
Di masa-masa persiapan perang menghadapi Kekaisaran Utara Vlonhard, aku tiba-tiba saja menerima kabar yang cukup menarik dari seseorang yang bertugas mengamankan suplai pangan dari Benua Asium. Dia adalah Rowen de Ignitia, mantan pangeran kedua dari mantan Kerajaan Ignitia.
Berkebalikan dengan sikapnya yang tengil, Rowen tergolong orang yang pandai dalam melakukan urusan perdagangan. Dia terlihat penakut di luar, tetapi kenyataannya senantiasa mampu berpikiran tenang di dalam. Selain itu, dia benar-benar menguasai ilmu perdagangan dan mampu pula menerapkannya dengan baik sehingga akan sulit bagi para penipu untuk menjatuhkannya.
Tampaknya, Kekaisaran Tong Kong yang terletak di utara Benua Asium memulai yang namanya penerapan uang kertas dalam jual-beli mereka. Mereka menggunakan selembar kertas yang pada dasarnya tidak bernilai sebagai alat pertukaran dagang yang nilainya dijamin oleh negara mereka sebagai ganti emas dan perak yang lazimnya dijadikan sebagai alat pertukaran dagang yang sah.
Sekilas, ini terlihat baik-baik saja. Namun dalam surat itu, Rowen mengemukakan pendapatnya bahwa ini bisa berbahaya dan akan menyebabkan krisis bagi negara jika kita mengikuti skema alur perdagangan Kekaisaran Tong Kong tersebut.
Bagaimana tidak, negara mereka sendirilah yang akan menentukan nilai pertukaran mata uang karena pada dasarnya apa yang dijadikan sebagai alat pertukaran mata uang hanyalah selembar kertas yang tak ada nilainya.
Bisa jadi di hari ini mereka akan menyatakan bahwa harga sekarung gandum adalah selembar uang kertas, tetapi keesokan harinya nilainya akan naik menjadi dua lembar kertas.
Kalian bisa bayangkan apa yang terjadi?
Kekaisaran Tong Kong pada prinsipnya sudah mencuri sekarung gandum pada tiap transaksi menggunakan dua lembar mata uang kertas tersebut.
Sesuai pendapat Rowen, ini bisa menjadi ancaman krisis bagi suatu negara yang terjebak oleh politik mata uang Kekaisaran Tong Kong tersebut. Suatu negara akan dimiskinkan oleh kekaisaran tersebut perlahan demi perlahan tanpa negara tersebut akan menyadarinya melalui politik penurunan nilai mata uang.
Tanpa sadar, negara-negara yang menjalani hubungan dagang dengan Kekaisaran Tong Kong akan dikuasai secara ekonomi oleh kekaisaran tersebut.
Kekaisaran Tong Kong menolak metode perdagangan lewat barter secara langsung dengan mengusulkan metode perdagangan baru yang berbelit-belit. Itu bisa mereka lakukan karena merasa negara mereka telah jaya yang tak kekurangan satu hal pun yang benar-benar mereka butuhkan dari luar, sementara berkebalikan dengan pihak luar, mereka sangat membutuhkan sumber daya dari Kekaisaran Tong Kong tersebut.
Inilah enaknya menjadi negari kaya yang adidaya. Kuharap suatu saat, Kekaisaran Selatan Meglovia juga akan bisa seperti itu.
Kembali ke persoalan, hal inilah yang kemudian menjadi dasar pemikiran Rowen mengapa dia menunda untuk membeli persediaan pangan dari Kekaisaran Tong Kong dengan terlebih dahulu memberikan laporannya kepadaku.
Sudah jelas apa yang harus kulakukan. Kekaisaran Tong Kong bukan satu-satunya tempat di mana kami bisa membeli persediaan pangan. Walaupun itu agak sedikit disesalkan karena jika kita berbicara tentang asal-usul nenek moyang bangsa Ignitia adalah berasal dari Kekaisaran Tong Kong.
Ada yang bilang bahwa hubungan kebangsaan lebih encer daripada hubungan kenegaraan dan inilah yang terjadi saat ini. Walaupun berasal dari ras yang sama, Kekaisaran Tong Kong tetap memperlakukan orang-orang Ignitia bukan lagi bagian dari mereka hanya karena perbedaan status kewarganegaraan.
