
Aku seketika terkesima. Tiada kuduga sebelumnya kalau Yasmin akan mampu sehebat itu dalam jurus pemulihan. Kalau begini, bukankah kehebatannya sudah setara dengan saint atau saintess? Kuil suci pasti akan menangis darah jika tahu telah membuang berlian mahal dengan sangat mudahnya kepadaku.
Tidak, tidak, tidak. Bukan itu. Jika Yasmin memang memiliki kemampuan sehebat ini…
“Kenapa kamu tidak memberitahku sebelumnya?! Bukankah dengan kemampuan sehebat ini, kamu sudah cukup mengangkat kutukan banshee milik Nunu tanpa aku perlu bersusah-payah selama ini?!”
Tanpa sadar, aku meneriakkan keras-keras apa yang sebenarnya hanya ingin aku pendam di dalam hati itu.
Lalu dengan mengesalkannya, Yasmin pun menjawab, “Soalnya Master tidak bilang dan aku juga lupa memberitahukannya sih. Tehee.” Ujarnya berupaya tampak imut sambil menjulurkan lidahnya ke samping.
Tetapi daripada tergoda, aku saat ini rasanya lebih ingin menjitak kepala Yasmin itu.
Tetapi apa yang sudah menjadi bubur tidak mungkin menjadi nasi kembali. Walau demikian, kondisi Nunu yang sekarang telah pulih sepenuhnya, ditambah dia juga akhirnya memperoleh senjata artifak yang mampu menutupi kekurangannya, kurasa itu bukanlah hasil yang terlalu buruk di mana kami baru mengetahui kemampuan pemulihan Yasmin yang luar biasa itu di kemudian hari.
Namun, ketika melihat kemampuan Yasmin yang setara saint itu, aku tiba-tiba menjadi teringat akan sesuatu yang lebih penting.
Bukankah jika demikian, mungkin saja luka Albert di sirkuit mana-nya yang selama sebelas tahun ini belum juga terobati perihal adanya larangan dari kuil suci untuk mengobati luka yang berasal dari sangsi kejahatan kini dapat tersembuhkan?
Bukannya Albert pula melakukan kejahatan di kala itu. Kebetulan, dia hanya berada di keluarga yang dicap sebagai pengkhianat oleh Kekaisaran Vlonhard sehingga Albert juga turut memperoleh getahnya dengan penghancuran inti mana di sirkuit mana-nya.
Jika itu adalah Yasmin yang juga berada di bawah naunganku yang menyembuhkan Albert, maka tidak mungkin akan ada peluang bagi kuil suci untuk mengetahuinya.
“Yasmin…” Tanpa sadar, mulutku terbuka dengan sendirinya ingin meminta pertolongan di bawah kemampuan setara saint milik Yasmin itu.
Namun, ketika kumelirik ke sampingku dan mendapati keberadaan Leon di sana, kurasa saat ini belumlah waktu yang tepat untuk mengatakannya. Ditambah dengan keberadaan banyak prajurit di sekitar yang entah cerita seperti apa yang akan bocor ke khalayak jika aku melakukannya.
Salah sedikit dan Yasmin ketahuan oleh kuil suci telah mengobati sirkuit mana Albert yang terluka perihal hukuman suci, maka kali ini Yasmin dan Albert sudah pasti akan menghadapi guillotine lantas kehilangan nyawanya.
Aku akan memberitahukan keadaan ini kepada Yasmin di saat tidak ada lagi banyak mata yang mengawasi.
***
Hari itu adalah suasana yang tenang. Saat itu, aku hanya berduaan bersama Leon di dalam ruangan. Tidak, tepatnya bertiga kalau aku harus menghitung Yasmin yang menjadi maid pribadi-ku. Ataukah aku harus menghitungnya sebagai empat belas orang jika aku harus juga memasukkan jumlah kesebelas pengawal Leon yang selalu mengawasinya dari balik bayangan?
Yang jelas, suasananya penuh damai saat itu. Leon sedang menjalankan tugasnya sebagai pimpinan kota sementara dengan baik, adapun aku berperan untuk menyupportnya sebagai wakil. Albert yang biasanya sering bersitegang dalam diam bersama Leon sedang tidak ada di sini perihal menyelidiki soal anomalitas penyerangan monster yang terjadi baru-baru ini.
Namun, baru aku memikirkan namanya, Albert tiba-tiba saja benar-benar datang. Tetapi apa ini? Mengapa tatapan matanya tampak dipenuhi amarah seperti itu? Dan kenapa alih-alih menghampiriku, dia lebih tampak sedang menghampiri Leon sekarang?
“Praaaak.”
Lalu, kejadian luar biasa pun, aku lihat tepat di depan mataku.
Albert yang biasanya penakut jika sudah berbicara soal status kebangsawanan, melabrak meja Leon tanpa hesitasi yang jangankan bangsawan, statusnya bahkan lebih tinggi yakni seorang pangeran sama sepertiku.
“Anda, bukan? Penyebab serangan gelombang monster itu?” Ucap Albert sembari melotot tajam ke arah Leon.
Aku sama sekali tak mengerti maksud ucapannya tentang apa premis sehingga dia berani-beraninya melayangkan tuduhan yang tidak bisa dianggap enteng lagi kepada seorang pangeran. Salah sedikit dengan hal ini, Leon bisa saja memiliki alasan untuk mengajukan perintah eksekusi terhadap Albert.
“Coba tenang dulu. Albert. Coba ceritakan pelan-pelan kepadaku tentang apa yang sebenarnya terjadi.”
