
“Lambang ini?”
Alice menatap kaget di balik cermin terhadap tanda yang muncul di balik tengkuk lehernya.
Aku pun menjelaskan kepadanya perihal pahlawan dan bagaimana aku ternyata alih-alih seorang tiran yang diramalkan oleh muslihat Baal yang menyamarkan dirinya sebagai Rahib Vyndicta Eros adalah pahlawan yang sebenarnya.
Lalu sebagai salah satu dari keempat rekan anggota party-ku, Alice dipilih sebagai sang perisai.
“Jadi begitu? Senang rasanya bisa mendengarnya, Master.”
Muncul senyum tulus bercampur bahagia di balik wajah Alice. Entah mengapa aku bisa samar-samar merasakan bahwa dia senang bisa terpilih menjadi salah satu anggota party-ku.
Namun, begitu kumenceritakan bahwa dua di antara tiga anggota party yang lain adalah orang yang seharusnya dikira sudah meninggal, Alice seketika menunjukkan wajah keterkejutan.
“Apa? Jadi salah satu anggota party yang lain adalah Albert? Albert masih hidup? Dan salah satu anggota yang lain adalah Yang Mulia Putra Mahkota Albexus dari mantan Kekaisaran Vlonhard? Bukankah tidak hanya berita kematian mereka saja yang terdengar, tetapi mayat mereka jelas-jelas juga ditemukan? Bukankah aku dan Master sama-sama menghadiri penguburan Albert?”
Aku juga tidak bisa menjawab pertanyaan Alice itu karena sampai saat ini, Albert juga masih bungkam terhadapnya. Aku juga tidak tahu-menahu mengapa Albert dan juga Albexus yang jelas mayatnya telah dimasukkan ke dalam liang lahat dalam keadaan yang mengenaskan, bisa bangkit kembali dalam keadaan utuh.
Aku pun hanya memberikan Alice sebatas penjelasan singkat ala kadarnya sesuai apa yang kupahami pula lantas memintanya untuk segera mengikutiku untuk bergabung dengan para anggota party pahlawan yang lain. Yang jelas aku dan Alice sama-sama bersyukur bahwa Albert rupanya masih ada di dunia ini.
Aku pun mengajak Alice untuk menemui Yasmin demi kembali bersama-sama ke ibukota demi menemui ketiga anggota party pahlawan yang lain tersebut.
“Apa? Jadi Nona Yasmin bukan salah satu dari yang terpilih? Kukira itu sudah wajar jikalau dialah yang terpilih baik sebagai sang berpemahaman ataupun sang bijak sejak Nona Yasmin sangat dekat dengan Master.”
Terlihat wajah sedih, kecewa, sekaligus bercampur kasihan pada ekspresi Alice begitu mengetahui bahwa di antara keempat orang yang terplih sebagai anggota party-ku itu, Yasmin bukan salah satunya. Namun kulihat Yasmin hanya menanggapinya dengan senyuman. Lalu begitu tersadar akan ucapannya mungkin terdengar tak sopan, Alice segera meminta maaf kepada Yasmin dengan ekspresi yang merasa sangat bersalah.
Alice bisa berpikiran begitu karena aku belum menceritakan kepada siapapun soal identitas Yasmin yang sebenarnya adalah witch Cassandra. Yasmin yang berasal dari background kegelapan, tidak mungkin akan terpilih sebagai anggota party pahlawan.
“Tunggu, Master. Di antara Albert dan Yang Mulia Albexus, siapa dong yang menjadi sang penakluk?”
Aku bisa paham ketika Alice menanyakan hal itu adaku. Itu karena dia pun merasa bahwa tidak ada peluang bagi keduanya untuk menjadi sang berpemahaman maupun sang bijak. Untuk menjadi sang berpemahaman, kamu harus cerdas dan mengerti mana dengan baik, sedangkan untuk menjadi sang bijak, kamu harus memiliki kesucian hati dan empati yang kuat terhadap penderitaan orang lain.
Tidak ada satu pun di antara kedua kriteria itu yang terlihat sesuai dengan penampilan baik Albert maupun Albexus. Bagaimanapun jika kita melihat keduanya, mereka hanyalah tipe idiot yang sama-sama suka main pedang-pedangan.
“Itu Albert.”
“Jadi kalau begitu, Yang Mulia Putra Mahkota Albexus… Dia…”
“Dia sang bijak.”
Alice segera menganga agape terhadap jawabanku itu seakan aku mengatakan sesuatu yang paling tidak mungkin di dunia ini bahwa seseorang yang bernampilan keras seperti Albexus rupanya memiliki hati selembut gadis suci.
