
[POV Helion]
“Yang Mulia Anda mau ke mana? Ini perayaan ulang tahun Anda. Tidak enak jika Yang Mulia tidak ada di tempat.”
Aku mengabaikan perkataan ajudanku itu dan segera beranjak ke kamar.
Lagian apa serunya merayakan ulang tahunku itu jika orang yang kuharapkan hadir sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya.
“Ck.”
-Puak.
“Aaaakkkhhh! Yang Mulia! Tangan Anda berdarah! Mengapa Anda tiba-tiba saja memukul dinding?”
“Ck. Biarkan!”
Lagian jikalau aku tidak ada di sana, pasti Elisa bisa mengatasi semuanya.
Dia gadis yang pandai menjaga sikap, bersikap ramah kepada yang lain… Ck… Saking sempurnanya dia, semuanya terasa palsu.
Menjijikkan.
Aku menikah dengan gadis yang sama sekali tidak aku cintai.
Sejak terlahir sebagai putra mahkota, aku dibebani tanggung jawab kekaisaran.
Cinta adalah sesuatu yang terlalu berharga untuk aku miliki.
Bukannya Ayahanda dan Ibunda memaksakan hal ini padaku.
Ini murni karena pilihanku sendiri karena rasa tanggung jawabku sebagai putra mahkota.
Ck!
Lagipula seberapa sibuknya Ayahanda sampai tidak bisa menghadiri perayaan ulang tahun anaknya sendiri?
Padahal waktu itu dia bisa hadir pada perayaan ulang tahun Farhaad dan Allios.
Mengapa hanya di perayaan hari ulang tahunku saja Ayahanda tidak bisa hadir?
Bukannya aku mengharapkannya untuk hadir!
Lagian, aku tidak peduli lagi dengan Ayahanda!
Sejak kecil, aku terlahir dengan sendok berlian di tanganku.
Orang-orang menghormatiku karenanya.
Namun, karena itu pulalah yang membuatku terlalu jijik untuk berteman.
Mereka semua hanya ingin berteman denganku karena melihat status sosialku.
Ditambah para orang dewasa terlalu menaruh harapan tinggi padaku.
Jika aku berprestasi, mereka hanya akan beranggapan bahwa itu adalah hal yang wajar sejak aku adalah seorang anak pahlawan sekaligus kaisar di negeri ini.
Namun sekali saja aku gagal, mereka akan segera menyalahkanku dengan berkata seharusnya aku lebih rajin belajar karena aku seharusnya bisa melakukan yang lebih baik perihal gen seorang anak pahlawan tidak akan pernah bohong.
Itu benar-benar membuatku muak.
Apapun yang kulakukan, aku tidak bisa lepas dari bayang-bayang Ayahanda.
Itu semua seharusnya masih bisa aku tahan.
Namun Ayahanda… Ayahanda sialan itu!
Dia mencampakkan aku.
Dia tidak pernah sekalipun menghadiri upacara kelulusan sekolahku terlebih-lebih acara bersama orang tua semasa aku sekolah dengan alasan sibuk dengan urusan negara.
Dia selalu saja membuat aku malu merasa ditinggalkan.
Bukannya aku tidak bersyukur dengan kehadiran para ibunda mendampingiku.
Hanya saja, tentu aku juga butuh figur seorang ayah.
Lagian apa-apaan dengan nama Helion itu?!
Itu bukankah semakin membuat aku malu selama berada di sekolah karena menyandang nama yang mirip dengan orang nomor satu di negeri ini?!
Pastinya Ayahanda yang memberikanku nama norak begitu.
Itu sesuai dengan sifatnya yang norak.
Tidak mungkin nama itu bersumber dari Ibunda, sosok yang sangat pengertian padaku.
Kenapa tidak namai aku saja sekalian dengan nama yang lebih norak seperti Laviar Vietto Mechbach?
[Baca juga novel author yang baru ya di Pangeran Vampir Terjebak Menjadi Hunter di Noveltoon ^_^]
Ck.
Jika dia begitu menyayangiku sampai-sampai memberikanku nama yang mirip dengannya, seharusnya dia bisa lebih menaruh perhatiannya padaku.
Apa baginya urusan negara itu lebih penting daripada keluarga?!
Tidak hanya aku, para ibunda juga sering dicampakkannya.
Ayahku itu benar-benar aib dari segala aib seorang ayah maupun seorang suami.
Aku tak akan pernah hidup seperti Ayah.
“…”
Tapi, bukankah aku juga selalu menelantarkan Elisa?
Apakah itu bisa dianggap aku sama dengan Ayahanda yang selalu menelantarkan istri-istrinya?
Tidak!
Itu karena perempuan itu saja yang sikapnya unik.
***
Pagi harinya, aku terbangun dalam keadaan yang cukup berantakan.
Karena kemarin adalah perayaan ulang tahunku, aku diberikan liburan sehari dalam pelatihanku sebagai putra mahkota.
Namun, mungkin karena aku sudah kebiasaan, tanpa sadar aku berjalan ke rumah Paman Leon, guru berpedangku itu sekaligus saudara satu-satunya Ayahanda yang tersisa.
Aku sudah pernah mendengar cerita itu.
Katanya ada kutukan di keluarga kami di mana hanya satu orang yang selalu bisa bertahan hidup di tiap generasi, seperti kakek buyutku atau Nenek Theia.
