
Seseorang yang ahli dalam penyusupan tiba-tiba saja menyelinap ke dalam ruanganku, bahkan Olo yang berinsting tajam yang sedang berjaga di luar tak mampu untuk menyadari kedatangan sosok tersebut.
Namun, aku tidak menunjukkan ekspresi kecemasan sedikit pun perihal aku tahu betul aliran mana milik siapa ini tanpa aku perlu untuk menoleh ke belakang.
“Yang Mulia Pangeran Helios, Anda tampak pucat. Anda baik-baik saja?”
Aku mengacuhkan perihal nama pangeran yang masih disapakan sosok itu kepadaku mengingat kini aku telah berganti gelar menjadi seorang kaisar. Aku hanya berbalik untuk menatapnya dengan senyuman.
“Kamu sekarang sudah terbiasa rupanya ya, Dokter Minerva, jalan-jalan bolak-balik kemari dari rumah sakit layaknya ini rumah tetangga sebelah.”
Sama dengan yang lain, kini Dokter Minerva secara resmi telah berpindah tugas dari Kota Painfinn ke Ibukota Megdia untuk mengikutiku. Aku merasa bersalah kepada Venia jadinya yang ditinggalkan sendirian di sana. Itulah sebabnya, aku meminta kepada Anna untuk mengirimkan setidaknya tiga dokter magangnya untuk membantu Venia di sana.
Dokter Minerva menatapku cemas. Tanpa kuduga-duga, dia mendekat ke arahku untuk memeriksa suhu tubuhku.
“Ouch, Anda sangat dingin, Yang Mulia.”
Tentu saja yang dimaksud dengan kata ‘dingin’ oleh Dokter Minerva adalah dalam arti harfiah, bukannya dia menyinggung sifat atau tabiatku yang dingin.
“Sudah sejak lahir aku terlahir dengan tubuh yang dingin ini, haha.”
Aku sedikit menertawakan keadaan aneh tubuhku ini yang serasa sudah normal bagiku karena aku telah mengalaminya bahkan sejak aku mengingat.
“Lupakan itu. Tapi Yang Mulia, Anda sebaiknya istirahat. Anda sudah tampak sangat kelelahan. Pastinya mengendalikan ribuan familiar dalam kondisi stand by di berbagai tempat, juga akan membuat tubuh Anda lelah sekuat apapun stamina Anda.”
“Begitukah? Aku tampak lelah di matamu? Tetapi terima kasih telah mengkhawatirkan aku, Dokter Minerva.”
“Yang Mulia, Anda juga harus belajar mempercayai orang lain. Anda telah mengutus prajurit kepercayaan Anda di medan perang, bukan? Jadi aku yakin semuanya akan baik-baik saja.”
Entah mengapa aku merasakan sedikit rasa emosional bergejolak di dalam dadaku setelah mendengar ucapan Dokter Minerva tersebut yang sebenarnya tidak menyinggung apa-apa.
Sebagai seseorang yang diabaikan di istana kumuh dengan hanya ditemani oleh Albert, yang mesti bertahan di tengah liciknya mulut para bangsawan, aku tentu saja takkan mungkin lagi melepaskan tabiat ini.
Kecurigaan adalah hidupku. Tanpa itu, aku tidak akan bisa merasa hidup dengan tenang.
Itulah yang mungkin menjadi sebab aku berkata dengan emosional secara tidak sadar kepada Dokter Minerva.
“Bagiku yang bisa kupercayai di dunia ini hanyalah Talia dan Albert!”
Kulihat Dokter Minerva menatapku lama dengan ekspresi yang kosong seakan bingung dengan perubahan emosiku yang tiba-tiba. Itu wajar karena bagiku sendiri saat itu aku tidak mengerti mengapa aku mesti begitu marah.
“Kalau Yasmin atau Alice mendengar ini, mereka pasti akan sangat sedih, Yang Mulia. Bukankah mereka juga anak buah Anda yang berharga?”
Seketika aku tersentak terhadap perkataan Dokter Minerva tersebut. Setiap kali aku mengatakan baik kepada Alice maupun kepada Yasmin bahwa betapa aku sangat mempercayai mereka. Lalu mengapa ucapan refleksku tidak menyebutkan mereka berdua sebagai orang yang juga dapat kupercayai? Sebenarnya, apa arti menaruh kepercayaan itu bagi seseorang?
