
“Master?”
Melihat sesuatu yang ganjil terjadi pada Helios, Albert pun mencoba menyapanya.
“Oh. Aku sempat kehilangan pikiran sejenak di tempat lain.”
“Bukan itu, Master. Kekuatan apa itu barusan?” Alice ikut melangkah lantas menanyakan pertanyaan yang lain kepada Helios.
“Aku juga kurang yakin. Mungkin ini ada pengaruhnya dengan dungeon?” Namun Helios tetap pura-pura bodoh di hadapan yang lain demi menyimpan masalah kekuatannya itu untuk dirinya sendiri saja untuk saat ini.
“Bukan itu yang penting sekarang. Ayo bersiap-siap. Kita akan segera memasuki ruangan boss dungeon kelas mythic. Albert, Nunu, kalian ingat kan kehebatan the king of undead sebelumnya?”
“Tentu, Master.”
“Hmm.”
“Kelas legendary seperti the king of undead tidak dapat dibandingkan dengan apa yang akan kita hadapi saat ini yang berada di ranah lain. Oleh karena itu, tujuan kita saat ini bukanlah untuk mengalahkan boss dungeon-nya, malahan akan timbul masalah lebih besar jika boss dungeon-nya sampai kalah dan dungeon-nya menghilang.”
Semua pun mengangguk atas penjelasan Helios tersebut.
“Tujuan kita adalah menyelidiki keanehan di dalam lantas memperbaikinya jika memungkinkan. Namun, jika itu tidak memungkinkan, kita harus segera mundur untuk melaporkan keadaannya kepada kerajaan.”
Bersamaan dengan penjelasan Helios tersebut, para anggota party pun mempersiapkan mentalnya sebelum akhirnya Codi dan Albert mulai membuka pintu boss dungeon tersebut.
“Sraaak.” Terdengar suara pintu yang terbuka menggema.
Seluruh party Helios pun membelalakkan matanya. Itu karena berbeda dari apa yang mereka pelajari selama ini di buku bahwa boss dungeon akan terantai melalui rantai yang sangat kuat di singgasananya, tampak sama sekali tidak ada hal yang seperti itu yang mereka amati.
Tidak, bukan pula boss dungeon itu terbebaskan lantas hendak menyerang mereka. Itu sesuatu yang jauh lebih buruk. Boss dungeon yang seharusnya terantai di singgasananya itu telah menghilang. Hanya nampak singgasana kosong saja di hadapan mereka saat ini.
“Master, apa yang sebenarnya terjadi?”
“Witchnya menghilang!”
Helios tidak ada waktu untuk menanggapi komentar Albert dan Nunu itu sebab saat ini dia pun merasakan kewas-wasan akan situasi yang di luar dugaannya itu.
Namun, di tengah kebingungan party Helios, sesosok roh muncul di hadapan mereka secara tiba-tiba.
“Selamat datang, wahai sang terpilih beserta party-nya!”
Seketika, seisi ruangan menjadi kaget akan kemunculan roh yang tiba-tiba itu.
“Siapa Anda?!”
Albert segera menanyakan siapa gerangan identitas sosok roh tersebut. Lalu sosok roh itu pun menjawab, “Aku bukanlah keberadaan yang penting. Aku hanyalah salah seorang di antara empat pilar yang berjuang bersama keangungan-nya. Akulah Milanda.
Seisi ruangan seketika kaget begitu sosok roh itu mengungkapkan namanya. Jika itu Milanda, kemungkinan sosok itu mengacu kepada the greatest ancient witch Milanda, salah satu di antara dua belas jenderal raja iblis. Dengan kata lain, sosok roh itulah seharusnya sang boss dungeon berlevel mythic tersebut.
Namun seketika semuanya pun menyadari keanehan itu. Alih-alih dirantai dalam keadaan yang mengamuk, sosok witch itu tampak tenang dengan senyumannya yang menawan. Tidak hanya itu saja, sejak awal, mengapa dia dalam wujud astral? Ke mana sebenarnya fisik dari the greatest ancient witch itu?
Semuanya mau tidak mau menjadi gelisah dalam pikiran yang tidak pasti mereka.
“Nah, sang terpilih, siapkah Anda sekarang menerima takdir Anda?” Seraya mengucapkan itu, sang witch Milanda dalam wujud rohnya mendekati Helios.
Namun, komentar lain datang dari Codi.
“Terpilih? Hmm. Jadi yang diramalkan itu memang benar ya kalau Yang Mulia Pangeran Kedua adalah calon raja iblis yang selanjutnya.”
“Hentikan sikap kurang ajarmu di hadapan sang terpilih, wahai jelata rendahan!”
“Shaaaak.”
“Ukh.”
Bersamaan dengan itu, secara tiba-tiba saja angin putting-beliung muncul dari kekosongan lantas menghempaskan Codi jauh ke dinding dungeon. Di sanalah mereka baru memahami, ah, dia benar-benar sang witch Milanda yang ada di legenda.
