
Di ruangan yang gelap itu, Alice dan Albert yang mengenakan sihir tak terlihat mengendap-endap bagaikan tikus yang hendak mencuri.
Bau darah dari mayat-mayat benar-benar terasa yang menandakan bahwa di tempat itu benar-benar ribuan tumbal telah dikorbankan demi menjalankan suatu eksperimen keji.
Albert dan Alice dapat melihat dengan jelas bahwa di dalam setiap tabung besar yang berisi cairan aneh yang terdapat di sekeliling mereka, terdapat manusia di dalamnya dengan banyak kecacatan yang hampir-hampir saja itu tidak bisa lagi dikatakan sebagai seorang manusia.
Apa yang lebih mengerikan bahwa manusia di dalam setiap tabung itu masih bisa mempertahankan hidupnya berkat sokongan alat kehidupan yang terhubung ke dalam tabung itu yang membuat mereka semakin menderita.
-Shak.
“Hei, Albert, kamu mau apa?”
“Aku mau menghancurkan tabung-tabung ini. Aku tak tega lagi melihat penderitaan mereka. Bukankah lebih baik mereka mati daripada harus menderita dalam bentuk yang tidak lagi menyerupai manusia itu?”
“Jika kamu melakukannya, kita akan segera ketahuan sebelum menemukan pusat ritualnya. jika demikian, kedatangan kita ke sini hanya akan sia-sia saja.”
“Tapi…”
“Justru itulah, Albert, kita harus segera mencari pusat ritual itu untuk kita hancurkan agar tidak ada lagi korban malang yang akan berakhir tragis seperti mereka.”
“Kamu benar, Alice.”
Demikianlah, walau dengan hati yang terasa sangat menyayat, Albert mengabaikan penderitaan orang-orang yang berekspresi kesakitan di dalam tabung itu untuk menyelesaikan misi yang diembannya dari tuannya bersama Alice.
Jauh menyusuri koridor yang ditunjukkan oleh familiar Helios, akhirnya pusat ritual itu mereka temukan.
Suatu lingkaran sihir aneh berukuran besar yang memenuhi seisi ruangan.
Di pusat lingkarannya terduduk seorang manusia dengan tubuh yang bisa dikatakan cukup sehat, besar, dan kekar. Di bagian samping lingkaran terduduk pula orang-orang dengan berbagai tingkatan usia dan jenis kelamin, di mana jika ada kesamaan di antara mereka, yakni semuanya berada dalam keadaan lemah.
Lalu di luar lingkaran itu, berdiri delapan sosok yang mengenakan jubah hitam sehingga wajah mereka tidak dapat terlihat dengan jelas yang berdiri di setiap titik luar lingkaran dengan jarak yang sama. Di tangan mereka, terdapat semacam batu berbentuk aneh dengan warna merah menyala yang mereka genggam dengan erat.
“Albert, batu-batu yang dipegang oleh orang-orang berjubah hitam itulah artifak sihir yang menyebabkan penderitaan ribuan orang yang harus kita hancurkan untuk menghilangkan tragedi ini dari dunia.”
“Aku mengerti, Alice…”
Namun belum sempat Alice dan Albert menyusun pikiran mereka, sekali lagi ritual itu terjadi. Cahaya merah menyinari seisi lingkaran. Setiap orang yang ada di pinggiran lingkaran, tidak peduli dia orang dewasa atau anak-anak, pria atau wanita, semuanya terhisap darah, daging, serta tulangnya ke dalam objek lingkaran bagaikan jika kita memblender buah ke dalam suatu alat blender.
“Tidak, Ibu, aku takut, sakit!”
“Aakkhhh!”
Albert pula dapat melihat dengan jelas bagaimana pasangan ibu-anak yang telah kurus kerempeng harus mengalami kejadian yang mengerikan itu, terblender darah, daging, dan tulangnya, menyatu dengan milik yang lain yang ke semuanya terserap ke dalam artifak sihir yang dipegang oleh masing-masing anggota jubah hitam yang selanjutnya diteruskan kepada orang yang terduduk di pusat lingkaran.
Terdapat ekspresi kegilaan di wajah orang yang tampak menghisap semua intisari manusia yang lain tersebut. Tubuhnya secara tiba-tiba saja membesar. Massa otot-ototnya meningkat secara tidak beraturan yang bagaikan balon, hampir saja meledak.
Ketika cahaya merah itu berakhir, di dalam lingkaran kini hanya tersisa seorang saja. Hanya sobekan pakaian yang tadinya mereka kenakan yang tersisa bagi para korban lain. Adapun untuk seorang survivor di pusat lingkaran sihir itu, itu tidak bisa dikatakan lagi seorang manusia. Dia jelas-jelas telah berubah menjadi sosok monster.
Begitulah ritual terciptanya satu individu prajurit first order.
Lalu di tengah-tengah tempat ritual keji itu baru saja berlangsung, seseorang dengan pakaian putih suci berjalan dengan santainya.
“Ah, yang ini juga produk gagal rupanya. Apakah itu karena bahan-bahan bakunya yang kurang baik? Sudah kuduga menggunakan budak belian yang selalu menderita akan membuahkan hasil yang kurang baik. Lebih baik jika menggunakan penduduk kota yang segar bugar.”
Orang yang berbicara dengan kejam terhadap rencana pengorbanan manusia-nya di hadapan Alice dan Albert itu, dialah Rahib Robell Zarkan.
Albert tak lagi dapat menahan amarahnya, terutama di saat dia menyaksikan bagaimana sesosok anak kecil dan ibunya yang lemah itu juga harus mati secara sia-sia sebagai korban di dalam ritual tersebut. Kemudian dengan amarah yang memuncak, Albert tidak mengindahkan peringatan Alice lagi lantas langsung hendak menyerang Rahib Robell Zarkan.
