Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 72 – MISTERI RAHIB NGEZOT



Damian menggunakan pedangnya untuk menebas sang ratu monster tarantula menjadi tiga bagian. Sang ratu monster pun kalah dan kini yang tersisa adalah pembasmian sisa-sisa monster yang telah dalam kondisi kacau-balau sejak ratu mereka menghilang.


Namun demikian, hingga larut malam pun pembasmian para monster tampak belum pula akan segera berakhir. Di waktu-waktu itu, Albert dan yang lain akhirnya juga sampai ke Kota Painfinn lantas segera membantu kami melaksanakan penumpasan monster.


Tanpa terasa, fajar telah menyingsing sebelum akhirnya kami menyelesaikan penumpasan itu.


Kulihat, Yasmin segera menghampiriku.


“Master. Syukurlah Anda baik-baik saja. Anda tahu betapa khawatirnya aku pada keadaan Anda di sana.”


Sembari mengatakan itu, Yasmin memelukku erat-erat. Ekspresinya terlihat datar, tetapi tampak dia mengeluarkan air mata.


Aku bisa segera tahu bahwa tidak hanya kami yang sedang menjalankan ekspedisi saja yang mengkhawatirkan keselamatan kami sendiri, orang-orang yang menunggu kepulangan kami pun sama khawatirnya.


“Yosh. Yosh. Tidak apa-apa, Yasmin. Kami berhasil pulang dengan selamat.”


Aku membelai rambut lembut wanita itu seraya tersenyum padanya.


“Master. Master!”


Lalu Yasmin pun semakin memelukku erat-erat.


Di luar dari kekuatannya yang overpower yang tersembunyi di balik tubuhnya yang ramping itu, bagiku Yasmin terlihat tidak lebih dari sekadar wanita biasa yang juga bisa menangis memikirkan seseorang.


Oleh karena itu, mana mungkin aku bisa mempercayai perkataan Milanda yang mengatakan bahwa sosok sejatinya dari Yasmin ini adalah seorang witch.


Witch. Berbeda dengan magician, seorang witch menggunakan sihir yang bertentangan dengan hukum alam sehingga keberadaannya berpotensi untuk menghancurkan keseimbangan alam dan pada akhirnya akan menghancurkan dunia. Sama seperti bagaimana Angele Rosse Barthey lima ratus tahun silam dulu sempat hampir menghancurkan benua di bawah pengaruh sihir wabahnya.


Mana mungkin Yasmin adalah sosok yang sama seperti itu. Jikalau pun Milanda sama sekali tidak bermaksud membohongiku, dia pasti telah keliru akan sesuatu. Dia pasti telah menyalahpahami Yasmin.


Aku tahu benar bahwa mana mungkin Yasmin itu adalah seorang witch.


Justru yang ada, jika aku menaruh curiga, itu kepada Milanda dan memori ingatan yang dia coba tunjukkan kepadaku. Memori ingatan itu sendiri terlihat orisinil dan tidak ada tanda-tanda tampak telah dimanipulasi di dalamnya sehingga aku cukup yakin kebenarannya.


Namun, bisa jadi saja ada skill yang di luar pengetahuanku saat ini yang mampu menciptakan rekaman palsu memori ingatan sehingga bahkan aku sendiri yang sangat sensitif terhadap aliran mana dan expert dalam hal menemukan kepalsuan atau rekayasa memori, bisa tertipu olehnya. Itulah sebabnya untuk saat ini, aku hanya menaruh tingkat kepercayaan sebesar delapan puluh persen saja pada memori ingatan yang ditunjukkan oleh Milanda kepadaku itu.


Melupakan itu, informasi yang datang dari sang witch Angele lebih membuatku shok. Tentang keberadaan Rahib Ngezot, seorang penasihat spiritualis raja Kerajaan Ondzel dari sepuluh ribu tahun silam.


“Apa yang… Sudahlah, itu tidak penting. Jadi, apa tujuanmu kemari? Jangan bilang kamu hanya mau jalan-jalan saja ke sini, kan?”


“Tentu saja tidak. Tuanku bisa merasakan energi Rahib Ngezot dari balik kekacauan ini. Itulah sebabnya Tuanku segera mengutusku kemari bersama Nyonya Isis untuk segera memastikannya.”


“Kamu tahu banyak juga rupanya walau kau hanya manusia dengan umur pendek.”


“Jangan mengada-ada! Mana ada manusia yang masih hidup bahkan setelah sepuluh ribu tahun berlalu! Jangan bilang kalau dia juga adalah anak buah Raja Iblis yang diberikan keabadian olehnya!”


“Hahahahahahaha. Manusia ya? Rahib Ngezot itu manusia? Aku jadi ingin tertawa mendengarnya. Pastinya, jika wujud samarannya di era ini memang benar-benar pelaku di balik kekacauan saat ini dan sedang mengintai pembicaraan kita, kuyakin dia akan tertawa terbahak-bahak.”


