
“Leon, hentikan sikap kurang ajarmu itu segera!”
Melihat sambutan Leon yang menyambut kedatangan Helios justru dengan serangan sihir api yang berbahaya, Tius segera mengecam tindakannya, sementara Albert tak menurunkan tatapan tajamnya kepada pangeran angkuh itu.
Leon yang melihat tatapan mengancam dari Albert itu pun melangkah maju ke hadapan Albert seolah sengaja menantang kesabaran Albert tersebut.
“Hei, Kakak Sampah, lihatlah anjing kekaisaran yang telah kamu pungut ini. Seharusnya kamu mengajari anjingmu ini baik-baik agar tak menggigit sembarangan dan bisa membedakan mana seseorang yang bisa dan tak bisa dia ganggu.”
Sembari mengatakan itu, Leon turut melayangkan tangannya hendak menampar Albert.
Akan tetapi,
“Swuuuuush.”
Sebelum tangan Leon mencapai Albert, sihir es Helios segera membekukan tangan Leon sehingga tidak mampu bergerak.
“Hei, Kakak Sampah, apa maksudnya semua ini?!”
“Leon, tenanglah. Aku secara pribadi meminta maaf padamu jika apa yang dilakukan oleh anak buahku membuatmu tidak nyaman. Tapi bukankah sikapmu juga agak keterlaluan pada saudaramu sendiri? Lama tidak bertemu, adikku.”
Helios lantas mengulurkan tangannya kepada Leon hendak menjabat tangannya. Namun, Leon segera menampik uluran tangan itu.
“Cih, tidak usah menunjukkan sikap ramah yang tidak berarti itu padaku!”
Tetapi Helios dengan paksa menggapai tangan Leon itu lantas menjabatnya sendiri.
“Hei, apa yang kamu lakukan?!”
“Nah, nah, adikku yang manis, tidak usah naik darah begitu. Ayo kita saling akrab. Mumpung kita semua berkumpul di sini.”
Tampak Leon tak lagi memberontak dan pasrah saja dibawa oleh Helios bergabung dalam reuni keempat saudara itu.
***
Usai jeda istirahat, aku pun memutuskan untuk keluar istana sejenak. Aku ingin segera bertemu dengan tunanganku kembali setelah sekian lama kami berpisah. Aku, Albert, dan Yasmin kemudian meninggalkan istana menuju ke alun-alun ibukota dengan menyamar.
Di suatu sudut ibukota itu, di situlah aku melakukan janji bertemu dengan Talia, begitulah aku memanggil nama tunanganku tersebut. Lalu, setelah beberapa waktu berjalan, muncullah suatu sosok kereta kuda yang tampak menyembunyikan lambang keluarganya dan menyamar sebagai kereta kuda pedagang biasa.
Seorang wanita pun mengintip dari balik jendela kereta kuda tersebut. Rambutnya yang silver dengan pesona wajah putih nan jelita yang menggoda seketika membuat jantungku berdegup kencang. Dialah Italiana Rosse Growmyerre alias Talia, tunangan terkasihku.
Jantungku seketika meliar ketika aku berada di hadapan Talia.
“Mas Lou, mari.”
Suaranya lembut dan nafasnya harum, benar-benar sangat mempesona diriku bagaikan Talia adalah sosok bidadari yang baru saja turun dari surga. Ah, sekadar referensi, Lou adalah panggilan sayang Talia padaku sebagaimana aku juga memanggil sayang wanita terkasihku itu dengan sebutan Talia.
“Talia.”
Aku pun menjawab malu-malu panggilan yang lembut itu. Lalu kulihatlah ke arah Yasmin dan Albert.
“Yasmin, Albert, kalian silakan main-main dulu di sekitar alun-alun ibukota ini sembari aku mengobrol dengan Talia.”
Ucapku kepada dua pengawal kepercayaanku itu sembari memberikan mereka setumpuk kantong yang berisi 30 koin emas.
Aku kemudian turut naik ke dalam kereta kuda yang membawa Talia lantas pergi meninggalkan Albert dan Yasmin di belakang.
Aku sebagai pihak laki-laki tentunya harus segera mengambil inisiatif untuk membuka pembicaraan.
Tanpa berpikir panjang, aku pun menciptakan bunga es dari uap air sekitar lantas kupersembahkan kepada Talia.
Namun, aku kehabisan kata-kata dan malah justru memberikan bunga itu begitu saja tanpa kata-kata mesra pengantar sedikit pun.
Di luar dugaan, Talia yang menerima bunga tersebut justru mulai tertawa dan suasana canggung pun berakhir.
“Mas Lou seperti biasa, kamu selalu canggung terhadap hal-hal yang seperti ini. Namun, justru kepolosan Mas Lou yang seperti ini yang membuatku semakin jatuh cinta padamu, Mas.”
Seraya mengatakan itu, Talia menatap langsung ke arah mataku dengan senyumnya yang lembut. Mata emasnya berkilauan menambah pesona kecantikan Talia.
