Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 82 – PENANGANAN PENYAKIT KOLERA



Malam itu juga, aku sampai di Kota Lobos. Itu pastinya akan mengundang beberapa pertanyaan tentang mengapa aku bisa sampai dengan cepat ke tempat itu, tetapi bukan saatnya memikirkan hal tersebut sejak nyawa ratusan ribu orang sedang dipertaruhkan.


Namun, ini merupakan hal yang langka bagi penyakit kolera. Dalam sejarah kerajaan saja dua ratus tahun silam, dikatakan bahwa penyakit kolera kebanyakan membunuh para rakyat miskin sebab seharusnya dengan semakin terbatasnya tingkat ekonomi seseorang, tingkat mereka memperhatikan sanitasi juga semakin rendah.


Itulah sebabnya penyakit kolera yang notabene-nya akan semakin ganas menyerang dalam lingkungan sanitasi yang rendah, tentunya akan lebih banyak menyerang di kalangan rakyat miskin.


Akan tetapi dari apa yang aku baca di surat Ilene, yang terjadi benar-benar kebalikannya. Dilaporkan bahwa justru yang terkontaminasi penyakit ini kebanyakan berasal dari kalangan orang-orang kaya, entah itu petualang, mercenary, bangsawan, maupun pedagang kaya.


Begitu aku memasuki kota, sesuai dugaan, aku sangat tidak disambut dengan hangat di sini. Bahkan aku bisa mendengar suara ludahan prajurit di belakang yang baru saja berbicara denganku sambil mengumpatku dan berkata bahwa dia tampaknya akan harus melakukan ritual suci tujuh hari tujuh malam untuk membuang kesialan yang baru saja melekat padanya.


Aku sama sekali tidak mengerti hal itu. Apakah baginya aku adalah sumber kesialan yang dapat menyebabkan kesialan hanya dengan menghirup udara yang sama denganku? Bahkan statusku sebagai pangeran yang seharusnya membuatku dihormati oleh warga kerajaan dikalahkan oleh famour kuil suci yang menistakanku dengan ramalan tiran itu.


“Hei, Sou kan namamu? Mengapa kamu berdiri begitu jauh di belakangku? Bagaimana aku bisa cepat sampai ke tempat pasien jika kamu tidak mengantarku dengan benar?”


Dia adalah salah seorang prajurit termuda yang tampaknya tidak bisa membantah perintah seniornya sehingga dialah yang ditugaskan untuk mengantarku selama berada di kota ini. Tetapi apa yang dilakukannya dengan berdiri jauh begitu di belakangku? Apakah aku ini semacam kotoran bau sehingga dia tidak sudi terlalu dekat denganku?


Bahkan sebenci-bencinya prajurit ibukota padaku, mereka tidak akan memperlakukanku secara ekstrim seperti itu. Para prajurit kota utara benar-benar berada pada tingkatan yang lain.


Aku pun memberi salam sejenak kepada Duke Rodriguez sebelum menengok para pasien. Di luar dugaan, dia adalah seorang kakek yang ramah. Dia bahkan sampai memarahi para prajuritnya yang telah bersikap kurang ajar padaku dan benar-benar memperlakukanku layaknya seorang manusia. Aku pun segera tersentuh oleh sikap bijak Kakek Rodriguez, tidak, Kakek Glenn, hanya dengan sekali pertemuanku itu padanya.


Namun entah untuk alasan apa, aku merasakan tatapan aneh Kakek Glenn padaku. Itu adalah tatapan orang yang merasa bersalah.


Usai menyapa Kakek Glenn, barulah aku menemui para pasien yang aku duga terjangkit wabah penyakit kolera itu berdasarkan gejala yang dilaporkan Ilene padaku. Tetapi betapa terkejutnya aku dengan pemandangan apa yang seketika aku saksikan di tengah kondisi buruk pasien yang harus menahan muntah-muntah dan diare yang terus saja melanda tubuh mereka itu.


Para anggota kuil suci itu memaksa para pasien untuk berada di dekat api suci dengan alasan ritual pengusiran roh jahat.


Tampaknya, laporan mengenai kemunculan Angele, sang witch wabah yang diceritakan dalam sejarah sebagai penyebab hancurnya kekaisaran kuno sebelum akhirnya berdirinya Kerajaan Meglovia ini sebagai salah satu wilayah bekas kekaisaran kuno tersebut, berhasil mencapai telinga para bangsawan licik lantas memanfaatkannya untuk menciptakan rumor.


Pantas saja orang-orang jadi takut padaku dan memandang aku dengan jijik di sepanjang jalan aku menuju kemari. Dan itu juga akhirnya menjelaskan tentang ekspresi bersalah Kakek Glenn padaku.


