Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 156 – ILENE YANG TELAH TIADA



Di saat aku berbincang dengan Alice, laporan Dokter Minerva datang kepadaku yang memintaku untuk mengunjungi laboratoriumnya perihal dia telah menemukan sesuatu yang sangat menarik terkait kasus vampir yang sedang ditelitinya.


Tanpa menunda waktu lagi, aku segera mengunjungi laboratorium Dokter Minerva.


“Jadi, penemuan apa yang telah Anda temukan, Dokter Minerva?”


“Ah, Yang Mulia. Kemarilah dan perhatikan ini.”


Dokter Minerva lantas menunjukkanku percobaannya.


“Seperti yang telah aku tulis dalam laporan sebelumnya, terkait vampir wanita yang aku minta untuk tidak dibunuh sebelumnya, kami telah mengisolasinya di dalam suatu ruangan. Di hari pertama sampai keempat, spesimen menunjukkan gejala yang semakin hari semakin beringas.”


“Namun tiba di hari kelima, keberingasan itu tiba-tiba saja mereda. Lalu di hari keenam, spesimen pun ditemukan telah meninggal dalam kondisi yang sama sewaktu masih menjadi mayat, kering kerempeng tanpa setetes pun darah tersisa di tubuhnya.”


“Untuk menyelidiki apakah ini berlaku untuk semua vampir, kami pun meminta spesimen kedua lalu melakukan uji yang sama. Dan hasilnya, walau dengan ranah waktu yang sedikit berbeda, gejala yang ditunjukkannya kurang lebih sama.”


“Akan tetapi, pada spesimen kedua, kami sempat mengambil sampel darahnya seperti yang Yang Mulia lihat pada kotak sampel ini.”


Aku kemudian memperhatikan sampel darah yang ditunjukkan oleh Dokter Minerva itu. Aku dapat melihat bagaimana ada setitik hitam yang menelan bulatan-bulatan lain secara beringas yang ketika bulatan-bulatan itu habis, titik hitam itu pun bergerak lebih liar, namun di suatu titik itu tiba-tiba diam yang rupanya telah kehilangan kehidupannya.


Di percobaan selanjutnya, Dokter Minerva mencoba memisahkan titik-titik hitam itu pada plasma darahnya. Alhasil, titik-titik hitam itu mati seketika.


Titik-titik hitam itu tidak lain adalah sel-sel darah yang telah terjangkit oleh virus vampir di mana sel-sel darah lain yang tidak terjangkit adalah makanannya. Itu bagaikan ikan beringas di dalam kolam yang bagaimanapun ketika tidak ada lagi makanan di kolam atau air di kolamnya dikeringkan, seberingas apapun itu, itu pasti akan segera mati.


“Apa yang Anda pikirkan setelah melihat itu, Yang Mulia?”


Aku tidak segera menjawab pertanyaan Dokter Minerva itu. Sementara Olo yang ada di sampingku menunjukkan ekspresi yang lebih bodoh lagi dari diriku.


Alice-lah yang kemudian pertama kali bersuara.


“Vampir itu tidak akan bisa bertahan hidup tanpa mengisap darah manusia. Itu artinya, selama kita mengawasi daerah kemunculannya secara ketat, suatu saat vampir itu pasti akan segera muncul untuk mencari makanan.”


Lalu tepat seperti dugaan Alice, tiga hari setelahnya, terjadilah keributan vampir yang berlokasi di dalam kuil suci sendiri. Seketika aku tak bisa lagi bersikap tenang. Itu adalah tempat di mana Ilene tinggal.


***


“Uaaaaaaaarghhh.”


Di ruangan itu, tampak Ilene meraung dengan penuh kesakitan.


“Tuan Putri, tenanglah. Jika seperti ini, identitas Anda yang telah menjadi vampir akan ketahuan!”


Mellina berusaha menenangkan sang tuan putri vampir itu.


“Mellina, aku kelaparan. Jika begini terus, aku akan mati.”