“Talia.” Seakan terhipnotis, pandanganku sedikit pun tak sanggup teralihkan oleh wajah yang cantik jelita itu.
Talia lantas membelai pipiku yang seketika memberikanku ketenangan yang tak bisa terlukiskan dengan kata-kata. Dia pun kembali berujar,
“Wajah Mas Lou penuh kekalutan. Pasti banyak hal telah terjadi di sana. Bisakah Mas Lou sedikit membagi beban itu kepadaku dengan menceritakannya? Walau mungkin aku tak akan banyak membantu, setidaknya dengan mendengarkan keluh-kesah Mas Lou, itu akan bisa meringankan beban Mas Lou sembari aku mungkin juga bisa memberikan beberapa saran.”
Kata-kata yang penuh ketulusan tanpa terasa sedikit pun niat jahat di dalamnya lantas segera meluluhkan hatiku. Bagaikan menerima oasis, aku pun melepaskan penat di hatiku itu dengan bercerita kepada Talia. Uniknya, sepanjang aku bercerita kepada Talia, rasa sakit yang membebani hatiku selama ini perlahan mulai sirna.
“Ini bukan salah Mas Lou. Pastinya prajurit yang gugur di medan perang juga merasa senang karena mampu melindungi tanah air dan keluarga mereka dari ancaman monster. Terlebih, itu adalah monster yang sangat berbahaya yang bisa meluluh-lantakkan seluruh benua. Mereka pasti senang, walau harus mengorbankan nyawa, mereka telah berperan dalam membasmi monster yang sangat berbahaya seperti itu.”
Kutahu itu hanyalah kata-kata kosong seperti halnya aku dulu menyemangati Alice. Namun, mendengar penghiburan datang dari orang terkasihku, tiada yang dapat menggambarkan kesenangan di hatiku saat ini.
Hanya dengan dia mampu memahamiku dan mengapresiasi pengorbananku saja, itu telah cukup melepaskan segala penat di hatiku dengan berpikir bahwa masih juga ada orang-orang yang memberikan kasih sayangnya kepadaku.
Aku sebelumnya sudah pernah mengucapkannya bahwa mengapa pikiranku tetap terjaga waras tanpa termakan oleh keputusasaan bahkan setelah aku kehilangan cinta dari semua keluargaku perihal ramalan tiran itu, itu karena support mental yang datang dari dua orang yang sangat berharga buatku. Salah satunya adalah Albert. Kemudian, seseorang yang lainnya, tidak lain dan tidak bukan adalah tunanganku sendiri, Talia.
Kedua orang itulah yang selama ini mendukung mentalku sehingga aku masih bisa bertahan menerima cercaan perihal ramalan hingga sekarang. Betapa aku bersyukur memiliki keduanya di sisiku.
***
Di alun-alun ibukota itu, Yasmin yang baru pertama kali merasakan keindahan ibukota tak henti-hentinya berkeliaran dan membelanjakan bekal uang pemberian Helios kepada mereka itu dengan berbagai makanan yang menggugah selera serta terkadang aksesoris berwarna putih nan cantik.
Dia berjalan dan terus berjalan.
Namun, setidak peka-pekanya Yasmin pun, dia akhirnya bisa menyadari bagaimana perlakuan orang-orang di sekitar kepada dirinya dan Albert.
“Hei, bukankah itu pengawal si pangeran tiran?”
“Kalau begitu, wanita mencurigakan itu juga punya hubungan dengan si tiran itu? Apa jangan-jangan dialah witch yang juga diramalkan oleh kuil suci sebagai kaki tangan si tiran?”
“Huss, sebaiknya kamu jangan terlibat dengan mereka. Alihkan saja pandanganmu dari mereka seolah-olah mereka tidak ada.”
Mendengar bisikan-bisikan hinaan yang betapa menghujat Helios itu, Yasmin tampak akan segera kehilangan kesabarannya. Namun, Albert yang berada di sisinya yang telah terbiasa menerima perlakuan yang seperti itu, segera berupaya menenangkan Yasmin.
“Tenanglah, Yasmin. Kamu hanya akan menambah buruk keadaan jika kamu bereaksi negatif terhadap ucapan mereka. Itu justru akan semakin merugikan posisi Master kita di mata publik. Master bisa semakin dibenci oleh warga jika kamu salah dalam bertindak.”
“Tetapi…”
“Tenanglah. Ini sudah hal yang biasa. Jika kamu akan bertindak sebagai pengawal Master mulai dari sekarang, kamu harus terbiasa dengan penghinaan seperti ini.”
Demikianlah, akhirnya Yasmin hanya meredam amarahnya itu dengan putus asa. Di lubuk hatinya, betapa dia sedih, bahkan setelah pengorbanan besar yang tuannya, Helios, lakukan demi kerajaan tersebut, inilah balasan yang justru tuannya itu harus terima dari para warga kerajaannya.