
Kami berhasil sampai di lokasi kejadian tepat waktu.
Kulihat formasi wilayah hutan monster benar-benar memerankan peranannya dengan sangat baik dan menjadi kunci yang berperan penting sehingga demon tidak dapat menembus ke seluruh pelosok wilayah barat benua.
Akan tetapi, keberadaan portal misterius seperti apa yang dulu tercatat dalam sejarah sepuluh ribu tahun silam yang selama ini disembunyikan oleh Baal sewaktu kekacauan tower dan Raja Iblis Ozazil pertama kali muncul di dunia tiba-tiba saja terlihat di sekitar wilayah Kota Painfinn dan itu tidak henti-hentinya mengeluarkan para demon dari dalamnya.
Berdasarkan ingatan Rizard yang dulu pernah aku lihat di dungeon Milanda, tidak salah lagi portal ini langsung terhubung ke benua iblis.
Bisa kulihat semangat para prajurit dalam mempertahankan tanah air mereka dari invasi para demon tersebut.
Lalu beberapa sosok yang menonjol di antara mereka, Olbero Chalkie Obraham, seorang magic swordsman berelemen angin yang dengan sekali sapuan pedangnya, dia dapat menghempaskan sekitar belasan demon sekaligus.
Ada juga Paman Alcus von Maxwell yang baru saja terpromosikan menjadi swords master level 8. Dengan gerakannya yang gesit yang tak tampak sesuai umurnya dan tiap belahannya yang berat dan tajam, dia menghabisi para demon satu-persatu bagaikan membelah tahu.
Namun di antara ke semuanya, Leon dan Alice-lah yang paling menonjol.
Leon rupanya telah lama terpromosikan menjadi grand master.
Asimilasinya dengan tubuh naga sebelumnya tampaknya masih sedikit memberikan efek kepadanya walaupun sekarang dia benar-benar telah terpisah dari tubuh itu.
Tubuh Leon masih tetap diselubungi oleh kegelapan mana mati.
Namun berbeda dari yang sebelumnya, Leon tidak lagi dikendalikan oleh perasaan benci dan amarah.
Dia mampu memegang kendali kekuatan kegelapan itu untuk dijadikannya senjata dalam memberantas para demon.
Sang grand master kegelapan.
Itulah julukan Leon saat ini di kalangan para prajurit.
Dengan gerakan yang tenang dan tak terlihat yang bersembunyi dalam kegelapan, dia mengeliminasi satu-persatu para demon bahkan sebelum para demon tersebut bisa menyadari kehadirannya.
Terakhir, Alice, sang mantan pengguna pedang besar.
Dia yang dulu sempat trauma menggunakan pedang, kini mampu bangkit kembali dari ketakutannya dan menjadi seorang magic swords woman yang andal.
Namun setelah Alice mengetahui bahwa sejatinya perisai adalah senjata tertepat baginya, dia kini menggunakan perisai sebagai senjatanya.
Tidak, maksudku, sebagai tamengnya.
Dia menggunakan perisai besarnya itu untuk fokus dalam melindungi para prajurit lain.
Namun, dia pula tetap tangguh dalam menyerang.
Tiap kali ada demon yang terlihat tidak biasa kuatnya, maka Alice-lah yang akan maju menabrak sang demon dengan perisai besarnya sebelum demon itu sempat membantai para prajurit.
Demon yang kemudian kehilangan keseimbangan tubuhnya, dengan mudah dihabisi oleh Leon sebagai pengeksekusi.
Suatu kombinasi kekuatan yang luar biasa yang sebelumnya tidak pernah aku bayangkan.
Duo Alice-Leon.
Masing-masing dari mereka mampu menutupi kekurangan dari partner mereka lantas perpaduan kekuatan mereka menghasilkan impak serangan yang berkali-kali lipat lebih besar daripada mereka mesti menyerang secara individu satu-persatu.
Sebuah soulmate sejati.
Mungkin kata itulah yang paling cocok untuk menggambarkan perpaduan serangan antara Alice dan Leon.
“Alice! Terima ini!”
Bagaimanapun, perisai hanyalah perisai.
Itu pada hakikatnya bukanlah senjata, melainkan tameng.
Itu tidak diciptakan untuk menyerang sedari awal sehingga bagaimanapun Alice berusaha untuk membunuh musuh dengan perisai, itu tetap akan menjadi effort yang sangat sulit.
Namun ada satu perisai terhebat di dunia ini yang mampu memberikan impak serangan yang luar biasa sehingga bahkan mampu menjadi senjata yang mematikan.
Perisai yang telah lama menghilang keberadaannya di dunia sejak bencana Apollo dua ribu tahun silam.
Itulah perisai Alkasa, suatu artifak warisan dari Lucas, salah satu anggota party pahlawan pertama yang bertanggung jawab dalam hal pertahanan party-nya.
-Hap.
Alice segera menangkap perisai yang aku lemparkan.
Lalu tanpa membuang-buang waktu lagi, Alice segera menyalurkan energinya ke dalam perisai lantas perisai pun mensummon petir yang sangat dahsyat melebihi petir yang selama ini bisa disummon oleh Alice dengan hanya seorang diri membantai para demon yang berseliweran di sekitar.
