Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 36 – HUKUMAN ADIK NAKAL



“Pak.”


Sarung tangan itu tepat mengenai pipi Leon.


Helios dalam amarahnya tetap menjaga rasionalitasnya dengan berupaya tersenyum setenang mungkin.


“Leon, ambil sapu tangan itu.”


Ujar Helios sembari tersenyum kepada Leon, tetapi ekspresi wajahnya sama sekali tak tersirat arti kata ramah sedikit pun.


“Oh, kau menantangku duel ya, Kakak Sampah?”


“Iya, ini duel. Jika aku berhasil menang, maka anggap persoalan hari ini tidak pernah terjadi. Tetapi jika aku kalah, maka hukuman apapun yang tadinya akan kamu berikan kepada maid-ku, maka akulah sendiri yang akan menanggungnya sebagai tuannya yang tak becus mengurusi maidnya sendiri.”


Perkataan Helios jelas mengisyaratkan bahwa dia tak gentar menerima hukuman pancung menggantikan maid-nya itu jika dia kalah dalam duel tersebut.


Jelas saja Albert dan Yasmin akan menolak keras keputusan ceroboh yang dibuat oleh Helios tersebut. Bagaimana bisa mereka yang seharusnya bertugas melindungi nyawa tuannya balik dilindungi dengan taruhan nyawa oleh tuannya.


Ini jelas akan menguntungkan bagi para pesaing tahta seperti Tius dan Leon jika mereka memang benar-benar gila akan kekuasaan ketika salah satu pesaing mereka berhasil disingkirkan.


Walau demikian, tampak raut penuh amarah di wajah Leon. Bahkan tanpa Albert dan Yasmin perlu bersikeras lebih lanjut menenangkan tuannya dan memaksanya untuk membatalkan keputusan gegabahnya itu, Leon-lah yang bersuara terlebih dahulu.


“Siapa yang menginginkan kepala tidak berguna dari seorang sampah sepertimu! Baiklah, jika itu yang kamu inginkan, Kakak Sampah, akan kuterima duelnya, tetapi sebagai gantinya, jika aku menang, kamu harus mundur sebagai pimpinan wilayah Kota Painfinn.”


“Bagaimana itu adil? Bagaimana pun, setelah insiden the king of undead itu, pasti aku akan tetap diturunkan sebagai pemimpin kota bahkan tanpa aku memintanya.”


Helios tidak tahu saja bahkan dengan banyaknya familiarnya tersebar di seluruh ibukota kerajaan bahwa suasana kerajaan sendiri telah berubah. Sang raja kini lebih cenderung memperhatikan prestasi Helios yang berhasil menyelesaikan akar masalah keanehan serangan gelombang monster di hutan monster serta berbagai prestasinya d bidang alkimia dan herbal yang sangat membantu ekonomi kerajaan ketimbang kegagalannya di insiden the king of undead itu.


Dan walaupun dibilang gagal, pada kenyataannya, the king of undead yang biasanya membutuhkan pasukan seluruh benua untuk memberantasnya, mampu ditaklukkan hanya dengan mengandalkan pasukan gabungan yang dikirim ke Kota Painfinn saja. Walau harus mengorbankan lebih dari seribu nyawa prajurit, tiada yang mampu menyangkal bahwa itu sejatinya juga merupakan suatu prestasi perang yang menonjol.


Leon tahu akan hal itu dan bisa memprediksikan apa keputusan raja yang selanjutnya jika tiada keputusan oposisi yang menentangnya. Itulah sejatinya tujuan Leon mengajukan syarat tantangan yang seperti itu kepada Helios demi memisahkan Helios dari kejayaannya di Kota Painfinn.


Walaupun sebenarnya ambigu tentang mengapa Leon tidak menyetujui syarat pertama dari Helios saja sejak jika dia menang melawan Helios dan Helios harus menyerahkan nyawanya sebagai syarat kekalahan, bukankah itu lebih efisien dalam menyingkirkan Helios dalam perhelatan tahta?


Itu jika tentu saja tujuan Leon adalah benar-benar hanya untuk tahta. Namun tampaknya, masih ada sedikit tersisa di hati nurani Leon tentang rasa kasih sayangnya kepada kakak sampahnya itu.


Begitulah setelah alasan yang dikatakan oleh Helios itu, Leon tetap bersikukuh mengajukan syarat yang sama yang jika benar-benar raja menurunkannya duluan dari posisinya sebagai pimpinan Kota Painfinn sebelum Helios sanggup untuk memintanya sendiri, barulah Leon akan meminta nilai yang setimpal akan taruhannya itu jika dia memang benar-benar menang.


Lalu, duel antara kedua pangeran itu pun ditentukan.


Suasana yang seharusnya meriah dan bahagia yang berisi ucapan selamat buat Ilene atas kelulusannya di akademi kerajaan segera teralihkan oleh berita duel kedua pangeran tersebut.


***


Di pagi harinya, alun-alun kerajaan yang biasanya memang ramai kini bertambah ramai. Tidak hanya kini warga biasa dan petugas istana yang sedang menjalankan tugasnya yang berkumpul di sana, tetapi tampak juga banyak wajah-wajah bangsawan dan ksatria muda di sana. Semuanya hendak menyaksikan momen yang bersejarah tersebut, pertarungan antara sang master pedang, Leon de Meglovia, melawan sang calon tiran kejam, Helios de Meglovia.


“Hei, menurutmu siapa yang akan menang?”


“Kalau itu, pastilah Yang Mulia Pangeran Leon, bukan? Tak ada peluang bagi dirinya yang tak pernah memperoleh pendidikan resmi layaknya saudara-saudarinya yang lain untuk memenangkan pertarungan.”


