
Proses ekstraksi kutukan monster di dalam tubuh Alice telah selesai. Akan tetapi, artifak buatan yang merusak kinerja aliran mana-nya itu masih tetap berada di dalam jantungnya.
Jika artifak itu dibiarkan saja terus berada di dalam jantungnya, maka walau tanpa keberadaan kutukan monster sekalipun, artifak itu tetap akan bisa mengisap mana dari alam lantas mentransfernya ke dalam bentuk mana demon sehingga dalam beberapa bulan, Alice akan kembali mengalami penyakit yang sama.
Artifak itu harus segera dikeluarkan dari dalam jantungnya sebelum dia kembali mengalami hal yang buruk tersebut.
Ini bukan perkara yang sulit tentu saja buatku, tetapi juga bukan pula perkara yang dapat dilakukan dengan enteng. Salah sedikit prosedur dilakukan, maka jantung Alice bisa saja meledak dan dia pun bisa meninggal dunia. Oleh karena itu, aku tidak boleh sama sekali pun melakukan kesalahan dalam prosedurnya.
Hanya saja, itu adalah prosedur yang tak bisa kulakukan dengan kemampuanku saat ini dalam kondisi tak bersentuhan langsung dengan kulit. Makanya, aku pun terpaksa menyuruh Alice untuk membuka atasannya.
“Alice, bisakah kamu membuka atasan pakaian kamu? Tenang saja, aku akan menutupi mataku sehingga aku tidak akan bisa melihat bagian tubuhmu yang terekspos. Ini hanya murni diperlukan untuk mengeluarkan artifak buatan itu dari dalam jantungmu.”
“Eh, apa? Tapi Yang Mulia…”
Aku tidak menunggu responnya pada saat aku mulai menutupi area mataku dengan sihir es-ku.
Alice pun segera paham lantas segera mengeksekusi perintahku itu setelah merasakan tak ada satu pun niat jahat dari maksud perkataanku.
Tetapi yah, walau dengan mataku yang tertutup, sensitifitas mana-ku yang tinggi tetap mampu membuatku merasakan dengan jelas tiap lekuk tubuh Alice yang bersentuhan dengan mana yang kusalurkan.
Terutama bagian melon besar yang menggantung dengan indah di tubuhnya itu membuat aku tak dapat menahan lagi amukan sesuatu yang kecil yang bersembunyi di celah dua kakiku.
Namun aku berusaha tidak menampakkannya sekuat tenaga agar Alice tidak akan merasa tidak nyaman dengan semua itu.
Proses operasi benar-benar memakan waktu yang sangat lama, namun pada akhirnya, aku bisa mengekstrak artifak seukuran bola tenis dari dalam jantungnya itu. Aku sampai heran bahwa bagaimana bisa benda sebesar itu bisa bersemayam di jantungnya yang hanya dua sampai tiga kali lebih besar dari ukuran artifak itu.
Yah, namun terkadang sihir memang tidak bisa dijelaskan dengan konsep ilmu pengetahuan yang memperhatikan kekekalan massa dan energi.
“Yosh, dengan begini, artifak hutan monster sudah selesai diperbaiki sehingga monster tidak akan lagi menyerang secara agresif di kota dan artifak di dalam tubuh Alice pun telah berhasil dikeluarkan sehingga kondisi Alice perlahan akan mulai membaik. Semuanya berjalan dengan baik.” Ucapku dengan senang di hadapan Alice dan juga Yasmin.
Tidak beberapa lama kemudian, kabut pun mulai menebal di sekitaran kami pasca bagian artifak hutan monster yang rusak, selesai kami perbaiki. Kami pun mulai berjalan kembali keluar dari hutan monster.
Namun sebelum sempat melangkah jauh, Alice tiba-tiba bertanya kepadaku, “Yang Mulia Pangeran, apakah kita akan meninggalkan dungeon-nya begitu saja tanpa mengeksplorasinya padahal dungeon itu sudah ada di depan mata?”
Terhadap pertanyaan Alice itu, aku pun menjawab, “Sekali pintu dungeon dibuka, maka kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Kita harus merencanakan ekspedisi dengan matang sebelum mengeksplorasinya. Bukannya juga kita dikejar waktu atau apa untuk melaksanakannya. Lagipula sekarang, ada hal penting lain yang harus segera kulakukan.”
Bersamaan dengan kalimat terakhirku itu, aku menatap ke dalam artifak buatan yang telah kusegel dengan menggunakan sihir es-ku tersebut.
“Apa itu berkaitan dengan artifak buatan yang sebelumnya ada di dalam jantungku itu, Yang Mulia Pangeran? Apa yang akan Anda rencanakan dengan menggunakan artifak itu?”