Tidak, dengan melihat wajah Alice yang keheranan, itu kemungkinan kesadaran sang perisai sendirilah yang tanpa meminta izin langsung menggunakan kekuatan masternya untuk menyerang.
Tidak hanya keempat orang yang kusebutkan di atas saja, masing-masing individu prajurit yang lain mengeluarkan kemampuan paling maksimal mereka dan tampil menjadi ksatria yang gagah berani melawan invasi para demon.
Delapan tahun yang lalu, hal semacam ini takkan mungkin terpikirkan olehku.
Para umat manusia yang awalnya seketika gemetaran dan menyembunyikan kepala mereka ke dalam tanah hanya dengan mendengar nama demon, kini telah mampu menghadapi sosok yang dulunya memberikan mereka ketakutan luar biasa tersebut secara setara.
Semuanya berjalan ke arah yang baik.
Aku pun segera menarik Alice dari para prajurit.
Walau dengan ketiadaan Alice sekalipun, dengan moral para prajurit sekarang, kurasa takkan lagi menjadi masalah menyerahkan para demon minion kepada mereka.
Para prajurit telah tumbuh secara mengagumkan sampai di taraf kini mereka mampu berdiri dengan menggunakan kaki mereka sendiri dalam mempertahankan tanah air mereka terhadap invasi para demon.
Tak ada yang perlu kukhawatirkan lagi di sini sejak ada Leon, Paman Alcus, serta Olbero pula yang mendukung para prajurit lain.
Kalau begitu, kami berlima kini dapat berfokus dalam menjalankan tugas yang hanya kami yang dapat melakukannya.
Menghadapi Raja Iblis dan para the heavenly four-nya yang berada di dalam benua iblis yang terhubung ke dalam portal yang muncul di pinggiran Kota Painfinn tersebut.
“Kalian siap berangkat?”
Keempat anggota party-ku seketika masing-masing menganggukkan kepala mereka atas konfirmasi pertanyaanku tersebut.
Tanpa banyak bicara lagi, aku segera memimpin para anggota party-ku untuk memasuki portal.
Akan tetapi, hal yang tak terduga terjadi.
Dari balik wilayah hutan monster, ada tiga sosok makhluk yang tiba-tiba saja muncul dengan berhasil menerobos langsung ke dalam formasi wilayah hutan monster dari atas dengan cara melayang.
Suatu sosok bertubuh mirip manusia, namun jelas-jelas mereka bukan manusia.
Salah satu dari mereka tampak menyerupai seorang wanita yang dibaluti oleh armor merah yang setelah diperhatikan secara seksama, itu bukanlah armor, melainkan bagian dari tempurung luar tubuhnya.
Kulitnya pucat pasi dengan bentuk mulut yang benar-benar creepy dengan bagian matanya yang terhalang oleh sebuah cadar hitam.
Kemudian, ada dua sosok lainnya yang tampak memiliki jenis kelamin laki-laki. Badan mereka berdua sama-sama sangat besar yang memiliki cangkang luar berwarna hitam.
Satunya tampak kasar dengan tampakan cangkang luar yang acak-acakan dan tak terawat, sementara yang satunya lagi benar-benar kebalikan darinya dengan cangkang yang sangat mulus.
Uniknya, di tangan sang kasar justru ada tongkat sihir, sementara di tangan sang halus-lah terdapat pedang, benar-benar kelas mereka berkebalikan dengan penampakan luar karakter mereka.
Bisa kulihat ekspresi Leon dari jauh tiba-tiba menampakkan kepanikan.
“Waspada! Mereka adalah tiga dari keempat the heavenly four pasukan Raja Iblis!”
Peringatan Leon seketika membuat kami waspada.
“Bagaimana ini, Master? Rencana kita awalnya adalah kami berempat akan memisahkan mereka dari Raja Iblis ketika memasuki sarang mereka sehingga Master bisa menghadapi Raja Iblis dengan lebih leluasa. Tapi sekarang mereka justru ada di tempat ini.”
Alice bertanya padaku.
“Tidak usah panik, Alice. Situasi berbeda dari yang kita bayangkan. Tetapi bukankah kita masih bisa menerapkan rencana yang kita susun sebelumnya?”
Bukan aku, melainkan Dokter Minerva-lah yang menjawab pertanyaan Alice tersebut.
Benar kata Dokter Minerva. Kita hanya perlu menyesuaikan rencana dengan sedikit perubahan posisi pertarungan.
“Dokter Minerva benar. Sejak para the heavenly four itu sendiri yang mendekati kita, kita hanya perlu menahannya di sini. Kita juga tak bisa meninggalkan Leon dan para prajurit yang lain di sini untuk menghadapi bahaya selaten mereka.”
Para anggota party-ku segera mengangguk setuju atas perkataanku tersebut.
Sudah jelas apa yang harus kami lakukan.
“Dokter Minerva, Alice, dan juga Albexus, kalian tetap tinggal di sini untuk menghadapi para the heavenly four yang muncul. Karena masih ada satu the heavenly four yang tersisa, Albert tetap akan mendampingiku menuju ke dalam portal.”
Kami dengan sigap bergerak lantas para anggota party-ku segera mengeksekusi perintahku.
Dengan demikian, komposisi anggota yang menyelinap ke benua iblis pun berubah yang awalnya adalah kelima anggota party pahlawan, kini hanya menyisakan aku dan Albert saja.