
-Trang, trang, trang.
Terdengar suara pedang beradu.
Seakan kebaikan dan kejahatan saling berseteru, kilatan cahaya putih dan kegelapan tercampur di ruangan tersebut.
Awalnya Helios dengan artifak pedang Alsbringer mampu mengimbangi pedang Djienn Raja Iblis.
Namun lama-kelamaan, sang Raja Iblis semakin meningkatkan kekuatannya sehingga Helios tidak sanggup lagi untuk mengimbanginya.
“Ukh.”
“Gaya bertarungmu memang menarik, Hero. Tapi apa segitu saja staminamu?”
Helios tengah kehabisan nafas hingga dia bahkan tak sanggup lagi membalas provokasi sang Raja Iblis.
“Apa yang membuatmu belum menyerah juga sampai sekarang?”
“Kalian manusia itu lemah. Bahkan kau hero yang terkuat di antara manusia pun masihlah sangat lemah di hadapanku. Namun mengapa matamu belum juga menunjukkan keputusasaan?”
“Jangan menganggap remeh manusia, Iblis!”
-Trang, trang, trang.
“Ukh.”
Helios menyerang namun sekali lagi dia terhempas.
“Aku suka semangatmu karena itulah yang membuat pertarungan ini menjadi menarik. Tapi tanpa dibarengi stamina, semuanya percuma. Manusia sungguh begitu lemah.”
-Trang, trang, trang.
Bertarung di dunia iblis yang diselubungi mana mati memang sangatlah berat.
Helios sudah mempersiapkan diri untuk itu sedari awal.
Hanya saja, dengan berada di dekat Raja Iblis saja, perasaan nyaman itu meningkat berkali-kali lipat ke taraf di mana Helios hampir saja tidak sanggup untuk menanganinya lagi.
Itu sebenarnya bukanlah pengaruh energi mana mati di sekitar.
Aura yang dipancarkan oleh Raja Iblis bahkan sanggup untuk membunuh burung yang terbang bebas di langit pada jarak yang sangat jauh tanpa sang Raja Iblis sendiri berbuat apa-apa.
Aura intimidasi, kekejaman penindasan, amarah, semuanya menyatu di dalam tubuh sang Raja Iblis.
Bernafas saja sudah merupakan anugerah yang bisa dimiliki oleh Helios saat itu.
Namun, itu saja sudah sangat sulit.
“Kau terlalu lambat, Hero. Bagaimana kalau kau kuberi penyemangat sedikit? Oh iya, tahukah kau bahwa aku sudah mengutus the heavenly four kebanggaanku ke negaramu? Kalau kau tidak cepat-cepat, seluruh penduduk di sana akan dilenyapkan oleh mereka.”
“Sayangnya, aku takkan termakan provokasimu, Ozazil. Sebab di sana aku punya rekan-rekan terpercaya yang sedang melindungi negeri tercinta kami.”
“Hahahahahahaha. Kau sungguh munafik, hero!”
“Tidakkah kau tahu mengapa sampai ada istilah pahlawan di dunia ini?”
“Itu karena tidak semua orang memiliki kekuatan yang sama denganmu sehingga mereka menggantungkan harapan mereka kepada yang lebih kuat.”
“Kau pikir orang-orang lemah itu bisa menangani the heavenly four-ku tanpa dirimu? Sejak pahlawan diciptakan sebab menutupi kelemahan manusia itu sendiri?”
Walau dengan provokasi sang Raja Iblis, pandangan Helios tetap tegar.
Dia terlihat tidak terintimidasi sedikit pun.
Itu karena seperti apa yang dikatakannya, dia percaya pada kekuatan sejati rekan-rekannya.
***
“Ukh. Ini?”
Asap kelam seketika membumbung tinggi di langit dengan sangat tebal sehingga walaupun itu letaknya sangatlah jauh yang dipisahkan oleh benua yang berbeda, Alice dan kawan-kawan masih sanggup untuk menyaksikannya.
“Konsentrasi, Nona Alice!”
-Slash.
-Pyuar.
Di detik-detik terakhir, Alice mampu menghindari serangan si mulus, terima kasih berkat peringatan Albexus.
Serangan si mulus sangat cepat sehingga sudah sangat terlambat bagi Alice untuk menggunakan artifak perisai Alkasa untuk melindunginya.
“Bodoh, jangan ceroboh, wanita!”
“Perkataan Anda sangat kasar, Yang Mulia pangeran Leon. Sangat berbeda dengan kakak Anda.”
“Ck. Mengapa juga aku harus ikut-ikutan sifat kakakku. Yang lebih penting konsentrasi saja pada pertarungan di sini. Kakak pasti akan bisa menangani dengan baik pertarungan melawan Raja Iblis di sana.”
“Tampaknya Anda sangat mempercayai Kakak Anda.”
“Ck.”
Alice, si wanita aneh, yang justru senang jika dibentak. Namun kali ini dia tidak punya waktu untuk menikmati kesenangannya padahal Leon si pengumpat sedang berada di dekatnya perihal situasi yang mencekam yang sedang terjadi sekarang.
Alice menatap kedua musuhnya.
Satunya dengan pertahanan solid, sedangkan satunya lagi dengan pergerakan yang sangat cepat.
Bagaimana dia akan mengalahkan monster yang demikian?
