Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 188 – AKHIR DARI MAOSIUM



Suara langkah kaki terdengar dari arah koridor istana.


Talia yang sedari tadi menunggu kedatangan seseorang seketika melepaskan kerinduannya begitu orang yang datang benar-benar adalah orang yang dinantinya.


“Mas Lou.”


“Talia.”


Pasangan kaisar dan permaisuri itu pun saling berpelukan. Lusiana dan juga Vierra yang ikut melihat kedatangan suami mereka turut bergabung ke dalam pelukan itu.


“Yang Mulia, apa yang harus kita lakukan? Situasi aneh sedang terjadi di Kota Apes.”


Dengan ekspresi gelisah, Lusiana bertanya kepada Helios.


“Untuk sekarang, Lusiana, aku meminta bantuanmu untuk menghubungi Alice, Buron, Olbero, dan para ksatria hebat lainnya yang ada di Vlonhard untuk segera ke ibukota demi mengatasi masalah ini.”


“Sesuai perintah Anda, Yang Mulia.”


Lusiana pun pergi melaksanakan titah sang suami dengan menyisakan Talia dan Vierra yang mendampingi Helios.


“Kalau boleh tahu, apa yang sedang terjadi sebenarnya, Mas?”


Kini giliran Talia yang bertanya dengan gelisah.


“Salah seorang anak buah Raja Iblis telah menyusup kemari dan menghancurkan dungeon Kota Apes.”


“Apa hubungannya dengan semua itu terhadap kejadian bencana kali ini, Dik Helios?”


Jawaban itu menimbulkan tanda tanya lebih lanjut kepada Vierra.


“Dungeon Kota Apes sebenarnya adalah salah satu pilar dari formasi busur yang diciptakan oleh the great sage Milanda untuk mencegah akar dungeon dari benua iblis menjalar ke Benua Ernoa seperti yang sering terjadi di Benua Ifrak. Sejak dungeon penahan itu lenyap, akar dungeon benua iblis akhirnya memperoleh celahnya untuk menjalarkan akarnya ke tanah air Ernoa.”


Setelah mendengarkan penjelasan dari sang suami, seketika ekspresi Talia dan Vierra memuram.


Menyadari ekspresi muram istri-istrinya, Helios kemudian membelai kepala Talia seraya memegang tangan kanan Vierra dengan lembut lalu berkata,


“Kalian berdua tidak perlu khawatir. Kita akan bisa segera keluar dari krisis ini. Tidakkah kalian tahu bahwa suami kalian ini sangat dapat diandalkan?”


Helios mengucapkan kalimat itu di hadapan istri-istrinya dengan ekspresi tanpa keraguan sedikit pun. Namun nyatanya, di dalam hati Helios pun saat ini sedang gugup.


Ujian yang diungkapkan oleh Milanda tujuh tahun silam, tampaknya Helios tidak punya pilihan selain mengambilnya. Namun sebelum itu, ada masalah terakhir yang harus dia selesaikan.


“Olo, Nunu, Alice, aku bisa mempercayai kalian sementara waktu kan?”


Helios setengah bergumam. Yasmin yang segera mampu menangkap kegelisahan hati sang master lalu bertanya,


“Apa ada yang bisa kubantu, Master?”


Seketika Helios tersadar dari pikirannya yang rumit lantas menoleh ke belakang ke arah Yasmin.


“Ah, benar. aku bisa mengandalkanmu kan, Yasmin, di Kota Apes? Aku ingin kamu memantau keselamatan para prajurit yang sedang bertarung melawan monster di sana.”


“Master sendiri mau ke mana?”


“Ada tempat yang harus kudatangi seorang diri. Namun sebelum itu, ada masalah yang harus kuselesaikan yang selama ini berupaya kuabaikan karena kelemahan hatiku.”


“Baiklah, Master. Serahkan keamanan prajurit Kota Apes padaku sehingga Master bisa berfokus pada apa yang harus Master kerjakan.”


Demikianlah Helios bertolak menuju tempat terselatan di Benua Ernoa, sementara Dokter Minerva dan Yasmin berpisah dengan Helios untuk menuju ke Kota Apes.


***


Tidak ada yang benar dan salah dalam perang. Semua individu yang terlibat dalam perang adalah orang-orang berjasa yang melakukan peran terbaiknya demi melindungi tanah airnya.