“Terus siapa orang yang terakhir, Master?”
“Kamu akan segera mengetahuinya. Dia juga adalah orang yang kita kenal dengan baik.”
Aku bisa saja menyebutkan nama Dokter Minerva secara langsung kepada Alice saat itu sebagai sang berpemahaman. Bagaimanapun, muncul pikiran jahilku kala itu untuk bisa melihat ekspresi unik Alice yang akan terkejut begitu mengetahui secara langsung siapa orang yang terakhir.
Aku, Alice, dan Yasmin memutuskan pulang ke ibukota melalui gate, bukan dengan gate portable instanku maupun sihir portal Dokter Minerva. Tidak ada alasan lain, aku hanya penat sehingga aku ingin jalan-jalan, jadi aku pun memanfaatkan waktu menjemput Alice di Kota Litrum ini sebagai sarana mewujudkannya.
Yah, kata pepatah, sambil menyelam minum air. Aku sendiri juga tidak tahu mengapa pepatahnya seperti itu. Bukankah jika kita menyelam lantas sambil minum air laut sebagai pereda haus, alih-alih haus kita teredakan, kita justru akan semakin kehausan dan akhirnya mati lebih cepat? Tapi kurasa bukan ranahku untuk mengomentari sastra dan pepatah yang berkembang di tengah masyarakat Benua Ernoa ini. Yang jelas kalian mengerti maksudku kan?
Akan tetapi begitu kami di tengah perjalanan, sesuatu tiba-tiba saja menyergap langkah kami. Alice dan Yasmin segera berdiri di hadapanku untuk melindungiku. Aku pun tidak tinggal diam. Aku segera menyiagakan diriku untuk siap dalam pertempuran kapanpun dibutuhkan.
Namun ketika kuperhatikan dengan seksama sosok yang menghalangi langkah kami itu,
“Noel Dumberman!”
Aku segera berteriak marah kepada sosok tersebut. Sisiknya yang hitam serta rambut emasnya yang menyerupai Leon bisa segera membuatku tahu bahwa itu dia tanpa harus melihatnya lebih dekat. Di sampingnya telah bersamanya seorang sosok nenek-nenek tua yang tampaknya menjadi pengangkut dirinya ke tempat ini melalui kendaraan tongkatnya yang memiliki desain terlihat sangat mencolok dalam artian negatif itu.
“Apa yang mau kau lakukan lagi di tempat ini, bajingan?!”
Aku tak dapat menahan ketenanganku lagi begitu melihat wajah menjijikkannya itu… tidak, wajahnya terlalu mirip dengan Leon di ingatanku sehingga jika aku mengatakannya menjijikkan, seakan aku justru turut mengumpat adikku yang telah berada di alam sana itu. Yang jelas melihat wajahnya benar-benar membuat amarahku seketika memuncak.
Aku belum melupakan bagaimana perbuatannya yang hampir saja melepaskan para demon di tanah air Meglovia ini yang bisa saja merenggut banyak nyawa rakyat yang tidak berdosa.
Sesaat terjadi diam di antara kami. Aku bisa melihatnya ngos-ngosan sembari sisik-sisiknya itu terkelupas dari kulit bagian dalamnya. Dia tampak begitu fragile dan tak berdaya. Apa dia sedang terluka?
Mungkin karena melihat tatapan mataku yang benar-benar mengisyaratkan akan segera membunuhnya jika sedikit saja dia berbuat gerakan yang mencurigakan, nenek tua di sebelahnya itulah yang akhirnya mengatakan sesuatu padaku sementara dengan tampang bodohnya, Noel Dumberman hanya bisa menatapku dengan nafasnya yang masih terengah-engah sembari memegangi dadanya.
“Hentikan itu, Nak Helios. Kami tidak berniat bertarung. Aku ingin kamu menyelamatkannya.”
Dan mungkin tidak terlihat seperti itu karena wajahnya yang tua dan keriput, tetapi tidak salah lagi bahwa nenek tua ini juga adalah seorang witch dari sorcery menerbangkan tongkat yang dia lakukan di siang hari bolong ini. Untuk mengapa dia bisa tua dan keriput walaupun dia adalah seorang witch, aku juga tidak tahu alasannya.
“Shipton!”
“Oh, Nona Cassandra.”
Yasmin yang mengenal sosok itu adalah bukti konkrit bahwa dia adalah seorang witch.
