang lain kali minta dulu pertimbanganku sebelum membuat keputusan karena kau terlalu bodoh.”


“Maaf, Master.”


Helios tersenyum kecut.


“Sudahlah, aku juga salah karena tidak bisa memprediksi ini akan terjadi padahal aku sudah tahu kebodohanmu. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana melepaskan kalung yang menyegel mana-ku ini. Wah, aku benar-benar takjub pada kuil suci sampai memiliki artifak sehebat ini yang aku pun baru pertama kali melihatnya yang tidak mempan dengan semua kemampuanku.”


“Maaf, Master.”


“Sudah kubilang, sudahah. Lagian apa? Hanya karena mana-ku tersegel, mereka bisa mengalahkanku? Mereka hanya bermimpi di siang hari bolong. Kamu sudah tahu kan, bahwa aku ini sebenarnya adalah kelas champion?”


“Ya, Master. Aku baru-baru ini mengetahuinya dari Nunu.”


“Kelas champion tidak akan pernah kalah hanya karena mana-nya tersegel.”


“Kan ada kamu. Seorang grand master dunia. Seberapa banyaknya pun swords master yang ada, itu tidak akan bisa menjadi tandinganmu, bukan?”


“Itu benar, Master.”


“Baguslah! Kepercayaan dirimu tampaknya telah kembali. Sekarang, mari kita mulai aksi kita berdua setelah sekian lama, Albert!”


“Apa maksud Master? Bukankah mana Anda tersegel? Master tidak akan bisa mendukungku dari belakang seperti biasa.”


“Bukan formasi yang biasa itu, bodoh! Kali ini kita akan bertarung sebagai partner berpedang.”


“Tapi di mana pedang Master? Bukannya untuk mensummon pedang aura juga butuh mana, Master?”


Namun pertanyaan Albert itu segera terjawab ketika artifak kalung Helios seketika berubah menjadi pedang.


“Untuk menjaga kemungkinan seperti ini akan terjadi, aku sengaja membawa artifak ini terus bersamaku. Nah, mari kita mulai.”


Albert dan Helios pun bersama-sama berlari menerjang para paladin yang menjadi benteng sang hero, Damian.


Albert mengayunkan pedang besarnya menangkis tiap serangan pedang tajam dari para paladin, sementara Helios mensupportnya melalui pedang plasma di tiap titik buta para paladin tersebut.


-Slash, slash, slash.


Karena kelincahan gerak Helios dan kombinasinya bersama Albert yang sangat kompak, dengan mudah para paladin itu dikalahkan di bawah ketajaman pedang mereka berdua. Pemilik yang besar dan pemilik yang kecil saling menutupi kekurangan masing-masing membentuk suatu tarian berpedang yang berkelas.


Para paladin yang terdiri dari para swords master itu tetap bukan apa-apanya bagi kombinasi sang grand master Albert dan sang champion Helios.


“Dasar tidak berguna!”


Damian berteriak marah begitu melihat sendiri fakta itu tepat di depan matanya.


Akan tetapi kemudian,


“Aaakkkkhhhh!”


“Albert?”


Albert tiba-tiba saja mengerang kesakitan lantas mengeluarkan darah lewat mulutnya, padahal sama sekali tak ada sesuatu pun yang melukainya.


Helios yang sensitif terhadap aliran mana bisa segera mengetahuinya. Tiba-tiba terjalin koneksi kutukan mana mati antara tangan Damian dan jantung milik Albert. Itu tidak salah lagi adalah jurus santet milik witch.


“Kau, sialan! Rupanya kau juga bekerjasama dengan witch!”


Namun Helios hanya bisa menontonnya tanpa mampu berbuat apa-apa perihal mana-nya yang sementara tersegel.


“Hahahahahaha. Pandanganmu benar-benar tajam ya, Helios. Aku jadi iri.”


“Seorang hero melakukan kontrak sebagai summoner iblis, sungguh benar-benar tercela! Kini aku benar-benar yakin, kau hanyalah hero palsu, Damian!”


