Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 89 – MENJADI AYAH



“Cepat kau pergi dari sini, dasar anak pembawa sial! Karenamu… Karenamu… Leonku yang malang… Hiks… hiks…”


Ibunda dari keadaan histeris tiba-tiba saja jatuh tersungkur dan menangis. Aku ingin menggapainya, tetapi aku sadar bahwa aku hanya akan memperburuk situasinya saja jika menyentuhnya sehingga aku pun memutuskan untuk membiarkannya menangis sepuasnya dengan didampingi oleh Kak Vierra untuk menenangkannya.


Tampaknya bahkan hingga dua tahun berlalu, Ibunda belum bisa melupakan kepergian Leon. Yah, itu wajar saja jika seorang ibu tak tega melihat kepergian anaknya mendahuluinya ke alam lain. Namun, jika itu adalah aku yang berada di posisi Leon, akankah Ibunda juga akan menangisi aku seperti itu?


“Master? Apa keadaannya baik-baik saja?”


Mungkin karena saking ributnya keadaan di dalam sehingga suaranya sampai tembus keluar, Albert pun khawatir sehingga bergegas masuk demi mengecek situasi di dalam.


Aku menggeleng terhadap pertanyaan Albert itu sebagai isyarat bahwa tidak ada sesuatu yang perlu dia khawatirkan. Namun, tampaknya Albert salah menafsirkan isyaratku itu dan malah bertambah khawatir sehingga bergegas mendekatiku untuk mengecek keadaanku.


“Theia! Hentikan! Apa yang sudah kamu lakukan pada anak kita sendiri?! Memangnya Helios itu pembawa sial atau semacamnya?! Ingat bahwa dia itu juga anak kita! Apa hanya karena orang lain menganggap dia hina, kamu juga turut menghinakan dia?! Kita sebagai orang tuanya justru haruslah yang mampu melindunginya! Nak Helios, maafkan ibumu Nak. Ibumu hanya belum mampu melupakan kepergian adikmu saja.”


Ujar Ayahanda sembari tersenyum ramah. Hanya saja, betapa aku ingin mengataan bahwa orang yang sementara dibelai rambutnya olehnya itu adalah Albert.


Helios anakmu itu adalah orang yang tepat berada di sebelah Albert, Ayah!


Apakah Ayahanda sudah terlalu rabun sehingga tidak bisa melihat dengan jelas lagi dan bahkan sampai tidak bisa membedakan antara aku dan Albert yang berbadan beruang itu? Tidak mungkin kan kalau Ayahanda sampai melupakan muka anaknya sendiri?


Namun Ibunda segera menentang perkataan Ayahanda itu, “Kamu berkata demikian padahal kamu sendiri setiap hari ketakutan tidak bisa tidur karena khawatir kapan anak terkutuk itu akan menikammu dari belakang!”


“Theia! Sudah kubilang cukup! Hentikan semua perkataanmu itu!”


Aku bahkan tidak bisa lagi merasakan kesedihan di hatiku. Aku telah terlalu shok melihat penolakan kuat ibuku terhadap eksistensi anaknya sendiri. Dan juga, aku tak tega melihat Ayahanda terus-terusan seperti ini. Jika dia berlama-lama marah dengan meninggikan suaranya di sini, melebihi famornya sebagai raja yang bijaksana akan rusak, aku takut bahwa penyakit Ayahanda akan bertambah parah.


Aku pun bergegas berdiri, lantas kutundukkan badanku 90 derajat memberi penghormatan kepada kedua orang tuaku.


“Ayahanda, Ibunda, maaf telah mengecewakan kalian.”


Tanpa sadar, air mataku menetes. Itu bukanlah air mata kesedihan. Lebih daripada kesedihan, itu adalah air mata frustasi yang kecewa melihat diriku yang tak diakui oleh kedua orang tuaku sendiri. Mereka lebih peduli tentang ramalan suci kuil suci melebihi anak yang telah mereka lahirkan dan besarkan sendiri.


Apa hanya karena kuil suci mengatakan bahwa aku adalah seseorang yang hina, mereka akan langsung menelannya mentah-mentah? Padahal aku adalah anak kandung mereka sendiri. Bukankah ini sangat tidak adil buatku? Mengapa aku harus mengalami nasib yang kejam seperti ini?


Namun kemudian, tanpa kuduga Ayahanda memelukku. Setidaknya pelukannya itu adalah pelukan yang hangat. Ah, setidaknya masih ada sedikit rasa sayang dari orang tuaku kepadaku.


Itu wajar saja karena berbeda dari Ayahanda, Ibunda adalah keturunan langsung keluarga Kerajaan Meglovia dari generasi-generasi sebelumnya yang sangat mengagung-agungkan kuil suci sekte penyembah api suci.


Suasananya hening sesaat. Di saat itulah aku mengambil kesempatan tersebut untuk meminta izin kepada Ayahanda dan Ibunda untuk memeriksa keadaan kesehatan Ayahanda. Ibunda terlihat ragu, namun Ayahanda segera mengizinkannya.


