
[POV Albert]
Aku benar-benar idiot.
Aku tak dapat memungkiri hal itu.
Jika bukan karena Yang Mulia Pangeran Leon yang menyelamatkanku di detik-detik terakhir dengan menukar tubuhku terhadap jasad palsu mengelabui Damian, aku pasti sudah akan mati dan untuk selamanya menjadi orang yang bodoh.
Aku menyayangi warga wilayah Tarz perihal di situlah ayahku yang sudah samar di ingatanku lagi menghabiskan sepanjang umurnya.
Walaupun mereka salah paham terhadap Master, kukira kasih sayang mereka juga tulus kepadaku.
Aku benar-benar memperlakukan mereka layaknya keluarga.
Aku mempercayai mereka sebagaimana ayahku dulu mempercayai mereka.
Padahal kuyakin bahwa semuanya itu asli sebagaimana mereka membuktikannya dengan tetap setia membela Ayah sampai detik-detik terakhir di bawah ketiranan Kaisar Ethanus dan pendahulunya.
Aku menyayangi mereka.
Namun aku tak ingin mereka terus-terus menyalahpahami Master.
Suatu saat, Damian pun memberikan solusinya.
Dan aku benar-benar meyakini bahwa jalan berduri menjadi seorang kaisar hanya akan semakin menyakiti Master.
Itulah sebabnya aku menerima rencana Damian itu, terlebih dengan dorongan para warga Tarz kepadaku.
Aku mempercayai mereka, berpikir jika aku melakukan ini, mereka tidak akan lagi salah paham terhadap Master lantas bisa memperlakukan Master dengan lebih baik lagi.
Nyatanya aku salah.
Sejak awal mereka telah mengkhianatiku.
Aku benar-benar malu akan kebodohanku.
Jika disuruh memilih, aku ingin menyembunyikan wajahku dari Master untuk selamanya.
Bahkan perihal diriku, Master semakin rusak.
Aku menyaksikannya sendiri bagaimana Master menggunakan mayat palsu buatan Yang Mulia Pangeran Leon yang mirip denganku itu untuk membunuh orang-orang, berpikir itu akan bisa membalaskan dendamku.
Aku merusak Master.
Aku memang dendam dengan orang-orang itu, namun melebihi dendamku, rasa bersalahku ini pada Master lebih kuat.
Oleh karena itu, aku sebenarnya tidak peduli lagi terhadap apa yang terjadi pada orang-orang yang telah mengkhianatiku tersebut.
Aku hanya ingin mengembalikan senyum Master yang telah lama hilang.
Aku ingin segera mengakhiri segala pertempuran ini.
Aku ingin segera membebaskan Master dari tanggung jawab yang dipaksakan kepadanya itu.
Aku hanya ingin melihat Master bahagia.
Lantas apakah aku telah cukup berusaha?
Nyatanya tidak.
“Aaaakkkkhhhhh.”
Ribuan demon minion menggigiti serta menguliti tubuhku dengan cakarnya.
Berkali-kali pun aku menebas mereka bahkan dengan menggunakan artifak Pedang Besar Toranium ini, jumlah mereka masih sangat banyak berseliweran ke mana-mana.
-Dratak!
“Ukh.”
Dan di antara semuanya, serangan heavenly four demon bertanduk inilah yang paling berbahaya.
Dia mempunyai sayap dan bisa terbang.
Terlebih gerakannya sangat cepat.
Sejak aku menjadi grand master, aku bisa sedikit melayang, namun aku terlalu bodoh untuk bisa bergerak dengan bebas di udara, alih-alih bertarung di udara.
Andai saja aku punya pengalaman bertempur seperti halnya Tuan Buron da Corner, semuanya pasti akan lebih mudah.
Aku juga bukan tipe pemikir yang bisa merancang strategi untuk kemenangan.
Dalam setiap pertarungan, aku hanya selalu mengandalkan kekuatan dan instingku untuk menang.
Yang terbaik kini yang bisa kulakukan adalah menahan salah satu heavenly four demon itu agar dirinya tidak mengganggu pertarungan Master dengan Raja Iblis di dalam.
Tidak!
Sampai kapan aku mau selemah ini?!
Aku selalu gagal karena ketika masa-masa sulit aku hanya selalu mengeluh bahwa aku belum berusaha maksimal karena kurang latihan.
Seolah aku sudah mempersiapkan sedari awal alasan kekalahanku.
Itu salah bukan?
Bagaimana aku bisa menang jika tidak meyakininya?!
-Syut.
Aku memancangkan pedangku dengan kedua tanganku tepat di depan dadaku.
‘Ukh.”
Tetap saja ini sulit untuk menghindari tiap gigitan atau cakaran para demon minion yang jumlahnya ribuan itu.
Rasa sakitnya terasa sangat menyiksa.
