Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 63 – KISAH SEPULUH RIBU TAHUN SILAM



Begitu kusadari, aku telah terdampar ke dalam suatu memori ingatan. Sejenak, aku mengira bahwa ini adalah memori ingatan dari Milanda. Namun, begitu aku memandangi cermin, wajah seorang bocah yang berada di usia sekitar 13 atau 14 tahunnya-lah yang terpantulkan oleh cermin.


“Hei, Rizard. Apa yang kamu lakukan di sana? Cepat kemari! Jangan bilang kalau penyakit malasmu itu kambuh lagi ya? Jika kamu malas latihan terus, sampai kapan pun kamu tidak akan pernah bisa mencapai prestasi Tuan Pahlawan Aries.”


Di situ aku baru tersadar, rupanya aku telah merasuk ke dalam memori ingatan sang pahlawan pertama, Pahlawan Rizard. Atau setidaknya itu yang diyakini oleh semua orang di zaman ini. Sejatinya, Rizard hanyalah seorang anak kecil yang dirawat oleh party pahlawan pertama yang sebenarnya itu. Lalu kemungkinan, orang yang disebut sebagai Aries itulah sang pahlawan pertama sebenarnya yang seharusnya dilegendakan.


Lantas bagaimana bisa sejarah sampai dibengkokkan bahwa pahlawan pertama adalah Rizard? Lalu untuk tujuan apa pula itu dirubah?


Aku yang penasaran pun menelisik lebih dalam lagi ke dalam memori ingatan Rizard.


Keadaan sepuluh ribu tahun silam rupanya tiada jauh berbeda dengan keadaan yang sekarang. Bahkan kalau boleh aku menilainya berdasarkan perspektifku, peradaban di era ini jauh lebih maju sebab energi mana masih melimpah ruah di tempat ini.


Aku pun mengikuti seorang pemuda yang tampak berusia seusia tubuhku yang asli. Aku mengamati pemuda itu berinteraksi dengan sekelilingnya, lalu di situlah aku tahu bahwa pemuda inilah yang sepuluh ribu tahun mendatang yakni di eraku sekarang yang dikenal sebagai Arxena, sang ksatria jatuh.


Aku berlatih pedang dengan sungguh-sungguh di bawah arahan Kak Arxena. Meski ini hanyalah di memori ingatan, aku memanfaatkan kesempatan ini baik-baik untuk melatih skill berpedangku. Kapan lagi aku akan punya kesempatan dilatih oleh sang pendekar pedang yang merupakan salah satu yang terhebat di zaman dahulu. Lagipula skill Arxena yang asli dengan Arxena di memori ingatan itu seharusnya hampirlah sama.


Habis berlatih pedang, kami pun beristirahat.


“Hei, Ara, Milanda, tolong siapkan makanan yang enak buatku!”


“Duh, kamu ini ya, Arxena. Sudah kubilangin tuk cuci tangan dulu sebelum makan. Kamu mau jatuh sakit ya karena infeksi bakteri? Dengar ya, luka di tubuh itu bisa disembuhkan dengan seni penyucian, tetapi tidak untuk infeksi bakteri. Bakteri itu tetap akan bersarang lantas meggerogoti tubuhmu.”


Mendengar penjelasan wanita yang bernama Kak Ara itu, Kak Arxena tampak menjadi jijik lantas dia pun menuruti keinginannya dengan segera mencuci tangannya.


“Duh kamu ini mesti dibilangin dulu ya baru melakukannya. Lihat tuh si cilik kita, melakukannya tanpa disuruh sekalipun.”


Kak Ara lanjut berujar seraya menunjukku. Namun karenanya, Kak Arxena pun mulai menatapku dengan pandangan mata yang kesal.


Seketika aku tersadar bahwa peradaban zaman dulu ini tidak hanya maju dari segi arsitektur saja, melainkan dari segi pengetahuan mereka tentang obat-obatan.


Ini benar-benar kalah dibandingkan dengan zaman sekarang di mana kuil suci selalu mendoktrin masyarakat hanya untuk percaya pada seni penyucian mereka saja dan menanamkan di ingatan mereka bahwa obat-obatan produk medis itu semuanya adalah racun.


Aku tidak bisa menyangkal bahwa itu salah sejak prinsip kerja obat memang demikian, memberikan dosis racun tertentu ke tubuh dalam dosis yang kurang dari dosis letal bagi manusia, tetapi cukup untuk membunuh bakteri yang bersarang di tubuh. Makanya, penggunaan obat berlebihan biasanya cenderung akan berubah menjadi racun di tubuh.


Tetapi jelas bahwa pemberian obat di tubuh terkadang memiliki keunggulannya dari menyembuhkan penyakit lewat seni penyucian. Seperti yang dikatakan oleh Kak Ara barusan bahwa skill penyembuhan sejatinya hanya meningkatkan kemampuan regenerasi sel-sel di tubuh, tetapi tak membunuh bakteri yang di mana sebagian besar penyakit disebabkan oleh makhluk yang tak kasat mata itu yang hanya bisa dilihat lewat mikroskop saja.


