
Aku membawa dua buah hadiah artifak sihir bersamaku ke ruangan Nunu untuk kuhadiahkan padanya.
Pertama adalah cincin sihir yang bisa menyimpan mana.
“Dengan artifak cincin ini, kamu bisa menyimpan sebagian sihirmu ke dalamnya sehingga kamu akan sanggup mengatasi kecacatan sirkuit sihirmu di mana kamu bisa menembakkan sihir setidaknya lima kali dalam sehari.”
“Wah!”
Mendengar penjelasanku itu, tampak mata Nunu langsung berbinar-binar begitu senang terhadap hadiahku tersebut. Tetapi itu belum semuanya. Masih ada hadiah artifak sihir keduaku untuknya, yakni tombak sihir.
“Ck ck ck. Jika kamu puas hanya dengan itu, kamu terlalu menganggap remeh pangeran yang hebat ini, Nunu. Masih ada satu hadiahku lagi untukmu.” Ujarku seraya menunjukkan hadiah artifak sihir keduaku itu padanya.
“Ini… Ini… Walaupun tipis, tapi ini sangat panjang dan kokoh, Tuan Helios. Bolehkah aku kiranya menikmatinya?” Tanya Nunu kepadaku dengan mata yang berbinar-binar sembari melihat dengan penuh nafsu sesuatu yang panjang nan kokoh yang ada padaku itu.
“Tentu saja.” Jawabku dengan penuh keyakinan.
Aku pun menjelaskan kepada Nunu tentang apa kiranya fungsi artifak sihir yang kedua itu.
Tombak sihir. Artifak yang akan otomatis menyerap mana sang pengguna yang memakainya dalam jumlah yang tertentu. Seberapa lancar dan banyaknya pun jumlah mana yang mengalir pada sirkuit sihir cacat Nunu yang hanya terdiri dari satu aliran itu, tombak hanya akan menyerap sejumlah mana saja yang dibutuhkan.
Dengan penguatan energi sihir, tombak pun dapat digunakan sebagai senjata dengan lebih beringas.
“Wow wow wow! Tuan Helios! Aku ingin segera menikmatinya! Pokoknya aku ingin segera menikmati benda kokoh nan panjang dari Tuan Helios ini sesegera mungkin!”
Begitulah, seakan keadaan dia pingsan sampai sehari yang lalu adalah bohong belaka, Nunu telah punya kekuatan untuk berlari kencang menuju halaman mansion demi mencoba kedua hadiah artifak sihirku atas kesembuhannya itu.
“Tuan Helios memang adalah seorang jenius! Tiada orang lain yang kukenal lebih jenius dibandingkan Tuan Helios. Hidup Tuan Helios!”
Syukurlah, jika Nunu benar-benar puas akan hadiahku itu.
***
“Hah, ini melelahkan. Padahal harus melihat setiap hari persaingan politik antara kakak pertama dan kakak ketiga dalam perebutan tahta sudah sangat melelahkan, Kak Helios malah menambah bebanku dengan mengurus masalah yang dibuatnya.”
Di ruangan itu, tampak seorang putri mungil nan cantik jelita berambut emas sedang terduduk di kursi sembari menjatuhkan kepalanya terbaring pada meja di hadapannya. Tampak pula di meja itu setumpuk dokumen yang masing-masing ketinggiannya mampu membenamkan kepala Ilene yang mungil itu.
“Nona Ilene, tampaknya Anda kelelahan. Bagaimana jika beristirahat sebentar sembari menikmati teh?”
“Akan kulakukan itu, Mellina.”
Mendengar jawaban konfirmasi dari Ilene itu, Mellina, sang pelayan setia Ilene, segera menyeduhkan segelas teh ke hadapan Ilene, sang putri satu-satunya sekaligus anak keempat dari pasangan raja dan ratu Kerajaan Meglovia itu.
“Nona, bukankah Anda bisa menolak permintaan Yang Mulia Pangeran Kedua jika itu memberatkan Anda? Bukannya juga itu akan menguntungkan Anda jika menerima permintaan Yang Mulia Pangeran Kedua sejak kedudukannya sebagai pewaris tahta itu lemah.”
“Maksud Anda, ada kemungkinan bahwa Yang Mulia Pangeran Kedua juga bisa naik tahta?”
“Hah.” Mendengar pertanyaan penasaran dari pelayan setianya itu, Ilene kemudian menghela nafasnya panjang sebelum akhirnya menjelaskan opini pribadinya.
“Lebih dari siapapun, Kak Helios adalah yang terseram di antara ketiga saudaraku yang lain. Kak Tius hanya punya keahlian menarik orang-orang dengan kata-katanya, sementara Kak Leon hanya punya bakatnya yang hebat dalam pertempuran. Namun berbeda dengan Kak Helios.”
