
Demikianlah, Codi dan Hestia akhirnya meninggalkan Kota Painfinn demi menguak kebenaran di balik kematian Leon. Melalui dukungan Venia sebelumnya, aku berhasil menerapkan pengetahuanku untuk membuktikan bahwa benar ada jejak penggunaan sihir hitam di balik ingatan Hestia.
Setelah mengetahui hal itu, Codi dan Hestia pun berniat melakukan perjalanan demi mengungkap misteri sihir hitam tersebut dan sekaligus menemukan cara bagaimana memperoleh kembali ingatan asli Hestia yang telah dibolak-balikkan dan dihempaskan oleh ingatan palsu yang berasal dari sihir hitam tersebut.
Aku selama itu juga turut berjuang demi menemukan kebenaran di balik kematian Leon.
Akan tetapi bahkan setelah upaya sekuat tenagaku mencari kebenaran, tiada satu pun petunjuk yang berhasil kutemukan.
Lalu waktu berlalu dengan cepat begitu saja dan tanpa terasa sudah dua tahun terlewati.
Kini, aku sedang menjalani momen yang merupakan salah satu titik tolak penting di dalam hidupku.
Hari ini adalah hari di mana aku dan Talia akan resmi menikah.
Sebagai salah seorang pangeran di negeri ini, wajar saja jika pernikahanku akan diselenggarakan secara mewah di ibukota kerajaan. Pernak-pernik yang berkilauan di mana-mana, hidangan mewah, dan bahkan personel pengisi acara serta jumlah pelayan yang banyak. Semuanya benar-benar terkesan mewah. Tidak hanya itu saja, jumlah tamu yang menghadiri pernikahan kami pun tergolong sangatlah banyak.
Hanya saja, tamu-tamu yang hadir tersebut tidak lain hampir semuanya merupakan teman-teman maupun kerabat Talia saja. Begitulah calon istriku sangat dicintai oleh banyak orang. Namun, hal itu tidak berlaku bagi diriku.
Bisa dihitung jari teman-teman yang hadir di sini perihal undanganku. Dan itu terus terang membuatku sangat merasa bersalah kepada Talia. Apakah keputusanku menikahi gadis yang baik hati sepertinya bagiku yang merupakan seseorang yang sangat dibenci di kerajaan ini dari awal adalah keputusan yang benar?
Bahkan ayah dan ibuku saja tidak hadir dalam acara pernikahanku ini sampai-sampai Kak Tius-lah yang harus berperan memimpin prosesi pernikahanku menggantikan Ayahanda. Mereka berdua beralasan sakit, tapi yah aku tahu benar bahwa ketidakhadiran mereka di tempat ini karena mereka pastinya masihlah sangat membenciku perihal keberadaanku-lah yang telah merenggut nyawa putra kesayangan mereka, Leon, dari sisi mereka.
Sejak awal, aku tak pernah dianggap sebagai anak oleh mereka. Tidak, itu salah. Masih bisa terngiang dengan jelas kenangan itu, kenangan kehidupan bahagia kami sebelum ramalan tiran itu tiba. Akankah hari-hari itu dapat kembali lagi kurasakan? Hari-hari di mana aku mampu merasakan kasih sayang Ayahanda dan Ibunda.
Tidak. Sejak kepergian Leon, hal itu sudah menjadi hal yang mustahil.
Usai pernikahan, Talia memutuskan untuk mengikutiku tinggal di Kota Painfinn. Kehidupan kota yang sederhana dan apa adanya tanpa toko-toko cemilan dan pakaian yang mewah, membuatku merasa tidak enak padanya.
Aku sudah berusaha keras mengembangkan Kota Painfinn agar setidaknya setiap rakyat dapat memenuhi kebutuhan pokok dan kehidupan mereka yang nyaman melalui berbagai pengembangan teknologi, hanya saja mengenai masalah kehidupan mewah adalah hal yang lain. Aku sama sekali tidak memiliki pengetahuan yang mumpuni terkait hal itu.
Aku pun sudah berupaya mengundang beberapa chef dan pengusaha butik untuk berkenan tinggal di tempat ini. Hanya saja rayuanku kurang kuat sehingga mereka sama sekali tak melirik proposal yang kuajukan. Yah kalau dipikir-pikir, siapa juga yang mau meninggalkan kehidupan nyaman di ibukota hanya untuk memasukkan diri mereka ke dalam kota berbahaya yang tidak tahu kapan monster akan menyerang.
Aku memang tidak dapat memanjakan Talia soal makanan dan pakaian yang mewah, namun aku berjanji akan membahagiakannya tinggal di kota ini melalui tubuhku.
Setiap hari, aku akan menyiapkannya makanan yang lezat. Dan juga, produk pakaian berbahankan jaring monster labah-labah yang kubiakkan, tak kalah bermutunya. Dengan sedikit lagi sentuhan pengembangan, itu juga takkan kalah dari produk pakaian mewah di ibukota.
Belakangan aku mengetahui bahwa rupanya Damian adalah sahabat baik sedari kecil Kak Vierra, istri Kak Tius. Pantas saja, Kak Vierra tampaknya cukup enggan melepaskan Damian meninggalkan ibukota. Namun demi pengembangan karir Damian ke depannya, akhirnya Kak Vierra pun dengan berat hati bersedia melepaskan sahabatnya itu ke kota ini.
