Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 74 – IDENTITAS SEJATI YASMIN



“Codi, apa maksudmu melakukan semua ini kepada Yang Mulia Pangeran Helios!”


Tanpa menjawab pertanyaan Albert, Codi menghempaskan lengan Yasmin lantas segera menjaga jarak dari mereka. Akan tetapi, jeratan rantai suci milik Yasmin berhasil menangkap Codi sebelum pemuda itu mampu menyerang lebih jauh.


Dalam erangannya, pemuda itu berteriak putus asa.


“Dasar Pangeran Hina! Pangeran berhati iblis! Kamulah rupanya… Kamulah rupanya yang telah membunuh Yang Mulia Pangeran Leon.”


Helios tersungkur seketika mendengarkan ucapan Codi. Dia berupaya menjaga ketenangannya, namun tak bisa.


“Kamu?! Apa maksudmu Leon terbunuh?! Dia pasti masih hidup di suatu tempat kan?!”


“Heh, akting Anda bagus sekali rupanya. Anda memang yang paling cocok jadi raja karena manusia berhati bejat yang bisa menyembunyikan kebejatannya di balik topeng sucinya-lah yang bisa bertahan menjadi raja. Aku benar-benar salut pada Anda. Sangat salut.”


“Apa yang…”


“Tidak usah pura-pura! Hestia telah sadarkan diri dan dia melihat Anda dengan mata kepalanya sendiri yang telah membunuh Yang Mulia Pangeran Leon dengan menjadikannya santapan para monster semut api. Pantas saja Yang Mulia Pangeran Leon tak dapat ditemukan di manapun. Bahkan tubuhnya kini sudah tak bersisa!”


Air mata menetes deras dari pipi Codi.


Melihat pemuda itu tanpa sedikit pun kebohongan dalam ekspresinya, Helios pun semakin tenggelam dalam keputusasaan.


“Apa maksudmu Leon sudah meninggal? Dia pasti masih hidup. Benarkan? Dia pasti masih hidup di suatu tempat! Seseorang yang sehebat dirinya…”


“Tunggulah Pangeran Sampah! Biarpun Anda membunuhku di sini, para penyelidik dari ibukota sudah berangkat kemari dan mereka telah mengetahui semuanya. Hari di mana Anda akan merasakan guillotine sisa menunggu hari lagi. Hahahahahahaha. Tenggelamlah dalam keputusasaan. Bukan tahta yang menunggu Anda di depan sana, tetapi hanya ada kematian! Hahahahahahaha.”


.


.


.


Setelah itu, Curtiz bersama Damian pun memimpin penyelidikan untuk mencari lebih detail di TKP yang diakui oleh Hestia sebagai tempat di mana Leon mengembuskan nafas terakhirnya. Dan benarlah adanya, ada tanda-tanda sisa-sisa organ usus dan hati yang tidak salah lagi identik dengan DNA milik Pangeran Leon.


Setelah mengetahui semuanya, Helios pun tak lagi pernah keluar dari kamarnya dan hanya menghabiskan kesehariannya di dalam kesendirian.


***


Kota Painfinn seketika dilanda kegaduhan. Awalnya banyak yang tak percaya terhadap kesaksian Hestia tersebut. Namun ketika bukti jelas-jelas ditemukan sesuai kesaksiannya, perlahan rakyat pun mulai mencurigai Pangeran Helios. Dari kecurigaan lantas semakin berkembang menjadi kepercayaan perihal sikap Helios yang justru diam dan tak terlihat sedikit pun ingin membantah tuduhan tersebut.


Helios hanya menghabiskan kesehariannya di dalam kamarnya sembari meratapi kematian Leon. Bahkan Albert dan Yasmin sekalipun tak diizinkan untuk memasuki kamarnya sehingga hanya dapat mengawasinya dari luar.


Di kala waktu itu, Yasmin yang tak kunjung jua mampu bertemu dengan Helios, berdiri di salah satu pojokan taman di halaman belakang mansion dengan ekspresi muram di wajahnya.