“Dia punya buah ilmu pengetahuan yang tampak tidak berasal dari dunia ini. Dia menguasai ilmu sejarah, politik, ekonomi, bahkan sampai hal-hal yang tidak lazim dipelajari oleh keluarga kerajaan seperti ilmu medis dan alkimia. Dialah yang justru paling seram di antara ketiga saudaraku yang lain.”
Tatapan mata Mellina setelah mendengarkan pendapat pribadi sang putri itu pun diliputi keraguan. Sejenak kemudian, dia kemudian turut mengemukakan pendapat pribadinya yang bertentangan dengan pendapat pribadi sang putri.
“Jadi maksud Anda, melebihi seramnya orang yang memiliki bakat merangkul orang lain dengan kata-katanya dan juga orang yang hebat dalam pertempuran, orang yang memiliki banyak buah ilmu pengetahuan di dalam dirinya jauh lebih menyeramkan? Tapi bukankah itu percuma saja jika dia sendiri tidak memiliki banyak pengikut ataupun keahlian bertarung yang dapat melindungi dirinya?”
Terhadap tanggapan Mellina itu, sang putri, Ilene, segera menjawabnya tegas.
“Mellina, kamu terlalu menganggap remeh buah ilmu pengetahuan. Rasa kepercayaan dengan mudah akan digoyahkan oleh godaan harta dan informasi menyesatkan yang diberikan di waktu yang tepat yang semuanya berasal dari buah ilmu pengetahuan politik.”
“Juga, sehebat apapun seseorang yang ahli berperang, dia tetap akan mati jika diracun. Sekuat apapun seseorang, dia juga bisa jatuh sakit yang membutuhkan pengobatan medis. Semuanya apa? Juga berasal dari buah ilmu pengetahuan medis dan alkimia.”
“Dan terakhir, kamu salah akan satu hal terhadap Kak Helios. Jika orang itu sampai kehilangan kendali atas dirinya lantas mengamuk, bahkan Kak Leon yang sangat mahir dalam ilmu berpedang pun, takkan sanggup mengalahkan sihir es overpower Kak Helios.”
“Jadi maksud Anda, Anda saat ini membantu Yang Mulia Pangeran Kedua Helios karena Anda berpikir bahwa lebih dari pangeran yang lain, Yang Mulia Pangeran Kedua Helios lebih besar dalam kemungkinan naik tahtanya?”
Akan tetapi, terhadap pertanyaan Mellina itu, Ilene menggelengkan kepalanya.
“Tidak. Lebih dari siapapun yang kukenal juga, Kak Helios adalah yang paling berhati lembut. Dia tidak akan pernah tega mengorbankan saudara-saudaranya hanya demi sesuatu yang disebut tahta. Kak Helios sama sekali tidak memiliki kualifikasi kekejaman yang dibutuhkan untuk menjadi seorang raja.”
“Tetapi jika Anda berkata begitu, bukankah Yang Mulia Pangeran Pertama juga sama? Dia dikenal sebagai pangeran yang berhati lembut.”
“Itu hanya penampilan luarnya saja. Jika kematian saudara-saudaranya adalah syarat yang harus dipenuhinya demi dia menaiki tahta, kuyakin Kak Tius tidak akan segan-segan membunuh kami semua. Di balik kelembutan wajahnya itu, tersimpan kebengisan yang teramat sangat kejam.”
“Terus terang, aku ingin lebih dekat dengan Kak Helios dibandingkan Kak Tius maupun Kak Leon. Yah, tetapi bukan berarti aku bisa melakukannya di kala kuil suci tak pernah sekalipun melepaskan pengawasan mereka terhadap Kak Helios. Aku hanya dapat mengasihani kakakku yang berhati lembut itu.”
Dalam wajahnya yang putih bersih berbalut rambut emas dan warna mata biru mudanya, Ilene menatap langit dari luar jendela ruangannya dengan ekspresi penuh kerumitan.
***
Di tempat yang berlainan, Kota Painfinn telah memperoleh kembali kedamaiannya sejak tak ada lagi serangan monster yang berarti pasca artifak hutan monster telah diperbaiki oleh tim ekspedisi Helios sebelumnya.
Dari atas benteng itu, Helios yang didampingi oleh Nunu dan Yasmin di sampingnya, tampak menatap senang atas kedamaian tersebut tanpa sadar bahwa seseorang telah sedang merencanakan niat jahatnya untuk menghancurkan kembali kedamaian yang telah dengan susah-payah diperjuangkan itu.