“Albert! Tunggu!”
-Shaak.
Namun pikiran Albert telah kehilangan kejernihannya untuk mendengar perkataan Alice.
Alih-alih berhasil menyerang sang rahib, dua tentara bayangan Rahib Robell seketika menghalau serangan Albert. Muncul pula dua lainnya yang menjaga sang rahib di belakang.
Gerakan para prajurit bayangan itu sangatlah cepat dan bahkan Albert tidak sempat menghindar lagi begitu mereka hendak menyerangnya. Akan tetapi,
-Srarararak.
“Oh, ada tikus rupanya yang berhasil menyusup kemari. Kalian tampaknya cukup berkemampuan. Kalian akan menjadi objek uji coba yang baik untuk pengembangan para spesimenku.”
Ujar sang rahib sambil tersenyum dengan mengerikan penuh niat jahat. Gerakan tangannya melambai sebagai isyarat agar para sorcerer segera mundur saja dari tempat itu untuk menyelamatkan nyawa mereka dari para penyusup.
Alice dan Albert ingin menghalangi mereka kabur, namun kemudian prajurit first order cacat yang tadi dibuat melalui ritual kejam yang disaksikan oleh mereka berdua bangkit lantas menghalau mereka.
Tidak, tidak hanya satu prajurit itu. Puluhan spesimen lainnya dalam tabung berisi cairan aneh sebelumnya pun satu-persatu keluar dengan memecahkan cangkang mereka. Dalam sekejap, Alice dan Albert telah terkepung oleh puluhan monster-monster cacat itu.
“Oh, tidak. Jika dibiarkan, para sorcerer-nya akan kabur duluan bersama artifaknya.”
“Kalian tidak usah khawatir. Serahkan saja mereka padaku.”
Di tengah kekhawatiran Alice bahwa misi mereka akan gagal, sebuah suara telepati yang hanya bisa didengarnya dan Albert sampai kepada mereka. Itu adalah dari Dokter Minerva.
Dalam sekejap puluhan panah spiritual menusuk jantung bersamaan dengan artifak sihir yang mereka bawa dari setiap sorcerer itu. Mereka termusnahkan seketika sekali jalan oleh serangan tiba-tiba sang assassin, Minerva.
“Kau! Dasar sialan! Sejak kapan kau ada di belakangku?!”
“Ara, ara. Tentunya aku ada di sini soalnya tujuanku adalah untuk membasmi iblis.”
“Ck. Gamma! Delta! Bunuh perempuan laknat itu segera!”
Dua prajurit yang tadinya menghalau serangan Albert pun kini bergerak menyerang Dokter Minerva.
Alice dan Albert sebenarnya ingin membantu, tetapi tangan mereka telah penuh dengan monster-mosnter menjijikkan di hadapan mereka.
Lalu kemudian, memanfaatkan kekacauan itu, Rahib Robell Zarkan pun hendak kabur dari ruangan bersama dengan dua pengawalnya yang lain.
“Alice, kamu pergilah! Jika tidak, maka tidak ada kesempatan lagi buat melenyapkan iblis jahanam itu!”
“Tapi Albert…”
“Pergilah! Aku sendiri akan cukup jika hanya untuk menghadapi para kroco-kroco sialan ini yang bahkan tidak bisa berpikir lagi untuk diri mereka sendiri. Misi Master lebih penting, bukan?”
Alice hanya mengangguk dalam diam. Dia lantas segera meninggalkan Albert yang membukakannya jalan dari serangan para prajurit cacat tersebut demi mengejar sang rahib, dalang dari semua tindak kekejaman, yang hendak melarikan diri.
-Srarararak.
Alice berlari.
-Slash.
-Trang.
Dan dalam waktu singkat, Alice telah berdiri di hadapan Rahib Robell Zarkan.
“Tunggu, Rahib, kau mau kabur ke mana?”
“Kau wanita laknat sialan! Padahal aku berpikir untuk menunda pertempuran ini. Baiklah, kalau kau segitu inginnya mati sekarang. Alfa! Beta! Bunuh wanita laknat sialan itu!”
Kedua prajurit bayangan itu maju menyerang Alice dengan pedang besarnya dengan berbekalkan dagger di tangan mereka. Tetapi itu tentu saja tidak cukup kuat untuk mengalahkan momentum pedang besar milik Alice. Dalam sekejap, dagger yang ada di tangan mereka masing-masing terhempaskan hanya dalam sekali serangan Alice.
Namun ketika Alice hendak melakukan serangan penghabisan,
-Trang.
Di luar dugaan, para prajurit bayangan itu mampu menghalaunya dengan tangan kosong.
Asap mengepul tebal sehingga wajah mereka tidak nampak dengan jelas. Namun begitu debu tidak lagi mengambang di udara, terlihatlah jelas wajah mereka kembali.
Tidak, itu bukan wajah yang sebelumnya. Wajah mereka telah berubah menjadi wajah monster.
Tentara berkulit putih dengan rambut kuning cerah ciri khas Kekaisaran Vlonhard yang dipanggil Alfa sebelumnya telah berubah menjadi sosok monster menyerupai singa. Adapun yang berkulit hitam ciri khas penduduk Benua Ifrak bagian tengah dan selatan yang dipanggil Beta telah berubah menjadi sosok monster yang menyerupai babi.
“Berbahagialah karena kamu akan merasakan kematian di tangan bentuk kesempurnaan dari projek the first order ini, wanita laknat!”
Ujar Rahib Robell Zarkan dengan penuh eksitasi.