“Sepakat. Bahkan aku berharap agar orang itu terluka dan mati saja di arena sehingga tiada lagi bencana buat kerajaan di masa mendatang.”


Sayangnya, hampir semua dari mereka justru berharap akan kekalahan Helios bahkan beberapa di antara mereka tidak segan-segan mengutarakan niatnya agar Helios mati saja di arena.


Begitulah posisi Helios saat ini di tengah pergaulan bangsawan yang merupakan sosok paling dibenci di kerajaan berkat ramalan dari kuil suci itu ditambah Helios yang hampir tak pernah sama sekali menampakkan dirinya di pergaulan para bangsawan perkara pembatasan dari kuil suci.


Ada Albert, Yasmin, para anggota peneliti akademi sihir kerajaan yang mulai akrab dengannya, dan yang paling utama, Talia yang biasanya selalu mengurung dirinya di perpustakaan, kini mati-matian rela menghadapi dunia luar yang tak biasanya bagi dirinya itu setelah menerima kabar duel itu dari ayahnya, semuanya demi mendukung sang tunangan tercinta, Helios.


Semuanya berteriak-teriak mengelu-elukan nama Leon di arena itu. Melihat semua dukungan jatuh padanya, Leon pun memandang sang kakak dengan pandangan yang menghinakan.


“Heh, lihatlah semua dukungan ini, Kakak Sampah. Tiada satu pun yang berharap kamu menang. Bagaimana kalau aku memberimu sedikit kebaikanku, Kakak Sampah? Menyerah sajalah sebelum kamu dipermalukan olehku. Jika Kakak melakukannya, aku berjanji takkan mempermasalahkannya. Aku pun tak perlu lagi membuang-buang tenagaku untuk menghajarmu habis-habisan.”


Leon kemudian dengan sengaja merendahkan suaranya agar kalimatnya yang diucapkan kali ini hanya bisa didengar oleh Helios saja, “Lagipula rasa sakit teriris pedang itu, lebih sakit dari yang Kakak duga lho.” Ujar Leon dengan tatapan mata yang benar-benar memprovokasi.


Akan tetapi, bahkan setelah mendengar hinaan dan provokasi Leon itu, Helios tetap tenang.


“Mas Lou, berjuang!”


Dan tekadnya bertambah kuat lagi sejak tunangannya yang biasanya malu untuk berbicara di depan umum, keluar dari cangkangnya dengan berani berteriak di muka umum seperti itu demi menyemangatinya. Terlihat benar pipi Talia yang masih memerah bagai tomat masak setelah melakukan hal yang tak biasa baginya itu.


Leon juga turut melirik ke arah Talia. Kedua mata mereka bertemu, tetapi Talia segera menundukkan pandangannya, tak tahan pada ekspresi Leon yang menakutkan itu.


“Ck.”


Leon pun akhirnya turut berbalik sembari mendecakkan lidahnya setelah menyaksikan hal yang menurutnya tidak penting itu telah dilakukan oleh Talia. Namun begitu berbalik, kini giliran tatapan mata penuh tekad dari Helios yang disaksikan oleh Leon.


“Leon, kamu tampaknya terlalu percaya diri dengan keahlianmu. Kamu percaya, aku akan mengalahkanmu hanya dalam tiga mantra sihir saja.”


Mendengar provokasi Helios, gigi-gigi Leon seketika mengeletup kesal atas penghinaan itu.


Dengan pedang megah di tangan yang berukirkan rubi biru yang merupakan artifak yang memperkuat sihir apinya, Leon maju dengan percaya diri. Namun di luar dugaannya, Helios maju tanpa senjata satu pun di tangannya, bahkan dia sama sekali tidak membawa tongkat sihir bersamanya yang merupakan kewajiban bagi setiap pengguna sihir untuk dimiliki ketika bertarung.


“Apa maksudnya semua ini, Kakak Sampah?! Kamu berniat bertarung dengan tangan kosong atau kamu sudah pasrah dihajar habis-habisan olehku?!”


“Tenang saja, adikku. Aku ahli dalam sihir bahkan tanpa tongkat sihir sekalipun.”


Leon pun menatap Helios dengan lebih tajam setelah mendengar ucapannya itu dan bersiap untuk menyerangnya.


Lalu dengan aba-aba dari wasit pertandingan, pertandingan antara kedua pangeran itu pun dimulai.


Leon maju menerjang Helios dengan pedangnya.


“Mana Shield.”


Tampak Helios sama sekali tidak menghindar dan hanya menggunakan perisai mana saja. Pedang aura dan perisai mana itu pun saling berbenturan, namun tampak tiada cacat sedikit pun pada perisai mana milik Helios tersebut bahkan setelah berbenturan kuat dengan pedang Leon.


“Twelve of Hands.”


Tangan-tangan besar yang terbuat dari sihir es kemudian berdatangan dari bawah tanah lantas mendesak Leon untuk mundur. Bahkan dengan sihir apinya yang dia sangat percaya diri terhadapnya itu tak mampu melelehkan es kokoh yang terbuat dari sihir Helios tersebut.


Lantas, hal tak terduga oleh Leon pun terjadi.


“Punisment of the naughty brother.”


Ribuan tangan-tangan kecil yang juga terbuat dari sihir es keluar dari tangan-tangan es besar itu lantas menyentil dahi Leon beribu-ribu kali hingga Leon pun terkapar tak berdaya di arena dan tak ada lagi tanda-tanda untuk sanggup bangkit kembali.


Sesuai perkataannya, Helios mampu memenangkan duel itu hanya dalam tiga mantra sihirnya.


Semua mata hadirin yang menyaksikan pertandingan itu seketika terpaku kaget. Tiada yang menyangka bahwa pangeran calon tiran yang selama ini dikekang di istana kumuh itu bisa memiliki kekuatan sihir yang sangat luar biasa.