
Aku berusaha lari dari kenyataan. Aku tidak ingin menerima fakta bahwa Ilene, adikku yang paling kusayangi, sudah tiada dan sosok yang menyerupai dirinya yang berdiri di hadapanku saat ini hanyalah vampir kejam yang menggunakan tubuhnya.
Aku lari menarik diriku bersembunyi dan membiarkan Alice yang menyelesaikan semua kegagalanku.
Andai saja waktu itu aku lebih gigih menahan Ilene untuk tidak pergi meninggalkan sisiku ke kuil suci, kuyakin dirinya pasti akan masih hidup sampai dengan sekarang.
Aku telah gagal menjadi anak yang berbakti, dan kini, aku juga gagal menjadi seorang kakak yang baik.
Aku telah membiarkan Ilene dalam kesendirian mengembuskan nafas terakhirnya dalam keadaan dingin dan bahkan di saat-saat terakhirnya itu, tubuhnya dirasuki lantas digunakan oleh seorang vampir untuk membawa malapetaka ke muka dunia ini.
Dan bahkan setelah itu lagi,
“Kakak, tolong aku. Aku kesakitan.”
Aku bisa-bisanya masih merasakan iba kepada sosok vampir yang menggunakan wajah Ilene itu untuk menipuku.
Alice dengan pedang besarnya yang dilapisi logam perak melukai sang vampir hingga kemampuan penyembuhan hebat sang vampir tak sanggup lagi untuk menutupi segala luka-luka tersebut. Sebentar lagi sosok sang vampir pun akan kalah dan Ilene akan dapat segera kembali beristirahat dengan tenang di alam sana.
Namun, dengan bodohnya aku,
-Trang.
Aku menangkis serangan penghabisan Alice yang ditujukan kepada vampir itu.
“Hentikan, Alice. Kamu membuat Ilene terluka.”
Aku membiarkan diriku tertipu oleh sang vampir lantas menyelamatkannya, membiarkan diriku berada dalam delusi sekiranya jiwa Ilene masih ada di sudut terdalam sana di dalam tubuhnya.
“Sadarlah, Yang Mulia! Dia itu vampir! Adik Anda, Ilene, sudah lama tiada lagi di dunia ini!”
“Hentikan! Beraninya kau berkata begitu, Alice! Aku takkan memaafkanmu!”
“Master?”
-Shang.
Lalu tanpa aba-aba, sang vampir yang tertawa bahagia secara internal karena berpikir telah berhasil menipuku, lantas mengincar tubuhku, berpikir mungkin dia bisa memanfaatkan tubuhku yang sehat kali ini sebagai sumber makanannya, berusaha melancarkan serangan diam-diam padaku.
Aku tahu semua itu. Aku tahu itu semua hanyalah tipuan dari sang vampir sedari awal. Namun dengan bodohnya, aku memilih untuk tidak melakukan apa-apa, membiarkan sang vampir yang hendak menjilati leherku untuk mengambil darahku.
-Sraaaak.
Namun seketika sekeliling tubuh sang vampir dijerat oleh es. Itu bukanlah jurusku, melainkan jurus Yasmin yang bisa segala elemen.
“Yang Mulia! Master!”
Alice segera menggapaiku untuk memastikan keadaanku.
“Maaf, Alice. Aku kehilangan kejernihan pikiranku.”
“Hmm.” Alice menggelengkan lehernya sebagai pertanda rasa bersalahku itu tidaklah tepat.
“Wajar jika seorang manusia merasa sedih jika orang yang dicintainya meninggal, Master. Justru aku yang harus meminta maaf. Walaupun itu vampir, dia masih mengenakan wujud Yang Mulia Putri Ilene, jadi tidak sepantasnya aku melukainya di hadapan Anda.”
“Alice?”
“Wajar jika Master akan menyalahkanku di masa depan. Tetapi, jika monster itu dibiarkan hidup lebih lama, hanya akan jatuh lebih banyak korban lagi dan kutukan vampir bisa semakin merajalela di muka dunia. Tidak apa-apa bagiku disalahkan oleh Master setelah ini karena aku tetap harus membunuh monster itu apapun resikonya! Maafkan aku, Master.”
Demikianlah, Alice pun mengayunkan pedangnya pada sang vampir yang telah terjerat oleh es Yasmin. Lalu sang vampir pun musnah.
“Master! Apakah Anda baik-baik saja?!”
Aku mengangukkan kepala atas pertanyaan Albert yang menghampiriku dengan tampang yang sangat khawatir itu. Aku hanya menatap dari kejauhan bagaimana sosok sang ksatria petir bersinar cerah memusnahkan sang makhluk jahat yang hendak membawa malapetaka ke muka dunia ini.
Tentu saja tidak.
Lantas apakah aku marah padanya?
Aku marah, namun jelas kemarahanku itu tidaklah tertuju kepada Alice. Itu tertuju kepada diriku sendiri yang tidak bisa menyelesaikan tanggung jawab yang seharusnya aku emban dan malah menyerahkan beban itu kepada orang lain untuk menyelesaikannya.
Bagaimana bisa aku marah apalagi menyalahkan orang yang baik hati itu karena telah membereskan kekacauan yang kubuat?
Namun demikian, aku tak bisa menatap wajah Alice secara langsung malam itu.
“Albert, Yasmin, semuanya masih belum selesai. Masih ada banyak mayat yang telah digigit oleh vampir itu yang jika tidak segera dibereskan, hanya akan bangkit sebagai vampir baru lagi. Kita harus segera memusnahkan jantung semua mayatnya.”
