Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 40 – MAKSUD TERSIRAT LEON



Kota Painfinn yang telah memperoleh kedamaiannya kembali selama satu bulan ini, tiba-tiba saja kembali diterjang oleh serangan gelombang monster. Dan itu bukanlah sembarang monster, melainkan monster living armor.


Namun ini aneh.


Dungeon di dalam hutan monster yang lokasinya memanjang di wilayah barat mulai dari ujung utara Kekaisaran Vlonhard sampai ujung selatan Kerajaan Meglovia jumlahnya ada 12 buah. Dungeon undead, ghost, beast, insect, lipan, tarantula, troll, titan, fenrir, lizardman, Milanda, dan Arxena.


Masing-masing dungeon itu punya lokasinya tersendiri, tetapi hutan monster yang terletak di Kekaisaran Vlonhard dan Kerajaan Meglovia itu formasinya jelas dipisahkan oleh sekat artifak mutiara pengendali.


Itulah sebabnya monster yang keluar dari dungeon yang terletak di Kerajaan Meglovia tidak dapat menembus wilayah Kekaisaran Vlonhard, begitupun sebaliknya.


Di sinilah letak keanehannya sebab living armor adalah salah satu monster produk dari dungeon ghost yang letak dungeon-nya seharusnya ada di Kekaisaran Vlonhard. Tidak mungkin dalam keadaan normal, monster itu akan ditemukan mengamuk di wilayah Kerajaan Meglovia.


Namun pada kenyataannya, monster itu sekarang mengamuk di tempat ini tepat beberapa hari setelah kedatangan Leon kemari.


“Apa yang sebenarnya terjadi?”


“Hei, Kakak Sampah! Jangan melamun!”


“Praaaak!”


Leon segera berteriak ke arahku sembari menebas beberapa living armor yang berhasil memanjat ke arah benteng yang tampak akan menyerangku.


Tebasan aura apinya seketika menghanguskan keempat living armor yang mengarah kepadaku tersebut.


Inilah kekuatan aura pedang luar biasa yang membuat Leon lebih diakui oleh prajurit kemiliteran istana dibandingkan Kak Tius yang lebih bergelut pada masalah kesejahteraan sosial dan diplomasi.


Living armor seharusnya adalah monster yang sangat sulit untuk dikalahkan perihal armornya memiliki ketahanan sihir yang luar biasa sehingga serangan aura sihir biasa tidak akan mampu untuk menebasnya.


Bahkan Albert yang merupakan master pedang level 4 belum sanggup untuk melakukannya. Inilah kekuatan sejatinya dari master pedang level 5. Perihal jika living armor itu tidak dihancurkan dalam sekali serangan, monster tersebut hanya akan segera beregenerasi kembali dengan kemampuan regenerasi mereka yang tinggi.


Apa yang membuatnya lebih susah untuk dikalahkan adalah justru specter yang merasuk ke dalam living armor-nya yang tidak lain merupakan inti yang membuat living armor tersebut bergerak hanya bisa dikalahkan dengan serangan murni sihir.


Dengan kata lain, dibutuhkan kerjasama yang solid antara ksatria dan penyihir hanya untuk menyingkirkan satu living armor saja.


Walau demikian, itu tidaklah ada apa-apanya di hadapan sang master pedang level 5 seperti Leon yang tiap serangannya mengandung serangan fisik sekaligus serangan sihir yang dahsyat.


Aku mengarahkan Albert yang berada di sampingku untuk turut membantu Alice di bawah karena Yasmin dan Nunu di sini ditambah dengan keberadaan Leon telah cukup untuk melindungiku. Dan bagaimana pun, aku bukanlah orang yang lemah yang membutuhkan perlindungan.


Akan tetapi, aku tampaknya tidak butuh banyak lagi berkontribusi dalam pertempuran. Semuanya telah diambil alih oleh Leon dengan sangat sempurna dalam mengarahkan para prajurit kota.


Pengalaman Leon dalam memimpin prajurit istana ternyata bukanlah isapan jempol belaka. Aku, sang pangeran yang selama ini terkurung dalam istana kumuh, jelas bukan bandingannya.


Di sebelah kiri, ada pertarungan Alice dengan pertahanan baja dan agronya terhadap monster yang luar biasa. Walau dia sama sekali tidak mampu mendaratkan satu serangan pun terhadap monster, tetapi Alice mampu memancing monster menggila di dekatnya sembari memberikan para monster itu penurunan ketahanan mental yang mengakibatkan pertahanan sihir living armor itu berkurang dengan sangat drastis.


Kemudian Albert-lah dengan keahlian master pedang level empatnya yang memberikan serangan penutupan sejak ketahanan sihir monster tersebut tidak lagi tinggi.


Di luar dugaan, Damian dan rekan-rekannya justru mampu mengalahkan monster dengan jumlah yang lebih banyak ketimbang kombinasi serangan Alice dan Albert. Semua ini hanya bisa tentu saja berkat kepemimpinan Damian yang prominen.


Lebih daripada kombinasi pertarungan antara Albert dan Alice, ada satu lagi pertarungan di atas benteng yang tidak kalah membuatku bangga. Itu adalah pertarungan Nunu.


Kini, dia tidak perlu lagi mengandalkan sihir overpower sekali pakainya itu. Dengan artifak tombak sihir yang kubuatkan untuknya, dia mampu menahan pergerakan monster living armor itu dengan keahlian bertombaknya berkat pelatihan dari Damian padanya setidaknya cukup agar para living armor itu tidak mampu menembus pertahanan benteng.