Aku jelas percaya kepada Alice. Dia yang pada awalnya datang ke Kota Painfinn untuk memenuhi misi dari Kaisar Ethanus meluluh-lantakkan Kota Painfinn dengan bom yang tertanam di jantungnya, akhirnya memilih untuk mati di Hutan Monster tanpa mengorbankan satu nyawa rakyat pun karena kebaikan hatinya. Karena terpesona akan kebaikan hatinya itulah, aku tanpa pikir panjang menyelamatkan gadis itu dari jeratan Kaisar Ethanus.
Lalu begitu pula dengan Yasmin. Pertemuan kami benar-benar bukanlah sesuatu yang spesial. Di kala aku terbangun pasca bencana the king of undead, aku kehilangan Yasmin sang kura-kura kecilku dan secara kebetulan bertemu dengannya di kala aku memanggil dengan kencang nama Yasmin kura-kuraku yang menghilang.
Dia adalah gadis polos tanpa ekspresi, tetapi cekatan dalam melakukan tiap pekerjaan yang diamanahkan kepadanya, mulai dari beres-beres rumah sampai melakukan pembantaian massal di medan perang. Begitulah berartinya Yasmin bagiku karena dia benar-benar serba-guna sebagai anak buah.
Bagiku sosok yang benar-benar kupercayai hanyalah mereka yang telah benar-benar menemaniku di masa-masa pahitku melewati setiap cobaan di istana, Albert dan Talia.
Adapun Yasmin, Alice, Nunu, dan setiap individu baru yang kutemui setelah itu, betapa pun aku ingin menyematkan kata itu pada mereka, tetap saja aku tak dapat melawan perasaan di dalam hatiku sendiri yang menolaknya.
Tapi bukankah itu tak mengapa? Selama di pikiranku telah menerima mereka sebagai orang kepercayaan dan mereka pun dengan tulus membalas kepercayaan itu, tiada gunanya membahas soal perasaan mengganjal di hatiku ini. Toh mereka juga tak akan pernah tahu jika aku tidak pernah menyebutkannya. Selama logika-ku menuntunku ke jalan yang benar, itu sudah lebih dari cukup.
“Benar juga. Mereka pasti akan marah. Tapi aku yakin mereka akan mengerti. Kepercayaan terbangun dengan kecurigaan, bukan?”
Kulihat Dokter Minerva geleng-geleng kepala atas komentar ngawurku tersebut sembari menghela nafas dengan mengatakan, “Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiran Anda, Yang Mulia Pangeran.”
***
Sebelum memasuki tahun baru, tim penanganan pemberontakan tampaknya menjalankan tugasnya dengan baik. Yasmin berhasil memancing kawanan monster kraken dengan pancingan darah ikan segar untuk mengacaukan tentara Maosium yang hendak datang untuk mengacaukan tanah air Meglovia.
Berkatnya, tentara pemberontak baik Kota Ajak di timur maupun Kota Apes di selatan, gagal memperoleh momentum mereka dan dengan segera diamankan. Dalam prosesnya, Albert berhasil membunuh Marquise August van Tellborne dan begitu pula Alice yang berhasil membunuh Marquise Vince van Rodhelton.
Para tentara dan bangsawan yang menyerah lantas ditahan untuk disidang oleh departemen kehakiman untuk ditentukan apakah mereka pantas dihukum mati ataukah masih bisa diselamatkan dengan hukuman yang lebih ringan, tergantung keterlibatan mereka di dalam pemberontakan.
Departemen kehakiman sendiri adalah orang dari Duke Orsena, salah satu faksi oposisiku. Walau demikian, aku percaya bahwa faksinya sendiri adalah pribadi yang amanah dalam menjalankan tugas kenegaraan di luar mereka sebenarnya adalah lawan politikku.
Terjadi kekosongan pimpinan baik di Kota Ajak maupun di Kota Apes, serta kota-kota dan desa-desa lain di sekelilingnya yang masuk ke dalam wilayah faksi timur dan faksi selatan yang memilih melakukan pemberontakan pada penguasa yang baru tersebut.