Namun, Albert di luar dugaan, sama sekali tidak menggubris perkataanku. Matanya hanya terus menatap lurus penuh amarah di hadapan Leon.
“Oh ho. Begini rupanya hasil didikanmu terhadap anjing kampung yang kamu beli dari kekaisaran, Kakak Sampah. Yah, namanya juga sampah. Apa yang sebenarnya kuharapkan dari didikan seorang sampah, tentu saja hasilnya juga sampah. Dia tiada menaruh hormat sedikit pun di hadapan keluaga kerajaan. Inilah juga sebabnya aku benci anjing kekaisaran manapun.”
“Aku mohon jangan libatkan Yang Mulia Pangeran Helios dengan semua ini. Aku dan beberapa prajurit telah menyelidiki tempat kejadian awal mula munculnya serangan monster. Di situ rupanya terdapat altar ritual pemanggilan monster yang mengandung sidik jari Anda. Dan juga ada laporan dari beberapa saksi mata yang menyatakan bahwa mereka sempat menyaksikan Anda berkeliaran di sekitar lokasi kejadian beberapa hari sebelum terjadinya peristiwa itu.”
Dengan mata yang tidak kalah menyeramkannya pula, Leon kemudian balik menatap ke arah Albert.
“Jadi, kamu mau menuduhku bahwa akulah penyebab insiden itu? Jadi, atas dasar apa, atas motif apa, dan untuk tujuan apa aku melakukan semua itu berdasarkan hasil penyelidikanmu yang tidak berguna itu, Anjing Kampung?”
“Itu tentu saja untuk membuat Pangeran Helios dalam be…”
“Albert!”
“Puaaakh!”
Sebelum Albert sempat mengucapkan kalimatnya itu, aku mendaratkan tinjuanku tepat ke pipi Albert untuk segera membungkamnya.
Sialan si Leon itu! Dia pasti sengaja melakukannya demi mengincar Albert untuk mengatakan hal seperti itu demi membuatnya melakukan kesalahan dengan penghinaan terhadap keluarga kerajaan lantas segera menyeret Albert ke guillotine.
Entah itu tuduhan yang benar atau tidak, ada cara penyampaian tertentu yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan dalam menuduh keluarga kerajaan melakukan kejahatan. Mungkin cara Albert mengatakan kalimatnya yang pertama itu masih aman, tetapi jelas nampak dari gelagatnya bahwa kalimat yang kedua yang akan diucapkannya itu akan masuk ke dalam ranah yang akan menerima hukuman guillotine.
Aku bisa menebak apa yang akan dikatakan oleh Albert itu, “Yang Mulia Pangeran Leon mensummon para monster yang membuat kekacauan demi membunuh saudara saingannya dalam perebutan tahta dalam kekacauan yang diperbuat oleh para monster itu.”
Dasar bedebah, Leon! Dia sungguh benar-benar licik. Aku sangat tidak percaya bahwa orang seperti itu adalah adik kandungku sendiri. Lihat saja senyum licik yang tersungging di sudut bibirnya itu. Pokoknya apapun yang terjadi, akan kulindungi semua anak buahku yang polos itu dari cengkeramannya.
“Yang Mulia Pangeran.” Terlihat wajah dengan mata yang berkaca-kaca Albert usai aku memukulnya. Ketimbang kesakitan secara fisik, kuyakin saat ini dia lebih terluka secara mental karena aku sebagai orang yang paling dipercayainya justru baru saja memukulinya tanpa hesitasi.
Tetapi bagaimana aku tidak melakukannya dengan melihat kebodohannya yang tidak juga kunjung berubah dari dulu itu. Kalau begini terus, suatu saat alih-alih sebagai pedangku, dia justru akan menjadi pusat kelemahanku yang dengan mudahnya dimanfaatkan karena kebodohan dan sifatnya yang mudah dimanipulasi itu.
Aku harus benar-benar mendisiplinkannya dengan lebih extra ketat lagi.
“Hah, Albert. Mengenai ucapanmu itu, coba jelaskan dulu kepadaku secara detail. Biar aku nanti yang akan menyelesaikannya. Sekarang, kamu minta maaf saja dulu kepada Leon atas sikapmu yang tidak sopan itu di hadapan keluarga kerajaan.”
Albert pun walau penuh hesitasi, akhirnya memenuhi permintaanku itu lantas merendahkan kepalanya memohon pengampunan di hadapan Leon. Lalu aku pun meminta waktu sejenak untuk meninggalkan ruangan bersama Albert di hadapan adik bodohku itu dengan termasuk tetap meninggalkan Yasmin di belakang.
Terlihat pandangan wajah penuh kemenangan oleh Leon tampak berupaya memancing kemarahan Albert. Untunglah kali ini, Albert tidak lagi terpancing.
Aku harus benar-benar mendengarkan cerita yang benar-benar lengkap dari Albert mengenai permasalahan itu. Perihal tuduhan yang baru saja dituduhkannya kepada Leon itu bukanlah tuduhan yang main-main.
Itu adalah tuduhan necromancy. Salah satu kejahatan tingkat tertinggi bagi kuil suci. Hukumannya bukan main-main pula, mesti dibakar oleh api suci untuk pemurnian terhadap jiwa jahat di khalayak umum. Dengan kata lain, eksekusi mati.
Namun, aku kenal benar dengan adik bodohku itu. Sejahat-jahatnya dia dan seberambisinya dia terhadap tahta, aku sangsi bahwa dia akan tega untuk sampai membunuh saudaranya sendiri hanya demi mencapai tujuan tersebut.