Aku pun menulis surat kepada Rowen agar mencoba menjalin hubungan dagang yang baru dengan Kerajaan Indonesista di selatan Benua Asium. Kudengar dari rumor yang beredar bahwa mereka adalah negeri yang cukup terbuka dalam menjalin hubungan dagang dengan orang luar tanpa memperhatikan status kewarganegaraan apalagi ras seseorang.
Kebetulan kudengar bahwa di kerajaan itu Kanazawa Junoichi Sensei memperoleh jabatan yang penting setelah merantau ke sana dari kerajaan asalnya. Aku kebetulan sampai saat ini masih melakukan kontak dengan Beliau, jadi akan lebih mudah bagiku untuk meminta bantuan Beliau terkait masalah perdagangan pangan ini.
Kerajaan Indonesista dikenal sebagai kerajaan yang kaya akan pangan, jadi tidak akan menjadi masalah jika mereka memperdagangkan sebagian kecil hasil pangan mereka itu ke kekaisaran kami.
Yang jadi masalah, aku belum familiar terhadap apa kiranya yang kerajaan itu akan butuhkan dari kami. Aku bisa menyelidikinya secara langsung melalui familiarku, tetapi akan lebih efisien jika menanyakannya langsung kepada Kanazawa Junoichi Sensei. Semoga itu adalah salah satu barang dagang yang berada di suplai yang dibawa oleh Rowen dan rombongan ke Benua Asium sehingga barter dapat segera terjadi begitu mereka melakukan kontak.
Jarak Kekaisaran Tong Kong dengan Kerajaan Indonesista juga tidaklah terlalu jauh, jadi ini tidak akan menghambat soal rencana persiapan perang kami. Yang aku khawatirkan, mereka telah menjalin hubungan dagang terlebih dahulu dengan Kekaisaran Utara Vlonhard. Tetapi itu akan kecil kemungkinannya sejak mereka adalah tukang rasis pembenci ras berambut hitam dan mata hitam.
Jikalau ada, mereka pastinya akan condong melakukan hubungan dagang dengan Kerajaan Rusla yang bangsanya juga memiliki ciri-ciri fisik rambut pirang mata emas.
Namun di tengah aku harus mempersiapkan berbagai persiapan perang melawan Kekaisaran Utara Vlonhard, masih saja terjadi demonstrasi para pelajar dan sarjana dari dalam negeri.
Karena waktu yang tak tepat, terpaksa aku harus bersikap ekstrim kepada mereka. Mereka yang menentang pemerintahanku dengan demonstrasi di situasi genting ini terpaksa kublokade dengan prajurit kekaisaran tanpa pandang bulu.
Yah, apa boleh buat. Aku dibutuhkan untuk bersikap tirani untuk saat ini demi meminimalisir variabel dari dalam ketika kami harus menghadapi musuh nyata dari luar.
Jika aku bersikap lembek, negara yang sudah rentan ini tidak akan sanggup untuk bertahan lagi.
Kekerasan dan tirani memang hal yang paling buruk di dalam memerintah suatu negeri karena akan memicu kerawanan dan kerenggangan hubungan antara penguasa dan rakyat yang diperintahnya, tetapi sekali lagi apa boleh buat. Itu adalah cara terefektif untuk membuat yang berada di bawah takut sehingga berpikir dua sampai tiga kali sebelum berbuat kerusuhan.
Pasca perang ini usai, aku berjanji akan meminta maaf secara formal kepada rakyat-rakyatku. Tetapi sekali ini saja, selama ancaman Kekaisaran Vlonhard itu masih ada, biarkanlah aku memakai caraku sendiri demi menyelamatkan bangsa dan tanah air-ku.
Tidak hanya Kekaisaran Utara Vlonhard yang kini menjadi ancaman bagi kami. Melihat peluang perselisihan kubu utara dan selatan Benua Ernoa kian memanas, Kerajaan Maosium tampaknya berniat turut campur agar bagaimana mereka dapat pula memperoleh keuntungan dari konflik itu.
Ini tentunya akan mendatangkan dampak yang lebih tidak baik bagi kekaisaran selatan kami sejak Kerajaan Maosium terletak lebih dekat dengan kami ketimbang Kekaisaran Utara Vlonhard.