Mengatasi hal itu, aku mengutus Kak Swein fou Lambarg beserta beberapa anak buah pilihannya untuk mengatasi masalah pemerintahan sementara di wilayah timur. Adapun untuk di wilayah selatan, aku mempercayakannya kepada Alice. Bersamanya aku juga mengutus beberapa anak buah pilihan kompeten dari ibukota yang kurasa cocok dengan Alice.
Demikianlah masalah urgen yang muncul karena pemberontakan dalam negeri berhasil teratasi dengan baik tanpa perlu mengorbankan banyak nyawa prajurit dalam prosesnya. Itu tentu saja berkat prestasi yang gemilang dari Yasmin, Albert, Stephanus, Alice dan juga Damian.
Setelah resmi terangkat menjadi kaisar nanti dan masalah peperangan terhadap Kekaisaran Utara Vlonhard berhasil teratasi, aku harus segera memikirkan hadiah yang cocok untuk prestasi gemilang mereka.
Lalu tepat di pengawal tahun 532 Kekaisaran Selatan Meglovia aku resmi dilantik menjadi kaisar pertama sejak Kekaisaran Selatan Meglovia ini didirikan.
Tidak berselang lama setelahnya, perdana menteri baru pun resmi dilantik. Aku sebenarnya lebih memilih Phillip de Peronaz, paman Kak Vierra, mantan perdana menteri sebelumnya untuk melanjutkan tampuk jabatannya. Namun rupanya Paman Phillip menolak dengan alasan ingin segera pensiun dari kursi panas itu padahal usianya belumlah genap mencapai 50.
Namun, bantuan tak terduga pun tiba. Ayah Mertua melepaskan jabatannya sebagai kepala administrasi perpustakaan kekaisaran sekaligus kepala keluarga Growmyerre untuk diserahkan kepada Kak Luic demi mendampingiku sebagai perdana menteri yang baru.
Lalu yang tersisa, di akhir bulan ke-1 tahun itu, resmi dilantik susunan senat bangsawan yang terdiri dari 160 anggota, masing-masing 20 anggota berasal dari faksi barat, faksi utara, faksi timur, faksi selatan, faksi negara dominion Cabalcus, faksi negara dominion Ignitia, faksi pelindung ibukota Duke Orsena, serta faksi sarjana wilayah tengah di bawah kepemimpinan Marquise Roderick van Moriant.
Di bawah kepemimpinanku yang baru, tak kusangka para anggota kuil suci cukup menyambutku dengan baik, yah tentu saja terkecuali bagi mereka yang memiliki hubungan dekat dengan Rahib Vyndicta Eros. Seperti yang kalian tahu bahwa aku bisa merasakan perasaan tersembunyi seseorang berkat kesensitifan mana-ku, makanya aku tahu bahwa mereka tulus.
Mungkin para anggota kuil suci sekte penyembah api itu mulai menyukaiku terlepas dari ramalan itu dimulai ketika aku memberikan kepada mereka bantuan yang tak terduga pada penanganan wabah kolera serta bagaimana aku memulihkan nama baik mereka pasca gagal menangani wabah kolera tersebut.
Akan tetapi di luar dugaan, beberapa kelompok sarjana radikal yang justru mengutarakan secara terang-terangan kebenciannya kepadaku. Namun itu bukanlah hal yang bisa kuselesaikan karena mereka membenciku lantaran warna mata dan rambutku. Rasisme bukanlah hal yang mudah diselesaikan dengan kata-kata dan itu bukanlah ranah kemampuanku pula untuk meredakan rasisme mereka.
Aku hanya bisa mencegahnya dengan memblokir sumbernya dan menanamkan pendidikan antirasisme dengan baik di tiap kurikulum pendidikan resmi kekaisaran selatan. Namun selebihnya, itu tergantung pada objek yang bersangkutan, apakah menerimanya atau tidak.
Lagi-lagi ini kembali kepada dalangnya, Rahib Robell Zarkan dan Kaisar Ethanus, yang menyebarluaskan paham radikalisme melalui reklame produk, pertunjukan seni, dan berbagai jalan lainnya untuk menjadikannya sebagai pembenaran dalam melakukan penjajahan terhadap bangsa lain.
Namun, itu bukanlah masalah yang saat ini paling membebani pikiranku. Dengan selesainya pelantikanku sebagai kaisar baru negeri ini, kini aku sudah tidak bisa lagi menghindari topik pengusiran Kak Vierra dari istana lebih lama lagi.