
“Pertahankan formasi kalian! Hei, kau jangan terlalu maju! Jika ada monster yang menyergapmu, kita tidak akan bisa melindungimu. Hei, kau juga jangan terlalu di belakang! Lindungi para damage dealer dengan baik!”
Olo dengan suaranya yang keras dan menggelegar itu berperan sebagai ketua pada party pembasmian dungeon liar.
“Bolehkah aku menggunakan sihi ledakan sekali saja, Junior?”
“Hah! Senior Nunu juga. Harap tahan diri Senior melakukan itu karena kita ada di bawah tanah! Apa yang Senior lakukan jika sampai atapnya roboh karena sihir Senior dan kita jadi sampai terkubur di bawah sini untuk selamanya?!”
“Ah, itu benar juga, Junior. Maaf karena aku tidak memikirkannya.”
Adrenalin Nunu seketika terpacu begitu dia menyaksikan banyak yang panjang berdiri dengan tegak dan keras di sekitar mereka. Hanya ada satu di pikirannya, bagaimana jika sihir ledakannya itu merobohkan sesuatu yang kokoh dan kekar nan panjang itu.
Namun, dia segera sadar bahwa itu adalah keputusan yang buruk sejak mereka ada di dalam goa.
Nunu pun menggunakan tombak pemberian sang tuan untuk membelah tiap bagian tubuh para monster semut raksasa itu.
“Semuanya support para damage dealer dengan baik.”
“Siap!”
Olo sejenak terkesima akan peningkatan kemampuan Nunu yang sebelumnya di desanya hanya merupakan gadis lugu pendiam yang eksentrik yang sangat terobsesi dengan sihir ledakan. Olo sepenuhnya sadar bahwa dulu hal itu dilakukan Nunu untuk menahan rasa kekecewaannya yang memiliki sirkuit sihir cacat sehingga hanya bisa melakukan satu sihir, tetapi dengan impak yang luar biasa, tiap sekali seharinya.
Tombak pemberian Helios itu benar-benar membantu Nunu mengatasi kekurangannya itu dan kini akhirnya Nunu mulai tertarik pada sihir lain yang tidak memberikan impak ledakan yang hebat. Nunu kini bisa menggunakan mana-nya sedikit demi sedikit berkat pengaturan artifak tombak.
“Kalau menatapnya seperti ini, sudah kuduga Senior memang cantik.”
“Eh, apa tadi yang kau bilang, Junior?”
Olo lengah sehingga tanpa sadar mengutarakan apa yang ada di dalam pikirannya. Sialnya itu terjadi ketika keributan sementara teredam oleh suasana. Nunu pun dapat mendengar dengan jelas ucapan Olo tersebut.
“Senior memang eksentrik, sudah kuduga dari Senior yang pernah merusak festival yang diadakan kepala suku.”
“Kamu!”
-Pak.
“Ouch.”
“Sekali lagi kamu mengungkit kejadian memalukan itu, akan kujitak kau hingga amnesia dan tidak lagi mengingat kejadiannya.”
“Jangan dong, Senior. Itu kan kejadian yang indah buatku.”
“Kamu?!”
“Hahahahahahaha.”
Para monster semut berhasil diatasi dengan mudah oleh party Olo dan kawan-kawan. Setelah sang bos monster dungeon kalah, dungeon secara instan pun tertutup dengan sendirinya dari dalam tanah seolah tidak pernah ada sedari awal.
Namun, itu bukan satu-satunya dungeon liar yang terbentuk di kota selatan sejak Dungeon Apes musnah. Masih ada seratus lebih dungeon liar lainnya.
“Ketua, apa ini keputusan bijak kita membersihkannya satu-satu begini?”
“Aku juga setuju, Ketua. Akan lebih menghemat waktu bagi kita membagi pasukan ke tim yang lebih kecil lagi agar pembasmiannya bisa lebih cepat.”
Olo mendengarkan nasihat bawahannya itu dengan bijak. Namun setelah pertimbangan yang matang, Olo pun memberikan jawabannya,
“Tidak. Dua puluh orang dalam satu tim adalah jumlah minimal yang harus diterapkan di mana salah satunya harus ada pengintai. Kita tidak tahu bahaya jenis apa yang menanti di dalam dungeon. Mungkin kita beruntung saja selama ini karena memperoleh dungeon yang mudah. Bisa saja kita bertemu monster yang lebih kuat dari yang kita prediksi. Semakin banyak orang di dalam tim, semakin kita memperbesar peluang kita selamat bersama di dalam dungeon.”
“Aku juga sepakat dengan pendapat Junior. Walaupun para wizard bisa memprediksi kekuatan monster di dalam dungeon lewat tekanan mana, akan selalu saja ada monster ambigu yang kemampuannya bisa lebih hebat dari jumlah mananya. Ataukah kita juga bisa saja salah dalam memprediksi jumlah mana yang rendah sebagai monster yang lemah padahal itu karena monsternya yang sedikit, namun sangat kuat.”
Nunu mendukung pendapat Olo sehingga tidak ada lagi perdebatan di dalam tim itu.
“Lagipula perintah utama dari Yang Mulia Kaisar Helios adalah keselamatan, bukan menghabisi monsternya. Kita lakukan saja dengan maksimal kemampuan kita lalu kita serahkan segala keputusannya kepada Yang Mulia. Dan seperti yang sudah kukatakan sebelum-sebelumnya, jika terjadi apa-apa dan tampak tim akan dimusnahkan, pengintai bertugas untuk dapat berlari keluar dengan selamat dari dalam dungeon untuk melaporkan kejadiannya ke dunia luar.”
“Kamu mengatakan sesuatu yang menyeramkan, Junior.”
