Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 120 – INVASI WILAYAH RODRIGUEZ (bag. 3)



“Nona, di sini tidak aman, mari kita mengungsi ke tempat yang lebih aman.”


Tatapan mata sang wanita cantik jelita terlihat benar-benar terpesona menyaksikan punggung sang pemuda yang mengucapkan kalimat itu padanya.


“Hei, yang merasa dirinya laki-laki! Lindungi wanita dan anak-anak di sekitar kalian! Aku akan membawa kalian semua kabur bersama-sama ke tempat yang lebih aman! Ikut di belakangku!”


Albert berteriak sekencang-kencangnya agar para korban baik para warga sipil maupun bangsawan dapat berkumpul di sekitar Albert agar Albert dapat melindungi mereka untuk kabur bersama-sama ke tempat yang lebih aman.


Sang wanita cantik jelita tampak segera kembali ke kesadarannya setelah lama dia terpana oleh tubuh perkasa milik Albert. Wajah Albert sebenarnya tidak kalah gantengnya, namun wanita itu lebih terpesona pada body Albert yang kekar dan besar.


Dia sadar apa yang harus dilakukannya sekarang.


“Lindungi wanita yang lemah dan anak-anak! Tempatkan mereka di tengah! Para pria dan juga wanita yang bisa bertarung harap tempatkan diri kalian di samping dan di belakang untuk menjaga barisan!”


Kegentaran yang sebelumnya nampak jelas di mata wanita itu, kini seketika sirna begitu saja ketika Albert datang menyelamatkannya. Kini dia bisa berdiri dengan percaya diri memberi instruksi kepada para warga sipil dan bangsawan lain yang terjebak dalam invasi.


Tampak pula lima orang yang berpakaian pelayan mengikutinya dari belakang yang tampak sangat memahami pola gerak wanita cantik jelita itu dengan sangat baik sehingga mampu berkoordinasi dengan sigap untuk mengatur barisan.


Mereka pun mulai berlari menyusul pace Albert yang berjuang di depan.


Muncullah enam prajurit anjing kekaisaran hendak menyergap Albert dalam formasi pedang mereka yang cukup terlatih.


Akan tetapi, dalam satu gerak zig-zag unik yang menyesuaikan alur di mana lokasi pedang musuh berasal, Albert menghempaskan sekaligus pedang-pedang mereka dengan pedangnya yang besar itu.


Lalu dalam gerak zig-zag yang selanjutnya, hanya dalam satu kali ayunan, Albert menggorok keenam leher para prajurit anjing kekaisaran itu.


Albert kemudian menjadikan tumpuan dua mayat yang telah kehilangan kehidupan mereka sebagai pijakan untuk melompat bahkan sebelum kedua mayat itu jatuh mencapai tanah.


Dia mengaktifkan auranya. Seketika aura non-atribut mengelilingi pedang Albert. Albert pun menyapu musuh dengan serangannya yang dahsyat.


Tiap musuh yang dijangkau jaraknya oleh pedang itu, tak ada satu pun yang selamat, sementara yang tak dijangkau jaraknya pun tak sanggup melarikan diri perihal momentum aura non-atribut pedang Albert seketika menjadi perpanjangan tajamnya pedang yang turut membelah mereka menjadi berkeping-keping.


Sebagai pengawal seseorang yang memiliki banyak musuh di mana-mana, Albert telah terlatih menghadapi banyak lawan sekaligus. Entah itu lawan tipe kekuatan yang menyerang secara frontal, maupun tipe assassin yang menyerang secara sembunyi-sembunyi.


Albert telah terlatih dalam segala macam keadaan untuk menghadapi lawan yang sangat banyak dalam satu putaran.


Dia tidak pernah mengeluh akan itu semua karena dia begitu menghargai orang yang dia lindungi itu. Tidak, Albert telah menganggap Helios sebagai adiknya sendiri, seorang keluarga.