Jika itu Yang Mulia Pangeran Leon atau Tuan Buron, apa yang akan mereka lakukan?
Aku memang lemah dalam berpikir dan aku tidak cukup kreatif dalam menciptakan rencana pertarungan sendiri.
Akan tetapi jika sekadar meniru orang lain tentang apa yang akan mereka lakukan, kurasa aku bisa.
Aku harus mengimajinasikan bagaimana Yang Mulia Pangeran Leon yang cerdas bergerak untuk menghindari tiap serangan musuh dan bagaimana dia menyerang dengan kekuatan tubuhnya yang tidak terlalu luar biasa itu.
Aku harus mengimajinasikan kepercayaan diri Tuan Buron ketika maju menerjang musuh dalam jumlah banyak dan bagaimana dia mengincar leher jenderalnya.
Aku juga bisa melakukannya.
***
Tanpa sadar, Albert memasuki zone.
Itu adalah keadaan di mana seluruh pikiranmu, hanya ditujukan untuk mencapai satu tujuan pasti jangka pendek.
Otakmu yang biasanya hanya bisa digunakan sekitar sepuluh persen dalam keadaan normal, kini memeras segala isinya dengan menggunakan energi mana sehingga tingkat efisiensinya naik mencapai tujuh puluh persen.
Itu adalah bukan kondisi yang disarankan dalam keadaan normal perihal otak yang digunakan melebihi kapasitas wajar bisa saja meleleh akibat terlalu panas.
Bahkan sihir suci terkuat pun takkan memiliki kemampuan yang cukup untuk menyembuhkan bagian tubuh yang tidak diketahui mekanisme berfungsinya.
Otak yang meleleh tak bisa lagi disembuhkan, setidaknya dengan pengetahuan sihir suci dan medis masa itu.
Oleh karena itu, Albert pun hanya bisa berada pada kondisi itu dalam waktu yang terbatas, tergantung staminanya.
Berkat efisiensi otaknya yang meningkat hingga tujuh kali lipat tersebut, keseluruhan indera Albert pun menajam.
Dia seketika mampu mencium rasa, mendengar warna, melihat bau, mengecap sentuhan, meraba suara, dan sebagainya.
Dalam kondisi itu, aura Albert terbakar lebih dahsyat hingga bahkan membuat para demon minion yang cukup lemah pada jarak yang terlalu dekat dengannya jadi terbakar.
Namun Albert yang sekarang benar-benar mengabaikan keberadaan para demon minion itu.
Hanya satu sosok yang menjadi pusat konsentrasinya saat ini.
Si tanduk yang terbang secepat kilat di udara.
Dia pun menyesuaikan waktu, suasana, kecepatan angin, gravitasi, gaya gesek, dan hal-hal lain yang berkaitan terfokus pada sinkronisasi dirinya dan posisi si tanduk.
Lalu pada waktu yang tepat,
-Slash.
Satu ayunan pedang yang tepat seketika membelah si tanduk.
“Apa? Mustahil. Aku yang hebat ini… Aaaakkkhhhh!”
Albert mengalahkan si tanduk, namun itu belumlah akhir dari pertempuran.
Masih ada ribuan demon minion yang menyelubunginya.
“Uakh!”
Namun Albert memuntahkan darah.
Kondisinya terlihat parah.
Mata, telinga, serta hidungnya mengeluarkan darah.
Albert merasakan rasa sakit kepala yang luar biasa sebagai akibat dia terlalu lama berada di zone yang melelehkan otaknya.
Dia pun dari yang ditakuti segera berubah menjadi mangsa yang empuk bagi para demon minion.
***
“Sudah kuduga akan jadi seperti ini.”
Tiba-tiba terlihat seseorang dengan zirah yang hitam pekat berada di sekitar lokasi di mana Albert tersungkur tak berdaya.
-Swarsh.
Sapuan pedang aura orang itu seketika membentuk lingkaran bulat seutuhnya yang menyingkirkan para demon minion yang berusaha menggapai Albert.
“Yang Mulia Leon! Apa yang Anda lakukan?! Bagaimana jika serangan Anda juga ikut mengenai Albert?”
“Diam kau wanita masokis!”
“Ap… Apa? Wanita masokis?! Enak saja!”
“Ck. Aku telah memperhitungkan semua seranganku hingga tak mungkin mengenainya. Lagipula jika Albert terkena sedikit, kuyakin dia takkan kenapa-kenapa.”
“Anda ini…”
“Ck. Daripada itu, Alice. Sekarang giliranmu. Singkirkan para demon minion itu.”
“Baiklah, aku mengerti, Yang Mulia. Serahkan semua sisanya padaku.”
Lalu berkat kombinasi serangan pasangan sadis-masokis tersebut, Albert pun terselamatkan.