Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 160 – PENYAKIT MANAFOBIA



***4 tahun kemudian***


Empat tahun berlalu sejak kejadian itu. Telah banyak yang berubah. Terutama kuil suci yang selama ini telah disesatkan oleh Baal, mulai menapaki kembali jalan yang seharusnya, walaupun itu sendiri tidaklah mudah.


Seluruh dokumen-dokumen sejarah di Benua Ernoa telah disentuh oleh Baal sehingga sulit untuk menentukan lagi mana yang benar dan mana yang salah di dalamnya.


Itulah sebabnya dengan bantuan Kanazawa Junoichi Sensei, kami membandingkan kembali dokumen-dokumen sejarah tersebut dengan negara-negara tetangga sahabat kami di Benua Asium, khususnya Rosea yang dikenal memiliki banyak buku tersisa dari peradaban kuno, serta Indonesista yang memiliki banyak pedagang dengan catatan-catatan perjalanan mereka pula bahkan sejak sebelum Kerajaan Meglovia berdiri yang diwariskan dari generasi ke generasi.


Tetapi yang lebih penting daripada itu, kini putraku Helion telah genap berusia 5 tahun, sementara adiknya, putriku yang cantik jelita, Ruvaliana, telah berusia 3 tahun. Aku namai putri pertamaku itu sesuai dengan nama bunga yang paling harum di dunia dan mencocokkannya supaya mirip dengan nama istriku, bahkan sampai-sampai membuat Talia tertawa bahwa aku begitu sukanya dengan bunga hingga turut menamai anakku dengan nama bunga pula.


Tidak hanya itu, kini Talia pun juga tengah dalam keadaan hamil besar. Sementara dari selirku, Lusiana, aku juga mempunyai seorang putra yang aku namai Farhaad yang kini telah berusia 2 tahun.


Aku menamai putra ketigaku tersebut yang diambil dari bahasa kuno yang berarti kebijaksanaan, dengan harapan putraku dapat menjadi orang yang bijaksana yang suatu saat dapat menjadi dukungan yang berarti buat kakaknya, Helion, ketika naik sebagai kaisar baru kelak.


Aku sebenarnya lebih berharap bahwa dalam menentukan nama putra ketiga kami itu, aku dan Lusiana dapat berdiskusi satu sama lain sejak aku berharapnya ada sedikit kesan Vlonhard di dalam nama anak kami itu sehingga dia tidak akan melupakan asal-usulnya.


Namun Lusiana bersikukuh kalau akulah yang harus menentukan sendiri nama anak itu tanpa campur tangannya agar itu membuat anak itu mempunyai muka menatap masa depan walaupun asal-usulnya berasal dari selir rampasan kekaisaran yang telah kalah. Ya tentu saja aku menikahi Lusiana tidak dalam keadaan aku merampasnya. Itu hanya sekadar perumpamaan saja.


Putra adopsiku sendiri, anak Kak Tius dari Kak Vierra, Ilyaas, kini telah berusia 4 tahun. Adapun putra Albert juga telah lumayan besar, berusia 3 tahun yang dia dan Lilia namakan Allios.


Kekaisaran Meglovia pun kini semakin jaya, khususnya masalah transportasi dan distribusi yang menjadi lebih mudah dilakukan sejak aku dan Dokter Minerva telah menerapkan proyek gate yang dulu kucananangkan lima tahun silam.


Kini untuk bepergian dari ujung terselatan benua ke ujung terutaranya, hanya cukup memakan waktu sekitar 30 menit saja, bahkan itu bisa lebih cepat lagi yang hanya memerlukan waktu sekejap jika dilakukan secara pribadi seperti ketika aku menggunakan hak khusus-ku sebagai kaisar untuk bepergian ke area mana pun di benua. Itu cukup berguna sejak mini portable gate-ku penggunaannya lebih terbatas.


Jika ada yang membuatku sedih, itu adalah Albert.


Dan di sinilah aku saat ini, mengunjungi wilayah kekuasaan yang dikelola oleh Albert dalam rangka festival hutan monster.


Sejak diutus ke tempat ini empat tahun silam, Albert tampaknya memperoleh kenyamanannya. Dia yang biasanya tidak ingin berpisah lama dariku, kini mengajukan dirinya secara sukarela menjadi penguasa wilayah tetap Kota Tarz ini.


“Bagaimana dengan Olo, Master? Apa dia mampu menggantikan peranku dengan baik?”


“Ya, tentu saja. Walau tidak sebaik dirimu.”


Sejak kepergian Albert, alih-alih menunjuk Damian, aku menunjuk Olo sebagai pengganti Albert dalam memimpin pasukan ksatria pertama yang langsung berada di bawah kendaliku. Berbeda dengan Albert yang kikuk, Olo berkepribadian lebih bebas hingga dia lebih mudah berbaur dengan para bawahannya.


