Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 210 – BENTUK KEKUATAN SEJATI ISIS



“Mati kau, hama!”


-Srarararak.


Sang witch kejam yang akhirnya tidak lagi menutupi sifat aslinya demi kecantikan berteriak dengan penuh amarah kepada Leon sembari melayangkan objek petir bercampur api yang membara kepadanya tanpa ampun.


“Tidak! Leon!”


Helios masih terkunci di dalam perangkap objek sang witch Isis sehingga tak dapat berbuat apa-apa demi menyelamatkan nyawa sang adik. Seketika sekujur tubuh Leon dipenuhi oleh petir berapi-api. Leon tampak sudah tidak ada lagi harapan untuk bertahan hidup dalam kawah panas membara itu.


“Ukh.”


Namun kejutan pun tiba. Selimut tipis mana mati muncul di sekitar tubuh Leon lantas melindunginya dari petir dan api yang membara-bara tersebut.


Leon terbangkitkan dalam keadaannya yang sekarat berkat Isis yang tiba-tiba menemukannya sebagai mainan yang berharga ketika dia baru saja kehilangan mainan terakhirnya perihal berpaling kepada Cassandra yang jauh lebih cantik alami daripadanya, setidaknya menurut pandangan pemuda itu.


Isis sekadar menolong Leon dalam sekaratnya pasca ditusuk dari belakang oleh Damian bukan karena bermaksud baik sama sekali. Dia hanya ingin menikmati rasa dari pemuda berparas sangat tampan itu.


Namun berkat hal yang ironi itu pula, kini Leon sedikit punya jalinan kekuatan Isis sehingga Leon juga mampu menggunakan jurus objek sang witch. Bagi Leon yang jenius dalam hal beladiri, itu bukanlah hal yang sulit untuk segera menyesuaikan kemampuan barunya yang tak sengaja didapatkannya itu bahkan tanpa sepengetahuan sang asal kekuatan sendiri, Isis sang witch objek.


Begitulah dia mampu bertahan melawan objek petir berapi-api Isis. Di detik-detik terakhir, Leon berhasil mengubah objek mana mati yang mendekati astral tersebut menjadi bentuk semi-padat yang mampu menghisap kembali petir berapi-api ke dalam bentuk semulanya yang tidak lain hanya bentuk perubahan wujud dari mana mati pula.


Tidak semuanya terhisap, namun apa yang tidak terhisap jumlahnya hanya kecil sehingga sanggup dipantulkan oleh mana mati semi-padat Leon yang menyerupai perisai yang menyebar ke seluruh tubuhnya.


“Kau… Hama sialan! Darimana kau bisa memakai kemampuanku?!”


Isis penuh amarah, sementara Helios yang ada di dalam kurungan sebaliknya justru bernafas lega. Adiknya secara luar biasa berhasil selamat dari serangan mematikan itu yang dia sendiri tidak yakin akan bisa selamat jika terkena serangan itu secara langsung.


Apa yang berbahaya dari Isis sejatinya bukanlah kemampuan bertarungnya. Dia mampu merubah objek sesuka hatinya. Itu tidak terbatas pada perubahan wujud dari gas ke cair, cair ke padat, gas ke padat, atau sebaliknya. Kemampuannya itu juga bisa merubah jenis material itu sendiri, seperti besi menjadi emas, emas ke kayu, bahkan dari barang sangat berharga sekalipun menjadi sampah. Benar-benar kemampuan absurd yang tak bisa dibayangkan oleh akal sehat.


Walau demikian, Leon sama sekali tidak terlihat gentar pada Isis. Dia dengan senyum percaya diri mengangkat pedang auranya untuk di arahkan tepat ke tenggorokan sang witch objek tersebut.


-Slash, slash, slash.


Berkali-kali Leon menyerang, namun apa yang ditebasnya justru hanya angin belaka. Isis bergerak secara absurd, berpindah secara tiba-tiba dalam kecepatan luar biasa tanpa sama sekali ada terlihat tanda-tanda pergerakan pada setiap sendinya. Dia bagaikan boneka kayu yang berpindah tidak dengan bergerak sendiri, melainkan oleh dalang.


Kemampuan Isis ternyata lebih gila lagi dari yang bisa dibayangkan. Dia juga mampu memanipulasi berbagai macam gaya fisika yang tak lepas peranannya pada pergerakan tiap objek di dunia.