Namun, dengan berumur panjangnya Paman Leon sampai sekarang, akhirnya kuyakin itu hanya takhayul belaka.
Kulihatlah suatu pemandangan yang luar biasa.
Seseorang yang dijuluki sebagai master berpedang terhebat setelah Ayahanda sedang merawat bayinya yang berumur kurang dari dua tahun.
“Cup, cup, cup. Anak Ayah yang manis dan cantik, makan yang banyak ya supaya putriku dapat tumbuh sehat.”
Paman tersenyum yang sampai-sampai akulah yang malu melihatnya.
Itu sama sekali tidak mencerminkan image-nya sebagai salah satu master pedang terhebat di dunia.
“Ck. Seorang pria menikah supaya ada yang bisa mengurusnya. Ini malah Paman sendiri yang tambah kerepotan disuruh mengurus anak sendirian. Sebenarnya Tante Alice ke mana sih sehingga bukan dia yang merawat Elisia?”
“Ck, ck, ck, ck. Lion, kamu belum mengerti saja roman seorang pria. Kamu harus lebih banyak belajar tentang menjadi seorang suami ideal.”
“Omong kosong apalagi yang Paman bicarakan. Lagian pasti Tante Alice hanya sedang memenuhi hobi egoisnya kan dengan berburu monster di hutan monster? Ck, dia sama sekali tidak bertanggung jawab sebagai seorang istri.”
“Hei, Lion. Kamu itu terkadang memang sangat mirip sekali dengan Kakak ya. Kau itu terlalu serius memandang hidup ini…”
“Hah! Siapa yang mirip dengan Ayah?! Aku paling tidak mau dibanding-bandingkan dengan manusia berhati batu itu!”
Aku dengan mendongkol meninggalkan rumah Paman Leon tanpa sempat bertukar ayunan pedang dengannya.
Yah, aku pun masih punya hati nurani untuk mengganggu waktu-waktu penting Paman Leon bersama keluarganya sampai-sampai aku di tahap iri… Mengapa… Ck…
Dari rumah Paman Leon, aku berniat mampir ke klinik Dokter Minerva untuk memesan beberapa minuman berenergi.
Aku melihat tanda tutup di depan kliniknya, tetapi karena pintunya terbuka, aku tanpa pikir panjang langsung masuk ke dalam.
Namun pemandangan apa yang baru saja kusaksikan.
[Suara-suara aneh yang kena sensor]
“Hei, kalian sudah tua dan ini masih pagi… Tapi mengapa kalian melakukan itu di toko kalian?! Setidaknya lakukan itu di kamar!”
“Ara, ara, Nak Lion. Apa yang kamu lakukan di klinik Tante? Bukankah klinik Tante masih tutup?”
“Kalau begitu setidaknya kunci rapat pintunya. Kalian ini memang berapa lama kalian sudah menikah?”
“Dua belas tahun kurang lebih.”
“Ck!”
“Aku bertanya bukannya karena aku tidak tahu!”
“Kalian itu bukan lagi pasangan pengantin baru!”
“Kalian sudah punya lima anak!”
“Tetapi mengapa kalian masih saja selalu bermesra-mesraan?!”
“Apa Tante tidak punya rasa malu kepada generasi muda?!”
“Ara, ara, Nak Lion. Apa maksudnya bermesra-mesraan, aku dan Mas Olbero hanya ciuman sedikit soalnya Mas Olbero terlihat sangat seksi habis jogging.”
“Ck!”
“Ciuman biasa tidak akan mungkin membuat tubuh Paman Olbero jadi memar-memar sana-sini begitu!”
“Itu karena Tante yang melakukannya terlalu nafsuan!”
Aku pada akhirnya juga meninggalkan klinik itu tanpa sempat melaksanakan niatku semula.
Semuanya benar-benar menyebalkan.
Semuanya benar-benar menjijikkan.
Tiada orang-orang tua yang benar-benar memahami perasaanku ini.
“Hahahahahahaha, Junior, tangkap ini! Hap!”
“Hiyat. Hahahahahaha. Aku berhasil, Senior!”
Dari atas bukit, aku sekali lagi menyaksikan suatu pemandangan orang-orang aneh pada bermesraan dari bawah.
Itu pengasuhku, Tante Nunu dengan kepala prajurit istana Kaisar, Paman Olo.
Meski sudah tua, mereka masih saja berkencan ala anak-anak yang tidak bisa kumengerti.
Dan itu juga membuatku mual, untuk melihat seseorang yang hampir berusia empat puluhnya masih bersikap kekanak-kanakan ditambah wajahnya benar-benar masih awet muda layaknya usia belasan.
Tapi bukankah itu membuat Paman Olo tampak seperti kriminal dengan berkencan dengan gadis di bawah umur?
Aku meninggalkan pasangan unik itu sebelum mereka sempat menyadari kehadiranku.
Tanpa sadar, aku telah berjalan cukup jauh hingga berada di daerah cukup dalam dari bukit.
Di situlah aku menyaksikan kejadian luar biasa itu.
-Swarsh!
Seorang bidadari baru saja turun dari langit, tepat di atas danau di tengah bukit itu.
“Ini di mana? Bukankah aku baru saja nge-game di smartphone sehabis ngerjain tugas makalah Pak Darwis di laptop?”
Ucap sang bidadari yang beberapa dari kata-katanya tidak bisa aku pahami.