“Jadi kamu mau bilang bahwa Rahib Ngezot atau siapapun itu namanya adalah sosok non-manusia yang memiliki keabadian dan mampu menyamarkan wujudnya sebagai manusia di setiap era bahkan sampai sekarang? Dan kemungkinan bahwa pelaku yang telah membuat kekacauan di Kota Painfinn saat ini adalah sosok Rahib Ngezot yang sedang dalam samaran barunya itu?”


“Ups, aku tampaknya kebanyakan bermain bersama kalian saking menyenangkannya. Aku akhirnya bisa menyaksikan sendiri secara langsung orang yang berhasil meluluhkan hati the second. Tapi apa boleh buat, Nyonya Isis sudah menyuruh aku untuk kembali. Tapi kita bisa bertemu lain kali kan? Jadi untuk saat ini, aku pamit dulu.”


Kurang lebih, begitulah isi pembicaraanku bersama sang witch Angele. Aku tidak bisa mempercayai seratus persen ucapannya. Aku tidak bisa memastikan bahwa tidak ada tipuan di balik ucapannya itu sejak dia adalah musuh. Walaupun informasinya benar sekalipun, dia pasti hanya akan memberikan informasi yang menguntungkan bagi diri mereka sendiri.


Namun, jika keberadaan Rahib Ngezot benar-benar ada, tampaknya aku harus segera merubah sedikit rencanaku. Entah ini firasat atau hanya skeadar rasa curiga saja, entah mengapa aku berpikir bahwa tempat Rahib Ngezot menyembunyikan identitasnya saat ini berada pada kuil suci.


Bukannya aku mengatakan ini karena membenci kuil suci yang telah memberikan ramalan tiran padaku. Ini murni berasal dari deduksi yang logis mengingat tindakan mencurigakan apa saja yang telah dilakukan oleh kuil suci dari balik layar.


Bagaimanapun, untuk saat ini, aku bisa bernafas lega. Kota Painfinn telah terselamatkan dari ancaman invasi monster yang datang secara tiba-tiba. Ini semua tidak lepas dari peran para prajurit yang dengan gagah berani melindungi kota.


Aku membantu beberapa saat pada pemulihan wilayah kota, tetapi karena justru kulihat bahwa keberadaanku justru berefek sebaliknya di mana beberapa prajurit terlihat menjadi segan atau bahkan salah tingkah dalam bekerja, aku pun menghentikannya lantas mempercayakan selebihnya kepada para prajurit itu.


Aku dan Alice pun segera kembali menuju rumah sakit demi menjenguk Albert dan Yasmin yang tengah dirawat di sana setelah aku memarahi mereka berdua atas kenakalan mereka kabur dari rumah sakit di tengah-tengah pemulihan mereka.


Aku tahu bahwa Yasmin berbakat dalam sihir pemulihan, namun sekali lagi, bahwa sihir pemulihan itu bukanlah sihir yang omnipotent. Bisa saja tetap akan terjadi komplikasi akibat infeksi luka atau semacamnya jika tidak diperiksa secara seksama melalui pengobatan medis.


Hal yang sama berlaku untuk Albert. Sekeras apapun tubuhnya, tetap saja tidak ada tubuh manusia yang tidak bisa ditumbangkan oleh bakteri dan virus.


Oh iya ngomong-ngomong, seharian ini, tidak, bahkan sejak aku kembali dari hutan monster, aku sama sekali tidak melihat keberadaan Leon dan para anak buahnya. Tidak hanya Leon, Jilk juga tak tampak di mana-mana.


Bukankah aku mempercayakan keamanan Kota Painfinn padanya? Jangan bilang kalau anak itu keluyuran tidak jelas dengan mengabaikan tugasnya?


Tidak, tidak, itu tidak mungkin. Leon memang slenge’an dan sering membuat orang kesal, tetapi Leon itu di luar dari sifatnya yang tampak keras di luar, dia sebenarnya adalah sosok yang bertanggung jawab yang tidak pernah mengabaikan janjinya ketika dia sudah berjanji.


Leon telah berjanji padaku untuk melindungi kota selama aku menjalankan ekspedisi, jadi tidak mungkin Leon akan mengabaikan kota yang sedang diserang monster.


Lantas di mana sosoknya saat ini berada?


Di tengah-tengah aku memikirkan Leon saat itu, salah satu familiarku pun menemukan sesuatu di areal tersembunyi yang terletak di atas gunung yang sebenarnya aku selidiki perihal air bersih yang aku tampung di sana tiba-tiba menghilang.


Namun, apa yang kutemukan di sana malah para prajurit bayangan Leon yang telah tewas dalam keadaan terpenggal kepalanya. Tidak, tidak hanya mereka saja. Di tempat itu pula, aku menemukan sosok Jilk yang telah terbujur kaku tak bernyawa.