Namun begitu Isis yang menyerang Leon,


-Bang, bang, bang.


“Ukh.”


Itu mengenai Leon dengan cantik yang bagaikan rudal telah mengunci targetnya dengan sangat baik sehingga walaupun Leon berhasil menghindar berkali-kali, itu tidak akan selesai menyerangnya sampai targetnya terkena atau serangan itu berhasil ditiadakan dengan menyerangnya balik sebelum mengenainya.


Syukurlah perlindungan mana mati Leon yang dia manipulasi dengan sorcery objek berhasil menyelematkannya dari impak fatal serangan.


Helios segera tersadar dalam kepanikannya. Dia akhirnya tersadar bahwa bagaimanapun dia meraung-raung, dia tidak akan bisa menyelamatkan sang adik jika dia tidak bisa menyingkirkan sangkar objek milik Isis yang mengurungnya tersebut.


Setiap sorcery pasti punya kelemahannya masing-masing. Seperti sorcery kutukan Marie yang tidak berfungsi tanpa mendapatkan bagian tubuh dari seseorang yang akan dikutuk semisal rambut atau darahnya, sorcery wabah Angele yang membutuhkan hewan carrier, maupun sorcery Cassandra yang membutuhkan cairan tubuh bersentuhan secara langsung semisal sewaktu berciuman atau bersetubuh, pastinya sorcery milik Isis punya kelemahan pula.


Dan itulah yang harus dipikirkan baik-baik oleh Helios untuk menemukannya demi menyelamatkan sang adik.


Sorcery adalah sesuatu yang menentang hukum alam. Walau demikian, untuk berfungsi, itu tetap membutuhkan terhubung dengan hukum alam tertentu yang valid agar mencapai dunia nyata. Jika itu terlalu absurd, maka itu hanya akan terhisap ke dalam abyss tanpa pernah bisa memberikan pengaruhnya ke dalam dunia nyata.


Begitu pula dengan sorcery objek yang kelihatan omnipotent yang mampu memanipulasi objek sesuka hatinya, baik wujud, jenis, gaya, atau kekuatan, walau itu jelas terlihat sangat absurd, pasti ada hukum dunia yang dipenuhinya sehingga bisa muncul ke permukaan.


Helios pun tidak lagi meratapi sang adik yang terlihat disiksa oleh sang witch objek Isis. Itu karena Helios juga percaya pada kekuatan sang adik bahwa dia pasti bisa bertahan menahan kejamnya serangan sang witch kejam itu.


Untuk bisa membantu sang adik, justru Helios harus berpikir dengan dingin terlebih dahulu bagaimana bisa keluar dari kurungan objek tersebut yang jelas-jelas kebal terhadap semua serangan sihir maupun fisik yang Helios miliki. Hal tak jauh berbeda juga dialami oleh Yasmin yang terperangkap dalam kurungan lain yang tak jauh letaknya dari kurungan Helios.


Helios harus mampu memecahkan mantra sorcery itu. Itu sebabnya Helios harus menemukan rumusnya untuk bisa memecahkan persoalannya. Dan untuk itu, Helios harus mengamati secara seksama tiap gerakan Isis serta bagaimana pola dan kebiasaan dia dalam men-summon tiap jurus sorcery objeknya.


***


“Ramalan tidak dapat diubah… Tidak! Tidak boleh begini! Apakah ramalan benar-benar tidak bisa dirubah?! Bukankah itu kejam?! Buat apa kalau begitu aku memimpikannya di tiap mimpi burukku kalau itu ujung-ujungnya juga tidak bisa dirubah?! Tidak. Tidak boleh begini. Setidaknya Nak Leon harus selamat. Anak yang baik itu tidak boleh mati.”


Madam Shipton yang hanya bisa meratapi nasib ketiga orang yang terserap ke dalam celah dimensional yang dibentuk oleh sorcery Isis dari dunia luar, akhirnya menangis tersedu-sedu.


Melihat seorang nenek tua menangis yang tampak rapuh, Alice pun segera mendekap sang nenek tua lantas menenangkannya.


Berbeda dengan Helios, Alice kurang tertarik dengan sejarah sehingga dia sama sekali tidak menyadari Madam Shipton yang ada di hadapannya saat ini sejatinya ada di dalam salah satu hikayat cerita yang baru-baru ini dikembalikan oleh Helios ke permukaan setelah terkubur dalam-dalam oleh niat jahat Baal.


