Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 168 – BIARKANLAH AKU MEMILIKI CINTA INI DIAM-DIAM



[POV Yasmin]


“Kak Hector.”


“Ya, adikku sayang.”


“Di buku dongeng yang aku baca, ada seorang putri yang diculik oleh nenek sihir lantas diselamatkan oleh pangeran, lalu mereka menikah dan hidup bahagia selamanya. Dapatkah aku menjadi seperti tuan putri di dalam cerita dongeng itu, Kak Hector?”


“Tentu saja. Tidak ada yang dapat menghalangi adikku ini untuk hidup bahagia. Tapi tentunya tidak dengan bagian diculik nenek sihirnya juga dong, Cassandra.”


“Hehehehehehe. Lantas apakah Kak Hector mau jadi pangerannya Cassandra?”


“Kalau itu, Kakak tidak bisa. Sesama saudara itu tidak boleh menikah, Cassandra.”


“Yaaahhh.”


“Adikku yang manis. Kuyakin suatu hari adikku yang manis ini akan memperoleh pangerannya untuk dirinya sendiri.”


“Benar begitu, Kak Hector?”


“Tentu saja. Kapan Kak Hector pernah bohong?”


“Hehehehehehe.”


Sewaktu aku masih muda sekitar usiaku memasuki 9 tahun, aku masih mengingat pernah mengobrolkan hal seperti itu kepada Kak Hector. Waktu itu Kak Hector memasuki usia 15 tahunnya dan berada pada masa-masa puncak kegantengannya sampai-sampai membuat aku terpesona dan ingin menikahi Kak Hector.


Kalau diingat-ingat lagi, hal itu membuatku agak malu. Walau kebersamaan kami singkat karena dua tahun kemudian Kak Hector meninggal dikarenakan serangan arch demon Valhalla, tetapi Kak Hector tidak salah lagi adalah salah seorang yang paling membekas di hidupku.


Itu pulalah mungkin sebabnya aku bisa jatuh cinta pada Dionysius, seorang pemuda yang baik hati nan lembut yang memiliki kepribadian persis sama seperti Kak Hector. Juga karena kebijaksanaan Kak Hector terpancar pada aura Agamemnon pula, aku menjadikannya sebagai cinta keduaku. Akan tetapi sayangnya, dalam dua hubungan percintaanku itu, tidak ada satu pun yang berakhir bahagia.


Apakah aku tidak layak memperoleh seorang pangeran seperti di dalam cerita dongeng itu?


Lalu bertemulah aku dengan cinta ketigaku, Yang Mulia Helios. Berkali-kali aku ingin memeletnya dengan ramuan cintaku, namun semuanya gagal. Di saat itulah aku baru tersadar bahwa jurus witch cinta-ku telah lama aktif kepadanya, hanya saja itu berfungsi kebalikannya. Akulah yang justru telah terpelet kepada Yang Mulia Helios oleh jurusku sendiri.


Itu di saat aku masih berwujud kura-kura karena kutukan Isis. Yang Mulia Helios di kala itu mencium aku. Mungkin di saat itulah jurusku itu aktif tanpa kusadari lantas mengontrol aku sepenuhnya untuk mencintai Yang Mulia Helios.


Alhasil, aku kembali ke wujudku semula. Namun, aku bisa merasakan bahwa ada sedikit perbedaan di tubuhku.


Ada koneksi terwujud di antara aku dan Yang Mulia Helios dan itu menjadi penyebab aku bisa memakai mana alam untuk menggunakan sihir, padahal seorang witch seharusnya hanya bisa menggunakan mana mati saja. Dan itu pulalah yang menyebabkan peningkatan mana pool Yang Mulia Helios secara besar-besaran yang tanpa dia sadari telah tumbuh menjadi sehebat ini.


Kalau dipikir-pikir lagi, tiada kemiripan antara Yang Mulia Helios dengan kakakku, Hector. Ketimbang mirip dengan Kak Hector, aku bisa melihat diriku di masa lalu pada Yang Mulia Helios. Seseorang yang kesepian terkucilkan oleh dunia, tetapi dia tetap berupaya sekuat tenaga mempertahankan hati nuraninya agar tidak terkontaminasi oleh kotornya dunia.


Yang Mulia Helios senantiasa melangkah di jalan yang dia yakini dengan penuh percaya diri dan takkan pernah surut tekadnya oleh segala keterbatasannya. Melihat itu, aku pun ingin melindungi dirinya sepenuh hati, melindungi kepolosan tiap sikap yang diambilnya itu. Bagiku, Yang Mulia Helios telah menjadi pedoman hidupku.


Selama hidupku dua ribu tahunan ini, rasa cintaku kepada Yang Mulia Helios-lah yang terindah. Aku tidak peduli bahwa itu berasal dari pelet sekalipun, yang jelas apa yang kurasakan ini nyata dan itu sangatlah indah. Apapun caranya, aku akan melindungi rasa bahagia ini.


“Lucu sekali melihat seorang nenek tua yang telah membuang kemanusiaannya menyamar di dunia manusia dengan sok cantik menggoda pria yang usianya sangat jauh di bawahnya. Hei, apa kalian tidak punya rasa malu?”


Tetapi entah mengapa mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Yang Mulia Helios secara langsung membuat aku sangat sakit hati padahal aku sedari awal hanya ingin berada di sisinya bahkan jika itu bukan hubungan kekasih sekalipun. Dan juga padahal aku tahu bahwa kata-kata yang diucapkannya itu bukanlah tertuju padaku, namun mengapa aku masih merasakan rasa sakit yang begitu menyayat di hatiku?