Jika ada yang pada akhirnya melakukan penjajahan terhadap tanah air milik kerajaan lain, itu bukanlah salah prajuritnya. Mereka tidak punya pilihan lain selain mematuhi perintah dari atasan mereka. Sebanyak apapun dari penduduk daerah jajahan yang mereka bunuh, itu bukanlah tanggung jawab dari para prajurit itu. Itu salah para petinggi-petinggi mereka yang memberikan mereka perintah tersebut.


Seperti saat ini, ketika sekali dan sekali lagi para prajurit dari Kerajaan Maosium berdatangan ke tanah air Benua Ernoa ini untuk melakukan penjajahan, sejatinya itu bukanlah salah mereka. Itu salah Raja mereka yang memberikan mereka perintah.


Walau demikian, untuk mencegah pembunuhan yang akan mereka lakukan kepada rakyat-rakyatku tercinta, aku tidak punya pilihan lain selain membunuh mereka semua.


Lebih dari seratus kapal yang masing-masingnya berisikan sekitar ratusan prajurit mulai terlihat akan mendarat di wilayah pelabuhan kami secara ilegal. Kapal-kapal itu masing-masingnya mengibarkan panji-panji Kerajaan Maosium. Tanpa perlu aku menunggu mereka untuk mendarat, aku segera hancurkan kapal-kapal mereka itu.


Bangkai-bangkai kapal berhamburan ke mana-mana. Para prajurit Maosium tenggelam dalam dalamnya samudra bahkan sebelum mereka sempat mengibarkan kejayaan invasi mereka di tanah yang asing bagi mereka.


Namun semuanya telah terlambat.


Makhluk-makhluk ikan ganas yang awalnya tidak berbahaya bagi mereka yang melakukan pelayaran dengan kapal, seketika menjadi ganas begitu para ikan ganas mampu mencium bau darah segar di sekeliling mereka yang berasal dari para prajurit yang terluka akibat ledakan maupun timpaan puing-puing kapal.


Bahkan setelah mereka selamat dari ledakan, mereka semua hanya akan mati tersantap oleh para ikan ganas sebelum bisa berenang menuju ke daratan.


Tiap-tiap prajurit walaupun itu dari prajurit musuh sekalipun, pasti punya keluarga yang menantikan kepulangan mereka di rumah dengan penuh harap akan kesuksesan suami atau anak-anak mereka. Namun, kaisar sedingin es ini baru saja memupuskan harapan mereka itu selamanya tenggelam ke dasar lautan.


Demi melindungi keselamatan para rakyatku, aku memilih bertindak kejam dengan melakukan pembunuhan dan menghancurkan masa depan keluarga milik banyak prajurit musuh. Aku tahu ini kejam, namun inilah perang. Sejak mereka yang duluan memilih pilihan untuk berperang melawan kekaisaran kami, aku takkan pernah bersimpati akan kematian mereka.


Aku sadar betul bahwa pada dasarnya ini bukan kesalahan mereka. Mereka hanya menjalankan perintah. Ya, ini kesalahan sang Raja Maosium.


Aku akhirnya sadar akan satu kesalahan kecilku. Ini semua takkan pernah berakhir walaupun semua tentara Kerajaan Maosium dimusnahkan. Begitu tentara yang baru terlahir, hal yang sama hanya akan terulang kembali dalam siklus yang tiada akhir. Ini tidak akan pernah berakhir selama raja yang memerintahkannya masih ada.


Itulah sebabnya aku memutuskan untuk mendatangi istana Kerajaan Maosium secara langsung.


Para pengawal istana Kerajaan Maosium seketika mengepungku begitu menyadari kedatanganku.


“Hahahahahahahaha. Dasar Kaisar bodoh! Kau memilih kematianmu sendiri dengan berani datang ke tempat ini mengantarkan nyawamu sendiri! Para prajurit! Cepat, bunuh Kaisar biadab itu!”


Orang yang biadab meneriakiku biadab. Sang Raja Kerajaan Maosium benar-benar tak tahu malu.


Dengan dalih ras yang selalu melakukan rasisme dengan memperbudak ras berkulit hitam, mereka menyerang kekaisaran kami yang baru saja terlepas dari paradigma tersebut.


