
Di tempat itu, ketiga kubu yang tak terduga sedang melakukan pertemuan.
“Oh ho, Duke Rodriguez Anda melakukan langkah yang menarik dengan memanfaatkan cucu Anda yang paling cantik, Lilia sang bunga Lobos.”
Dialah yang berbicara seseorang yang nampak muda seakan baru memasuki usia awal tiga puluhannya, namun sejatinya usianya telah mencapai 60 tahun. Dialah Count Ulgenta von Ruby, kepala akademi sihir, yang nampak sebagai pria flamboyant yang selalu menjaga penampilannya, yang sangat berbeda dengan image peneliti di bidang sihir pada umumnya yang selalu bertampang berantakan karena terfokus pada penelitian mereka.
“Ehem. Aku tidak melakukan perjodohan itu untuk kepentingan politik. Itu demi kebahagiaan cucuku semata yang mencintai pemuda yang mirip anjing kekaisaran itu.”
Duke Glenn van Rodriguez, salah satu peserta pertemuan itu selain Count Ruby, menjawab pertanyaan dari Count Ruby itu dengan jelas.
“Ini tak terduga mengingat kamu sangat membenci kekaisaran, Duke Rodriguez.”
“Albert adalah anak yang baik dan kuat terlepas dengan penampilannya yang mirip dengan anjing kekaisaran. Aku mengakui jika dia jodoh yang baik buat cucuku.”
Count Ruby hanya bisa bersiul tak percaya akan komentar tak terduga oleh Duke Rodriguez tersebut. Dia tampak sekali lagi ingin menggoda sang duke, namun sebelum itu terjadi, Marquise Newmann van Growmyerre, anggota pertemuan yang terakhir, mulai angkat bicara.
“Maaf mengganggu obrolan para sesepuh, tetapi mari kita langsung masuk saja ke topik pembicaraannya.”
“Oh ho. Anak muda zaman sekarang memang tidak sabaran.”
“Count Ruby, untuk menyebutku sebagai anak muda, rasanya itu kurang pantas, mengingat usiaku kini sudah lewat empat puluh tahun.”
“Kapan pun bagiku kau selalu menjadi anak-anak.”
“Ehem.”
Dialah Duke Rodriguez yang mengeluarkan batuk keras yang seketika menghentikan candaan sang count.
“Yang dikatakan Marquise Growmyerre benar adanya. Mengingat faksi kita awalnya tidak dekat, maka sebaiknya kita selesaikan segera pertemuan ini setelah membahas apa yang perlu kita bahas sebelum menimbulkan rumor yang tak penting. Tetapi sebelumnya, saya mengucapkan terima kasih kepada kalian berdua yang berkenan menghadiri undanganku ini.”
“Bukan apa-apa, Duke. Tapi apakah ini terkait dengan salah satu kandidat raja, Helios de Meglovia?”
Count Ruby segera memotong pembicaraan sang duke dengan tampang yang curiga.
“Itu benar.”
“Tapi bukankah Anda tahu bagaimana kuil suci memperlakukan sang Pangeran Kedua? Salah sedikit, kerajaan akan mengalami konflik dengan kuil suci.”
Duke Rodriguez tampak paham benar akan kekhawatiran sang count tersebut. Dia pun melirik ke arah Marquise Growmyerre.
“Bagaimana pendapatmu soal menantumu itu, Marquise Growmyerre? Apakah dia memang seperti yang digambarkan oleh nubuat kuil suci?”
Marquise Growmyerre tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab.
“Sejujurnya aku tidak menduga bahwa dia memiliki kekuatan yang bahkan sanggup membantai seisi Kerajaan Cabalcus. Itu bagaikan sosok monster tingkat legendary atau bahkan lebih mendekati tingkat mitos. Namun demikian, dia adalah suami yang baik yang selalu mampu membuat putriku, Talia, tersenyum dengan tulus. Mengabaikan nubuat itu, dibandingkan calon raja lain yang tersisa, menurutku Helios lebih tepat untuk naik tahta.”
Duke Rodriguez tampak mengangguk-angguk puas akan jawaban sang marquise.
“Aku juga sependapat denganmu, Marquise Growmyerre. Dengan kekacauan yang menimpa benua saat ini, kita lebih membutuhkan sosok pemimpin yang tiran seperti Pangeran Helios ketimbang sosok yang lemah lembut seperti Putri Ilene. Sangat disayangkan memang kepergian dua pangeran yang lebih unggul sebagai calon raja, Yang Mulia Putra Mahkota Tius dan Pangeran Leon. Tetapi kita hanya bisa melangkah maju.”
“Aku juga sependapat. Hanya tersisa dua calon raja dan jelas Putri Ilene yang lemah lembut dan penakut itu tidak pantas di posisi tersebut. Pangeran Helios juga adalah sosok yang cerdas yang telah menghasilkan berbagai penemuan penting di akademi sihir. Aku rasa aku juga bersedia menjadi pendukungnya.”