Demi Helios, Albert rela untuk melakukan apapun meskipun itu nyawa taruhannya. Namun dia tahu benar bahwa tuannya itu berhati lembut. Mungkin saja Helios akan terasa hampa jikalau sampai dirinya duluan pergi ke alam sana meninggalkan Helios sendirian.


Itulah sebabnya Albert berjuang keras. Dia tidak ingin kalah pada siapapun. Di situasi istana yang tak bisa diprediksi di mana berbagai fraksi politik yang kejam berkumpul, kekalahan artinya kematian.


Albert tak boleh sedikit pun membiarkan dirinya lengah. Sekali lengah, bahkan orang yang selama ini kamu ajak bicara santai ketika latihan akan seketika menjadi musuh yang akan merenggut urat lehermu.


Begitulah menyeramkannya istana. Semuanya berisi orang-orang yang ahli menyembunyikan taring mereka di dalam topeng kelembutan. Jika Albert tidak kuat, maka tuannya yang rapuh dan terlalu berhati baik itu akan segera runtuh. Setidaknya, itu pandangan Albert terhadap Helios.


Namun, istana yang penuh bahaya itu pula yang telah membuat Albert semakin bersemangat untuk menjadi kuat. Dia harus kuat agar sanggup melindungi tuannya yang tercinta. Dan sebagai hasilnya, itulah yang menjadikan diri Albert saat ini.


Dari sepuluh menjadi dua puluh, dua puluh berkembang ke empat puluh. Tanpa terasa, telah lebih dari dua ratus nyawa yang direnggut oleh Albert dengan pedang besarnya itu. Alhasil, sampailah dia akhirnya di suatu barak dengan pertahanan yang terlihat cukup kokoh setelah menempuh jarak yang begitu panjang.


Albert mengenal benar siapa yang memimpin di barak itu. Itu adalah Duke Glenn van Rodriguez, pemimpin Kota Lobos yang saat ini sedang diserang itu.


Albert pun berteriak dari bawah kepada sang duke,


“Duke Rodriguez, saya Albert fou Lugwein, bawahan setia pangeran kedua, Helios de Meglovia! Tolong bukakan pintunya! Banyak warga sipil bersamaku saat ini yang membutuhkan perlindungan!”


Duke Glenn van Rodriguez segera melihat ke arah para pengungsi itu. Entah mengapa, terlihat bahwa sang duke akan menangis terharu. Tanpa menunggu lama, sang duke pun membukakan pintu barak yang dijaga ketat itu.


Para pengungsi pun segera berhamburan untuk masuk ke dalamnya, kecuali satu orang,


“Ksatria, apa Anda tidak akan ikut bergabung bersama kami masuk ke dalam?!” Tanya sang wanita cantik jelita kepada Albert.


“Maaf, Nona. Aku masih harus menjalankan perintah masterku untuk menghabisi nyawa para anjing kekaisaran bajingan itu sebanyak-banyaknya… Ehem, maksudku mengalahkan para prajurit kekaisaran yang telah mengotori tanah air kita.”


“Berjuanglah Ksatria lalu pulanglah dengan selamat.”


Ujar sang wanita cantik jelita sembari melepaskan kepergian Albert dengan senyum yang membawa semangat.


“Tentu.”


Albert pun berujar tanpa keraguan lantas melanjutkan pertarungannya di medan perang.


Duke Rodriguez menyaksikan pemandangan itu dari atas dengan tampang yang sedikit kusut. Walau demikian, jelas itu bukanlah ekspresi kebencian. Dia hanya terlihat bagaikan telah kecurian sesuatu tepat di depan mata kepalanya sendiri.


.


.


.


“Kakek!”


“Oh, Lilia, cucuku sayang! Syukurlah kamu selamat, cucuku! Mengapa kamu mesti ada di pasar sewaktu kerusuhan itu terjadi? Syukurlah, kamu bisa kembali selamat sampai ke tempat ini.”


