
Tiada yang dapat mengukirkan kebahagiaanku hari itu. Istriku rupanya sedang mengandung anak pertama kami.
Saking bahagianya, aku bahkan sampai lupa bernafas dan bisa saja giliran aku yang dirawat jika bukan karena Kerrie yang segera menyadarkan aku.
Ah, jika kalian lupa, Kerrie adalah mantan prajurit bayangan Leon yang bercode name Rat. Sejak peristiwa sadis yang menimpanya dua tahun silam, tampaknya Kerrie menjadi trauma dan tidak ingin lagi menjadi assassin. Dia pun pensiun lantas menjadi asisten Venia sebagai suster.
Klinik kini telah lumayan berkembang sehingga telah memiliki 5 orang suster, 1 orang petugas apoteker, dan 1 orang sebagai pelayan administrasi sekaligus kasir. Sayangnya, sejak kliniknya dibuka, tiada satupun yang berbakat menjadi dokter di klinik tersebut selain Venia.
Haruskah aku meminta bantuan nantinya kepada Tuan Erick atau Nona Anna untuk memperkenalkan padaku seorang dokter yang baik yang dapat membantu Venia mengurangi beban kerjanya? Tetapi yah, di ibukota pun saat ini, mereka juga tampaknya kekurangan dokter. Itu karena profesi dokter di Kerajaan Meglovia masih terbilang langka perihal doktrin di balik layar dari kuil suci.
Oh iya, aku dengar-dengar bahwa negara sumber dokter, Kerajaan Rimuru, yang baru-baru ini dicaplok karena keserakahan kekaisaran juga mengalami masalah terkait tenaga kerja dokter mereka. Kudengar para dokter di sana mulai mengalami sentimen akibat doktrin kuil suci sekte penyembah matahari sehingga para dokter di sana kebanyakan mengungsi ke Kerajaan Ignitia.
Mungkin, aku bisa memanfaatkan koneksiku dengan Guru Zizi di sana untuk mencarikanku dokter yang pengangguran kemudian aku bisa merekrutnya pada saat aku berkunjung ke kerajaan tersebut. Hmm, aku bisa beralasan bahwa aku rindu pada Paman sehingga berkunjung ke kerajaan itu sehingga tidak akan mengganggu stabilitas politik benua yang selalu saja mewaspadai gerak terkecil apapun yang dilakukan oleh keluarga kerajaan.
Ngomong-ngomong, dibandingkan di Kerajaan Meglovia, perlakuan dokter di Kerajaan Ignitia jauh lebih baik walaupun di sana juga ada kuil suci sekte penyembah bintang. Jadi pertanyaannya, adakah dokter yang mau aku rekrut ke kerajaan ini, terlebih bahwa tempatnya adalah tempat terpencil seperti Kota Painfinn?
Aku juga sebenarnya cukup kesal dengan sikap para warga Kerajaan Meglovia yang selalu saja mempermasalahkan masalah perbedaan budaya dan ciri fisik ras yang berlainan dengan mereka sehingga itu sulit untuk membuat warga pendatang hidup nyaman di tempat ini.
Lihat saja aku, pangeran yang berambut dan bermata hitam. Padahal aku adalah seorang pangeran, tetapi hanya karena warna rambut dan mataku yang hitam yang berbeda dengan keluarga kerajaan lain, mereka menjadi takut padaku. Yah, walaupun mungkin pengaruh terbesarnya tetaplah pada ramalan terkutuk itu.
Kalau dipikir-pikir, semua anggota keluarga kerajaan di Kerajaan Ignitia, root di mana Ayahanda berasal, semuanya berambut dan bermata hitam. Ayahanda juga satu-satunya yang berbeda di antara mereka semua yang mewarisi genetik ibunya alias Nenek yang berasal dari Kerajaan Meglovia yang memiliki warna rambut emas dan mata biru.
Tapi aku tidak pernah sedikit pun mendengarkan Ayahanda dikucilkan karena persoalan itu. Apakah di Kerajaan Ignitia berbeda dengan kerajaan lain yang rata-rata memiliki paham primordialisme yang tinggi? Tetapi yang jelas, bukankah aku lebih mudah berbaur di sana persoalan aku juga memiliki warna mata dan rambut yang sama dengan mereka?
Aku rasa itulah prestige khusus yang akan dimiliki bagi kita yang tinggal di tempat yang sesuai dengan ciri-ciri fisik kita.
Perbedaan ciri-ciri fisik antarras yang berbeda seperti itu akan menjadi masalah yang lain tentunya jika aku mencoba merekrut pendatang sebagai dokter baru di kerajaan ini. Tetapi tentunya ini bukan masalah bagi Kota Painfinn sejak para ras dwarf saja dapat diterima dengan baik di sini.
