
“Sihir percepatan waktu? Apa itu mungkin dilakukan?”
Aku tidak bisa tidak bertanya-tanya terhadap pernyataan aneh yang diucapkan oleh Dokter Minerva tersebut. Adalah memungkinkan untuk mempersingkat hari menjadi 23 jam dalam sehari atau lebih singkat lagi dengan mengontrol energi alam di sekitar, tetapi waktu itu sendiri tidak bisa dipercepat ataupun diperlambat.
“Ah, tampaknya Yang Mulia salah paham. Maksudku bukan waktu dalam artian sebenarnya, tetapi kita mempercepat prosesnya saja seolah-olah waktu yang lama dalam proses sintesa telah terjadi dalam sekejap.”
“Hmm.”
Aku mengangguk terhadap pernyataan Dokter Minerva tersebut, walaupun sebenarnya aku baru hendak mencerna apa yang baru saja dikatakannya.
“Jika kita mengurangi tekanan udara di sekitar spesimen lantas meningkatkan intensitas dan kecepatan aliran mana alam di sekelilingnya, maka itu sama saja dengan konsep percepatan waktu yang kubicarakan barusan.”
Dokter Minerva menjelaskan sembari menunjukkan prosesnya. Semuanya pun termasuk aku seketika terkagum-kagum begitu menjadi saksi bahwa cara Dokter Minerva itu benar-benar berhasil.
“Kamu rupanya orang yang sangat berbakat, Nak. Yap, karena caranya sudah diketemukan, selebihnya serahkan kepada orang tua ini untuk melakukan perannya.”
“Terima kasih Guru Zizi. Tetapi mumpung Yang Mulia ada di sini, bagaimana jika Yang Mulia yang mengatur kondisi spesimennya? Jika itu Yang Mulia, itu akan jauh lebih cepat dan menghasikan kualitas spesimen yang jauh lebih baik pula.”
Aku bisa segera mengerti apa yang baru saja dikatakan oleh Dokter Minerva barusan. Bagaimanapun, mana alam sulit untuk dikontrol sehingga penggunaannya mungkin hanya akan menghasilkan efisiensi sekitar 6 % saja. Namun aku terlahir spesial dengan bakat mana internal yang mirip dengan mana alam, walaupun hampir sebagian besarnya berupa mana yin.
Dengan penerapan mana-ku pada eksperimen, kuyakin efisiensinya akan meningkat jauh sampai ke taraf 90 %, tidak, bahkan melebihi 95 % bisa saja memungkinkan.
“Nenek, maaf aku dan kawan-kawan sedikit telat. Untuk membalasnya, kami akan melakukan yang terbaik dalam penelitian ini.”
Itu adalah Rasiel, cucu Guru Zizi, yang datang bersama kawan-kawan penelitinya yang lain untuk membantu penelitian ini.
“Oh, cucu manisku tersayang. Padahal Nenek sudah jauh-jauh datang kemari, tetapi mengapa sangat susah melihat wajahmu?”
“Hehehehehehe.”
Demikianlah, di bawah arahan Guru Zizi, proses sintesis senyawa penisilin dari ekstrak jamur alopondria berjalan dengan lancar.
Beberapa tim juga ada yang bertugas mengekstrak daun sirrah lalu memurnikan kandungan sulfonamida di dalamnya.
Lalu yang terakhir, Dokter Minerva-lah yang meneliti komposisi ideal penisilin dan sulfonamida sebagai antibiotik beserta kontra indikasi obat yang dihasilkan.
Semuanya berjalan lancar sehingga tak kusangka kami benar-benar bisa menyelesaikan kloter pertama produksi obatnya sebelum hari itu berakhir.
Aku dan Yasmin lantas segera mendistribusikannya ke desa wilayah Lugwein yang terpapar black death itu. Jika ada yang kukhawatirkan, itu adalah karena kami tidak sempat melakukan uji klinis terhadap obatnya perihal kurangnya waktu. Tetapi karena obatnya sudah melewati simulasi virtual Dokter Minerva, kuyakin semuanya akan baik-baik saja.