Dengan sepakatnya Count Ruby sebagai orang yang terakhir, mereka pun akhirnya memiliki pendapat yang seragam dan memutuskan untuk menjadi pendukung Pangeran Helios.
Ini tidak terduga karena baik Marquise Growmyerre maupun Count Ruby adalah sosok yang selalu netral sejak pengangkatan sang putra mahkota Tius Star Meglovia. Mereka selama ini tidak mendukung satu pangeran pun menjadi raja. Namun di tempat itu, mereka menyatukan suara mereka bersama Duke Rodriguez untuk mendukung Pangeran Helios.
Marquise Growmyerre sebagai ayah mertua Helios mungkin saja adalah hal yang masih wajar, tetapi itu benar-benar di luar dugaan jika Count Ruby juga menyetujui proposal Duke Rodriguez tersebut.
“Kalau begitu, kita bertiga telah sepakat untuk menjadi pendukung Yang Mulia Pangeran Helios menjadi raja selanjutnya. Selebihnya, mari kita mengatur rencananya.”
Duke Rodriguez pun menyimpulkan pembicaraan lalu beralih ke tahap pembicaraan yang selanjutnya.
***
Di dalam kamarnya, nampak Ilene mondar-mandir dengan gelisah setelah menyaksikan pemandangan di luar jendelanya yang berisikan para pelajar berdemo menolak Helios dan mendukung dirinya sebagai pemimpin baru kerajaan itu.
Meski mendapat dukungan, Ilene tidak terlihat senang sama sekali. Sebaliknya, dia justru terlihat sangat ketakutan.
“Tuan Putri, ada apa? Tenanglah.”
Mellina, sang pelayan setia Ilene, mencoba merangkul pundak Ilene untuk menenangkannya, akan tetapi Ilene segera menghempaskan tangan itu dengan ketakutan.
“Kyaaaaaa.”
Setelah menampik tangannya, tampaknya Ilene baru tersadar bahwa rupanya itu pelayan setianya sendiri yang mencoba menenangkannya, Mellina Rosse Icozborne.
“Yang Mulia Tuan Putri…”
Putri Ilene sendirilah yang segera lari ke dalam pelukan Mellina.
“Aku… Aku tidak ingin mati, Mellina.”
“Tenanglah. Tidak akan ada yang bisa menyakitimu, Tuan Putri. Meski itu Pangeran Helios sekalipun, aku akan melindungimu meski nyawa taruhannya.”
“Tidak. Bukan begitu. Kakak tidak mungkin tega menyakitiku. Begitulah dia orangnya, sangat baik kepada saudara-saudarinya yang lain yang bahkan membuat aku bertanya-tanya apakah dia memang sama sekali tidak memiliki ambisi menjadi raja. Kakak tidak mungkin tega membunuhku demi tahta. Aku paham benar akan itu. Ramalan tiran itu di mana Kakak menyebabkan kematian Raja dan saudara-saudarinya hanya omong kosong belaka.”
“Seharusnya aku paham benar akan hal itu. Tetapi… ada apa dengan rasa takut ini?”
“Tuan Putri.”
Melihat Ilene yang begitu menderita, Mellina yang iba pun membelai rambut sang putri dengan hangat.
“Benar. Kakak Anda adalah orang yang baik. Dia tidak mungkin tega melakukan hal keji itu kepada saudarinya sendiri.”
Namun di tengah suasana ketakutan Ilene itu, terdengar suara pintu yang diketuk.
Tidak lama kemudian, sosok yang mengetuk pintu itu membuka pintunya lantas turut masuk ke kamar Ilene.
“Ilene. Kamu kenapa? Apa kamu sakit?”
Matanya yang segelap dan sedalam abyss menatap wajah Ilene yang ketakutan itu.
“Tidaaaaaak!”
Ilene ketakutan sendiri tanpa sebab di hadapan sang kakak yang selama ini sangat disayanginya.
“Pergi! Jangan dekat-dekat!”
Namun, melihat tingkat adiknya yang aneh, itu justru membuat Helios semakin khawatir. Berbeda dari yang diinginkan Ilene, Helios justru mendekat ke arahnya lantas memeluknya menggantikan Mellina.
“Tidaaaaaaak!”
“Ilene, tenanglah! Ketakutanmu itu tak akan pernah terjadi.”
“Darimana Kakak yakin benar akan hal itu?”
“Apa kamu pikir Kakak akan tega melakukan semua itu sama kamu?!”
“Bagaimana jika itu di luar kendali Kakak? Nyatanya Ayahanda, Kak Tius, dan Kak Leon telah tiada sesuai nubuat itu. Walaupun itu di luar keinginan Kakak, bagaimana kalau itu telah ditentukan sejak awal? Ilene hanya akan menjadi salah satu korban yang mendorong Kakak menjadi tiran demi kebangkitan sang pahlawan. Aku tidak ingin nasib malang yang seperti itu, Kak.”
Pelukan Helios kian erat kepada Ilene.
“Tenang saja Ilene, apapun yang terjadi, pasti Kakak akan melindungimu.”
Ujar Helios dengan lirih.