Bisa kulihat pula wajah penuh tanda tanya dari Alice yang terlihat terlambat memahami situasi. Dia sejatinya belum tahu bahwa Yasmin juga adalah seorang witch sehingga dia pasti heran mengapa dia bisa kenal dan terlihat akrab dengan sosok yang seharusnya menjadi musuh yang berdiri di hadapan kami saat ini.
Melupakan itu, Madam Shipton. Aku rupanya juga kenal benar dengan sosok itu. Sosok itu ada di dalam salah satu hikayat cerita yang berhasil direstorasi oleh departemen sejarah di antara dokumen-dokumen sejarah yang sempat berusaha dihilangkan rekam jejaknya oleh Baal selamanya di dunia.
Tiada yang lebih berjasa daripada itu selain Dokter Minerva yang rupanya punya suatu perkumpulan rahasia yang mengoleksi buku-buku yang sempat dicap blasphemy oleh kuil suci sewaktu Baal, tidak, maksudku Rahib Vyndicta Eros masih berkuasa.
Madam Shipton dan jebakan iblis.
Suatu hari, hiduplah pasangan suami-istri yang sangat bahagia, keluarga Shipton. Sang suami berasal dari kalangan keluarga berada. Walau demikian, keluarga sang suami sama sekali tidak melarang sang suami untuk menikahi sang istri yang adalah seorang yatim piatu gelandangan.
Mereka pun menikah lantas hidup bahagia. Belakangan diketahui bahwa sang suami mandul, walau demikian, sang istri tetap mencintai sang suami dengan sepenuh hatinya. Mereka pun tetap dapat hidup bahagia walau takkan pernah dikaruniai seorang anak.
Masalah kemudian muncul ketika mereka mulai berumur. Ramalan-ramalan masa depan terus bermunculan di mimpi sang istri. Awalnya, dia sama sekali tak mempercayai ramalan-ramalan lewat mimpinya itu. Tetapi kemudian nyatanya, apa yang semua diramalkan lewat mimpi-mimpinya itu benar-benar menjadi kenyataan tanpa ada satu pun yang terlewat.
Lalu suatu hari, tibalah ramalan tentang kematian sang suami.
Sang istri pun dilanda keputusasaan mendalam karenanya.
Suatu ketika, sosok berkerudung hitam pun datang menghampiri Madam Shipton lantas sosok itu memberi tahunya bahwa ada cara untuk menyelamatkan sang suami yakni dengan menumbalkan nyawa 77 anak laki-laki berusia kurang dari 10 tahun lantas meminumkan darahnya pada sang suami, satu setiap harinya di gelapnya malam selama 77 hari tersebut tanpa pernah terlewat sehari pun hingga tumbalnya memenuhi.
Walau demikian, Madam Shipton adalah seorang yang penyayang. Dia menolak tegas hal tersebut. Dan pastinya suaminya juga tak ingin kehidupan dengan menimbulkan kehidupan manusia lain.
Akan tetapi, pada akhirnya sang suami mulai jatuh sakit seperti yang diramalkan. Walau tak tergoda pada apa yang ditawarkan oleh sosok berkerudung hitam, Madam Shipton mulai tergiur untuk mendalami sorcery. Dia mulai berpikir kalau tidak ada obat yang bisa ditemukannya baik melalui medis maupun sihir suci, mungkin sorcery adalah jalan satu-satunya.
Walau dengan jalan memutar, di situlah dia terjebak oleh jebakan sosok berkerudung hitam. Madam Shipton tanpa menyadari bahwa dirinya sendiri telah menempuh jalan sesat witch, terus melakukan sorcery yang berdampak tubuhnya mulai terkontaminasi mana mati.
Di luar dugaan, di sekeliling tempat keluarga Shipton itu tinggal, terjadi pembunuhan berantai anak di bawah umur. Lalu tanpa pikir panjang, para warga pun segera menuduh sang Madam Shipton sebagai pelakunya. Tingkah laku Madam Shipton sudah terlihat mencurigakan belakangan itu, terlebih dia sejatinya juga memang telah terkenal sebagai peramal mimpi.
Di zaman itu, peramal mimpi dikaitkan erat dengan sihir hitam alias witch, walau sejatinya kemampuan tafsir mimpi bukanlah bagian dari sorcery, hanya merupakan kemampuan supranatural Madam Shipton saja yang tiba-tiba terbangkitkan.
Tanpa mengetahui fakta itu, ketika para warga menyelidiki secara paksa rumah Madam Shipton, mereka pula berhasil mendapatkan bukti-bukti praktik sorcery di sana.