Obat pun mulai didistribusikan dengan lancar ke kru medis untuk diberikan kepada para penderita. Semuanya berjalan lancar, setidaknya sampai malam hari itu.
Keesokan paginya, muncullah rumor yang entah berasal darimana yang mengatakan bahwa aku telah mendistribusikan racun untuk membunuh para warga di dalam desa untuk menghentikan penularan penyakit black death. Ini tentu saja seketika tambah memicu kemarahan para warga sekitar.
Para warga pun semakin brutal hendak masuk menerobos desa. Walaupun tidak ada satu pun dari mereka yang berhasil perihal para golem es-ku akan segera mencederai lutut-lutut mereka sehingga mereka tidak akan bisa berjalan lebih jauh.
Namun ketika menyaksikan para warga bandel itu dihajar habis-habisan oleh para golem, hati nuraniku tertusuk. Aku seperti sedang merisak orang-orang tak berdaya di bawah ketirananku, padahal jelas-jelas aku lakukan semua ini demi kebaikan mereka.
Bisa-bisanya mereka mempercayai rumor palsu itu. Apa mereka pikir aku pemimpin yang sekejam itu yang akan meminumkan racun kepada warganya sendiri? Yah, tampilan obatnya memang sedikit mirip racun dengan bau yang menyengat dan rasa yang pahit, juga itu akan menimbulkan sedikit rasa mual dan diare ketika dikonsumsi, tetapi itu benar-benar obat yang akan menyembuhkan penyakit black death.
Bau mayat terbakar yang semakin menyengat yang bisa tercium dari luar juga memperburuk keadaan. Entah darimana rumor itu juga muncul bahwa aku mulai membakari para mayat warga yang telah berhasil aku bunuh dengan racun. Benar-benar rumor jahat yang tak berdasar. Akan tetapi mereka semua justru mempercayai rumor itu.
Setidaknya, bisakah mereka sedikit bersabar untuk bisa melihat hasilnya? Mengapa mereka terlalu frontal seakan aku pernah melakukan kesalahan yang membuatku tidak bisa dipercaya?
Yang membuat aku bertambah sakit hati, tidak hanya para warga yang menatapku dengan jijik, tetapi para prajurit yang kubawa kemari untuk membantu proses penanganan wabah juga ikut-ikutan menatapku secara sentimen. Mungkin hanya Albert seorang di antara mereka yang tidak menaruh prejudice kepadaku. Itu pun, Albert sedikit mulai pula menjauh dariku.
***
Hanya dalam waktu kurang dari tiga bulan, di bawah kepemimpinan Helios, penyakit black death berhasil diberantas dari dataran Benua Ernoa. Ini tentunya tidak lepas pula dari peran Guru Zizi, Dokter Minerva, Rasiel, Sara, serta para peneliti dan tenaga medis lain yang rela mengorbankan segenap jiwa dan raga mereka dalam pemberantasan black death.
Secara luar biasa, tidak ada satu pun dari tenaga medis yang turut jadi korban perihal bencana itu. Ini tentunya karena sedari awal mereka memiliki perindungan sihir suci sehingga penyakit black death pun lebih sulit untuk menembus pertahanan tubuh mereka.
Akan tetapi, hanya sekitar 76 % dari warga desa yang terjangkit black death yang dapat diselamatkan. Sekitar 600 orang dari warga desa harus menjadi korban kekejaman black death. Namun sekali lagi itu adalah black death, penyakit yang telah meruntuhkan seketika pondasi kekaisaran kuno yang telah berdiri selama ribuan tahun.
