
Kompetisi beladiri dalam rangka proyek mengembalikan semangat Albert berkedok sebagai perayaan hari ulang tahun pertama Helion pun dimulai.
Walau dibilang itu kompetisi beladiri, semua peserta yang lolos adalah seorang swordsman, tujuh swords masters dan satu magic swordsman.
Pertandingan pertama dimulai antara Albert melawan Vultan, penerus gelar grand duke dari grand duchy Ignitia, kakak sepupuku.
Kak Vultan adalah seorang pendekar pedang dengan tipe pedang yang langsing yang disesuaikan dengan style bertarungnya yang mengutamakan kelincahan, terlebih dia hanyalah seorang swords master level 3. Sudah jelas siapa yang akan jadi pemenangnya.
Dengan style bertarung Albert yang berat dengan pertahanan yang kokoh, tidak ada peluang bagi Kak Vultan untuk menembus pertahanannya. Albert unggul dari segala sisi mulai dari fisik, pertahanan, dan juga stamina. Dalam waktu singkat, Kak Vultan pasti akan segera kalah.
Dan sesuai dugaan, bagaimana pun Kak Vultan mencari celah pertahanan Albert dengan gerak cepatnya, Albert sama sekali tak memberikan peluang untuk itu. Lalu ketika dia lengah sedetik saja di udara, Albert pun tanpa hesitasi lagi membalas serangannya. Kak Vultan langsung kalah dengan sekali hempasan pedang Albert yang membuatnya sampai terjuntal dan berjungkir-balik berkali-kali.
Namun, lawan Albert di semifinal pastilah tidak akan lagi semudah itu. Salah satu calon lawannya adalah satu-satunya magic swordsman yang ada di kompetisi ini, Olbero Chalkie Obraham. Dia jauh lebih lemah daripada Alice dengan elemen angin, tetapi dia mampu menajamkan tiap tebasannya melalui penguatan aura elemen anginnya tersebut yang berkali-kali lebih tajam daripada aura biasa.
Lawannya di pertandingan pembuka adalah Adam, pengawal Lusiana yang ikut bersamanya yang dia bawa dari bekas istananya di Vlonhard.
Namun ketika pertandingan dimulai, aku benar-benar terkejut akan hasilnya. Sang magic swordsman justru kalah melawan Adam. Dia kalah karena tak mampu mempersiapkan jurus magic-nya yang menjadi andalannya sebagai seorang magic swordsman dengan baik. Itu karena gerakan Adam sangat cepat, berkali-kali lipat lebih cepat daripada Kak Vultan sebelumnya. Begitu tersadar, pedang tajam telah berada tepat di leher sang magic swordsman.
Karena ini adalah kompetisi yang melarang pembunuhan, maka Adam menghentikan serangannya sebelum tepat akan menebas leher sang magic swordsman dan sebagai gantinya segera memintanya untuk menyerah.
Lalu di pertandingan ketiga, rupanya juga ada kejutan. Paman Ferrunt dan Damian adalah sama-sama seorang swords master level 5, namun Paman Ferrunt memiliki usia yang lebih dari dua kali lipat usia Damian, yang berarti pengalaman Paman Ferrunt dalam bertarung seharusnya lebih banyak ketimbang Damian. Walau demikian, Damian-lah yang keluar sebagai pemenang.
Faktor penyebabnya lebih ke arah gaya berpedang Paman Ferrunt yang memang jujur dan lurus, mirip-mirip dengan Albert sehingga kecocokannya menjadi sangat buruk bagi serangan Damian yang terkesan licik dan tricky.
Adapun di pertandingan keempat, tidak ada kejutan. Itu adalah pertarungan antara grand duke wilayah Cabalcus, Stephanus van Cabalcus, melawan sang kepala militer kekaisaran, Alcus von Maxwell. Perbedaan level mereka terpisah sejauh dua tingkat, wajar jika Paman Alcus-lah yang pada akhirnya keluar sebagai pemenang.
