
Pagi itu, Aku, Yasmin, dan Alice memulai keberangkatan ekspedisi kami menuju ke hutan monster.
Yasmin hampir saja memutuskan untuk berangkat tanpa senjata. Namun berkat desakanku, dia akhirnya setidaknya memilih satu senjata untuk dibawa bersamanya. Itu adalah sejenis senjata tombak dengan bilah tajam bermata satu di kedua ujung tombaknya.
Ada Albert, Jilk, dan Curtiz juga di situ yang turut melepas kepergian kami.
Namun, kurang dari sepuluh langkah kami memulai perjalanan, Albert pun meneriakiku mengikrarkan janji bahwa apapun yang terjadi, dia pasti akan menyelamatkanku jika aku berada dalam bahaya sembari melambai-lambaikan sebuah kalung putih yang dia sebut-sebut sebagai item langka yang hanya dimiliki oleh kami berdua saja pertanda ikatan kami.
Aku hanya tersenyum dalam diam menanggapinya. Aku memilih untuk tak melukai perasaan Albert dengan memutuskan untuk diam.
Akan tetapi, setelah melangkah cukup dekat ke hutan monster, aku pun memberikan item yang sama persis seperti yang dilambai-lambaikan oleh Albert sebelumnya itu kepada Yasmin dan juga Alice.
Suatu kalung putih dengan dasar inti monster kelas menengah yang aku susupi dan modifikasikan dengan esensi es-ku. Suatu kalung yang memiliki tiga fungsi utama.
Pertama, memberikan kami sinyal bahaya masing-masing satu sama lain jika ada di antara pemilik kalung yang sedang mengalami goncangan aliran mana yang dahsyat pertanda bahwa si pemilik kalung sedang berada dalam bahaya yang ketika kalungnya pecah seketika akan mengeluarkan suar putih ke udara.
Kedua, untuk penyimpanan cadangan mana jika sewaktu-waktu dibutuhkan ketika kami kehabisan mana di tubuh kami.
Dan yang ketiga adalah sebagai alat penekan mana sehingga monster-monster yang sangat sensitif dengan mana takkan menyadari keberadaan kami yang sedang menyusup.
Gelombang monster yang ketiga sejak aku datang ke Kota Painfinn, yakni gelombang monster goblin, baru saja berakhir kemarin malam yang menandakan bahwa di pagi ini adalah puncak tersedikitnya monster di hutan monster.
Memanfaatkan itu, kami bertiga memilih waktu tersebut untuk menyusup ke dalam hutan monster.
Kami berjalan dengan kecepatan sedang menyusuri di antara pepohonan hutan monster sembari aku pula mengambil kesempatan itu untuk memunguti herbal langka yang hanya bisa aku dapatkan di hutan monster perihal kaya akan mana yang tebal.
Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, atau kurang lebih seperti itulah peribahasanya.
Dengan demikian, aku bisa membuat beberapa potion penyembuhan luka instan, sakit perut, dan juga sampai potion cukup berbahaya yang memberikan efek delusi melalui herbal-herbal hasil temuanku ini sehabis ekspedisi di hutan monster tersebut.
Beberapa saat perjalanan, kami akhirnya bertemu dengan salah satu monster di hutan monster. Tidak, itu suatu kawanan.
Mereka adalah monster serigala perak.
Ini menandakan bahwa gelombang monster keempat yang akan menyerang benteng pertahanan Kota Painfinn adalah monster serigala perak ini. Namun karena tampaknya pemanggilan monster oleh dungeon masih sementara akan berlangsung, maka untuk beberapa hari ke depan, Kota Painfinn masih akan aman dari serangan gelombang monster.
Di hadapan kami, terdapat 6 ekor serigala perak yang tampak cukup beringas.
Akan tetapi sayangnya, Alice kurang hati-hati sehingga menginjak dahan pohon di tanah lalu serigala perak yang bertelinga tajam itu pun segera menotice keberadaan kami.
Ataukah ini memang salah satu efek dari kutukan monster yang diderita oleh Alice sehingga bahkan artifak kalung es buatanku yang aku bangga-banggakan itu pun sampai tidak mampu menutupi pengaruhnya.
Dia pun melayang-layangkan pedang besar itu ke arah para serigala perak. Namun sedari awal, aku memang tidak pernah sama sekali mengharapkan Alice dalam mengalahkan monster-monster itu.