“Begitulah adanya. Sejak kita menjadi prajurit, artinya kita siap untuk mengorbankan nyawa kita demi kekaisaran kapan saja.”
“Hmm.”
Tangan Nunu seketika bergetar begitu mengingat bahwa di setiap pertarungan itu, akan ada selalu kematian yang menanti kapan saja mereka lengah.
Olo yang melihat hal itu langsung merengus lalu menepuk rambut Nunu yang lebih pendek darinya kuat-kuat.
“Tenang saja, Senior. Juniormu ini bukanlah orang yang lemah. Apapun yang terjadi, aku pasti akan melindungimu.”
Olo tersenyum. Entah mengapa di kala itu, Nunu melihat senyum juniornya itu begitu bersinar. Ini baru pertama kalinya sejak Helios, ada seseorang yang bisa membuat hatinya berdebar-debar.
Party Olo yang beranggotakan 13 swordsman, 5 wizard, dan 2 pengintai pun mulai memasuki dungeon selanjutnya.
Lalu dari dalam rawa pun, para lizardsman terus bermunculan.
“Ah, aku paling takut dengan makhluk berlendir! Junior, cepat singkirkan makhluk-makhluk itu!”
Nunu segera bersembunyi di balik badan Olo, sementara Olo segera memancangkan tombaknya ke depan.
“Party, bersiap untuk formasi C!”
“Siap!”
Para anggota party merespon ucapan Olo. Tak lama kemudian, Olo memancangkan tombaknya lantas menebas dengan gesit dan cepat tiap lizardsman yang badannya berlendir itu. Formasi terbentuk dalam bentuk panah di mana para petarung melindungi wizard mereka.
Olo bisa sedikit mana, namun dia lemah dalam pemahaman aura. Itulah sebabnya yang selama ini menghalanginya ke ranah swords master. Tapi dari segi kelincahan pertarungan, dia tak ubahnya sehebat para swords master. Serangan petirnya pun cukup mematikan. Itulah sebabnya Helios bisa menunjuk Olo sebagai pimpinan pasukan istana tanpa adanya pertentangan yang berarti.
Akan tetapi, kali ini lawannya adalah para lizardsman yang juga terkenal akan kelincahannya. Party Olo yang biasanya mampu menang dengan mengandalkan kelincahannya, kali ini tidak bisa demikian.
Di saat itulah, seekor lizardsman berhasil menyelinap ke area titik buta Olo dan hendak akan memutus tenggorokannya.
“Junior!”
Nunu tanpa pikir segera berlari menangkal serangan itu menggantikan Olo. Untunglah perlindungan otomatis artifak tombak api buatan Helios yang dihadiahkan kepada Nunu itu segera teraktifkan dengan sendirinya sehingga serangan sang lizardsman tidak berhasil mengenai Nunu.
Sang lizardsman terpental ke belakang. Nunu pun menembakkan sebuah meriam sihirnya yang berharga.
-Prang.
Meriam sihir itu seketika melubangi perut sang lizardsman sekaligus dinding yang berada di belakangnya.
Akan tetapi, para lizardsman yang melihat kesempatan yang ada di sekitar mereka, segera menaruh perhatiannya pada Nunu yang lengah lantas serta-merta maju untuk menyerangnya.
“Senior!”
-Slash, slash, slash.
Namun sebelum para lizardsman itu memiliki kesempatan untuk melukai Nunu, mereka harus merasakan tajamnya tombak Olo terlebih dahulu.
“Kamu ini ceroboh sekali, Senior! Mengapa kamu melompat begitu saja ke hadapan monster?!”
“Habisnya Junior akan terluka.”
“Kamu pikir aku begitu lemahnya sehingga aku harus diselamatkan olehmu?! Lagipula mengapa kamu memakai mana kamu yang berharga hanya untuk membasmi monster kecil yang tidak ada apa-apanya?”
“Tapi…”
Olo seketika tersadar. Dia tidak sepatutnya marah. Nunu sampai berbuat demikian karena sedari awal dirinyalah yang menunjukkan kelemahannya.
“Tidak. Ini salahku. Maaf, Senior.”
“Junior…”
“Tersisa berapa lagi meriam sihir yang bisa Senior gunakan?
“Karena sekarang aku bisa menggunakan maksimal 8 meriam perharinya dan kini aku baru menggunakan satu, jadi masih tersisa 7 buah.”
“Syukurlah. Harap berhematlah. Pertarungan kita masih panjang.”
“Aku mengerti, Junior.”
“Kita harus bertahan sampai bala bantuan dari ibukota tiba.”
Nunu hanya terdiam. Dia tidak bisa fokus mendengarkan instruksi juniornya itu. Ada rasa berdebar-debar di jantungnya yang tak dapat dijelaskannya.
Di samping itu, dia heran dengan sikapnya sendiri yang berani menggunakan nyawanya sendiri sebagai tameng karena tak ingin Olo terluka. Wajah Olo yang kecoklatan dengan rambut putihnya yang bersinar entah sejak kapan begitu menarik perhatian Nunu.
Nunu baru tersadar bahwa dia tidak lagi melihat Olo sebagai juniornya. Olo yang dulunya kecil itu sudah tumbuh menjadi pria usia 21 tahun yang dewasa. Nunu tanpa sadar telah jatuh cinta pada junior yang selalu bersamanya itu.
“Benar. Kita harus bertahan hidup karena masih ada yang ingin aku pastikan denganmu.”
“Hmm?”
Perkataan itu jelas-jelas membingungkan Olo.
“Tidak, bukan apa-apa kok. Karena aku sendiri juga masih bingung tentang semuanya. Kuharap Junior tidak akan mengecewakanku.”
Senyum lembut Nunu itu seketika menenangkan hati Olo.