“Bertahanlah sedikit lagi, Tuan Putri. Penjagaan di sekitar istana masih ketat. Jika Tuan Putri keluar sekarang, maka Tuan Putri hanya akan segera tertangkap. Bersabarlah lebih lama lagi, Tuan Putri, karena pasti Rahib Vyndicta akan segera membawakan mangsa baru untuk Anda.”


“Tetapi aku tidak tahan lagi, Mellina.”


Ilene pun tanpa sengaja mencium aroma yang lezat di sekitar leher Mellina. Itu benar, Mellina juga adalah seorang manusia yang bisa menjadi santapan yang lezat bagi tuan putri vampir itu.


“Oh iya, kalau begitu, Mellina… tidak apa-apa kan kalau aku menyantapmu sekarang?”


“Apa?”


“Selamat makan. Nyam.”


“Aaaaakkkkhhhhh!”


Ilene pun mengisap darah Mellina sehingga Mellina turut mati kehabisan darah.


Namun Ilene tidak merasa puas sampai di situ. Dia lantas keluar kamar dan mulai memburu darah para rahib muda dan pelayan suci satu-persatu untuk memuaskan nafsunya. Terjadilah pemandangan mencekam penuh darah di kuil suci di malam itu.


***


Aku segera mengikuti Alice yang akhirnya mengetahui di mana lokasi vampir berada. Selama tiga hari itu, Alice telah menyebarkan mana petirnya yang hangat ke seluruh penjuru ibukota untuk menemukan aura dingin nan kejam milik sang vampir.


Sayangnya, selama sang vampir tidak keluar dan hanya bersembunyi di jantung inangnya, baik aku maupun Alice tidak akan bisa menemukannya. Kami hanya dapat bersabar sampai sang vampir sendiri yang memutuskan untuk keluar ke dunia luar.


Kami dengan mudah bisa memasuki kuil suci pada malam hari itu perihal pejagaannya yang renggang. Tampak pintu masuk ke sana juga terbuka dengan lebar tanpa ada satu pun penjaga yang menjaganya.


Kami bisa segera mengetahui ada yang tidak beres di sana perihal teriakan mencekam yang bisa terdengar samar-samar dari dalam.


Dengan perasaan khawatir, aku dan Alice pun segera memasuki tempat itu dengan menyuruh Albert dan Yasmin untuk stand by berjaga di pintu depan demi mencegah siapapun yang mencurigakan kabur dari sana.


Kami terbang dengan sangat cepat, namun kemudian langkahku terhenti begitu akhirnya aku bisa menemukan seseorang di sana.


Dia adalah seorang pelayan suci yang aku kenal, salah satu dari sedikit pelayan suci yang bersikap baik dengan tulus kepadaku.


“Sara!”


“Ah, Yang Mulia Kaisar Helios. Hormat hamba pada…”


“Lupakan itu! apa yang sebenarnya terjadi di dalam?!”


Sara tampak tak lagi dapat menahan air matanya. Dia pun menangis ketakutan.


“Yang Mulia… di dalam… Yang Mulia Putri Ilene mengamuk… matanya memerah dan mengisap darah kami sampai kering… dia telah membunuh banyak dari kami… hiks, hiks, hiks.”


Seakan petir menerjang otakku, aku tak bisa lagi berpikir.


“Apa yang kamu katakan, Sara?”


“Aku juga tak tahu, Yang Mulia. Yang Mulia Putri Ilene telah berubah menjadi sosok monster. Hiks, hiks, hiks.”


“Hei!”


“Yang Mulia Kaisar Helios, tolong tenangkan diri Anda. Percuma bertanya padanya lebih lanjut perihal dia juga sedang tampak kebingungan… Kamu yang di sana, segeralah mengungsi ke tempat yang aman.”


Sara lantas mengangguk dalam gemetaran. Dalam keadaan tertunduk, dia segera berlari menuju ke pintu keluar kuil suci.