Tiba di babak semifinal. Di putaran pertama, itu adalah pertarungan antara Albert melawan Adam. Daripada seorang swordsman, mungkin cara bertarung Adam lebih mendekati seorang thief atau assassin yang mengandalkan kecepatan, tipuan, dan gerakan sembunyi-sembunyi.
Sebenarnya daripada Adam, aku ingin Olbero, sang magic swordsman itulah yang akan melawan Albert di pertarungan semifinal ini. Dengan demikian, ketika mengalahkannya, mungkin itu bisa sedikit mengobati rasa inferioritasnya kepada para magic swordsman seperti Alice.
Yah, tapi melatih kembali ketajaman skill Albert merasakan niat jahat lawan seperti yang sering dulu dialaminya di istana kumuh bersamaku juga bukan suatu hal yang buruk. Terlebih, niat membunuh Adam sangat-sangat tipis, bahkan aku perlu berkonsentrasi lebih untuk dapat merasakannya.
Adam ternyata bukan lawan yang mudah bagi Albert. Albert tampak sedikit kesulitan mendeteksi hawa keberadaannya. Namun, itu juga berlaku sebaliknya. Adam sangat kesulitan menembus pertahanan Albert yang sangat kokoh.
Adam menerapkan pola serangan serang dan lari. Namun, stamina Albert sama sekali tidak terkuras karenanya. Dia tetap tenang seolah sudah terbiasa dengan tipe lawan seperti Adam. Hingga suatu saat, justru Adam-lah yang kehabisan stamina duluan.
Begitu Albert mendeteksi hal itu, dia segera menyerangnya dengan perpanjangan aura pedangnya. Tampaknya Albert bisa menebak pola gerakan Adam yang kalau diperhatikan, dia masih belum bisa menghilangkan kelemahan gerakan berulang tertentu sehingga dengan mudah dapat digunakan oleh Albert sebagai keuntungannya.
Yah aku yakin, ketimbang Albert memprediksi itu, itu lebih ke arah instingnya tentunya sejak aku yang telah lama bersamanya lebih mengetahui bahwa Albert adalah otak otot yang lebih mengutamakan insting dalam bertarung ketimbang otaknya.
Pertandingan semifinal pertama berjalan tanpa ada masalah dengan dimenangkan oleh Albert. Lalu masuk di pertandingan semifinal kedua, itu adalah pertarungan antara Damian melawan Paman Alcus.
Paman Alcus adalah seorang swords master berlevel 6, sementara Damian baru-baru ini memasuki ranah swords master level 5. Mungkin ini akan menjadi kemenangan yang mudah bagi Paman Alcus, akan tetapi aku belum bisa menebak dengan pasti perihal gerakan bertarung Damian yang penuh trik.
Pertarungan diawali dengan Damian yang menyerang duluan pertahanan solid Paman Alcus. Paman Alcus berhasil bertahan dengan baik dan langsung sekaligus melakukan counter attack. Damian bermanuver untuk menghindari serangan tebasan pedang Paman Alcus itu. Dia lantas segera menyepak kaki Paman Alcus untuk merusak keseimbangannya. Namun, perihal aura tebal yang melindungi kaki Paman Alcus, tampaknya Damian gagal mengeksekusi rencananya.
Sebagai tindak lanjut rencananya yang gagal, Damian lantas melompat ke udara searah dengan arah di mana sinar matahari bersinar dengan terangnya. Paman Alcus tertipu oleh gerakan itu dan seketika membuat matanya terkena silau sinar matahari langsung. Yah, itu adalah strategi tricky yang memang tidak jarang kita lihat lagi di kelompok mercenary.
Damian pun memanfaatkan satu atau dua detik itu untuk menyepak wajah Paman Alcus dengan kakinya yang diperkuat oleh auranya. Di luar dugaan, itu bisa menembus aura yang menyelubungi wajah Paman Alcus perihal aura Damian di kakinya yang dipertajam.
Namun itulah yang ternyata ditunggu oleh Damian. Damian telah memasang jebakan aura sewaktu mengelilingi Paman Alcus sebelumnya yang menyebabkan beberapa urat aliran mana Paman Alcus cedera yang seketika mengurangi efisiensi output auranya.