“Sang tiran akhirnya membawa sang witch bersamanya dan membawa bencana kutukan jahat ini ke kerajaan yang dimulai di Kota Lobos kita yang tercinta ini! Marilah saudara-saudaraku, kita berdoa kepada api suci agar sang pahlawan segera muncul membasmi sang tiran jahat beserta para pengikutnya sampai ke akar-akarnya. Mari pula berdoa agar kalian semua yang menderita kutukan dari witch sang tiran jahat dapat segera tersembuhkan oleh kehangatan api suci!”


“Hei, apa yang kalian lakukan pada pasien yang sakit?! Mereka butuh istirahat, tetapi mengapa kalian malah membawanya dekat-dekat dengan api yang bisa membuat kondisi mereka bertambah parah?!”


Aku kelepasan dalam berucap. Tentu saja yang kumaksudkan adalah gas karbonmonoksida dan karbondioksida yang terlepas selama proses pembakaran bisa saja terhirup oleh para pasien yang bisa membuat ketahanan tubuh mereka bertambah rendah yang tentu saja akan berakibat semakin tingginya peluang kematian para pasien tersebut.


Namun, ucapanku itu segera diartikan sebagai bidat oleh para anggota kuil suci itu. Tidak, bahkan para warga biasa pun seketika ikut membeo meneriaki aku sebagai bidat yang mencela sosok yang mereka sembah. Seketika aku hampir saja berurusan dengan departemen internal bidat kuil suci jika bukan karena Kakek Glenn yang menolong aku.


Namun, konsekuensi karena kesalahan ucapku itu tetap ada. Di tengah waktu yang tidak banyak di mana para korban kematian terus berjatuhan dalam jumlah logaritmik, aku malah harus terkurung dalam sel yang dingin ini semalaman.


Hanya dalam waktu semalam aku berada di sel itu, dilaporkan jumlah kematian telah bertambah sekitar tiga ratus orang yang menyebabkan korban kini mencapai lebih dari seribu orang.


Syukurlah, Kakek Glenn dan juga Kak Tius segera menyupport aku dari balik layar sehingga aku bisa memulai treatment-ku mengatasi penyakit ini. Meski mata para anggota kuil suci terus mengawasiku dengan pandangan yang tidak mengenakkan, tetapi bukan saatnya aku memperhatikan hal itu.


Kulakukanlah treatment yang cukup sederhana, yakni dengan menginfuskan cairan pengganti cairan tubuh sembari meminumkan mereka air khusus yang terbuat dari campuran air garam dan gula untuk mencegah mereka dehidrasi lebih lanjut.


Aku turut pula meminta para anggota kuil suci itu untuk tetap melakukan treatment pemulihan dengan sihir api suci mereka tiap jangka waktu tertentu untuk meningkatkan ketahanan fisik dari orang-orang yang terjangkit wabah tersebut.


Alhasil, jumlah kematian pun menurun secara drastis dan terlihat bahwa kondisi pasien tidak lagi terlalu mengkhawatirkan. Untuk sejenak, kami dapat lega.


Di luar dugaan, setelah melihat kesuksesan treatment-ku itu, tidak hanya para warga biasa, tetapi juga beberapa anggota dari kuil suci sendiri berbicara padaku dengan antusias dan tak lagi tampak angkuh dan merendahkan, malahan mereka mengakui kekaguman mereka akan treatment-ku yang brilian tersebut.


Yah, walaupun tentu tetap saja lebih banyak dari mereka yang berpikiran kolot dan justru berpikir bahwa ini adalah bagian dari siasatku untuk menyesatkan kepercayaan mereka. Tapi tak mengapa, yang jelas semua mulai berjalan ke arah yang lebih menguntungkanku.


Aku pun menjelaskan kepada mereka tentang konsep pemulihan api suci itu sendiri. Itu meningkatkan vitalitas dari sel-sel di tubuh sehingga memulihkan diri lebih cepat. Namun, apa yang menyebabkan penyakit kolera seperti yang terjadi sekarang ini adalah bakteri khusus.


Pemulihan menggunakan sihir api suci dengan cara biasa hanya akan memulihkan sel-sel tubuh yang dirusak oleh bakteri. Tetapi kenyataannya, bakteri penyebab kolera ini tidak merusak sel, melainkan menganggu kinerja fungsi bagian usus tertentu sehingga treatment dengan hanya mengandalkan sihir api suci mutlak tidak akan memberikan pengaruh. Itulah yang membuat sihir api suci mereka tampak tidak bekerja pada penyakit kolera.


Walau demikian, hal ini belumlah berakhir. Treatment yang tadi kuberikan pun hanyalah bersifat pencegahan. Jika rantai sumber infeksi tidak segera diputus, maka suatu saat para korban pun akan tetap kehabisan cairan tubuh lalu akhirnya drop dan meninggal.


Sumber penyalur bakteri kolera ke dalam tubuh para pasien itu harus segera ditemukan.