Lalu tiba-tiba, terlihat sesosok misterius dari balik semak-semak mengintai dirinya.


“Siapa di sana?” Ujar Yasmin sembari mempersiapkan ancang-ancang menyerang.


“Oho, kamu tampaknya sudah cukup terbiasa tinggal di tempat seperti ini rupanya ya, Cassandra?”


Mata Yasmin seketika bergetar ketika sosok itu menyebutnya sebagai Cassandra. Berbagai kenangan buruk pun mulai terlintas kembali di ingatan Yasmin yang membuat kepala wanita itu seketika terasa akan meledak.


“Hentikan itu! Aku Yasmin, maid setia Yang Mulia Pangeran Helios!”


Sosok itu lantas berjalan mendekat ke arah Yasmin.


“Sampai kapan kamu akan membohongi dirimu seperti itu, Cassandra? Kalau kau sangat mencintainya, mengapa kamu tidak gunakan saja sihir cintamu pada pemuda itu lantas culik dia dan jadikan dia anjing peliharaanmu. Kau sangat mahir melakukannya kan, seperti bagaimana dulu kamu membuat Apollo tergila-gila hingga menghancurkan seisi Kota Troy dan juga bagaimana kamu membuat Ajax meninggalkan pesta ketika sesaat lagi akan melamar Helen?”


“Aku tidak pernah melakukannya! Mereka berbuat seperti itu atas kemauan mereka sendiri! Aku tidak tahu-menahu soal semua itu!”


“Lantas bagaimana dengan Agamemnon? Bukankah kau sendiri yang pernah meminta saran padaku untuk mencoba hidup sebagai manusia dengan menjadi selir raja itu?”


“Aku melakukannya, tetapi itu untuk merubah takdirnya! Dia adalah raja yang bijaksana, tetapi hidup bersama ratu yang tidak mencintainya dan malah berselingkuh di belakangnya!”


“Tapi karenanya ratu itu jadi cemburu kan dan akhirnya memutuskan untuk membunuh sendiri suaminya itu dengan memanfaatkan selingkuhannya.”


“Aku heran padamu, Cassandra. Kamu jelas-jelas berhati sangat jahat dari lahir, pelakor yang suka merebut kekasih orang lain. Tetapi mengapa kamu selalu ingin terlihat baik? Mengapa tidak terima saja kalau kamu itu memang ditakdirkan menjadi pelakor yang berhati iblis?”


“Sudah kubilang kalau aku bukan Casssandra, tetapi Yasmin, maid setia Yang Mulia Pengeran Helios, Isis!”


Yasmin yang terduduk lantas menatap Isis dengan ekspresi wajah penuh kegilaan.


“Hah.”


Menanggapi itu, Isis pun menghela nafasnya.


“Sampai akhir kamu bahkan telah mencuci otakmu sendiri dengan sesuatu yang aneh.”


Namun kemudian, Isis balik menatap Yasmin dengan ekspresi yang tidak kalah menyeramkannya.


“Tapi jangan kamu pikir bahwa aku telah memaafkanmu karena telah merusak anjing peliharaanku, Cassandra! Dia benar-benar telah rusak karena jatuh cinta padamu sehingga tidak ada lagi rasa setianya tersisa untukku. Aku pun terpaksa membuangnya. Tetapi untunglah berkatmu, hari ini aku menemukan pemuda yang lebih baik lagi sebagai gantinya.”


“Jadi setidaknya aku tidak akan terlalu marah lagi padamu. Jadi bagaimana kalau kau kembali ke Yang Mulia Raja Iblis saja sekarang, Cassandra?”


Mendengar ucapan Isis, Yasmin hanya terdiam sembari menahan amarahnya.


“Aku tidak akan lagi merubahmu menjadi kura-kura seperti dulu, jadi tenang saja…”


“Srarararak.”


Di tengah pembicaraan kedua penyihir itu, tiba-tiba terdengar suara gemerisik rumput yang terinjak.