Para goblin yang lebih lambat saja bahkan sampai tak satu pun dapat ditebasnya, terlebih para serigala perak yang memiliki kelincahan jauh berkali-kali lipat melebihi goblin.
Akan tetapi, walau Alice sangat ampas sebagai swordsman, dia sangat berbakat sebagai tanker.
Berkat kutukan monster yang diderita oleh Alice yang turut diperkuat oleh artifak di jantungnya, bagaikan sihir agro, para serigala perak hanya terfokus menyerang Alice saja sehingga Yasmin pun dengan mudah balik menyerang lantas mengeliminasi para monster tanpa sedikit pun dinotice oleh para monster itu.
Aku bahkan tak perlu melakukan apa-apa ketika ada sekelompok monster yang menyadari kehadiran kami lantas menyerang kami. Alice seketika akan bertindak sebagai tanker sekaligus agro kemudian Yasmin-lah yang akan bertindak sebagai pengeksekusi serangannya.
Jauh masuk berjalan ke dalam hutan monster, kabut yang mengitari kami juga semakin menebal. Menebalnya kabut juga bertambah seiring waktu malam semakin dekat. Oleh karena itu, ketika hari telah cukup malam, aku pun mengarahkan tim ekspedisi untuk istirahat sejenak.
Yasmin segera membangun tenda yang telah disiapkannya sebelumnya di tas ranselnya untuk kami bertiga. Ada dua tenda, yang satu ditempati oleh Yasmin dan Alice, sedangkan satu tenda lagi yang justru paling besar, ditempati olehku seorang diri.
Aku memaksa untuk memakai tenda yang lebih kecil saja agar mereka berdua bisa lebih nyaman dan leluasa berada di dalam tenda yang ukurannya lebih besar, namun baik Yasmin maupun Alice, keduanya bersikeras agar akulah yang harus menempati tenda yang paling besar itu dengan mempertimbangkan posisiku sebagai seorang pangeran.
Walau aku berdebat pada mereka agar mereka tida terlalu formal dalam memperlakukan aku selama berada pada ekspedisi ini, mereka tetap saja bersikeras. Dan sesuai dugaan, aku lemah jika harus berdebat dengan para wanita yang selalu saja pandai mencari-cari alasan di titik terlemah. Akhirnya, aku mau tidak mau mengalah dan menempati tenda yang paling besar.
Kami pun tidur di malam harinya dengan aku menyuruh para familiarku berjaga-jaga sehingga aku dapat menekankan kepada mereka berdua untuk tidur dengan nyaman saja tanpa mengkhawatirkan sama sekali soal tugas giliran jaga malam sejak semuanya dapat dilakukan oleh familiarku sendirian.
Atau setidaknya, itu yang ingin aku mereka percayai. Tiada yang tahu ini bahkan termasuk Albert, tetapi sebenarnya aku, Helios de Meglovia, sejak menerima ramalan tiran, tak sanggup lagi merasakan apa yang disebut tidur itu.
Makanya, sewaktu aku pingsan pada kejadian dengan the king of undead itu, itu sebenarnya sebagiannya adalah anugerah buatku, bisa merasakan tidur yang nyaman setelah hidup selama tiga belas tahun tanpa memperoleh cinta dari keluarga lagi perkara ramalan tiran itu.
Setelah malam berlalu beberapa saat, kulihatlah Alice dari balik tenda, keluar dari tendanya.
Namun apa yang dilakukannya, membuat aku seketika tak percaya. Bagaimana bisa gadis yang selama ini terlihat tegar itu melebihi para ksatria pria mana pun, tiba-tiba saja menangis dengan cengeng layaknya seorang gadis biasa?
Karena khawatir padanya, aku pun akhirnya keluar dari tenda dan menepuk pundaknya dari belakang.
“Alice?” Sapaku lembut padanya.
Aku memilih untuk tidak banyak berkata-kata dan hanya duduk di sampingnya.
Lalu di dalam suasana yang mendukung itu, Alice pun mulai menceritakan keluh-kesahnya kepadaku yang selama ini tak pernah bisa diceritakannya kepada siapapun.
Itu tentang kejadian masa lalunya yang menjadi penyebab trauma terbesarnya yang menjadi titik balik pengubah hidup Alice.