Seketika aku mengingat kembali ucapan Marie kepadaku.


“Jangan kira witch seperti kita bisa diterima keberadaannya oleh manusia normal dengan mudah. Tidakkah kau juga mendengarkannya sendiri dari mulut tuanmu itu betapa dia menghinakan witch?”


Itulah sebabnya selama aku bisa merahasiakan ini kepada Yang Mulia Helios, kebahagiaan ini akan tetap aku genggam. Jika semuanya berjalan lancar, aku bisa mengubur rahasia ini dalam-dalam untuk selamanya.


Suatu ketika aku berjalan di koridor istana, aku berpapasan dengan kombinasi yang tidak biasanya. Mereka adalah Nunu, Olo, Yang Mulia Lusiana, dan Adam.


Nunu tampaknya masih depresi usai dengan berani dan percaya dirinya menyatakan lamarannya kepada Yang Mulia Helios sebagai reward-nya dalam memenangkan kompetisi di festival hutan monster. Dia yang depresi itu sedang disemangati oleh Olo dan Yang Mulia Lusiana.


“Aku rasanya malu setengah mati setiap kali berpapasan dengan Yang Mulia.”


Kalau sedari awal kamu sudah tahu tidak ada peluang kisah cintamu itu akan berhasil, mengapa kamu nekat mengutarakannya? Kamulah yang telah menggali lubang di kuburanmu sendiri. Aku benar-benar tak dapat bersimpati pada gadis bermata merah itu.


“Aku tahu ini akan gagal, tetapi setidaknya aku ingin mencoba agar perasaanku merasa lega. Bagaimanapun kini aku sudah berusia 23 tahun. Sudah saatnya aku lepas dari cinta pertamaku.”


Benar-benar aneh. Jika itu membuatmu bahagia, mengapa kamu ingin melepaskannya? Selama cintamu itu nyata, kamu tidak perlu menerima jawaban dari pihak lain persoalan perasaan di hati kita adalah milik kita sendiri.


“Nunu, wizard kita yang cantik ini, masih muda. Akan ada banyak pemuda di luar sana yang bersedia melamar Nunu, terlebih dengan Nunu memiliki wajah yang cantik ini.”


Terlihat pujian dari Yang Mulia Lusiana membuat Nunu seketika semringah.


“Ya itu asalkan dia bisa mengurangi sifat anehnya itu saja yang terlalu eksentrik terhadap sihir, terutama sihir ledakan.”


“Apa yang barusan kamu bilang, Junior?!”


“Ah, bukan apa-apa.”


Namun Nunu segera marah ketika Olo, juniornya yang berambut putih itu, mulai mengolok-oloknya.


Jika saja… Ini aku hanya berandai-andai. Jika saja aku memiliki keberanian Nunu itu menyatakan rasa cintaku kepada Yang Mulia Helios, akankah hidupku lebih bahagia atau justru aku akan seketika terjun bebas ke jurang kesengsaraan? Memikirkan itu, jelaslah bahwa berada dalam kondisi seperti sekarang ini adalah jauh lebih baik bagiku.


Namun tiba-tiba ketika Yang Mulia Lusiana menyadari keberadaanku, pertanyaan itu pun muncul dari mulutnya.


“Kalau Yasmin sendiri bagaimana? Kalau tidak salah, tahun ini kamu sudah menginjak usia 25 tahun, bukan? Adakah pemuda yang menarik hatimu?”


Aku menggeleng terhadap pertanyaan Yang Mulia Lusiana itu.


“Tampaknya belum ada, Yang Mulia.”


“Ah, ini pasti karena kamu kelamaan berada di sisi Yang Mulia Kaisar untuk melayaninya sehingga kamu tidak punya waktu untuk menemukan pemuda yang pantas buatmu untuk hubungan asmara. Dasar Yang Mulia itu, dia tampaknya memperhatikan masa depan Albert, tapi tidak denganmu. Kalau begini, bisa-bisa timbul rumor yang tidak sedap yang bisa merugikanmu.”


“Maksud Yang Mulia apa?”


“Mulut para bangsawan itu lebih kejam dari yang bisa kamu bayangkan lho, Yasmin. Mereka bisa saja menggosipimu punya hubungan gelap dengan Yang Mulia Kaisar, tapi aku bisa melihat dengan pasti bahwa Yang Mulia Kaisar hanya melihatmu sebagai seorang A-NAK BU-AH SA-JA.”


Sejak koneksiku dengan Yang Mulia Helios terhubung, sedikit banyak aku bisa menggunakan sedikit kemampuan Yang Mulia Helios untuk merasakan aliran mana. Aku bisa merasakan dengan jelas rona kecemburuan di setiap ujaran Yang Mulia Lusiana itu padaku walaupun dia tampak tersenyum. Melihat bagaimana dia menekankan kalimatnya di bagian akhir, tampaknya instingku itu akurat.


“Hehehe.” Aku pun hanya tertawa kecut mendengar ucapannya itu.


“Ini tidak bisa dibiarkan. Padahal kamu secantik ini, tetapi dibiarkan saja menjadi layu hingga menua. Bagaimana seperti layaknya Albert dan Lilia, tetapi kali ini biar aku yang mencarikan jodoh buatmu, Yasmin?”


Aku hanya menghela nafas panjang lalu menolak tawaran Yang Mulia Lusiana itu secara baik-baik lantas sesegera mungkin meninggalkan tempat itu dengan ekspresi yang setenang mungkin.