Badan lemas dengan pandangan linglung, pernafasan senantiasa terengah-engah, keseringan minum dan buang air kecil, serta gejala-gejala lain yang mendampingi. Ini baru dugaan, tetapi aku memprediksi bahwa Ayahanda sedang mengidap penyakit diabetes. Namun ini tidak baik sebab ketika aku memeriksa tekanan darah Ayahanda, Beliau juga memiliki tekanan darah tinggi.


Untuk memastikan bahwa apakah Ayahanda memang mengidap penyakit diabetes, aku pun mengambil sampel darah Beliau. Namun, sebagai jaga-jaga jika diagnosisku itu tepat, aku pun menyarankan kepada Ayahanda agar demi kesehatannya, Beliau harus menghindari dulu makan makanan manis yang terbuat dari gula serta stres yang berlebihan.


Aku menyarankan kepada Ayahanda untuk memperbanyak jalan-jalan pagi dan sore hari serta banyak-banyak istirahat dengan menyerahkan saja untuk saat ini semua urusan kerajaan kepada Kak Tius atau kepada Ibunda agar Beliau bisa banyak istirahat.


Habis memeriksakan kondisi Ayahanda, aku meminta tolong kepada Kak Vierra untuk mengawasi Ayahanda baik-baik agar Beliau menjalankan semua nasihatku itu. Setelah itu, aku pun berusaha kembali memberi salam kepada Ibunda sebelum akhirnya meninggalkan kediaman istana utama.


Setelah semua urusan pendirian toko farmasi beserta segala *****-bengeknya selesai, aku pun segera meninggalkan ibukota kerajaan dan bergegas kembali ke Kota Painfinn. Aku percaya bahwa selebihnya, Nona Anna dan Tuan Erick akan mengurusnya dengan baik. Tidak lupa pula, aku mengabari Yasmin untuk langsung pulang saja ke Kota Painfinn begitu urusannya di kota utara juga sudah selesai.


Sepuluh hari perjalanan, akhirnya aku tiba kembali ke Kota Painfinn. Sungguh perjalanan yang melelahkan. Namun akhirnya, kini aku bisa kembali bernafas lega. Tiada lagi orang-orang kolot pengikut setia kuil suci yang senantiasa melayangkan tatapan menusuk kepadaku di sini. Memang, Kota Painfinn-lah kota yang ternyaman buatku.


Begitu aku tiba kembali ke Kota Painfinn, yang aku lakukan pertama kali adalah memeriksa sampel darah ayahku dengan meminjam klinik Venia. Kadar gula darah 320 mg/dl. Aku kurang yakin karena aku mengambil sampel darah ayahku sebelum dia berpuasa, tetapi nilai itu sendiri sudah sangat tinggi sehingga besar kemungkinan bahwa Ayahanda benar-benar mengidap penyakit diabetes.


Aku pun segera mengirimkan surat kepada Ilene tentang hasil diagnosisku itu dan mengatakan bahwa akan segera berkunjung kembali ke ibukota kerajaan dalam waktu dekat demi memeriksa kondisi Ayahanda secara lebih detail.


Bulan demi bulan berganti, akhirnya aku menerima kabar bahwa toko farmasi pertama di Kota Megdia, ibukota kerajaan, telah resmi dibuka. Semuanya berjalan dengan lancar. Hari itu adalah hari yang membahagiakan jika saja istriku tidak jatuh sakit hari itu.


Aku segera membawa Talia yang sakit ke klinik Venia untuk perawatan. Sedari tadi malam, istriku terus saja mengeluh mual-mual dan makanan apapun yang diberikan kepadanya, dia selalu mengeluh bahwa rasanya tidak enak. Jika terus begini, aku khawatir bahwa kesehatannya akan memburuk.


Namun, begitu kumemasuki klinik Venia, suasananya benar-benar telah berubah ke arah yang lebih baik. Sebagai bentuk penghargaan kepadaku karena telah berjasa dalam pendirian toko farmasi pertama di ibukota kerajaan itu, stok obat yang dibuat oleh mereka segera dikirmkan ke kota ini bahkan sebelum tokonya sendiri resmi didirikan.


Berkatnya, kini stok obat di klinik Venia benar-benar telah lengkap bahkan sampai ada satu bagian khusus yang melayani hanya untuk pengambilan resep obat saja. Namun lebih daripada itu, aku benar-benar kagum terhadap bakat Venia dalam mengelola kliniknya.


Begitu memasuki klinik, Venia segera melakukan berbagai tes untuk memastikan kondisi kesehatan Talia. Begitu serangkaian tesnya selesai, entah mengapa dia malah tersenyum padaku.


“Selamat, Yang Mulia Pangeran. Anda akan segera menjadi Ayah.”


Itulah yang dikatakan Venia padaku.