“Asli atau palsu, itu tidak penting bagiku. Yang penting semua rakyat meyakiniku. Maka dari itu, Helios, kumohon matilah di tempat ini agar aku bisa mewujudkan semua ambisiku dan membuat semua rakyat bahagia dengan kematianmu!”


“Dasar sialan. Kamu pikir bisa mengalahkanku?!”


“Aaaaakkkkhhhhhh!”


“Albert!”


Albert kian mengerang kesakitan memegangi jantungnya yang terkena santet. Dia yang bertubuh besar itu tetap tak mampu melawan betapa mengerikannya santet itu.


“Master.”


Albert menggapai-gapai di udara mencari keberadaan sang master. Melihat itu, Helios segera kembali ke sisi Albert untuk menggapai tangannya.


“Tenang saja. Aku pasti akan berhasil mengobatimu.”


Tiba-tiba Damian berteriak keras kepada mereka berdua.


“Kalian tidak penasaran bagaimana bisa aku menaruh kutukan santet itu ke jantung Albert?”


Damian menyeringai berupaya menghinakan Helios dan Albert. Tanpa diberitahu, Damian sendirilah yang melanjutkan ucapannya.


“Itu tepatnya bukan aku, tetapi pengikutku dari Kota Tarz-lah yang melakukannya. Tiap hari mereka meminumkan air kutukan itu kepada Albert sedikit demi sedikit tanpa disadarinya. Dia yang begitu bodoh yang mempercayai tiap senyuman palsu mereka masuk ke dalam perangkap dengan mudahnya.”


Mendengar hal itu, hati Albert seakan runtuh. Orang-orang yang selama ini dia kira baik padanya dan dia percayai, rupanya telah menusuknya dari belakang dan menginginkan nyawanya.


Dari kesedihan, hal itu berubah menjadi kemarahan. Albert mengutuk kebodohannya yang dengan bodoh mempercayai mereka. Kehangatan yang selama ini mereka tunjukkan kepada Albert tidak lebih dari sekadar sandiwara belaka.


“Tenanglah, Albert. Jangan mempercayainya omongannya yang penuh kebohongan itu. Kita belum akan tahu kebenarannya sebelum kita menyelidikinya secara langsung.”


Albert yang merasa sangat kesakitan hingga tak sanggup berucap, hanya mampu tersenyum simpul menanggapi ucapan masternya.


“Albert, bertahanlah! Aku akan segera mengalahkan hero palsu itu demi menyelamatkanmu!”


“Mengalahkanku? Hahahahahahaha. Bagaimana caranya? Padahal kekuatanmu tersegel oleh artifak buatan witch Isis itu.”


Akhirnya terjawab sudah mengapa Helios yang mampu membantai seisi Cabalcus bahkan mampu membunuh seorang grand master dunia, terjebak tak berdaya hanya karena sebuah artifak. Itu bukanlah sembarang artifak, melainkan artifak yang dibuat dengan sorcery yang menentang hukum alam.


“Kamu benar-benar sampah yang harus dibasmi, Damian! Dan kau pikir, aku akan kalah hanya karena mana-ku tersegel?”


“Aaaakkkhhhh!”


Bukan jawaban dari Damian-lah yang menanti Helios, melainkan teriakan penuh kesakitan dari Albert.


“Kau dasar sampah!”


“Sebaiknya kau menjaga sikapmu, Helios. Kamu harus ingat bahwa nyawa Albert ada di tanganku. Aku bisa saja membunuhnya kapan pun jika kau berbuat macam-macam.”


Helios seketika tidak mampu berbuat apa-apa. Pergerakannya terkunci oleh trik kotor Damian itu. Salah bergerak sedikit, maka Albert-lah yang akan mati.


-Slash.


“Ma…s…ter…”


Dalam raut wajah putus asa, Albert pun harus menyaksikan tuannya disiksa oleh Damian dan para pengikutnya perkara dirinya yang telah menjadi sandera.