Walaupun 600 orang itu terbilang banyak, jumlahnya masih lebih kecil dibandingkan dengan korban meninggal sewaktu bencana wabah kolera di Kota Lobos 4 tahun silam. Tidak dapat dipungkiri bahwa selama waktu itu, Helios telah berupaya semaksimal apa yang bisa dia perbuat untuk meningkatkan keterampilan medis kekaisarannya.
Terlebih, dalam keadaan ketiadaan obat sewaktu penyakit black death itu menyerang, Helios mampu berpikir jernih untuk segera mengambil tindakan penanganan lantas mulai menyusun rencana penemuan obatnya yang bahkan bisa dia realisasikan dalam kurun waktu kurang dari sehari, tidakkah itu sudah merupakan prestasi yang luar biasa?
Penyakit yang seharusnya bisa meruntuhkan pundi-pundi kekaisaran yang terdiri dari jutaan penduduk, Helios berhasil tekan hingga pada titik di mana hanya ada 600 korban jiwa yang meninggal.
Bukankah Helios seharusnya dihargai akan prestasinya itu?
Tetapi apa yang didapatkannya adalah hujatan warga kepadanya.
‘Kaisar tidak mengizinkan kami menemui keluarga kami di saat-saat terakhirnya’-kah, ‘Kaisar membakar mayat keluarga kami dengan kejam’-kah, sampai pada rumor palsu seperti Helios tega membakar orang yang masih hidup terus bergema di bagian utara kekaisaran itu.
Air susu telah dibalas dengan air kutukan. Perbuatan yang di mana Helios seharusnya mendapatkan pujian, malah berakhir dengan dirinya dicaci maki oleh seluruh warga yang diselamatkannya dengan segenap ketulusan hatinya itu.
Hingga pada puncaknya, insiden itu pun terjadi.
Itu di kala Helios usai menengok sisa-sisa pasien penderita black death yang sebentar lagi akan sembuh.
Selama ini Helios telah lengah. Dia terlalu yakin akan vitalitas tubuhnya sejak dia memiliki mana pool yang besar. Namun pada akhirnya, dia pun mulai menunjukkan gejala terinfeksi oleh black death.
“Kuhuk.”
Helios seketika memuntahkan darah.
“Master!”
Yasmin yang melihatnya dari jauh segera ingin menghampiri tuannya itu untuk memastikan kondisinya. Namun Helios segera membangun blok es antara dirinya dan Yasmin. Itu tentu saja tindakan yang diperlukan sejak black death mampu menyebar via udara.
Akan tetapi kemudian, di dekat Helios telah ada beberapa orang. Itu adalah beberapa di antara warga yang dendam padanya karena tidak dipertemukan dengan keluarga mereka sewaktu insiden kubah tersebut.
Padahal kini keluarga mereka telah berangsur-angsur sembuh, tetapi dengan tidak tahu malunya mereka menaruh dendam kepada Helios yang telah berjuang mati-matian menyelamatkan keluarganya itu dari maut.
Awalnya mereka tidak berniat melakukannya dan itulah sebabnya Helios tidak bisa mendeteksi hawa membunuh yang datang dari mereka. Namun begitu melihat kondisi Helios melemah dengan memuntahkan darah, seketika timbul niat jahat di hati mereka.
Tanpa ragu-ragu, ketiga orang itu meraih tombak yang menganggur yang merupakan senjata yang tidak sengaja ditinggalkan oleh Damian yang sebenarnya hendak diserahkannya kepada prajurit yang bertugas. Lalu dengan kejamnya, mereka menusuk Helios dari belakang hingga tembus ke bagian depan tubuhnya.
Naas, itu dilakukannya ketika kondisi tubuh Helios melemah sehingga perlindungan aura otomatis yang padahal bisa menahan seratus ribu kali kekuatan tusukan seperti itu dalam keadaan normal, justru tidak bisa aktif.
Yasmin yang dipisahkan oleh tembok es raksasa itu hanya bisa melihat tuannya jatuh terkapar ke tanah dengan bersimbahkan darah.