
Hari yang damai itu tiba-tiba saja terusik dengan kedatangan suatu surat yang dibawa oleh burung pegirim surat. Begitu aku melihat nama pengirim suratnya, aku sudah bisa membayangkan segala hal yang merepotkan yang segera akan aku hadapi. Nama yang tertera di surat adalah Rahib Vindycta Eros. Ya, kepala kuil suci sekte penyembah api suci yang sekarang.
Aku sebenarnya sudah bisa menduga gelagatnya yang suatu saat pasti akan menghubungiku perihal keberhasilan ilmu medis dengan memanfaatkan tanaman herbal yang sukses menyembuhkan penyakit kolera di kala sihir api suci tidak mampu menyembuhkannya.
Itu wajar saja mengingat prinsip penyembuhan api suci yang mempercepat regenerasi sel-sel di tubuh. Berbeda dengan luka, itu tidak akan bermanfaat menyembuhkan kolera jika bakteri sumber infeksinya tidak ditangani.
Obat-obatan medis yang terbuat dari tanaman herbal ini mampu mengurangi secara signifikan jumlah bakteri penyebab penyakit kolera sehingga lebih bermanfaat dalam penyembuhan tubuh.
Tentu saja sihir api suci para anggota kuil suci masih berperan sangat besar pula pasca treatment medisnya untuk meningkatkan kembali vitalitas pasien yang sempat drop karena penyakit tersebut yang bersinergi dengan baik terhadap treatment cairan infus dan oralit yang aku berikan kepada para pasien.
Akan tetapi, pastinya setelah melihat kegagalan kuil suci menangani hal tersebut dan baru berhasil setelah kedatanganku dengan membawa pengetahuan medis, itu akan berdampak terhadap citra kuil suci padahal sejatinya keduanya tetap saling bersinergi dalam penyembuhan pasien.
Sebenarnya bukan itu masalah utamanya. Jika itu masalah utamanya, aku akan bisa dengan segera mengatasinya dengan kemudian memberikan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya kedua aspek satu sama lain dalam penyembuhan pasien.
Namun, apa yang menjadi permasalahan utamanya adalah pendapat kolot para tetua di kuil suci yang menganggap pengobatan medis itu sebagai ilmu sesat karena meminumkan apa yang mereka sebut sebagai racun kepada para penderita. Jika ini sampai masuk dalam ranah bidat dan aku akan dihakimi oleh kuil suci karena itu, ini akan menjadi suatu masalah yang sangat merepotkan.
Sebagai jaga-jaga, aku akan mengirimkan surat kepada Ilene untuk disampaikan kepada kerajaan dalam menangani masalah tindak lanjutnya. Terus terang, aku masih ngambek dengan Kak Tius dan tidak ingin dulu untuk mengajaknya bicara secara langsung.
Persiapan bahan untuk dijadikan bukti jika nantinya Rahib Vindycta mengajukan gugatan sudah fix untuk ditangani. Karena kebetulan aku sekalian akan ke ibukota, mungkin inilah saatnya aku kembali mengunjungi Ayahanda demi mengecek kondisi kesehatannya.
Beranjak dari pemikiran itu, aku ke laboratoriumku di lantai keempat mansion. Mansion telah direnovasi yang awalnya berlantai dua, kini menjadi berlantai empat.
Begitu aku memasuki ruang lab-ku, rupanya ada penyelinap tak terduga yang seringkali memasuki lab-ku tanpa izin demi bolos kerja yang sekarang tertidur dengan santainya di ranjang yang kutempatkan di lab itu. Dia adalah Nunu, seorang penyihir bermata merah asal kepulauan selatan yang selalu saja berbuat seenaknya.
“Hmm. Tuan Helios rupanya.”
Mungkin karena suara berisik kaca yang beradu dengan pengaduk yang terbuat dari kaca pula di kala aku mengocok larutan dietileter, Nunu sampai terbangun. Ataukah itu semata-mata karena wangi dietileter itu yang mirip dengan permen karet yang seketika merangsang rasa laparnya?
“Sudah bangun, Nunu? Sudah sore lho? Bagaimana dengan keadaan para pasukan penyihir? Tidakkah mereka sedang mencari ketuanya saat ini yang tiba-tiba saja hilang?”
“Hehehehehehe. Itu tidak mungkinlah Tuan Helios, sejak sekarang sudah ada juniorku Olo di sini. Orang-orang di sana lebih memperlakukannya sebagai ketua ketimbang aku.”
Begitulah jawab Nunu dengan tanpa malunya padahal aku sengaja mengatakan hal itu demi menyindirnya bahwa ‘Apa yang malah kau lakukan kemari dan bolos kerja?’, tetapi rupanya Nunu sama sekali tidak mengerti arti sindiranku itu.