Madam Shipton tidak bisa mengelak lagi dari tuduhan itu perihal bukti yang menjerumuskan dia walau sejatinya dia tidak bersalah. Itu sejatinya adalah jebakan yang semuanya disiapkan oleh sang sosok berkerudung hitam padanya.
Sang sosok berkerudung hitam itulah yang membunuh anak-anak di bawah umur, memancing Madam Shipton menemukan buku-buku terlarang yang berisi sorcery, serta sosok itu pulalah yang menanamkan kecurigaan mendalam kepada para warga sejak awal kepada Madam Shipton melalui berbagai trik hasudan liciknya.
Secara beruntung, Madam Shipton bisa lari dari amukan warga sebelum dirinya dan suaminya dibakar hidup-hidup oleh warga. Itu pun semua adalah kendali rencana dari sang sosok berkerudung hitam.
Namun, Madam Shipton tidak punya pilihan lain selain membawa sang suami bersamanya ke dalam hutan di mana para warga tidak akan bisa menemukan mereka.
Sang suami yang tengah sakit-sakitan, harus bertambah sakit lagi perihal faktor ketidakstrerilan wilayah hutan. Jadilah sang suami benar-benar meninggal sebagai perwujudan ramalan mimpi Madam Shipton.
Madam Shipton gagal mewujudkan keinginannya. Yang ada, sorcery telah mencemarinya dan merusak tubuhnya. Dia pun tidak bisa kembali lagi ke jalan masa lalu sejak warga sudah menjudge-nya sebagai witch yang harus menjalani eksekusi pembakaran.
Madam Shipton yang sangat bodoh yang dengan gampangnya masuk ke dalam perangkap sang sosok berkerudung hitam itu padahal memiliki hati yang baik, akhirnya tidak punya pilihan lain selain mengikuti jalan bersama sang sosok berkerudung hitam ke neraka.
Kisah ini biasa dijadikan landasan untuk memperkenalkan anak-anak bagaimana bahayanya tipu daya iblis itu. Jika kita tidak terjebak oleh tipu daya frontal, maka mereka akan menggunakan tipu daya berliku hingga akhirnya kita benar-benar terjebak. Oleh karena itu, kisah ini mengajarkan kita agar selalu hati-hati dalam bersikap dan banyak-banyak menimba ilmu agar tak gampang disesatkan oleh iblis.
Dan jangan pernah berani sekalipun menggunakan hal yang jahat sebagai kekuatanmu untuk memperoleh keinginanmu karena itu hanya akan menipumu dan balik menguasaimu suatu saat. Hal yang hitam dan hal yang putih sudah jelas perbedaannya pada awalnya soalnya.
Itulah kisah tragis dari sang witch Shipton yang terjebak oleh perangkap iblis, salah satu hikayat cerita yang menghilang bersamaan dengan bangkitnya kuil suci era baru seratus tahun yang lalu karena dinilai mengajarkan blasphemy. Yah, siapa lagi pelakunya selain Baal yang sangat ingin menyesatkan manusia dengan kebodohan.
Tak kusangka sosok terkenal dari era 400 tahun yang lalu, di masa-masa di mana Kerajaan Meglovia masih kecil itu, justru berdiri di hadapanku saat ini. Sayangnya, Madam Shipton terkenal bukan dengan jalan yang baik.
Kalau dipikir-pikir lagi, aku juga membiarkan Yasmin berada di sisiku walaupun aku tahu bahwa dia juga adalah witch yang menempuh jalan hitam. Apakah aku sejatinya sama dengan Madam Shipton?
Tidak, itu tidak mungkin benar. Sedari awal, aku tidak menginginkan kekuatan witch apapun dari Yasmin. Yasmin berdiri di sisiku mutlak bukan sebagai sang witch Cassandra, tetapi sebagai maid setiaku, Yasmin. Selama Yasmin masih memenuhi janji bahwa dia takkan pernah menggunakan sorcery-nya kecuali jika aku yang menyuruhnya dalam keadaan darurat, maka dia akan tetap selalu bisa bersamaku.
Tidak, bukankah itu justru membuatku semakin terlihat munafik? Andai saja sorcery tidak pernah ada di dunia ini dan andai saja aku bisa bertemu Yasmin dalam keadaan lain. Tidak, itupun salah. Jika aku berpikir seperti itu, itu sama saja dengan aku menolak eksistensi Yasmin.
Lebih dari siapapun, akulah yang tampaknya harus lebih banyak belajar lagi tentang hikayat Madam Shipton dan Jebakan Iblis.