Satu hal yang membuat aku kepikiran adalah mimpiku mengenai Leon itu. Tidak salah lagi bahwa itu adalah hasil dari sihir hitam sehingga tidak mungkin memiliki maksud yang baik. Hanya saja, isinya tetap tak dapat kuabaikan.
Pertama, terkait rencana Kak Tius bersama Leon untuk membuat pemerintahan yang bersih di eranya dengan menyingkirkan para bangsawan korup. Walaupun itu memang demi tujuan yang mulia, tetapi jelas-jelas cara itu akan mengubur dalam-dalam masa depan Leon di dalam hujatan pengkhianatan. Yah, walaupun itu tampaknya sudah tak penting lagi untuk dibahas sekarang sejak Leon kini telah meninggal.
Namun jika ini benar, walau itu Kak Tius sekalipun, aku takkan mungkin pernah memaafkannya karena telah membuat Leon harus menanggung hal yang kejam seperti itu.
Namun, kutahu pastinya itu hanyalah sekadar mimpi buruk yang bermaksud membuat hubunganku dengan Kak Tius menjadi renggang yang entah untuk tujuan apa bagi sang penyalur mimpi tersebut.
Padahal aku sudah meyakininya seperti itu, tetapi tetap saja perasaanku ini takkan lega jika belum berbicara secara langsung dengan Kak Tius. Aku harus memastikannya langsung kepadanya. Sayangnya, belum ada momen yang tepat untuk hal tersebut, bahkan setelah dua tahun berselang.
Mata dan telinga di sekitar kami terlalu banyak dan aku tidak ingin menciptakan rumor yang tidak perlu. Kak Tius pun saat ini sudah kewalahan membangun citranya sebagai calon raja yang baik di masa mendatang di tengah banyaknya cercaan yang datang dari para mantan pendukung faksi Leon. Aku tidak ingin menambah beban dari Kak Tius lagi.
Melupakan soal itu, ada satu lagi hal yang cukup menggangguku soal mimpi itu. Itu adalah perkataan Leon terkait bahwa ada satu pengkhianat yang saat ini tinggal di dekatku, dan pengkhianat itulah yang telah menghabisi nyawanya.
Aku berjanji jika sampai pengkhianat itu kutemukan, aku akan membuatnya merasakan hal yang lebih buruk dari kematian! Takkan pernah kumaafkan dia dan akan kubalaskan kematian Leon hingga tetes darah penghabisan!
Aku terus berpikir sembari menyelidiki apakah itu hanyalah sekadar tipuan mimpi buruk untuk membuatku mencurigai para anak buahku yang akan mengakibatkan kerenggangan hubungan kami. Namun, jika sekian kecil persen saja ada kemungkinan bahwa informasi yang kuperoleh lewat sihir hitam mimpi buruk itu benar, maka aku tak akan dapat mengabaikannya sama sekali.
Jika ada pengkhianat di sisiku, aku takkan pernah berpikir bahwa itu adalah Albert sejak dia telah bersamaku sejak aku berusia 7 tahun dan aku telah kenal benar bagaimana sikap jujur Albert serta kesetiaannya padaku. Aku tak pernah berpikir bahwa sikap yang ditunjukkannya selama 13 tahun ini hanyalah sebuah akting. Tak salah lagi, jika aku hanya boleh mempercayai dua orang di dunia ini, maka itu adalah Talia dan Albert.
Kemudian ada Yasmin, Alice, dan Nunu. Walau aku baru mengenal mereka sekitar dua tahun lebih, aku juga tak pernah berpikir bahwa mereka memiliki sifat berlainan yang tersembunyi di lubuk hati mereka yang bertentangan dengan yang selama ini mereka tunjukkan di permukaan.
Aku sama sekali tak percaya bahwa Yasmin, Alice, maupun Nunu yang polos itu mampu menyembunyikan rahasia besar di belakangku. Terutama Yasmin, dia benar-benar anak yang polos. Mungkin yang lain yang tidak mengenalnya lebih dalam seperti aku tidak akan tahu hal ini, tetapi Yasmin itu adalah perwujudan dari kepolosan itu sendiri.
Dia bahkan tidak mampu menyembunyikan rahasia kecil seperti cemilan apa yang dimakannya di tengah malam buta. Dan untuk perempuan yang polos seperti dirinya, bisa-bisanya dicurigai sebagai witch di ibukota. Yah, itu karena satu kekurangan Yasmin, yakni karena dekat denganku. Itulah sebabnya dia sampai menerima tuduhan kejam seperti itu.
Semuanya kembali ke ramalan suci yang membuat semua wanita di ibukota tak ingin satu pun dekat-dekat denganku terlepas dari wajahku yang tak kalah ganteng dari Leon. Hal itu hanya mungkin perihal mereka semua takut akan dirumorkan sebagai witch.
Seorang tiran yang akan merangkul witch ke sisinya untuk menghancurkan dunia kah? Aku hanya dapat menertawakan isi ramalan suci konyol itu.
Jikalau begitu, yang tersisa kini Curtiz dan Damian.