Ini layak dicoba. Aku akan mencoba untuk menambah jumlah dokter lagi di sini. Aku sebenarnya kasihan pada Venia yang selalu saja tampak keletihan perihal banyaknya pasien yang mesti datang berobat ke sini tiap harinya. Jika bukan karena kedatanganku kemari sehingga klinik ditutup sementara bagi orang luar, pasti hari ini juga akan menjadi salah satu hari yang sangat meletihkan bagi Venia.
Itu wajar saja mengingat Kota Painfinn juga sudah cukup berkembang sehingga hampir setara dengan kota besar lainnya yang memiliki populasi yang kini hampir mencapai seratus ribu orang. Belum lagi cukup banyak juga para pasien yang datang dari kota-kota dan desa-desa yang terdekat.
Dilihat dari jumlah penduduknya saja yang berlimpah, jumlah dokternya yang hanya satu orang sudah merupakan hal yang tidak rasional.
Yah, bisa dibilang bahwa itu adalah keserakahan seorang ayah.
Namun, jika ada yang membuatku khawatir, itu adalah Talia lebih duluan mengandung daripada Kak Vierra. Ini bisa akan jadi masalah jika anakku menjadi anak keluarga kerajaan pertama di eranya yang lahir. Dia bisa saja dimanfaatkan untuk kepentingan politik menggoyahkan kedudukan calon putra mahkota bakal anak Kak Tius kelak.
Bagaimana pun aku akan melindungi anakku apapun yang terjadi. Takkan kubiarkan para tikus sialan itu merongrong anakku dalam persaingan politik kerajaan. Yah, aku berharap bahwa anakku ini nantinya akan terlahir dengan jenis kelamin perempuan saja. Dengan demikian, apa yang kutakutkan ini akan lebih kecil peluangnya terjadi.
Tentu saja aku tidak membatasi jenis kelamin apapun yang aku inginkan terlahir dari calon bayiku ini. Entah dia nantinya terlahir sebagai seorang perempuan maupun seorang laki-laki, tak masalah buatku selama dia nantinya bisa tumbuh dengan sehat dan menjadi anak yang bermanfaat bagi kerajaan dan berbakti kepada kedua orang tuanya.
Walaupun aku mungkin tak bisa berkata demikian sebab aku sadar bahwa aku pun bukanlah anak yang berbakti kepada kedua orang tuaku.
Tetapi melupakan pembicaraan yang masih lama akan terjadi di masa depan itu, mengapa hingga saat ini Kak Vierra belum juga mengandung padahal sudah jalan tiga tahun pernikahannya bersama Kak Tius? Jangan bilang kalau Kak Tius itu seorang pengecut yang bahkan sampai saat ini belum juga menyentuh istrinya.
Ketika berkunjung ke ibukota kembali, aku harus membicarakan masalah ini baik-baik kepada Kak Tius sekaligus menyampaikan informasi bahagia ini secara langsung padanya bahwa sebentar lagi dia akan resmi menjadi seorang paman.
Karena rasanya aku tidak ingin merayakan kebahagiaan yang kurasakan hari ini seorang diri, aku pun mengadakan pesta yang cukup meriah di malam harinya.
Aku sebenarnya kasihan kepada para pelayan yang harus mempersiapkan pesta dadakan karena keegoisanku, tetapi apa boleh buat, hari ini aku sangat bahagia.
Aku baru terasa kembali betapa berharganya dulu sosok Kakek Jilk bagiku. Jika itu Kakek Jilk, pekerjaan seabsurd apapun yang aku minta, akan dia penuhi dengan sangat memuaskan.
Jika kakek itu masih ada di sini saat ini, dia pasti akan bisa mengelola penyelenggaraan pesta ini dengan lebih baik. Tapi yah, Yasmin pun telah berupaya menjalankan perannya dengan cukup baik menggantikan Kakek Jilk.
Seperti yang biasa-biasa, terlihat bahwa bintangnya pesta pasti selalu dimiliki oleh Kakek Grodzky. Hanya dengan keberadaannya saja dengan suaranya yang besar dan tingkahnya yang unik, pesta mana pun akan selalu meriah.
Kakek Grodzky telah menjadi salah satu tokoh pondasi penting di Kota Painfinn ini yang menguatkan kami dari segi ekspor senjata dan peralatan tukang serta dari segi arsitektur. Jika dipikir-pikir kembali, Kakek Jilk juga-lah yang telah membawa Kakek Grodzky kemari.
Entah mengapa di suasana senang ini, aku malah teringat kembali akan keberadaan sosok Kakek Jilk. Dan juga, tanpa sadar aku ikut teringat kembali kepada Leon, adik bodohku yang telah menitipkan salah satu anak buah berbakatnya seperti Kakek Jilk itu kepadaku.
“Mengapa kalian berdua begitu cepat meninggalkan dunia ini?”
Tanpa sadar, aku menitihkan air mata. Di hari bahagia di mana aku akan seharusnya menyambut calon keluarga baruku, aku justru kembali mengingat wajah mereka yang telah pergi dan takkan pernah kembali lagi.