Belakangan aku mengetahui bahwa Venia dimusuhi di dalam kuil suci juga karena mahir dalam melakukan pengobatan medis. Sama halnya untuk Tuan Erick dan Mbak Anna yang dana penelitian mereka dikurangi karena mereka melakukan penelitian tentang medis yang sangat dibenci oleh kuil suci.


Bahkan, pada saat Kerajaan Rimuru tumbang, tiada kerajaan yang berani bergerak sebab itu juga ulah kuil suci sejak Kerajaan Rimuru adalah kerajaan yang secara terang-terangan mengagungkan obat-obatan medis melebihi seni penyucian kuil suci.


Kami makan siang dengan tenang, lalu aku dan Kak Arxena pun segera hendak pergi untuk melanjutkan pelatihanku di bawah arahan Kak Arxena. Namun sebelum aku dan Kak Arxena pergi, Kak Milanda sempat menanyakan tentang keberadaan sang pahlawan Aries dan rekan tankernya, anggota party pahlawan yang terakhir yang belum sempat kutemui tersebut, kepada Kak Arxena.


Kak Arxena menjawab bahwa mereka saat ini sedang mengadakan audiensi dengan raja perkara adanya bahaya dari barat yang mendekat.


Memikirkan itu saja, membuat hatiku terasa panas karena aku yang dari masa depan benar-benar tahu bahwa itulah titik krusial yang membawa sejarah benua ke arah yang sekarang. Namun, tiada yang dapat kuperbuat di tempat ini sejak saat ini aku hanyalah berada di dalam memori ingatan. Tiada yang berubah di dunia nyata jika aku merubah masa depan di sini.


Aku pun hanya melanjutkan pelatihanku bersama Kak Arxena, memanfaatkan waktu emas yang sangat berharga ini untuk memperoleh ilmu berpedang dari sang anggota party pahlawan yang pertama tersebut.


Tetapi apa ini? Tak kusangka kalau kepribadian Kak Arxena benar-benar sempit. Kejadian di mana Kak Ara memujiku dengan menjatuhkannya, tampaknya masih berbekas di ingatan Kak Arxena sehingga bukannya melatihku, Kak Arxena kebanyakan menyiksaku dengan pukulan yang tak berarti.


Yah, tapi mari anggap saja ini sebagai latihan ketahanan mental untuk aku bertumbuh kuat.


Mengapa aku mengatakan pelatihan mental dan bukannya pelatihan fisik padahal fisik ini yang jelas-jelas tersakiti? Mungkin kalian lupa bahwa aku sejatinya adalah Helios de Meglovia dan tubuhku baik-baik saja di luar. Apa yang sedang disiksa Kak Arxena saat ini hanyalah tubuh seorang anak kecil bernama Rizard di memori ingatannya.


Malam harinya, aku berkunjung ke kediaman Kak Ara. Aku memanfaatkan waktu senggang yang ada saat itu sejak Kak Aries yang merupakan pemimpin party mereka belum juga pulang dari istana untuk berupaya merauk ilmu pengobatan yang sebanyak-banyaknya dari Kak Ara.


Kalau dipikir-pikir, Leon sempat sakit diare setelah memakan sembarang bahan di hutan sewaktu ekspedisinya di selatan kerajaan. Seingatku, itu terjadi di sekitar usianya yang kedua belas sejak aku saat itu berusia tiga belas tahun.


Leon sangat percaya diri dengan kemampuan pemulihan sihir dari kuil suci. Dia begitu yakin bahwa tiada satu pun sakit yang tidak dapat diobati oleh mereka. Alhasil, Leon sempat mengamuk karena sakitnya itu tak kunjung pula bisa diobati walaupun seluruh anggota terhebat kuil suci yang bertempat di istana sudah diturunkan. Itu wajar saja karena kekuatan sihir pemulihan bukanlah omnipoten yang bisa menetralkan racun di perut.


Sejak saat itu, Leon pun jadi trauma dan tak pernah lagi mau makan sembarangan makanan kecuali yang benar-benar dimasak dengan baik.


Jika mengingat masa lalu itu kembali, aku jadi tertawa. Mungkin, jika skill pengobatanku bisa meningkat ke ranah yang lebih tinggi lagi, jika suatu saat Leon, atau saudaraku yang lain, Kak Tius atau Ilene jatuh sakit, sedangkan tidak ada yang bisa mengobati mereka, aku bisa menunjukkan skill-ku kepada mereka untuk mengobati mereka.


Yah, tentu saja aku tidak pernah berharap bahwa itu benar-benar terjadi sejak aku lebih mengharapkan kalau mereka bertiga akan selalu dalam kondisi yang baik-baik saja.


“Dik Rizard, kok kamu tiba-tiba tertarik dengan ilmu pengobatan? Biasanya kamu kan hanya tertarik dengan pedang saja?”


Aku pun terbuyar dari lamunanku. Aku seketika kebingungan tentang apa yang harus kujawab pada pertanyaan Kak Ara yang ada di memori ingatan itu.