Sudah sekitar dua tahun lamanya aku menunjuk Nunu sebagai kapten pasukan penyihir yang jabatannya masih di bawah Albert. Akan tetapi, sikapnya itu sama sekali tidak berubah. Tetap saja selalu mencari celah untuk bermalas-malasan di dekatku padahal pimpinannya, Albert, pasti akan selalu berada di sampingku. Yah, walaupun saat ini dia tidak ada karena sedang belatih pedang dengan para prajurit lainnya.
Oh iya, ngomong-ngomong, Olo adalah rekan junior Nunu yang berasal dari kepulauan yang sama. Sangat berbeda dari Nunu, dia adalah pria yang bersemangat dan rajin. Dia memiliki mata yang merah sama dengan Nunu, tapi entah mengapa dia tidak memiliki warna rambut hitam yang merupakan ciri khas penduduk kepulauan selatan.
Rambutnya seputih susu dengan penampakan kulit gelap yang menandakan betapa senangnya dia di bawah terik matahari karena hobinya menjelajah dengan berlayar. Aku juga tiba-tiba heran mengapa dia tiba-tiba berhenti bertualang dan memilih menetap di sini bersama Nunu.
Bentuk badannya kurang lebih sama dengan Damian, tetapi entah mengapa ada nuansa sangar yang membuatku agak risih untuk mendekatinya ditambah suaranya yang kasar dan menggelegar itu, yah tipikal orang yang memang sudah terbiasa berlayar di laut.
Nunu tiba-tiba saja menghampiriku lantas mendekatkan wajahnya terlalu dekat dengan dadaku. Jika Yasmin kura-kuraku itu masih ada, dia pasti sudah akan menggigit Nunu lagi.
“Oh, aku sedang mempersiapkan obat untuk mengobati Ayahanda karena kebetulan aku akan segera berkunjung ke ibukota.”
“Eh, Tuan Helios mau ke ibukota lagi? Aku mau ikut dong, Tuan Helios. Tuan kan sudah membawa Albert dan Yasmin ke sana sebelumnya. Kini biarkan aku juga ikut ya, aku mohon.”
Begitulah pinta Nunu dengan ekspresinya yang sangat mirip Chihuahua itu. Tapi tentu saja aku tak bisa menyetujui proposalnya. Ibukota saat ini masih merupakan tempat yang berbahaya bagi Nunu.
“Tidak boleh!”
“Kenapa?”
“Rasisme di sana terhadap suku bermata merah masih tinggi, Nunu. Kapan-kapan ya, jika Kak Tius sudah membuat kerajaan jadi lingkungan yang lebih baik.”
“Ih, apa-apaan dengan rasisme itu. Tidak keren banget. Kerajaan Meglovia norak banget.”
“Pastikan ucapanmu itu tidak didengar oleh prajurit mana pun ya, Nunu.”
“Aku mengerti, kok, Tuan Helios.”
Nunu pun merajuk, tapi tampaknya dia langsung mengerti atas alasan aku tidak bisa mengajaknya ke sana. Ya, begitulah Kerajaan Meglovia saat ini, mesti tidak seburuk kekaisaran, nyatanya, masih banyak pola pikir masyarakat tentang primordialisme yang sangat kolot.
Dengan kekuatanku yang sekarang, takkan mungkin aku cukup mampu untuk merubahnya. Akan tetapi, jika itu Kak Tius, hal itu mungkin saja.
“Ngomong-ngomong lagi, Tuan Helios, kok ekspresi Tuan terlihat sangat sedih? Apa ada masalah di ibukota dengan Ayahanda Tuan?” Ujar Nunu dengan tanpa keraguan menatap lurus langsung ke dalam mataku.
Aku tidak menyangka wanita mungil itu akan menyadarinya. Padahal aku sudah berusaha menyembunyikannya dengan baik. Namun benar bahwa setiap aku mengingat kedua orang tuaku, muncul rasa sakit hati yang tidak bisa kujelaskan.
“Bukan apa-apa. Aku hanya merasa bahwa kedua orang tuaku mungkin dari awal memang tidak suka padaku bahkan sebelum munculnya ramalan tiran itu. Karena sejak lahir, aku memang sudah terlahir dengan ciri-ciri fisik yang berbeda dengan mereka. Mereka hanya tidak punya alasan saja sampai akhirnya alasan itu muncul dengan ramalan tiran itu.”
“Mengapa Tuan Helios sampai berpikiran seperti itu?”
“Lihat saja warna mata dan rambutku yang hitam pekat ini. Wajar saja kan jika aku dibenci? Itu kan terlihat benar-benar menjijikkan. Terus, kamu bisa lihat kan nama Leon dan Ilene yang memiliki penyebutan akhiran yang sama dengan Ayahanda Alfreon, juka Kak Tius yang penyebutan awalannya sama dengan Ibunda Theia. Hanya namaku saja, Helios, yang berbeda.”
“Jadi apa? Tuan Helios mau nama Tuan jadi Telios, Helion, Telion, atau Te****n sekalian?!”
Tiba-tiba saja aku mendengar perkataan kotor yang keluar dari mulut gadis mungil itu.