Namun tetap pada akhirnya, satu-satunya yang sanggup untuk mengeliminasi para living armor tersebut hanyalah jurus aura pedang api Leon. Tetapi itu telah merupakan perkembangan yang cukup signifikan bagi Nunu yang baru saja bertransformasi menjadi battle mage.


Tetapi adikku Leon itu sungguh terlalu. Dia bahkan tak memberikanku satu monster pun terlewat untuk membiarkanku turut bersinar di medan perang. Selama pertarungan itu, aku hanya bisa berpangku tangan, terima kasih berkat proteksi Leon dan Yasmin yang terlalu kuat di kedua sisiku.


Perlahan, tidak ada lagi living armor yang mampu memanjat tembok berkat sebelum mereka bisa mencapai ke sini, mereka sudah dikalahkan duluan, entah oleh serangan kombinasi tim Damian, maupun tim Alice dan Albert.


Kurang dari tiga jam bahkan sebelum jam menunjukkan pukul 9 malam, pertarungan itu usai.


Damian yang bertindak sebagai wakil kapten prajurit kala itu lantas melapor untuk formalitas padaku usai pertarungan lantaran Alice sebagai kapten prajurit sementara cukup terluka setelah menerima tubrukan berkali-kali dari para living armor. Bahkan sekuat apapun ketahanan Alice, jelas saja dia pun tetap akan terluka jika harus menghadapi tumbukan berkali-kali sebanyak itu.


Namun, kulihatlah ekspresi Leon di sampingku sedikit terpelintir secara aneh. Ah, aku segera mampu menduga apa yang sedang dipikirkannya. Leon saat ini secara kertas ditunjuk sebagai pemimpin sementara Kota Painfinn menggantikan aku selama aku mengalami proses evaluasi dari kerajaan.


Leon pasti tersinggung karena alih-alih Damian memberikan laporan padanya, dia justru memberikan laporannya kepadaku. Aku pun menasihati Damian bahwa sebaiknya dia memberikan laporannya langsung kepada pemimpin Kota Painfinn saat ini yang tidak lain adalah Leon di sampingku, alih-alih diriku ini yang telah diturunkan jabatannya sebagai wakil pimpinan.


Barulah setelah itu, Damian bergerak ke arah Leon. Setelah memberikan laporannya kepada Leon, barulah Damian meninggalkan tempat itu.


Tetapi, ucapan tak terduga pun dilontarkan oleh Leon kepadaku yang kala itu hanya berduaan dengannya di barak benteng.


“Hei, Kakak Sampah. Sebaiknya kamu hati-hati dengannya (Damian). Di mataku, dia tampak sangat mencurigakan.”


Entah apa tujuan Leon mengatakan hal tersebut di kala dia baru datang selama 2 minggu di Kota Painfinn ini dan dia juga tidak banyak berinteraksi dengan sosok yang bernama Damian tersebut, tetapi bahkan tanpa Leon berkata demikian, meski belum ada satu pun bukti fisik yang aku temukan sampai saat ini, dari awal aku memang memikirkan hal yang sama. Damian adalah sosok yang cukup mencurigakan.


Keberadannya begitu sempurna untuk berbaur dengan sekitar. Ditambah ternyata dia cukup memiliki bakat yang prominen, tetapi tidak terlalu dia tonjolkan. Persis seperti apa mata-mata Kekaisaran Vlonhard dilatih.


Tentu saja ini sekadar kecurigaan semata, jadi untuk saat ini aku hanya bersikap waspada padanya. Karena jika dugaanku salah, Damian sebenarnya adalah prajurit yang sangat berguna. Tetapi lebih daripada itu, aku sebenarnya lebih penasaran saat ini kepada Leon tentang apa tujuannya mengatakan hal itu padaku.


Leon memang seseorang yang memiliki ambisi kuat yang sering menggunakan apa yang bisa dia gunakan untuk menekan sosok yang dianggapnya sebagai saingan hingga tak bisa berkutik lagi. Tetapi tipu daya dan hasudan jelas bukan cara Leon dalam bertindak.


Aku sangsi jika Leon mengatakan demikian hanya untuk sekadar merengganggkan hubunganku dengan Damian, terlebih Damian bukanlah sosok penting bagiku yang jelas berbeda dengan sosok seperti Albert, Yasmin, Alice, atau Nunu.


Namun, belum sempat aku memikirkan itu lebih lanjut, tiba-tiba terdengar suara riuh dari luar. Karena penasaran, aku dan Leon akhirnya juga segera bergegas keluar untuk mengecek situasi.


Rupanya, apa yang membuat gaduh di luar adalah sosok Yasmin yang baru saja menampilkan sihir ‘area heal’ yang sangat luar biasa di hadapan para prajurit. Dengan sihir ‘area heal’-nya itu, seketika luka-luka semua prajurit di benteng tersembuhkan begitu saja, baik yang ringan, termasuk yang berat.


Aku pun turut menjadi salah satu yang ternganga dibuatnya. Aku tahu bahwa Yasmin berasal dari kuil suci, jadi jelas kemampuannya penyembuhannya akan cukup hebat. Tetapi untuk berpikir bahwa dia sampai sehebat ini bahkan bisa menyembuhkan prajurit seisi benteng hanya dalam sekali jurus area heal, aku hanya bisa ternganga tak percaya.


Ah, sungguh kuil suci telah membuang-buang sosok yang begitu berharga seperti Yasmin ke Kota Painfinn ini. Tetapi aku tentu saja tidak membencinya, justru itu membuatku bersyukur perihal dengan itu, aku kini mampu bertemu dengannya.