Lalu Damian pun maju dengan tebasan gerak lurus cepat. Tetapi itu lagi-lagi adalah gerakan tipuan karena serangan sebenarnya adalah perpanjangan aura yang menerobos ke samping Paman Alcus.
Paman Alcus pun terhempas keluar dari arena tanpa dia bisa lagi mempertahankan diri. Berdasarkan aturan pertandingan, ada tiga kondisi yang bisa menyebabkan kekalahan. Pertama yakni pingsan, kedua menyerah, lalu yang ketiga adalah keluar dari arena, dan itulah kini yang terjadi pada Paman Alcus.
Keluarlah Damian sebagai pemenang di babak kedua ronde semifinal itu yang otomatis mempertemukannya dengan Albert di putaran final.
Akan tetapi,
“Aku menyerah. Tampaknya luka dalam yang disebabkan oleh Kapten barusan terlalu parah sehingga tidak bisa disembuhkan oleh healer sepenuhnya.”
Damian menyerah begitu saja di pertandingan bahkan sebelum pertandingan final tersebut dilaksanakan.
Albert pun keluar sebagai pemenang di dalam kompetisi ini.
Albert menang sesuai dengan yang kurencanakan untuk mengembalikan semangatnya yang memudar.
Namun mengapa aku merasakan sedikit bitter end pada hasil pertandingannya? Apakah firasatku yang biasanya tajam kali ini salah?
***
Helios tidak tahu bahwa itu semua telah direncanakan oleh Damian sejak awal. Damian dengan cerdiknya merekayasa hasil pertandingan dengan kelicikannya tanpa ada satu pun yang menyadarinya termasuk para peserta pertandingan sendiri yang sebenarnya sudah masuk dalam kendali manipulasi Damian.
Damian sengaja menang sampai ke babak final lantas sengaja menyerah pula di babak finalnya ketika bertemu Albert. Semuanya hanya demi mengacaukan perasaan Albert. Dengan dia melakukannya, rencana Helios untuk menjadikan Albert semangat kembali akan gagal.
Justru yang ada adalah sebaliknya. Albert akan dibayang-bayangi oleh perasaan merasa bersalah pada kemenangan yang sebenarnya tidak pantas dia miliki itu yang malah akan berakibat rasa frustasi Albert semakin menjadi-jadi.
Damian sejak semula tahu rencana Helios dan jadi berkeinginan untuk meledeknya dengan memutarbalikkan hasil rencananya seratus delapan puluh derajat berkebalikan dari tujuan itu.
Semuanya demi mengincar keputusasaan Helios.
Di lain pihak, Helios juga tidak mengerti dengan benar perasaan Albert.
Albert memang pernah merasa frustasi akan kelemahannya jika dibandingkan dengan Alice dan Yasmin. Namun dia berpikir bahwa selama dia bekerja keras, semua itu akan mampu dia atasi.
Tetapi tepat setelah perang itu berakhir, Albert akhirnya mengetahui fakta bahwa Helios-lah yang telah mengalahkan sang Grand Master Ethanus dengan skill berpedangnya. Helios telah menyembunyikan kelasnya yang sebenarnya selama ini juga kepada Albert. Helios bukan wizard, melainkan kelas champion yang serba-bisa.
Apa itu artinya bagi Albert dan mengapa itulah yang membuatnya jadi murung?
Itu bukan tentang Helios yang menyembunyikan rahasianya pada Albert yang telah menganggap Helios sebagai adiknya sendiri. Itu karena berarti Helios tidaklah pernah membutuhkan pengawal sejak awal sejak dia adalah petarung all in one yang bisa melindungi dirinya sendiri dari segala aspek.
Albert yang selama ini menganggap dirinya berarti sebagai pengawal Helios, kini kehilangan satu-satunya perannya itu yang menjadi tumpuan penyemangat hidupnya.
Kelemahan bisa diatasi dengan latihan, namun bagaimana jika sedari awal bakat itu tidak pernah dibutuhkan? Itu hanya akan berakhir dengan keputusasaan yang dalam.