
Di hadapan meja bundar, ketiga orang pemuda berpangkat tinggi yang berbeda negara dan kebangsaannya yang masing-masing mengemban nasib rakyatnya itu duduk dalam posisi melingkar untuk membicarakan terkait respon terhadap tindakan provokasi Kekaisaran Vlonhard.
“Selama ada jalan damai, mengapa kita tidak mengambilnya? Jika kita termakan provokasi kekaisaran lantas kita menyerang salah satu prajurit mereka di perbatasan, maka itu akan segera menjadi alasan bagi mereka sebagai pembenaran untuk menyerang kerajaan kita.”
“Apa Anda mau terus-terusan diremehkan oleh orang-orang biadab tak tahu diri itu dan berakhir sebagai pengecut?!”
“Ini bukan terkait soal dignity, tapi strategi. Akan lebih baik jika kita bertindak jika persiapannya telah benar-benar matang!”
Tius Star Meglovia, putra mahkota Kerajaan Meglovia, dengan gigih menolak tindakan agresif, sebaliknya Ludwig Star Cabalcus, sang putra mahkota Kerajaan Cabalcus, pusat dari semua ras berambut perak dan bermata emas, menginginkan untuk segera diambilnya tindakan balasan atas provokasi kekaisaran.
Ada pula di sana Rowen de Ignitia, pangeran kedua Kerajaan Ignitia, yang sampai saat itu belum juga melakukan argumen yang aktif layaknya kedua perwakilan kerajaan lain. Berbeda dari dua perwakilan kerajaan lainnya, dia tampak seperti pengecut, sangat berlainan dari sikap yang seharusnya ditunjukkan oleh perwakilan kerajaan besar. Badannya gemetaran hanya dengan melihat perdebatan sengit antara kedua calon pemimpin kerajaan besar lain tersebut.
Pada akhirnya, status quo tetap diterapkan untuk sementara. Namun, tampak Putra Mahkota Ludwig telah kehilangan kesabarannya dan mengancam Putra Mahkota Tius bahwa Kerajaan Cabalcus hanya akan bergerak sendiri menindaklanjuti provokasi kekaisaran tersebut tanpa mempedulikan lagi Kerajaan Meglovia yang tetap memilih untuk bersikap pasif.
“Yang Mulia.” Swein yang walaupun tidak bisa berbicara selama pertemuan, tetapi sanggup mengamati jalannya keseluruhan pertemuan itu, mau tidak mau mengkhawatirkan Tius yang tampak sudah sangat exhausted mempertahankan ekspresi tenangnya itu.
“Aku tahu. Jika kita tidak muncul dengan kartu lain, kita hanya akan terbawa arus Kerajaan Cabalcus saja.”
“Jadi, apa yang akan Anda lakukan, Yang Mulia?”
“Hmm.” Putra Mahkota Tius memiringkan kepalanya sembari memegang ujung bibirnya dengan jari telunjuk kanannya, tampak sedang berpikir.
“Bagaimana kalau kita menyambut Pangeran Rowen de Ignitia sejenak dengan hidangan teh.” Itulah keputusan yang akhirnya diambil oleh sang putra mahkota Kerajaan Meglovia setelah berpikir lama.
Di suatu ruangan itu, Rowen tak lagi mampu menahan stres berkepanjangan yang harus dialaminya selama mengikuti pertemuan diplomatik ketiga kerajaan tersebut.
“Mengapa aku yang harus diutus Ayahanda mengikuti pertemuan ini? Aku tidak sanggup lagi. Pokoknya aku ingin segera pulang!”
Namun, Rowen segera membayangkan bahwa apa yang akan Raja Algebra Star Ignitia bisa lakukan jika dia mempermalukan nama kerajaannya dengan melarikan diri di misi penting tersebut.
“Ah, aku pasti akan dibunuh oleh Ayahanda. Itu jauh lebih buruk.”
Karena beranggapan beban pikirannya terlalu banyak untuk ditanganinya, Rowen pun merasa kepalanya akan meledak. Rowen lantas memposisikan dirinya dalam posisi bersujud di atas suatu sofa di mana dia menenggelamkan kepalanya dalam-dalam lantas pantatnya berseliweran, sangat tidak menampakkan keanggunan seorang wakil kerajaan.
Dalam posisi pantat Rowen menengadah ke depan pintu, Tius yang gagal menotice hal itu, memasuki ruangan yang tanpa memiliki daun pintu tersebut yang hanya dipisahkan dari luar dengan sehelai tirai tipis saja.
Tentu pantat Rowen-lah yang pertama kali dilihat oleh Tius ketika memasuki ruangan tersebut.
“Maaf, Yang Mulia Pangeran Rowen. Bisa minta waktunya sejenak untuk berbicara.” Tentu saja walau Tius merasa tidak nyaman dengan situasi yang aneh menurutnya itu, dia menyembunyikan perasaan tidak nyamannya dan tetap menjaga wibawa tenangnya.
Pangeran Rowen segera mendapati bahwa Putra Mahkota Tius telah berada di ruangannya di kala dirinya dalam posisi yang memalukan. Dia pun menjadi malu setengah mati dan segera berdiri kembali untuk mempertahankan dignity-nya walau itu mungkin telah terlambat.
“Ehem, sepupuku Tius rupanya. Tidak usah terlalu formal begitu jika hanya ada kita berdua yang berbincang.”
“Tidak, tidak. Tidak bisa seperti itu Yang Mulia Pangeran Rowen di kala kita sedang ada di posisi mewakili kerajaan kita masing-masing.” Balas Tius dengan senyum bisnis terpampang di wajahnya kepada sepupu dari garis keturunan ayahnya itu.