“Hahahahahaha. Pasti Sara sangat ketakutan sehingga dia berhalusinasi tidak jelas. Ayo, Alice, kita segera cari tahu apa yang terjadi di dalam.”


Alice hanya diam sembari memandangiku dengan ekspresi rumit di wajahnya. Dia seakan ingin berucap sesuatu padaku, namun ditahannya. Dia lantas hanya mengikutiku dalam diam.


Namun bukan Sara-lah yang berdelusi. Itu aku. Aku-lah yang selama ini berupaya mengabaikan fakta yang jelas-jelas ada di hadapan mataku sendiri demi ketenangan batinku.


Sesosok monster berwujud manusia telah berdiri di hadapanku dan Alice dengan mulutnya yang masih belepotan dengan darah itu.


Sewaktu terakhir kali aku mengunjunginya, aku jelas-jelas tahu bahwa dia tidak lagi memancarkan aura kehidupan layaknya manusia hidup. Kehangatan tubuhnya telah lama memudar. Dia bukan lagi seorang manusia, melainkan hanyalah sesosok boneka berwajah sama.


Dari situ seharusnya aku sudah mengetahui bahwa adikku yang terduduk di hadapanku saat itu bukanlah adikku lagi. Dia telah mati dan tubuhnya dikendalikan oleh sesuatu yang kejam dari dalam.


Namun delusi bahwa semuanya masih baik-baik saja telah membuatku mampu menipu otakku sendiri, padahal itu takkan menutupi fakta bahwa aku pun telah kehilangan satu-satunya saudaraku yang tersisa.


Beberapa waktu lalu aku mengatakan bahwa kutukan keluaga kerajaan Meglovia hanyalah omong kosong belaka. Namun tampaknya tidak demikian. Sama halnya dengan Ibunda Theia yang seorang diri bertahan di generasinya, tampaknya kini aku juga menjadi orang yang bertahan tunggal di generasiku. Kak Tius, Leon, dan sekarang Ilene, kini telah tiada.


“Apa yang kini harus aku lakukan?”


Aku tidak peduli lagi walaupun di hadapanku kini ada sebuah monster yang mengancam jiwa kami.


“Yang Mulia! Kuatkan diri Anda! Jika ini terlalu berat bagi Anda, biar akulah yang akan menanganinya. Tetapi kumohon jangan jatuh perihal ini!”


Alice tampak berbicara sesuatu padaku, tetapi aku tak sanggup lagi mendengar suaranya dengan jelas. Sebegitu kalutnya-lah pikiranku saat itu. Aku benar-benar tak sanggup lagi berpikir apa-apa.


“Kakak?”


Monster yang di ada di hadapanku itu dengan wujud adikku yang tercinta lantas memanggilku dengan sayu. Ekspresinya serupa seolah benar-benar Ilene-lah yang memanggilku langsung. Jika bukan karena darah yang belepotan di mulutnya, matanya yang menjadi merah, serta gigi taringnya yang memanjang, pastilah aku sudah membiarkan diriku ditipu olehnya.


Delusiku telah pecah. Kini, aku hanya bisa menerima fakta bahwa makhluk yang ada di hadapanku itu bukan lagi Ilene, tetapi sosok monster. Namun, jika kutahu rasanya seperih ini, apakah dengan membiarkan diriku ditipu oleh sang monster jauh lebih baik?


Sama sekali tidak! Bagaimana mungin aku membiarkan sosok monster itu memanfaatkan tubuh adikku itu untuk membunuh orang-orang yang tidak berdosa!


Sejenak kemudian, Alice pun mulai menyerang sang monster. Aku ingin segera membantunya, tetapi apalah daya, tangan dan kakiku gemetaran. Jangankan menusuk jantung, takkan mungkin aku sanggup bahkan untuk meninggalkan secuil pun goresan pada kulit sang monster.


Walau kutahu itu bukan lagi Ilene, bagaimanapun setiap kali melihat wajahnya, kesadaranku selalu berusaha menipu otakku bahwa Ilene masih hidup di dalam diri monster itu.