“Kakek! Syukurlah ksatria itu ada di sana sewaktu aku terjebak. Ksatria itu melindungi aku dengan baik, hampir saja kesucianku direnggut oleh anjing kekaisaran.”


Sang wanita cantik jelita pun memeluk Duke Rodriguez dengan ekspresi terharu. Sang duke lantas membalasnya dengan belaian yang hangat pula di rambut emas sang wanita cantik jelita yang tidak lain adalah Lilia Rosse Rodriguez, cucu perempuan keempat Duke Glenn Rodriguez yang berasal dari keturunan putra keduanya.


“Dasar anjing biadab!”


“Kakek... Kakek harus nantinya memperlakukan ksatria itu dengan baik.”


Sekali lagi nampak raut ekspresi marah di wajah sang duke. Tidak, itu adalah ekspresi cemburu yang wajar ketika sang duke mengetahui bahwa telah ada pria lain di hati sang cucu yang lebih tinggi kedudukannya dibandingkan dirinya.


Terjadi diam sejenak tiba-tiba di markas di mana Duke Rodriguez berada yang mulanya sibuk untuk mempersiapkan senjata dan giliran bertempur, serta merawat yang terluka.


Melihat itu, Duke Rodriguez pun marah dan berteriak,


“Apa yang kalian lakukan?! Mengapa kalian berhenti bekerja?! Ini perang! Keterlambatan sedikit saja bisa menyebabkan lebih banyak korban! Jangan berhenti menggerakkan tangan dan kaki kalian!”


“Siap, Komandan!” Jawab para prajurit secara serentak atas komando sang duke tersebut.


Setelah keadaan tampak normal kembali, barulah kini sang duke melirik kembali kepada cucunya.


“Jadi dia rupanya prajurit andalan Pangeran Helios yang waktu itu mencapai ranah swords master level 5 sewaktu bertarung dengan anjing kekaisaran sekitar setahun lalu. Aku sudah pernah bertemu sekali dengannya waktu itu tapi tak terlalu memperhatikannya dengan baik. Dia benar-benar tumbuh menjadi ksatria yang hebat.”


“Benar kan, Kakek? Dia bisa menjadi calon suami yang ideal untukku.”


Mendengar ucapan itu keluar dari mulut cucu kesayangannya sendiri, perasaan Duke Rodriguez pun semakin campur aduk. Tentu saja tidak ada alasan bagi sang duke akan menolak Albert jikalau saja cucunya itu benar-benar berjodoh dengannya.


Walaupun Albert bukan bangsawan, tetapi dia adalah ksatria. Dan jika melihat perkembangan politik kerajaan, dengan kematian Tius dan Leon yang merupakan pewaris utama dan kedua tahta, kemungkinan besar yang akan menjadi penguasa kerajaan selanjutnya adalah Helios dengan mengabaikan segala doktrinisasi dari kuil suci.


Jika demikian, justru membangun hubungan erat dengan bawahan sang calon penguasa berikutnya adalah hal yang tidak buruk. Ada banyak untung yang akan diperoleh sang duke jika cucunya, Lilia Rosse Rodriguez benar-benar akan menikahi Albert.


Dia juga pada dasarnya bukan pula orang yang terlalu memandang tinggi status kebangsawanan, yang penting anak cucunya bahagia dengan pilihan pasangannya masing-masing, itu telah cukup baginya.


Sang duke pun bukanlah pula orang yang rasis yang menganggap rendah ras rambut hitam, itulah sebabnya dia pula tidak pernah membenci Helios.


Hanya saja, Duke Rodriguez kemudian menggumamkan sesuatu yang gagal didengarkan oleh cucu perempuannya itu,


‘Dia adalah jodoh yang baik andai saja dia tidak memiliki warna rambut yang sama dengan para anjing kekaisaran itu.’


Duke Rodriguez sangat membenci keturunan bangsawan kekaisaran, dan Albert adalah salah satunya.