Beberapa jam berjalan, malam pun kembali tiba di hutan monster. Ini adalah malam kedua kami di hutan monster tersebut. Lalu sekali lagi, kami pun berkemah di sana.
Namun berbeda dari yang sebelumnya, setelah artifak hutan monster diperbaiki, tampak tak ada satu pun lagi monster beringas yang kami temui. Oleh karenanya, kami pun dapat memperoleh istirahat kami yang nyaman di malam itu.
Di luar tenda, aku sekali lagi melihat Alice dalam ekspresi sedihnya. Aku pun lantas perlahan mendekatinya tanpa berucap satu kata pun.
“Aku sama sekali tak menduga bahwa aku bisa selamat dari penyakit itu dan aku juga sama sekali tak menduga bahwa itu bukanlah penyakit alami, melainkan penyakit yang sengaja ditanamkan oleh Yang Mulia Kaisar Vlonhard padaku.”
“Tetapi jika aku kembali merenungkannya, pantaskah memang aku selamat dari semua ini? Karena jika demikian, maka dendam rekan-rekanku yang telah tewas karena kutinggalkan di belakang itu, takkan bisa terbalas lagi dengan kematianku.”
Alice yang kini bisa merasa nyaman di dekatku pun kembali mengeluarkan segala beban di hatinya.
“Alice, kurasa kau mungkin telah salah paham dengan niatan rekan-rekanmu itu. Lagipula bukankah aneh mengapa kamu bisa selamat seorang diri dari kejadian itu? Itu pasti karena mereka memang rela mengorbankan diri demi melindungimu. Bagi mereka, kamu bagaikan adik atau anak perempuan mereka yang juga akan menjadi tumpuan harapan masa depan bagi mereka sehingga mereka tidak akan pernah membiarkanmu mati di tempat seperti itu.”
“Walaupun aku tidak berada di tempat kejadian, aku bisa yakin bahwa mereka semua sangatlah mencintaimu. Oleh karena itu, pasti mereka saat ini di atas sana telah benar-benar memperoleh kebahagiaan mereka sembari sedang menatapmu dengan penuh harapan agar kamu juga dapat memperoleh kebahagiaanmu di kehidupan ini.”
Air mata Alice pun mengalir di saat aku mengucapkan kalimat itu. Dengan lirih, dia pun kembali berujar,
“Bolehkah aku hidup bahagia setelah melarikan diri dari kematian mereka?”
“Rekan-rekanmu di atas sana justru akan sedih jika kamu masih saja merasa bersalah atas kematian mereka.”
“Itu benar. Setelah kupikir-pikir lagi, perkataan Yang Mulia Pangeran Helios memang benar. Mereka adalah rekan-rekan yang baik. Tidak mungkin mereka akan mengharapkan penderitaan dariku. Justru sebaliknya, aku harus hidup dengan baik untuk membuat mereka di atas sana tidak perlu lagi mengkhawatirkanku di sini. Terima kasih, Yang Mulia Pangeran. Berkat Anda, kini aku memahami dengan baik perasaan rekan-rekanku itu.”
Alice pun tersenyum seakan beban yang selama ini membebani pundaknya terlepas begitu saja.
Walaupun itu perkataan yang tidak bertanggung jawab yang keluar dari mulutku sejak aku juga tidak tahu bagaimana watak setiap rekan-rekan Alice yang meninggal itu.
Aku tidak tahu niatan apa yang tertanam di benak mereka di penghujung kematian mereka itu. Apakah mereka memang senang mengorbankan diri mereka untuk keselamatan Alice ataukah mereka malah mengutuk Alice karena melarikan diri meninggalkan mereka.
Tetapi apa yang terpenting sekarang adalah apa yang masih hidup. Lebih penting untuk meyakinkan Alice agar hatinya tenang dan tak lagi terganggu oleh trauma masa lalunya walaupun itu sekadar kata-kata kosong belaka yang keluar lewat mulutku itu. Dengan demikian, sesuatu akan berjalan lebih produktif dengan Alice bisa berada kembali di puncak kekuatannya.
Lagipula tidak ada yang akan berubah jika Alice terus meratapi kepergian rekan-rekannya itu dan terkungkung atas trauma kematian mereka di sepanjang hidupnya. Bukannya jika Alice melakukan itu, rekan-rekannya akan kembali hidup atau bagaimana.
Itulah sebabnya, aku pun menggunakan ramuan delusi penguat efek kata-kata yang sejenis ramuan hipnosis dengan menggunakan beberapa herbal yang aku temui di hutan monster yang tanpa Alice sadari, aku taruh turut terbakar ke dalam api unggun yang dibuatnya.
Begitulah adanya sehingga kata-kata kosong yang kuucapkan tadi benar-benar merasuk ke dalam sanubari Alice dan mengenyahkan traumanya berkat penguatan dari efek hipnosis ramuan herbal tersebut.