Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 92 – ARTI ORANG TUA



Entah sejak kapan itu dimulai, orang-orang di Benua Ernoa memiliki tradisi menamai anak mereka dengan nama yang pengucapannya mirip dengan salah satu nama dari kedua orang tua mereka sebagai tanda kasih sayang terhadap anak mereka itu.


Leon dan Ilene yang memiliki nama yang pengucapan akhirannya mirip dengan Ayahanda Alfreon. Kak Tius yang nama pengucapan awalannya mirip dengan Ibunda Theia. Itu merupakan bukti bahwa mereka benar-benar dicintai oleh Ayahanda dan Ibunda. Lantas bagaimana dengan aku?


Itu adalah pikiran liar yang entah sejak kapan sering aku pertanyakan sejak aku kecil.


“Lihat saja warna mata dan rambutku yang hitam pekat ini. Wajar saja kan jika aku dibenci? Itu kan terlihat benar-benar menjijikkan. Terus, kamu bisa lihat kan nama Leon dan Ilene yang memiliki penyebutan akhiran yang sama dengan Ayahanda Alfreon, juka Kak Tius yang penyebutan awalannya sama dengan Ibunda Theia. Hanya namaku saja, Helios, yang berbeda.”


Mungkin karena terpengaruh oleh suasana yang senyap nan sendu kala itu, tanpa sadar aku pun mengungkapkan isi hati yang selama ini aku pendam dalam-dalam kepada sosok gadis mungil yang ada di hadapanku ini.


“Jadi apa? Tuan Helios mau nama Tuan jadi Telios, Helion, Telion, atau Te****n sekalian?!”


Tanpa berpikir panjang, aku pun melukai perasaannya. Tentu saja bukan bagian dari curhatanku itu pastinya yang telah melukai hatinya. Namun, di bagian awal kalimat yang aku tidak bisa kontrol aku keluarkan lewat mulutku ini dengan sempat melupakan bahwa orang yang ada di hadapanku tersebut adalah juga senasib denganku, seseorang yang memiliki tampilan yang dikatakan mirip dengan ras iblis.


Jika aku dengan mata dan rambut berwarna hitam yang penuh dengan kegelapan, maka Nunu dengan warna rambut hitam dengan mata semerah darahnya.


Itu pasti akan melukai hatinya ketika aku dengan lantangnya mengatakan bahwa tampilan itu benar-benar menjijikkan. Tentu saja aku mengacu pada diriku sendiri, tetapi Nunu pastinya akan menganggap itu sebagai hinaan kepada dirinya sendiri.


Akan tetapi ketika Nunu berbicara lebih lanjut,


“Apakah Tuan Helios sudah menanyakannya baik-baik kepada kedua orang tua Helios bahwa apakah mereka berdua benar-benar membenci Tuan Helios? Jika Tuan tidak benar-benar mengetahui isi hati kedua orang tua Tuan, maka jangan berbicara sampah seperti itu! Padahal Tuan Helios sudah dianugerahi bisa hidup bersama dengan kedua orang tua Tuan di dunia yang sama, tetapi Tuan Helios malah menyia-nyiakannya! Lantas bagaimana dengan aku?!”


“Lantas bagaimana aku dan Munu yang sudah ditinggalkan kedua orang tua kami ke dunia lain sejak kecil?! Kami bahkan tidak sempat mengingat lagi bagaimana rasanya dimarahi oleh orang tua. Hidup sebatang kara di dunia ini hanya dengan bergantung satu sama lain sejak kecil.”


“Setidaknya Tuan Helios masih jauh lebih beruntung dariku dan adikku Munu yang masih punya orang tua di dunia ini! Jadi harap hentikan omong kosong itu dan minta maaf sana pada kedua orang tua Tuan!”


Perkataan Nunu segera menampar diriku. Mengapa aku tidak menyadari hal kecil itu selama ini? Aku hanya harus bertanya jujur kepada mereka jika aku meragukan sesuatu. Itu benar. Aku masih dapat mengingat dengan jelas bagaimana kelembutan belaian ayah dan ibuku ketika aku masih kecil.


“Dan apa Tuan Helios benar-benar berpikir bahwa sesuatu seperti ramalan suci bisa begitu saja memutuskan ikatan antara orang tua dan anak? Tuan Helios sebaiknya lebih membuka mata Tuan terhadap dunia.”


Mendengar ucapan itu, aku segera tersenyum kepada Nunu. Tidak, itu bukanlah senyuman, tetapi lebih ke arah sengiran, yang menertawakan atas kebodohan diriku sendiri yang selama ini terhanyut oleh perasaan yang tidak jelas yang bahkan aku sulit untuk ungkapkan sehingga menjadi busuk di dalam hatiku sendiri.


Kebetulan aku akan pergi ke ibukota. Mungkin ini saat yang tepat bagiku untuk mempererat hubungan orang tua dan anak kami kembali.