Albert, Alice, dan Nunu pun memposisikan diri mereka siaga. Namun, Helios segera mencegah mereka untuk berbuat sesuatu yang tidak perlu.
“Jika kamu semarah itu terhadap komentar Codi barusan, aku bisa berasumsi bahwa itu tidak benar. Lantas, apa yang sebenarnya telah terjadi sepuluh ribu tahun silam? Apa sebenarnya itu demon dan ancaman benua barat? Lantas, apa tujuan dibentuknya formasi panah dan hutan monster di Benua Ernoa ini? Siapa pula kuil suci yang bertindak atas nama sang pahlawan pertama?”
Helios mengemukakan pertanyaannya kepada Milanda, akan tetapi Milanda terlihat hesitasi dalam menjawab pertanyaan tersebut.
“Karena ada batasan kontrak terhadap informasi apa yang bisa kuberikan terhadap dunia luar dan sejak tubuh astral ini hanyalah memori ingatan dan bukan wujudku yang sebenarnya, aku tidak dapat menjawab pertanyaan itu di sini. Namun, sang terpilih bisa nanti mencari tahu sendiri jawabannya di dalam.”
Helios menampakkan wajah bingung terhadap maksud ucapan Milanda tentang dia bisa mengecek sendiri jawabannya di dalam. Apakah Milanda ingin Helios pergi ke tempat lain atau bagaimana, Helios benar-benar penasaran. Namun, dia memilih untuk menunggu terlebih dahulu penjelasan Milanda yang selanjutnya.
“Satu yang bisa aku sampaikan kepada kalian, sejarah telah dirubah oleh orang-orang penganut iblis yang menyamarkan diri mereka sebagai orang suci. Aku dan Arxena bukanlah musuh kalian, malahan berkat pengorbanan kamilah, kalian semua bisa aman dari ancaman raja iblis yang sesungguhnya di benua barat selama ini.”
“Lantas siapa Pahlawan Rizard, sang pahlawan pertama yang pertama kali menyatukan benua bagi Anda?”
“Dia adalah junior kami yang berharga, rekan se…Akh!”
Secara tiba-tiba saja, api yang panas mengelilingi tubuh astral Milanda lantas sosok witch itu mulai terbakar.
“Tidak, aku telah melanggar pantangan kutukannya. Tidak banyak waktu lagi. Maafkan aku, sang terpilih. Tolong selamatkan tubuhku yang asli.”
“Apa?”
Belum sempat Helios mengerti apa yang sebenarnya terjadi, dia secara tiba-tiba saja terhempas ke dalam suatu celah dinding yang seketika terbuka lantas menutup kembali dengan erat ketika Helios telah masuk ke dalamnya.
“Master!”
Albert, Alice, dan Nunu pun menjadi gugup ketika didapatinya tuannya itu telah menghilang tertelan ke dalam suatu dinding.
“Hei, witch! Apa yang telah kamu perbuat pada Master?!” Albert menggertakkan gigi-giginya dengan marah di hadapan tubuh astral witch yang sedang terbakar itu. Namun semuanya percuma karena sedetik dua detik kemudian, tubuh astral witch itu telah habis terbakar.
“Sialan!” Albert hanya bisa berteriak dengan frustasi sembari meninju-ninju ke arah dinding tempat Helios menghilang.
Nunu berupaya menenangkan Albert, namun semua itu percuma. Tiada lagi yang bisa meredakan amarah Albert yang telah kehilangan tuannya saat ini.
Di saat itulah, kalung pemberian Helios kepada Albert dan Alice bersinar dengan terang.
Alice pun kemudian tiba-tiba saja tersenyum yang membuat Codi dan Nunu keheranan.
“Kamu dengar itu sendiri kan, Tuan Albert? Master baik-baik saja dan menyuruh kita untuk menunggunya di sini sampai dia kembali.”
Melalui penyempurnaan penemuan Helios berkat tersedianya bahan living armor dari specter sebelumnya pada kalungnya, kalung itu kini bisa juga bertindak sebagai alat telepati, lebih tepatnya bagaikan berkomunikasi dengan menggunakan kaleng dan benang.
Helios menyampaikan pesan kepada Alice dan Albert bahwa dirinya baik-baik saja di dalam sana dan itu telah cukup membuat Alice merasa lega untuk saat ini.
Namun tidak demikian untuk Albert.
“Alice, mengapa kamu juga punya kalung itu?”
“Oh, Master yang juga menghadiahkan ini padaku sebelumnya. Kamu tidak menyadarinya? Master bahkan juga memberikannya kepada Yasmin.”
“Apa? Yasmin juga?”
“Iya. Kamu kenapa, Albert?”
“Tidak, bukan apa-apa. Hanya saja, ini rupanya bukan lagi jadi hadiah spesial antara aku dan Master.” Ujar Albert sembari memegangi kalungnya.
Albert merasa sedih untuk alasan yang lain.