Ada faktor penyebab sebenarnya mengapa belakangan ini Kerajaan Maosium begitu lenggang sehingga punya banyak waktu untuk mengusik negeri benua lain. Itu karena musuh abadi mereka, Kerajaan Geria, penguasa tengah benua selatan Ifrak, sedang dikacaukan oleh dungeon break yang berdatangan silih berganti yang tidak pernah ada habisnya.
Itu bukan berarti pula Kerajaan Maosium bisa memanfaatkan peluang itu untuk meruntuhkan Kerajaan Geria selama-lamanya sebab mereka juga tidak punya jalan untuk melawan para monster yang terlepas lewat dungeon break tersebut. Lagipula, walau dibiarkan sendirian, toh nantinya Kerajaan Geria akan runtuh sendiri persoalan dungeon break yang sedang terjadi di negeri mereka.
Itulah sebabnya, demi meningkatkan kesejahteraan negeri mereka sendiri, mereka lebih memilih untuk mencari peluang dengan mengacaukan negeri yang terletak di benua yang damai tanpa dungeon break seperti di benua tengah Ernoa.
Lalu di kala aku sibuk memikirkan berbagai urusan negara itu, secara tiba-tiba saja aku menerima kiriman hadiah dari salah satu perusahaan dagang yang berasal dari tanah Cabalcus. Dikatakan bahwa itu adalah karpet mewah disertai seprai sutra yang lembut yang sangat membantu untuk tidur nyenyak.
Yah, tapi apa gunanya semua itu bagiku sejak aku terlahir tanpa bisa merasakan rasa kantuk. Satu-satunya hal yang bisa menyebabkanku tidak sadarkan diri hanyalah dengan membuatku pingsan seperti yang dulu terakhir kali terjadi pada bencana the king of undead itu.
Tetapi tunggu dulu, mengapa kiriman hadiah secara tiba-tiba di situasi menjelang perang seperti ini? Apalagi itu berasal dari Cabalcus, negeri yang dulu sempat mengkhianati persatuan kerajaan selatan sewaktu ketiga kerajaan masih dalam pemerintahan yang terpisah.
Apakah mereka hendak merencakan suatu skema pengkhianatan lagi semisal mengirimkan assassin tersembunyi di balik hadiah yang mereka kirimkan?
Lalu kecurigaanku itu kian menjadi ketika kulihat tumpukan karpet dan seprai yang dibawa oleh rombongan mereka tiba-tiba bergoyang-goyang dengan sendirinya seolah ada seorang assassin yang benar-benar bersembunyi di sana.
Melihat hal itu, Albert dan Yasmin segera berdiri di hadapanku untuk melindungiku, sementara Alice segera berdiri di hadapan Talia juga untuk melindunginya.
Ternyata dugaanku benar. Dari tempat yang bergoyang-goyang itu memang muncul seseorang. Tetapi berbeda dari apa yang kubayangkan, rupanya yang keluar dari dalam sana adalah seorang wanita yang cantik jelita.
Tidak, tidak, tidak. Kecantikannya itu bukan masalah sejak menurutku Talia adalah wanita yang tercantik sedunia. Tetapi yang menjadi lebih masalah adalah ciri-ciri fisik wanita itu yang sama dengan Albert maupun Alice yang bisa segera membuatku tahu kalau wanita itu berasal dari kalangan bangsawan musuh besar kami, Kekaisaran Utara Vlonhard.
Sembari membungkukkan badannya untuk memberi penghormatan kepadaku, wanita itu pun berucap,
“Perkenalkan, hamba adalah putri ketiga Kekaisaran Vlonhard, Lusiana Hegalia Vlonhard. Aku memberanikan diri datang ke sini demi menemui Yang Mulia Kaisar Helios sun Meglovia karena hanyalah Anda kini yang dapat menjadi penolong hamba, seorang putri yang lemah ini.”
Dengan suaranya yang lembut dan menggoda, sosok itu berbicara kepadaku sembari turut pula menatapku dengan mata emasnya yang jernih yang pastinya akan merangsang pikiran liar lelaki mana pun yang menatapnya.
Begitulah menggodanya sosok itu sebagai seorang wanita. Tetapi tentu saja aku tidak tergoda sejak di mataku hanya ada Talia seorang sebagai wanita tercantik di dunia.