“Nunu, kamu benar-benar dewasa ya. Terima kasih telah mengatakan hal itu padaku.”


“Hmpf. Tentu saja aku sudah dewasa. Gini-gini, umurku kan memang sudah 18 tahun.”


“Itu benar juga ya. Sama halnya denganku. Aku sudah 20 tahun, tetapi mengapa juga aku masih bersikap kekanak-kanakan.” Ujarku sembari merapikan meja lab dengan memasukkan serangkaian bahan-bahan dan alat-alat di tas selempanganku.


“Hmm? Tuan Helios sudah selesai praktikumnya?”


“Belum sih, tetapi setelah mendengar ucapanmu, entah mengapa aku ingin segera bertemu kedua orang tuaku. Jadi aku akan selesaikan saja pas di sana.”


“Apa itu maksudnya? Justru karena itu sebaiknya Tuan Helios selesaikan sekarang kan sebelum berangkat ke ibukota, mumpung masih ada waktu sebelum hari keberangkatan Tuan.”


Mendengar jawabanku itu, Nunu tampak memiringkan kepalanya dengan bingung.


“Eh? Tapi kan Tuan Curtiz belum mempersiapkan kereta kudanya. Tuan Albert dan Nona Yasmin juga belum siap-siap.”


“Oh iya, aku titip pesan kepadamu, Nunu. Tolong sampaikan kepada Albert dan Yasmin jika mereka telah kembali kemari untuk segera menyusulku ke ibukota.”


“Eh, maksud Tuan Helios, Tuan Helios benaran mau berangkat sekarang? Bagaimana?”


“Apa lagi. Tentu dengan terbang.”


“Eh???”


Nunu seketika menampakkan ekspresi bodoh di wajahnya begitu mendengarkan jawabanku itu. Wajar saja jika dia terkejut karena tidak biasanya aku melakukan hal yang ekstrim. Yah, lagipula sejak salah satu mata-mata kuil suci sudah melihat bagaimana aku berangkat dari Kota Painfinn ke Kota Lobos hanya dalam waktu kurang dari sehari dengan terbang, tidak ada gunanya lagi menyembunyikan kemampuanku itu.


Lagipula ini bukannya kemampuan yang bisa menghasilkan destruktif yang mesti diwaspadai bagaimana. Ini hanya tentang metode transportasi ke suatu tempat dengan lebih cepat.


***


Namun di luar dugaanku, seisi istana di ibukota kerajaan ternyata turut menampakkan ekspresi bodoh dengan menganga lebar-lebar begitu aku tiba di istana kerajaan tersebut dengan terbang. Tampaknya memang rumor mengenai aku yang bisa terbang disembunyikan baik-baik oleh Kakek Glenn sesuai permintaanku padanya padahal sudah empat sampai lima bulan sejak hal itu terjadi di Kota Lobos.


Itu menunjukkan betapa terpercayanya Kakek Glenn itu dalam memegang janjinya.


Sesampainya di istana, rupanya Kak Tius-lah yang menyambutku. Memang ada beberapa hal yang ingin kupertanyakan padanya tentang kejantanannya yang mengapa sampai sekarang dia belum juga memiliki anak apakah karena dia memang belum menyentuh Kak Vierra atau bagaimana.


Namun melebihi rasa penasaranku itu, aku masih marah padanya terkait apa yang dia telah perbuat dalam menjerumuskan Leon. Aku pun memutuskan hanya memberinya sapaan formal lantas mutlak mengabaikannya.


Aku pun bergegas ke dalam istana dan akhirnya aku bertemu kembali dengan Ayahanda.


“Ah, Nak Helios. Senang rasanya melihatmu lagi, Nak. Kemarilah Nak.”


Kali ini Ayahanda langsung mengenaliku dari jauh tanpa tertukar lagi dengan orang lain.


Begitu aku mendekat, sekali lagi aku pun merasakan belaian lembut Ayahanda itu. Namun begitu menatap ke samping, pandangan tajam Ibunda ternyata telah menantiku.


Tampak kali ini Beliau tak lagi menghalangi Ayahanda dekat-dekat denganku. Walau demikian, sosok Beliau yang lembut seperti yang kuingat sewaktu kecil tetap tak mampu kulihat pada sosok Ibunda yang sekarang.


“Jadi, mengapa kamu sudah sampai kemari? Bukannya katanya kamu bilang akan datang sebelas hari lagi dari sekarang?”


“Hehehehehe. Saking rindunya aku dengan Ayahanda dan Ibunda, jadi aku tak bisa menunggu waktu lebih lama lagi, jadi memilih terbang dengan sayapku sendiri kemari.” Jawabku pada pertanyan ketus Ibunda itu.


Dan sesuai dugaanku, Ibunda turut menampakkan ekspresi bodoh mendengarkan jawaban ngawurku tersebut.