Dia punya sedikit gambaran bahwa Madam Shipton adalah juga bawahan Raja Iblis sejak dia bersama dengan Noel Dumberman. Tetapi dia tidak tahu secara detail bahwa dia adalah seorang witch yang mempunyai salah satu kemampuan melihat masa depan melalui mimpi buruknya.


Itulah sebabnya Alice tidak terlalu menggubris ucapannya itu karena hanya mengira bahwa itu adalah ucapan omong kosong yang datang dari seorang nenek tua pikun yang sangat menyayangi Leon sehingga begitu mengharapkan keselamatannya sampai ke tahap ekstrim di mana dia membayangkan sendiri yang tidak-tidak tentang kematian Leon.


Namun Alice telah keliru. Sejatinya, setidaknya sampai saat ini, tidak ada satu pun dari ramalan mimpi buruk Madam Shipton tersebut yang meleset. Setiap hal-hal buruk yang dimimpikannya akan selalu menjadi kenyataan.


***


-Srarararak, bang, bang.


“Aaakkkhhhh.”


Pertarungan dengan cepat mengalir secara sepihak di mana bagaimanapun itu dilihat, itu hanyalah pembantaian Isis terhadap Leon.


Namun kemudian, cahaya bersinar terang pada salah satu kurungan yang ada di atas mereka. Itu kurungan di mana Helios ditahan.


Mau tidak mau Isis dan Leon menghentikan pertarungan untuk sejenak demi mengamati apa yang sedang terjadi di atas sana.


Dilihatnya-lah oleh Isis bahwa kurungannya yang mutlak yang tak bisa dihancurkan baik oleh serangan fisik maupun serangan sihir, baru saja tampak dihancurkan oleh Helios.


-Tak.


Helios segera melompat dengan tampak angkuh sembari terlihat menikmat wajah tidak percaya Isis setelah dia berhasil mematahkan sihir objeknya.


“Bagaimana bisa? Sihirku kau patahkan?!”


“Semula aku sudah curiga tentang bagaimana ada kemampuan yang senyaman itu yang bisa mengubah segalanya dengan seenak hati kita. Namun, itu bukan berarti kamu bisa menciptakan sesuatu dari ketiadaan atau benar-benar menghilangkan sesuatu hingga menjadi tiada. Setelah aku mengamati gaya bertarungmu dengan seksama di situlah aku berhasil menyadari miskonsepsiku sedari awal.”


“Miskonsepsi?”


“Asal sejatinya kekuatanmu.”


“Apa maksudmu?”


“Sejatinya kekuatanmu tidaklah mempengaruhi objek secara langsung, tetapi yang kau pengaruhi adalah pikiran kami.”


“Apa maksudnya itu, Kak?”


Kali ini, Leon-lah yang bertanya dengan penasaran terhadap deduksi dari Helios tersebut.


“Word magic.”


“Word magic?”


“Ya, benar. Word magic. Kemampuan Isis sejatinya tidak mempengaruhi objek sama sekali, melainkan pada pikiran kita. Dengan mendistorsikan ilusi, dia membuat kita yakin tentang bentuk, shape, ketajaman, serta jenis objek baru yang dirubahnya dari asal objek lama. Di situlah kuncinya jurusnya bisa berhasil sekaligus hukum yang menghubungkan sorcery-nya sehingga mencapai alam nyata.”


“Sampai sini kamu paham kan, Leon?”


“Paham apa?”


“Asalkan kita tidak terpengaruh oleh distorsi ilusi dari pemahaman umum kita mengenai bentuk, shape, ketajaman, serta jenis umum objek, maka dia bukanlah lagi lawan yang ada apa-apanya.”


Helios menatap Isis dengan senyum licik di wajahnya. Melihat itu, muncul keringat dingin dari pelipis Isis melihat sang hero yang ada di hadapannya justru lebih mirip sebagai villain.


“Kamu sudah mati, Isis!”


Dengan percaya diri, Helios pun maju hendak akan menyerang Isis setelah mengagetkannya dengan teriakannya.


“Tunggu dulu, Kak. Dia adalah lawanku. Kuharap Kakak tidak ikut campur lebih terhadap masalah yang harus kuhadapi sendiri.


Namun, Leon segera mencegat Helios dan bersikeras bahwa hanya dialah yang harus mengalahkan sang witch kejam, anak buah utama dari sang Raja Iblis tersebut.