Itu mungkin benar ketika mereka menyerang sewaktu Kakek atau Kaisar Ethanus masih hidup, tetapi Kekaisaran Meglovia berbeda dengan kerajaan-kerajaan dan kekaisaran-kekaisaran pendahulu mereka yang suka mengagungkan ras kulit putih.


Kami telah berubah oleh luka yang kami alami selama konflik saudara.


Kami kini tumbuh sebagai kekaisaran yang menjunjung tinggi keragaman.


Kami lebih memperhatikan individu berdasarkan bakat dan keahlian mereka. Aku tahu bahwa paham itu juga belum sempurna karena masih menghinakan mereka yang tidak memiliki bakat maupun keahlian, namun setidaknya itu menilai dari upaya seseorang, bukan dari sesuatu yang mereka bawa sejak lahir yang tidak mungkin untuk diubah lagi.


Jika kamu ingin sukses di Kekaisaran Meglovia, apapun warna kulitmu, apapun warna rambutmu, dan apapun warna matamu, selama kamu ingin belajar dengan giat, maka kamu akan meraihnya. Bukankah justru aneh jika orang yang bermalas-malasan saja akan mendapatkan hasil yang sama dari negara dengan orang yang berjuang sekuat tenaganya demi kemajuan negara tericintanya?


Itupun aku rasa Raja Kerajaan Maosium-lah yang paling tidak pantas berbicara demikian sejak mereka pun sering menindas Kerajaan Geria dan kerajaan-kerajaan Benua Ifrak di sebelah selatan lainnya karena warna kulit mereka yang mereka bilang hitam dekil.


Kerajaan Maosium-lah yang selalu menggembar-gemborkan keagungan mereka di antara bangsa-bangsa di Benua Ifrak karena di antara penduduk Benua Ifrak, mereka-lah yang memiliki warna kulit terterang yang hampir menyerupai penduduk Benua Ernoa.


Apakah Raja hina itu tidak memiliki cermin di kamarnya?


Para prajurit istana pun mulai menyerangku. Para swordsman dengan lemparan tombak atau panah mereka, sementara para wizard dengan sihir mereka. Tentu saja, semuanya tidak berfungsi padaku. Serangan mereka semua hanya terasa seperti belaian selembut kapas bagiku.


Begitu mereka letih menyerang, kini giliran akulah yang membantai mereka. Aku membunuh satu-persatu dari mereka yang dimulai dari para prajurit, dilanjutkan dengan para pemimpin mereka, pengawal langsung keluarga kerajaan, para bangsawan yang bekerja di istana, sampai ke keturunan langsung sang raja beserta ratu-ratu dan selir-selirnya.


“Akh, dasar monster! Jangan mendekat!”


Aku menyisakan sang Raja sebagai orang yang terakhir yang akan aku bunuh. Terutama, karena ekspresi penyesalan dan keputusasaannya ini yang aku tunggu.


“Monster? Itu benar. Aku telah menjadi monster. Itu semua karena kaulah yang telah memaksaku menjadi demikian.”


“Tolong ampuni nyawaku.”


“Mengampuni? Minta ampunlah sana sama semua orang yang mati akibat keputusan picikmu.”


-Slash.


Lalu aku pun membunuh sang raja Maosium.


Monster kah? Sayangnya, orang itu belum melihat monster yang sebenarnya.


Aku yang terlihat sangat kuat ini di hadapan orang-orang sama sekali tidak ada apa-apanya di hadapan Noel Dumberman, apa tah lagi di hadapan kekuatan mutlak sang Raja Iblis.


Aku pun memutuskan untuk bertambah kuat. Demi tugasku sebagai seorang pahlawan agar bisa melindungi keluargaku dan seluruh rakyat Benua Ernoa, aku harus meningkatkan kekuatanku agar tidak lagi berakhir dalam kelemahan yang diremehkan dan dipermainkan oleh musuh.


Ini bukan sekadar ambisiku untuk melampaui Noel Dumberman, tetapi untuk mengalahkan segala musuh yang mengancam kedamaian Benua Ernoa, yang sebagai puncaknya adalah sang Raja Iblis.


Dari situ, aku bertolak ke barat untuk menemui Milanda demi mengikuti ujian itu.


Aku bisa melangkah dengan tenang sejak ada para anak buahku yang mewarisi tekadku untuk melindungi kekaisaran selama kepergianku.