Yasmin segera menoleh ke arah itu dan betapa kagetnya dia, rupanya itu adalah pemuda yang sempat terluka karena melindunginya dulu dari serangan manusia tarantula.


“Mbak Yasmin… itu, anu…” Ujar pemuda itu dengan keringat dingin mengalir di pelipisnya.


Yasmin jarang mengingat wajah seorang pria karena saking jijiknya dia terhadap makhluk yang satu itu, tetapi khusus untuk pemuda yang penuh semangat dan ketulusan itu, Yasmin mampu mengingatnya dengan baik.


Yasmin yakin bahwa pemuda itu telah mendengarkan obrolannya bersama Isis. Namun demikian, tidak ada tanda-tanda pemuda itu sedikit pun jijik dalam menatap matanya.


Sesuai dugaan Yasmin, dia adalah sedikit dari sekian pemuda yang mampu bersikap tulus padanya dan tidak terbuai oleh apa yang terlihat oleh penampilan luarnya saja.


“Lihatlah, kamu tidak berubah juga, Cassandra. Kamu memperoleh seorang korban lagi karena pengaruh sihir cintamu itu. Sesuai harapan dari sang witch cinta!”


Isis mulai tersenyum licik lantas melangkah perlahan mendekat ke arah Yasmin. Tidak, Isis berniat mendekati pemuda itu. Seketika itu, Yasmin segera tersadar akan niat tersembunyi di balik senyum mencurigakan milik Isis tersebut.


“Cepat lari atau kamu akan mati!” Teriak Yasmin tiba-tiba kepada pemuda itu.


“Aku sebenarnya tidak ingin merusak koleksi hewan peliharaanmu. Tapi bagaimana ini? Yang Mulia Raja Iblis menyuruhku agar tidak sampai ketahuan. Kamu pastinya juga tidak mau kan kalau identitasmu sebagai witch sampai ketahuan oleh pemuda yang kamu incar itu jika makhluk yang tak penting ini sampai membocorkannya?”


Pemuda itu kebingungan dengan ucapan tiba-tiba Yasmin tersebut. Namun, dia segera sadar dari ekspresi kalut Yasmin bahwa dirinya harus segera menghindar dari sesuatu atau dirinya akan dalam bahaya. Tetapi sang pemuda ragu dalam melangkah karena tak ingin meninggalkan sosok Yasmin yang telah mencuri hatinya itu bersama dengan sosok yang teramat sangat berbahaya tersebut.


Akhirnya, semuanya pun terlambat. Isis telah menggunakan kemampuan khususnya sebagai sang witch objek, mengubah pemuda tersebut menjadi seekor kucing.


Berbeda dengan Yasmin yang sejatinya adalah seorang witch sehingga struktur tubuhnya tahan terhadap perubahan objek tiba-tiba ketika diubah menjadi kura-kura, tubuh manusia sangatlah rapuh.


Perubahan wadah yang secara tiba-tiba yang tidak sesuai bentuk isinya dan bahkan dengan ukuran yang lebih kecil membuat tubuh itu pun tak sanggup lagi untuk mempertahankan kehidupannya.


Sang pemuda pun terpaksa mengembuskan nafas terakhirnya di dalam wujud kucing tersebut.


Yasmin yang menyaksikan kematian tragis pemuda yang sebelumnya telah diselamatkannya itu hanya bisa menitihkan air mata.


Yasmin pun mengambil dengan perlahan jasad tanpa nyawa dalam wujud kucing milik pemuda itu lantas memeluknya lembut.


“Mengapa kamu harus berada di tempat ini di saat seperti ini? Sudah kubilang kan, kalau kau itu lemah, jadi kau harus lebih berhati-hati lagi dalam menjaga nyawamu dengan tubuh yang lemah itu. Lihatlah akibatnya sekarang. Kamu mati dengan mudahnya hanya dengan satu jentikan jari dari jenis kami.” Ujar Yasmin dalam ekspresi datar khasnya.


Namun demikian, sang witch itu menitihkan air mata.