Terlebih kedua monster yang ada di hadapannya itu bisa berpikir dan bekerjasama satu sama lain layaknya manusia.
“Pertarungan tidak boleh berlalu lebih lama lagi. Stamina Yang Mulia Albexus sudah melemah. Tapi bagaimana kami bisa menghadapinya?”
“Sst, wanita. Kemari.”
Itu Leon yang seraya menggoyangkan jari telunjuknya ke arah dalam sebagai isyarat memanggil Alice untuk mendekat.
Sesuai perintah Leon, Alice pun mendekatkan jaraknya kepada Leon.
“Aku juga sudah tahu itu. Tetapi musuh tidak punya celah.”
“Benar, musuh tidak punya celah dan stamina Albexus mulai melemah. Jika dibiarkan terus, lambat-laun kita akan dihabisi semua oleh para demon itu.”
“Jadi, apa Yang Mulia punya usul?”
-Slash.
“Ukh”
-Bruak, trak, trak.
Belum sempat Alice mendapatkan jawaban dari Leon, si mulus kembali menyerang mereka.
Itu hampir saja mengenai titik vital Alice, namun Leon segera menendang Alice hingga Alice terpental dan serangan si mulus gagal mengenainya.
“Apa yang Anda lakukan, Yang Mulia?!”
-Kraang, dash.
-Sseeeet.
Berkat kegesitan Leon pula yang walaupun masih kalah jauh dari si mulus, dia berhasil menangkis serangan si mulus itu yang kali ini ditujukan kepada dirinya setelah gagal mengenai Alice.
Kedua pedang mereka saling tertahan, namun pada akhirnya seakan bersepakat bersama, baik Leon maupun si mulus sama-sama bergerak mundur satu sama lain.
“Albexus!”
“Siap.”
Dua serangan sihir ditujukan oleh si kumal kepada Leon dan juga kepada Alice.
Leon dengan gesit bisa menghindarinya, namun pada akhirnya Alice yang tidak siap akan serangan dadakan diselamatkan oleh barier suci Albexus.
Tanpa membuang waktu lagi, Leon segera menghampiri Alice.
“Dengar, wanita. Di saat aku mendekati demon mage-nya, inilah yang mesti kamu lakukan pada demon swordsman itu…”
Keduanya pun saling mengangguk tampak menyetujui suatu hal.
Lalu tanpa berbasi-basi lagi, Leon berteriak.
“Albexus, berikan buff maksimalmu padaku!”
“Ah, baik!”
Albexus segera mengeluarkan cahaya putih dari artifak buku kebikjasanaan Lisa yang dibawanya lantas cahaya-cahaya putih itu menyelubungi seluruh tubuh Leon.
Lantas Leon pun menyundul dengan keras si kumal.
Itu tidak bisa menembus pertahanannya yang keras, walau demikian si kumal berhasil terpental ke belakang oleh sundulan itu.
Sejenak kemudian, Leon pun mengunci pergerakan si kumal.
“Cih, dasar si tak berguna itu!”
Melihat pergerakan temannya ditangkap mentah-mentah oleh Leon, bukannya membantu, si mulus malah mengeluarkan kalimat penghinaan kepada rekannya.
“Hah?”
Alice tiba-tiba berlari secepat yang dia bisa dengan zirahnya yang berat ditambah artifak perisai Alkasa yang justru jauh lebih berat lagi ke arah si mulus.
“Dasar bodoh! Berkali-kali pun kau menyerangku, kau tak akan bisa menyamai kecepatanku!”
-Drang!
Suara adu pedang dan perisai seketika terdengar.
Akan tetapi di luar bayangan si mulus, Alice keluar dari perisainya lantas memeluknya erat-erat.
“Sialan! Apa yang kau lakukan?!”
“Albexus! Sacred revive!”
“Ah, baik. Sacred Revive.”
Albexus masih bingung dengan apa yang terjadi, namun dia segera mengeksekusi perintah Leon.
Tanah di sekitar Albexus seketika bergetar lantas mengeluarkan sinar putih yang cemerlang dari dalam tanah yang kian lama kian membesar ukuran diameternya.
“Aaaaaakkkkkhhhh!”
Sihir suci adalah elemen paling buruk bagi makhluk kegelapan.
Si kumal berhasil keluar dengan selamat dari jangkauan sacred revive yang berupa luapan area suci dari dalam tanah pada area tertentu yang membentuk lingkaran.
Namun, tidak adanya bagi si mulus.
Dengan cantik, dia tepat berada di tengah-tengah area sanctuary itu berkat kuncian Alice padanya.
Berbeda dengan si mulus, keadaan Alice baik-baik saja sejak sacred revive justru akan memulihkan stamina bagi manusia yang berjalan di jalan terang.
“Kerja bagus, Alice. Hiyaaat!”
Leon tidak mengabaikan kesempatan itu lantas memberikan serangan penghabisan kepada si mulus.
Cakarnya yang ditajamkan oleh mana mati tepat menembus ke jantung si mulus.
“Dasar pengkhianat! Matilah juga kau bersamaku!”
Namun, si mulus tidak mati seketika.
Si mulus pun turut menikam Leon sebelum akhirnya dirinya sendiri musnah dalam kegelapan.
“Tidak! Yang Mulia Pangeran Leon!”
“Pangeran Leon!”