Ekspresi Rowen segera terpelintir tampak malu karena ajakannya ditolak mentah-mentah oleh Tius. Dia pun hanya segera mempersilakan Tius masuk untuk duduk di sofa. Menerima kebaikan hati Rowen, Tius segera masuk dengan didampingi oleh pengawal setianya, Swein fou Lambarg.
“Yang Mulia Pangeran Rowen, sebenarnya…”
Tius tampak mengeluarkan segala jenis skill-nya untuk mempengaruhi Rowen menyetujui pendapatnya tentang tidak terpancing oleh provokasi kekaisaran itu. Dalam hati Rowen, Rowen memang sedari awal hendak melakukan hal tersebut sejak itulah memang perintah dari sang ayahanda.
Dengan kata lain, Ayahanda-nya berpesan agar dia diam saja selama pertemuan dan membiarkan segalanya diurus oleh putra mahkota yang ada di hadapannya ini.
Akan tetapi, sang putra mahkota yang sangat dipercayai skill-nya oleh ayahanda-nya itu kini berbicara seperti itu di hadapannya setelah tampaknya tidak mampu juga meyakinkan Kerajaan Cabalcus dengan skill berbicaranya yang luar biasa itu. Itulah yang menyebabkan kini Rowen de Ignitia harus menghadapi kebingungan terbesar yang pernah dirasakan seumur hidupnya.
“Aku pasti akan mendukungmu Yang Mulia Putra Mahkota Tius, tetapi aku juga tidak bisa berada di posisi yang berbicara secara terang-terangan, jadi tetap Anda-lah yang harus berperan aktif. Anda tahu kan, jika aku melakukannya secara terang-terangan, para rakyatku akan marah padaku seolah aku mengabaikan kematian rahib tercinta kami?”
Rowen akhirnya memanfaatkan sikap pengecutnya itu untuk hanya bersembunyi di belakang Tius saja.
“Di sini kalian rupanya para sampah pengecut.”
Di tengah pembicaraan serius kedua sepupu sekaligus perwakilan kerajaan masing-masing, tiba-tiba saja seseorang lagi datang ke ruangan istirahat Rowen itu sambil mengatai kedua sosok terhormat tersebut itu dengan perkataan yang tak layak.
Setelah mereka melihat secara langsung kepada sosok yang berbicara, betapa kagetnya mereka, itu adalah sang putra mahkota Kerajaan Cabalcus sendiri, Ludwig Star Cabalcus.
“Sebenarnya aku tak ingin memakai cara ini. Aku ingin kedua kerajaan menghancurkan diri mereka sendiri. Tapi tak banyak waktu lagi yang diberikan oleh Rahib Robell, jadi matilah demi penyatuan benua!”
Baik Tius maupun Rowen tampak kebingungan tentang maksud ucapan tiba-tiba sang Putra Mahkota Ludwig itu. Namun, mereka segera dapat mengerti ketika puluhan, tidak, ratusan monster living armor memenuhi ruangan tersebut.
“Kau mengkhianati kami ya rupanya, dasar Ludwig bajingan!” Pangeran Rowen berteriak dengan marah.
“Yang Mulia dan juga Anda, Yang Mulia Pangeran Rowen, tolong segera melarikan diri dari tempat ini, sementara aku dan para prajurit lainnya menahan serangan mereka di sini. Bagaimana pun, kalian berdua tak memiliki bakat bertarung.”
Tius menganggukkan kepalanya kepada Swein yang berniat menghalau serangan para monster demi diri mereka berdua. Tius pun berucap, “Jangan pernah berpikir untuk mati di tempat seperti ini, Swein. Segera selesaikan masalah di sini lantas menyusul kami.”
“Sesuai perintah Yang Mulia.” Jawab Swein tersenyum puas. Tetapi tentu saja sedari awal, dia tidak pernah bermaksud demikian.
Melihat jumlah monster yang disummon, Swein sudah tahu bahwa kecil kemungkinan untuk dirinya bisa selamat.
“Pangeran Rowen, ayo kita pergi.”
“Apakah benar para pengawal akan baik-baik saja?”
“Tidak ada gunanya juga kita yang non-tempur berada di sini. Kita hanya akan menjadi penghalang para pengawal saja.”
Tius dan Rowen pun lompat dari jendela untuk kabur dari tempat itu diikuti sekitar setengah pengawalnya di mana Swein menghalau sang putra mahkota Ludwig bajingan beserta para monster yang disummon-nya.
Ada beberapa prajurit Kerajaan Cabalcus rupanya yang berhasil tepat waktu menghalau kaburnya kedua putra mahkota dan pangeran kedua kerajaan tersebut sehingga pengawal yang mengikuti mereka terpaksa harus dikorbankan beberapa lagi untuk menghalaunya. Akibatnya, semakin sedikit pengawal yang mampu mengawal kedua pemuda itu untuk kabur.
Namun tanpa diduga-duga, telah ada seorang pemanah jitu yang memprediksikan rute pelarian mereka. Itu wajar saja sejak mereka ada di kerajaan lain sehingga mereka tak mengenal medan untuk kabur dengan baik. Lalu pemanah jitu itu pun memanah dan tepat mengenai kaki kiri Tius sehingga Tius pun tersungkur ke tanah.
“Adik sepupu!”
“Cepat lari saja ke dalam hutan, Pangeran!”
Dalam keadaan paniknya, pikiran Rowen kosong. Dia pun tak sanggup lagi berpikir rasional dan refleks mengikuti perintah Tius itu dengan kabur ke dalam hutan bersama beberapa pengawalnya.
Tius pun ditinggalkan sendirian dengan hanya menyisakan enam orang pengawal milik Kerajaan Meglovia dengan kaki yang terluka.