Sejak runtuhnya kekuasaan Baal di benua ini, perlahan tapi pasti, masalah rasisme di benua ini semakin berkurang. Itu menyebabkan tidak lagi banyak yang mempermasalahkan kulit hitam, mata merah, dan rambut putih Olo yang berbeda dengan orang-orang lainnya di benua.


Namun jika ditanya, siapa yang lebih aku sukai di antara Albert dan Olo, jelas jawabannya masihlah Albert. Bagaimanapun aku sulit terbiasa dengan suara Olo yang menggelegar itu yang sampai membuat jantungan.


Dapat kulihat raut sedih di wajah Albert. Itu tidak mengherankan sejak kini Albert ditimpa musibah yang sangat memprihatinkan.


“Master Albert, tampaknya Allios rindu dengan ayahnya dan ingin digendong sebentar.”


Itu adalah pengasuh Allios yang tiba-tiba datang menemui kami dengan Allios di tangannya.


“Papa, Papa.”


Ujar anak itu dengan imutnya.


Tetapi apa yang dilakukan oleh Albert benar-benar membuatku tak percaya dan naik pitam.


“Hei, apa yang kamu lakukan?! Tidakkah kau lihat ada Yang Mulia Kaisar di hadapan kita saat ini?! Cepat singkirkan anak tidak berguna itu dari hadapanku dan didik dia dengan benar agar tidak kebiasaan manja hingga menjadi anak yang cengeng yang tidak bisa apa-apa!”


Bukankah perkataan Albert itu sangat keterlaluan untuk anak yang baru menginjak usia tiga tahunnya? Lagian aku tak mungkin keberatan jika sekadar Albert merawat anaknya di hadapanku. Mengapa dia sampai menjadikanku alasan untuk memarahi Allios yang imut itu?


Kudengar bahwa pendidikan mantan Duke Alphonse memang keras dan dia telah mendidik Albert sejak dini untuk mempersiapkannya menjadi ksatria untuk mendukung kakaknya kelak sebagai duke baru bahkan sampai-sampai Albert kehilangan kasih sayang seorang ayah, tetapi setidaknya Duke Alphonse melakukannya untuk pendidikan Albert walaupun menurutku itu tetaplah salah sejak dia membuat mental Albert trauma sejak dini dengan kehilangan figur ayah.


Lalu sejak kematian ayahnya di usia dini Albert, tekanan itu menghilang, namun itu justru menimbulkan lubang kosong yang sangat dalam di hati Albert muda. Tidak sampai di situ, usainya, dia harus pula mengalami penderitaan sebagai budak di collosium.


Melihat hal itu terjadi untuk pertama kalinya tepat di hadapanku, aku yang naik pitam pun tanpa pikir panjang langsung menjitak kepala Albert.


“Hei, Bodoh, apa yang kamu lakukan pada anak kamu sendiri, hah?! Jika aku tidak menerima penjelasan yang memuaskan, bersiap-siaplah menerima hukuman yang berat dariku!”


Tatapan tajam mataku menatap Albert dan kulihat raut ekspresi ciut darinya. Namun, ekspresi yang tak terduga itu muncul. Mata Albert berkaca-kaca. Aku sudah bisa menebak apa yang terjadi hanya dengan ekspresi itu.


Albert dalam bawah sadarnya telah menyalahkan Allios atas apa yang telah terjadi pada istrinya, Lilia.


Aku hendak menenangkan Allios dengan bertingkah lucu di hadapannya, tetapi yang malah ada, itu justru memicu tangisnya setelah menatap bola mataku yang segelap abyss.


“Hei, kamu…”


-Buk.


Aku segera menjitak kepala Albert kembali sebelum dia mengatakan sesuatu yang tidak penting lagi yang akan menambah luka trauma di benak Allios yang masih sangat belia itu.


“Master.”


Karena Albert menunjukkan ekspresi layaknya anak kucing yang imut, aku tidak kuat lagi marah padanya. Aku pun berdamai dengannya lantas menasihatinya baik-baik.


Aku pun tahu betapa sakitnya luka di hati itu ketika kita menyaksikan orang yang kita sayangi kian harinya bertambah lemah. Itu pulalah yang kurasakan di kala aku menyaksikan Ayahanda dulu yang terbaring sakit.