“Baik, Master.”
“Siap, Master.”
“Dimengerti, Master.”
Alice tetap menjawab meski aku tak menyebutkan namanya. Itu pun membuatku semakin merasa bersalah padanya.
Demikianlah, aku bersama Yasmin dan Albert melakukan pembersihan tanpa sempat aku berbicara kepada Alice lagi.
***
Bencana vampir berhasil ditangani. Walau demikian, ini bukanlah suatu kasus yang bisa disebarluaskan kepada khalayak ramai begitu saja karena pasti akan menimbulkan kepanikan.
Kasus ini pun ditutupi sebagai insiden terorisme yang dilakukan oleh Rahib Robell Zarkan beserta para pengikutnya yang masih selamat pasca perang yang masih menaruh dendam padaku.
Kebetulan kematian sang rahib juga saat ini masih disembunyikan dan hanya dilaporkan melarikan diri setelah kekalahan mantan kaisar Ethanus, maka jadilah dia sebagai kambing hitam yang sempurna. Itu juga bukan hal yang baik untuk diungkapkan ke publik bahwa seorang pemuka kuil suci rupanya adalah seorang iblis dari dunia lain yang menyamar.
Walau demikian, penyebab mengapa Ilene bisa berakhir setragis itu masih menjadi misteri. Pasti ada dalang di balik semua kejadian ini. Sangat mustahil bagi Ilene yang terjaga sangat aman di dalam pengasingan kuil suci bisa terinfeksi oleh virus vampir.
Lalu sebagai orang yang paling mencurigakan menurutku, dia adalah Rahib Vyndicta Eros. Dialah yang mengatur segala hal yang berkaitan dengan tinggalnya Ilene di dalam pengasingan kuil suci di saat dia seharusnya bisa mengamanatkannya saja kepada para pelayan suci bawahannya.
Di samping itu, pasca bencana vampir ini usai, sang rahib tiba-tiba saja menghilang tanpa jejak.
Semula aku percaya bahwa sang rahib telah bersembunyi di suatu tempat yang sangat terisolasi sembari menyembunyikan ekornya karena sangat ketakutan setelah rencananya gagal dan aku yang sangat dendam padanya berniat mencarinya ke seluruh penjuru sudut dan celah dunia untuk menghabisi nyawanya. Walaupun tidak ada bukti yang mengarah padanya, keyakinanku telah sangat kuat bahwa dialah pelaku di balik nasib naas yang dialami oleh Ilene.
Namun rupanya, itu bukanlah akhir dari rencana licik sang rahib. Dia sekali lagi berhasil menusukku dari belakang.
Rupanya sang rahib dan para pengikutnya bersembunyi di Kota Lobos di bawah perlindungan Duke Rodriguez selama ini. Lalu pernyataan apa yang dikatakannya benar-benar membuatku terpojok.
Dia bersaksi bahwa akulah dalang di balik insiden naas yang terjadi di kuil suci tersebut demi aku bisa membunuh Ilene sebagai satu-satunya orang yang tersisa yang bisa mengganggu kestabilan posisi tahtaku.
Dia bertestimoni, walau Ilene tidak mampu lagi mewarisi tahta, Ilene sering curhat padanya bahwa aku sering mengancamnya untuk membunuhnya hanya lantaran tidurku yang tidak bisa tenang selama Ilene masih hidup.
Rahib sialan itu mengatakan itu tanpa tahu penderitaanku bahwa mungkin aku dikutuk tidak pernah bisa tidur lagi untuk selamanya kecuali di kala aku pingsan… Tidak, bukan itu yang penting saat ini.
Apa yang membuat testimoninya semakin dipercayai adalah surat dari mendiang pelayan kepercayaan Ilene, Mellina, yang menyatakan kebenaran testimoni tersebut. Para ahli telah membenarkan bahwa surat itu memang tidak lain dan tidak bukan ditulis oleh tulisan tangan Mellina sendiri.
Itulah sebabnya, ini pun menjadi jalan pembuka bagi para bangsawan yang memang tidak suka padaku, tetapi tidak bisa menentangku secara terang-terangan, kini punya peluang untuk bersatu menampakkan taring mereka ke hadapanku.
Tetapi itu bagus juga. Mungkin inilah kesempatan satu-satunya bagiku untuk membersihkan para bangsawan opportunis itu menghilang selamanya dari kekaisaran. Tiada juga gunanya memelihara para hyena di kekaisaran yang bisa mengkhianatimu kapan saja kamu lengah.
Namun yang jadi masalah adalah Kakek Glenn. Bagaimana pun, aku ingin mempertahankan Kakek Glenn di sisiku. Terlebih Lilia, cucu Kakek Glenn, adalah istri dari pengawal terpercayaku, Albert.
Berkat Ayah Mertua yang dengan kata-kata bijaknya bisa menenangkan para bangsawan lain, situasi tetap terkendali aman di benua untuk saat ini. Namun, tidak aneh ini akan memicu perang saudara jika dibiarkan lebih lama lagi.
Akan tetapi, bukan berarti ada yang bisa aku lakukan saat ini selain menunggu hasil investigasi resmi lembaga kehakiman. Syukurlah setidaknya Duke Orsena sebagai pemegang lembaga kehakiman bukanlah satu di antara para bangsawan opportunis itu.
Aku memanglah bukan kakak yang baik. Bukannya bersedih atas kematian Ilene, kini yang kupikirkan hanyalah demi menyelamatkan diriku sendiri.