“Albert, kutahu bahwa Lilia menderita sakit pasca melahirkan Allios, tetapi itu bukan berarti ini kesalahan Allios. Allios dilahirkan ke dunia bukan salah Allios. Justru, bukankah dengan kamu bertindak seperti itu kepada Allios, Lilia akan bertambah sedih? Lilia telah berupaya melahirkan anak dari hubungan kalian berdua ke dunia ini dengan imbalan rasa sakit yang teramat sangat. Maka hargailah perjuangan istrimu itu dengan turut menyayangi buah hati kalian.”


“Aku mengerti, Master. Hanya saja tiap kali melihat Allios, aku tidak lepas dalam membayangkan sosok Lilia yang menderita.”


Dapat kulihat Albert tak dapat lagi menahan air matanya. Aku lupa karena tampangnya yang macho, Albert sejatinya adalah pria yang secengeng ini.


“Bagaimana kalau kamu menjenguk Lilia bersama Allios di ibukota?”


“Lantas bagaimana dengan festival hutan monster di sini, Master?”


“Kan ada aku yang bisa menanganinya.”


“Eh? Lantas apakah Master tidak akan mengunjungi lagi bagian selatannya?”


“Bukankah di sana sudah ada Alice? Dia lebih dari cukup untuk menangani situasinya. Pasca ini, aku juga akan segera menghubunginya untuk menjelaskan situasinya terlebih dahulu. Kamu tidak usah pedulikan hal remeh itu lantas berkonsentrasilah pada kesehatan istrimu saja dulu.”


“Terima kasih, Master.”


Air mata Albert pun tumpah. Aku lantas memeluknya untuk menyemangatinya sebelum akhirnya dia pergi menuju gate untuk segera ke Ibukota Megdia demi menjenguk istrinya.


Tiada yang menganggu pikiranku belakangan ini selain Albert, tepatnya pada kondisi istrinya yang kian hari kian memburuk. Ditambah ketika kumenyaksikan sendiri bagaimana Albert menanggapi ini dengan memperlakukan Allios dengan dingin, aku tidak bisa lagi mengabaikannya. Bagaimanapun, Albert adalah salah satu orang yang paling berarti di hidupku. Oleh karenanya, aku ingin dia benar-benar merasakan kebahagiaan itu.


Itulah sebabnya aku senantiasa berdoa agar kondisi Lilia bisa segera pulih. Aku juga bersama Anna, Erick, dan Rasiel selama ini tidak henti-hentinya meneliti obat demi menyembuhkan penyakit Lilia. Kadang juga Dokter Minerva yang lebih berpengalaman soal mana datang untuk membantu dalam prosesnya.


Hanya saja penyakit Lilia itu cukup unik. Itu disebut sebagai penyakit manafobia. Suatu keadaan yang peluang terjadinya hanya sekitar 5 persen pada wanita normal yang tidak memiliki mana ketika menikahi dan melahirkan seorang anak dari seorang pria yang memiliki mana besar. Karena peluangnya hanya 5 persen, tidak, waktu itu aku belum mengetahui keadaan Lilia yang tanpa sirkuit mana sejak lahir, bagaimanapun aku turut mendukung pernikahan mereka.


Tidak, walaupun aku mengetahuinya sejak awal, mungkin aku tetap akan menyetujuinya karena betapa kubahagia melihat Albert merona begitu tahu dirinya dilamar oleh Lilia. Lagipula peluang 5 persen itu sangat kecil yang bisa terjadi dalam 1 di antara 20 kemungkinan. Untuk benar-benar berpikir itu sampai terjadi, benar-benar suatu hal yang sangat mencengangkan.


Manafobia disebabkan jika anak yang terlahir memiliki bakat mana yang besar sehingga mana itu bisa mengalir lewat tali pusarnya lantas meracuni uterus sang ibu.


Itu takkan menjadi masalah jika tubuh sang ibu tidak meresponnya sebagai zat asing yang berbahaya. Akan tetapi beda ceritanya jika kondisi sang ibu cukup sensitif terhadap mana walaupun tidak terlahir dengan bakat mana di tubuhnya.


Awalnya itu tidak akan berdampak apa-apa, tetapi seiring waktu berjalan, sang ibu yang awalnya tubuhnya sama sekali tak pernah mengenal mana, mulai merasakan kehadiran asing itu di tubuhnya sehingga tubuhnya pun mengeluarkan antibodi yang tak wajar. Antibodi yang terakumulasi inilah yang perlahan kian melemahkan tubuh sang ibu.


Aku telah meneliti berbagai hal agar bagaimana antibodi ini dapat ternetralkan di tubuh sang ibu atau sekalian menghentikan stimulus tubuh yang merespon pembentukan antibodi ini. Hanya saja, segala cara yang kulakukan selama ini selalu saja gagal yang menjadikan penyakit manafobia ini tetap menjadi incurable disease sampai dengan sekarang.